Jaringan Wisata Muhammadiyah
Menjaga Nilai untuk Kemaslahatan Umat
Indonesia tengah mengalami momentum gemilang dalam sektor pariwisatanya. Data terbaru menunjukkan angka kunjungan lebih dari 12 juta wisatawan mancanegara serta capaian devisa mencapai USD 13,82 miliar — sebuah prestasi yang menjadi bukti nyata bahwa pariwisata telah pulih dan menjadi poros penting dalam perekonomian nasional. Pertumbuhan ini bukan hanya angka statistik; ia berdampak pada penggerak usaha mikro, peningkatan konsumsi masyarakat, serta perputaran nilai ekonomi di berbagai daerah.
Namun di tengah euforia kebangkitan ini, kita perlu bertanya: siapakah yang sejatinya mengambil manfaat terbesar dari geliat ekonomi pariwisata ini? Di mana posisi umat Islam dalam rantai nilai besar ini? Dan apakah manfaat tersebut telah kembali kepada kemaslahatan umat?
Potensi Ekonomi Wisata: Besar Tapi Belum Optimal untuk Umat
Potensi ekonomi pariwisata di Indonesia adalah salah satu yang terbesar di dunia. Kontribusinya terhadap devisa negara, penciptaan lapangan kerja, serta penguatan usaha mikro dan kecil menengah (UMKM) menyuguhkan peluang ekonomi luar biasa. Namun, fakta menunjukkan bahwa manfaat ekonomi ini masih dikuasai oleh struktur dan pelaku yang belum sepenuhnya berpihak pada kemaslahatan umat Islam.
Tempat-tempat wisata yang ramai, hotel dan resort yang padat pengunjung, industri pendukung yang tumbuh — semuanya menggambarkan volume ekonomi yang besar. Namun jika dilihat dari perspektif pemberdayaan umat, representasi pengusaha Muslim, terutama yang berorientasi pada nilai syariah, masih jauh dari proporsional.
Hal ini menunjukkan satu kenyataan penting: potensi besar belum termanfaatkan secara optimal untuk kepentingan umat.
Ekonomi Tidak Netral; Ia Selalu Berarah
Kita tidak bisa berpegang pada anggapan bahwa aktivitas ekonomi bersifat netral. Dalam realitasnya, setiap kegiatan ekonomi memiliki arah nilai, kepentingan, dan tujuan tertentu. Investasi, aliran modal, manfaat sosial — semuanya mencerminkan nilai yang dianut oleh pelakunya.
Jika umat Islam tidak mengambil bagian aktif dalam sektor ekonomi besar seperti pariwisata, maka ruang-ruang ini akan terisi oleh kepentingan lain yang belum tentu sejalan dengan nilai-nilai kebajikan, keadilan, dan kemaslahatan umat. Di sinilah urgensi kehadiran organisasi seperti Muhammadiyah — tidak sebagai penonton, tetapi sebagai pelaku aktif yang membawa arah nilai ke dalam struktur ekonomi.
Mengapa Muhammadiyah Harus Terlibat dalam Pariwisata?
Muhammadiyah memiliki sejarah panjang dalam pendidikan, kesehatan, dakwah sosial, dan pengembangan ekonomi umat. Keberadaannya telah mengakar kuat dalam kehidupan umat, dengan jaringan luas dari tingkat pusat hingga ranting di berbagai daerah. Dengan jaringan yang kuat ini, Muhammadiyah memiliki kapasitas untuk menghadirkan model ekonomi yang berorientasi nilai, bukan sekadar keuntungan finansial.
Dalam konteks pariwisata, keterlibatan Muhammadiyah menjadi penting karena:
Nilai Syariah dalam Wisata
Wisata bukan hanya soal tempat dan pengalaman; wisata adalah ruang sosial yang mempengaruhi perilaku, budaya, dan interaksi manusia. Tanpa pengelolaan berbasis nilai, wisata berpotensi memunculkan praktik yang bertentangan dengan norma agama. Muhammadiyah hadir untuk mengawal pariwisata agar tetap berada dalam koridor moral dan syariah, tanpa menghalangi tumbuhnya kreativitas ekonomi.
Pemberdayaan Ekonomi Umat
Dengan skala ekonomi yang besar, pariwisata memiliki efek ganda pada UMKM, usaha mikro, serta industri kreatif lokal. Namun, pemberdayaan ini tidak otomatis terjadi. Dibutuhkan intervensi terorganisir agar kesempatan usaha di sektor pariwisata benar-benar dapat diakses oleh pelaku usaha Islam, terutama yang selama ini belum masuk ke dalam rantai nilai utama.
Reinvestasi untuk Dakwah dan Kemaslahatan
Departemen amal usaha Muhammadiyah dapat memanfaatkan hasil ekonomi dari pariwisata untuk memperkuat program dakwah, pendidikan, kesehatan, dan sosial. Dengan rekayasa ekonomi yang tepat, keuntungan dari pariwisata tidak hanya bersifat konsumtif tetapi produktif dan berdampak jangka panjang.
Jaringan Wisata Muhammadiyah: Sebuah Ekosistem Berorientasi Nilai
Untuk menjawab tantangan dan peluang itu, hadir sebuah gagasan strategis: Jaringan Wisata Muhammadiyah — sebuah ekosistem yang mengintegrasikan ekonomi wisata dengan nilai-nilai keagamaan dan kemaslahatan umat. Jaringan ini bukan sekadar koperasi atau badan usaha semata, tetapi suatu sistem kolaboratif yang mencakup:
Hotel dan Penginapan Syariah, yang mendukung pengalaman menginap nyaman, aman, dan sesuai dengan prinsip syariah.
Travel dan Tour Halal, layanan wisata terintegrasi yang memprioritaskan kenyamanan, etika berwisata, serta nilai-nilai keIslaman.
Kuliner UMKM yang Mendunia, mempromosikan makanan lokal dengan standar halal dan kualitas tinggi.
Destinasi Wisata Edukatif, seperti wisata sejarah Islam, pusat dakwah budaya, dan pengembangan wisata berbasis komunitas lokal.
Platform Digital dan Marketplace Muslim, yang mempertemukan pelaku usaha dengan pasar yang lebih luas serta transparan.
Dengan struktur jaringan ini, manfaat ekonomi wisata tidak lagi terfragmentasi, tetapi tersalur menuju pemberdayaan umat secara sistemik.
Menjaga Koridor Nilai — Kunci Keberlanjutan Wisata
Wisata memiliki daya tarik universal; ia mendatangkan pengalaman, relaksasi, dan kegembiraan. Namun tanpa pengelolaan yang berpijak pada nilai, wisata juga berpotensi menciptakan perilaku konsumtif, eksploitasi budaya lokal, serta praktik yang bertentangan dengan etika sosial dan moral.
Muhammadiyah hadir untuk menjaga agar pariwisata Indonesia:
tetap bermartabat, beretika, dan ramah keluarga,
menghormati identitas budaya lokal,
serta menjadi sarana pengalaman yang tidak melanggar nilai-nilai agama.
Dalam konteks ini, jaringan pariwisata bukan hanya tentang ekonomi — tetapi juga tentang pencerahan sosial dan pembangunan karakter bangsa.
Tidak Ada Netralitas dalam Ekonomi
Seperti telah dijelaskan, ekonomi selalu memiliki orientasi nilai. Ketika unit-unit ekonomi besar tidak diisi oleh pelaku yang berorientasi pada nilai moral dan kemaslahatan umat, maka ruang tersebut akan diisi oleh kekuatan lain yang mungkin bertentangan dengan nilai agama.
Karena itu, kehadiran Jaringan Wisata Muhammadiyah bukan sekadar pilihan — tetapi kebutuhan strategis umat dalam menghadapi era ekonomi global yang semakin dinamis dan kompetitif.
Penutup: Waktu untuk Bergerak adalah Sekarang
Momentum pariwisata Indonesia yang tengah bangkit bukanlah sekadar peluang ekonomi sementara. Ia adalah pintu gerbang menuju pemberdayaan umat secara lebih luas, jika dikelola dengan visi, nilai, dan prinsip yang tepat.
Jaringan Wisata Muhammadiyah hadir bukan sebagai penonton, tetapi sebagai pelaku perubahan. Membawa nilai ke dalam ekonomi. Menguatkan umat melalui pemberdayaan ekonomi. Dan memastikan bahwa setiap rupiah yang dihasilkan dari sektor wisata memberi dampak positif dan berkelanjutan bagi umat.
Karena ekonomi tidak netral — dan sudah saatnya umat Islam mengambil peran strategis di dalamnya.
SiS, Antarkita
Informasi JWM Hubungi: 0851-2262-5529