Ketika Bencana Dijawab dengan Kesombongan: Penyakit Hati Para Pemegang Amanah
(Sri Ningsih, S. Pd, M. Si)
Bencana besar bukan sekadar peristiwa alam. Ia adalah ujian iman, kejujuran, dan kepedulian—terutama bagi mereka yang diberi amanah kekuasaan. Namun yang terasa menyayat hati, bukan hanya luka para korban, melainkan ucapan para pejabat yang alih-alih menenangkan, justru menyakiti.
Ada yang meremehkan penderitaan rakyat dengan mengatakan “hanya ramai di media sosial”,
ada yang mencemooh bantuan negara lain,
ada yang menolak uluran tangan sesama Muslim,
bahkan ada yang menilai nyawa dan penderitaan manusia hanya layak dihargai sepuluh ribu rupiah per hari.
Ini bukan sekadar salah bicara. Ini penyakit hati.
1. Penyakit Kesombongan dan Tumpulnya Empati
Allah subhanahu wa ta’ala memperingatkan dengan sangat keras:
إِنَّ اللَّهَ لَا يُحِبُّ كُلَّ مُخْتَالٍ فَخُورٍ
Sesungguhnya Allah tidak menyukai setiap orang yang sombong dan membanggakan diri.
(QS. Luqman: 18)
Kesombongan dalam jabatan adalah ketika merasa tidak perlu merasakan sakitnya rakyat, seolah kekuasaan membuatnya kebal dari nurani.
Padahal Rasulullah shalallahu alaihi wassalam bersabda:
الْكِبْرُ بَطَرُ الْحَقِّ وَغَمْطُ النَّاسِ
“Kesombongan itu adalah menolak kebenaran dan meremehkan manusia.”
(HR. Muslim)
Meremehkan korban bencana, mengecilkan bantuan, dan menolak empati dunia—itulah bentuk ghamṭun-nās (merendahkan manusia).
2. Amanah Kekuasaan yang Dikhianati
Jabatan bukan kehormatan, tetapi beban hisab.
Allah berfirman:
إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُكُمْ أَنْ تُؤَدُّوا الْأَمَانَاتِ إِلَىٰ أَهْلِهَا
Sesungguhnya Allah memerintahkan kalian untuk menunaikan amanah kepada yang berhak.”
(QS. An-Nisā’: 58)
Bencana adalah momen amanah terbesar.
Jika di saat rakyat kehilangan rumah, keluarga, dan masa depan—pejabat justru sibuk menjaga citra dan gengsi—maka itu bukan salah strategi, tapi pengkhianatan amanah.
Rasulullah shalallahu alaihi wasallam bersabda:
مَا مِنْ عَبْدٍ يَسْتَرْعِيهِ اللَّهُ رَعِيَّةً، يَمُوتُ يَوْمَ يَمُوتُ وَهُوَ غَاشٌّ لِرَعِيَّتِهِ، إِلَّا حَرَّمَ اللَّهُ عَلَيْهِ الْجَنَّةَ
Tidaklah seorang pemimpin yang diberi amanah mengurus rakyat, lalu ia meninggal dalam keadaan menipu rakyatnya, kecuali Allah haramkan baginya surga.”
(HR. Bukhari dan Muslim)
3. Dosa Orang yang Tidak Peduli Penderitaan Sesama
Islam tidak menilai keimanan dari pidato, tapi dari kepekaan terhadap derita manusia.
Allah berfirman:
وَمَا لَكُمْ لَا تُقَاتِلُونَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ وَالْمُسْتَضْعَفِينَ
Mengapa kalian tidak berjuang di jalan Allah dan membela orang-orang yang lemah?”
(QS. An-Nisā’: 75)
Orang lemah dalam bencana adalah mereka yang kehilangan segalanya. Mengabaikan mereka berarti mengabaikan perintah Allah.
Rasulullah ﷺ bersabda:
لَيْسَ الْمُؤْمِنُ الَّذِي يَشْبَعُ وَجَارُهُ جَائِعٌ إِلَىٰ جَنْبِهِ
“Bukanlah seorang mukmin orang yang kenyang sementara tetangganya kelaparan di sampingnya.”
(HR. Al-Baihaqi)
Jika tetangga saja wajib diperhatikan, lalu bagaimana dengan rakyat yang sedang tertimpa bencana nasional?
4. Tolong-Menolong: Bukan Soal Gengsi, Tapi Ketaatan
Allah berfirman:
وَتَعَاوَنُوا عَلَى الْبِرِّ وَالتَّقْوَىٰ
“Dan tolong-menolonglah kalian dalam kebaikan dan ketakwaan.”
(QS. Al-Mā’idah: 2)
Menolak bantuan kemanusiaan tanpa alasan syar’i dan maslahat nyata, apalagi demi kesombongan politik, bukan sikap berdaulat—melainkan lalai terhadap perintah Allah.
Bencana tidak mengenal batas negara, dan empati tidak mengenal ideologi.
Yang membuat rakyat malu bukan karena bencana,
tetapi karena hilangnya rasa malu pada sebagian pejabat.
Yang membuat dunia tercengang bukan karena alam murka,
tetapi karena hati yang membatu saat manusia terluka.
Semoga Allah Subhanahu wa ta’ala menyembuhkan negeri ini bukan hanya dari bencana alam,
tetapi dari penyakit kesombongan, tumpulnya empati, dan pengkhianatan amanah.