You are currently viewing KETIKA KLAIM KEBENARAN MENIMBULKAN PERPECAHAN: Kembalilah kepada Makna Lā Ilāha Illallāh

KETIKA KLAIM KEBENARAN MENIMBULKAN PERPECAHAN: Kembalilah kepada Makna Lā Ilāha Illallāh

KETIKA KLAIM KEBENARAN MENIMBULKAN PERPECAHAN: Kembalilah kepada Makna Lā Ilāha Illallāh

(Sri Ningsih, S. Pd, M. Si)

 

Dari pengamatan yang jujur, sering kali tampak bahwa manusia lebih mudah menyukai perpecahan daripada persatuan.

Setiap perbedaan—baik di dunia nyata maupun di ruang maya—nyaris selalu berujung pada permusuhan.

Ironisnya, bukti telah ditampakkan, hujjah sudah ditegakkan, namun sebagian orang tetap menutup mata dan hati, mempertahankan keyakinan yang keliru dengan sikap keras kepala.

 

Inilah yang membuat klaim-klaim kebenaran sulit dipertemukan, bukan karena kebenaran itu tidak jelas, tetapi karena nafsu, fanatisme kelompok, dan kesombongan intelektual telah menghalangi hati dari petunjuk.

 

Makna Lā Ilāha Illallāh sebagai Titik Temu

 

Dalam perenungan yang dalam, ketika semua argumentasi menemui jalan buntu (deadlock), maka rujukan paling jujur dan lurus adalah makna Lā ilāha illallāh.

 

Bukan sekadar ucapan, tetapi penafian seluruh bentuk pengkultusan:

 

pengkultusan kelompok

 

pengkultusan tokoh

 

pengkultusan madzhab

 

pengkultusan ego dan pendapat diri

 

dan penetapan bahwa hanya Allah satu-satunya yang berhak ditaati secara mutlak.

 

Allah berfirman:

 

إِنِ الْحُكْمُ إِلَّا لِلَّهِ

“Menetapkan hukum itu hanyalah hak Allah.”

(QS. Yusuf: 40)

 

Jika ini benar-benar dipahami, maka fanatisme buta akan runtuh dengan sendirinya.

 

Rasulullah ﷺ telah memberikan peringatan yang sangat tegas, tanpa ruang tafsir yang kabur:

 

لَيْسَ مِنَّا مَنْ دَعَا إِلَىٰ عَصَبِيَّةٍ، وَلَيْسَ مِنَّا مَنْ قَاتَلَ عَلَىٰ عَصَبِيَّةٍ، وَلَيْسَ مِنَّا مَنْ مَاتَ عَلَىٰ عَصَبِيَّةٍ

 

“Bukan dari golongan kami orang yang menyeru kepada fanatisme golongan,

bukan dari golongan kami orang yang berperang karena fanatisme golongan,

dan bukan dari golongan kami orang yang mati di atas fanatisme golongan.”

(HR. Abu Dawud)

 

Kalimat “laysa minnā” bukan perkara ringan.

Ini adalah vonis keras dari Nabi ﷺ bagi siapa pun yang berjuang bukan karena kebenaran, melainkan karena kelompoknya.

 

Lebih menyedihkan lagi, ketika realitas umat yang rusak, agama justru dituduh gagal membangun masyarakat.

Padahal:

 

aturan halal–haram sudah jelas

 

perintah dan larangan sangat rinci

 

akhlak dan keadilan ditekankan secara menyeluruh

 

Allah menegaskan:

 

وَمَا كَانَ اللَّهُ لِيَظْلِمَهُمْ وَلَٰكِن كَانُوا أَنفُسَهُمْ

يَظْلِمُونَ

 

“Allah tidak menzalimi mereka, tetapi merekalah yang menzalimi diri mereka sendiri.”

(QS. At-Taubah: 70)

 

Maka yang gagal bukan agamanya,

melainkan SDM yang merasa pintar, tetapi enggan tunduk kepada kebenaran.

 

Mengaku Paling Sunnah, Tapi Gemar Mentahdzir

 

Fenomena lain yang melelahkan adalah munculnya kelompok-kelompok kajian yang:

 

mengklaim paling Sunnah

 

mudah membid’ahkan

 

gemar mentahdzir

 

sibuk menjatuhkan sesama Muslim

 

Padahal Allah telah mengingatkan:

 

فَلَا تُزَكُّوا أَنفُسَكُمْ ۖ هُوَ أَعْلَمُ بِمَنِ اتَّقَىٰ

“Maka janganlah kamu menganggap dirimu suci. Dialah yang paling mengetahui siapa yang bertakwa.”

(QS. An-Najm: 32)

 

Dan Rasulullah ﷺ bersabda:

 

إِذَا قَالَ الرَّجُلُ هَلَكَ النَّاسُ فَهُوَ أَهْلَكُهُمْ

 

“Jika seseorang berkata: ‘Manusia telah binasa’, maka dialah yang paling binasa.”

(HR. Muslim)

 

Dakwah yang benar menghidupkan hati, bukan memuaskan ego kelompok.

 

Perpecahan bukan karena kurangnya dalil,

melainkan karena hati yang enggan tunduk.

 

Jika umat ini benar-benar kembali kepada: Al-Qur’an, Sunnah, dan makna Lā ilāha illallāh

maka persatuan akan lahir secara alami bukan persatuan semu di atas kepentingan,tetapi persatuan di atas kebenaran.

Tinggalkan Balasan