Masjid Kebangkitan
Sejak runtuhnya Khilafah Turki Utsmani, umat Islam seperti anak ayam kehilangan induknya. Bukan hanya kehilangan institusi politik, tetapi kehilangan arah peradaban. Hilang kompas kolektif yang selama berabad-abad memandu umat Islam sebagai satu kekuatan sejarah. Sejak saat itu, umat Islam tercerai-berai, terfragmentasi oleh batas negara, kepentingan sempit, dan ideologi asing yang tidak lahir dari rahim nilai Islam.
Hingga hari ini, belum lahir kepemimpinan Islam yang mampu mengorkestrasi kekuatan umat secara global. Tidak ada satu visi besar yang mempersatukan energi umat. Yang ada adalah langkah-langkah kecil yang berjalan sendiri-sendiri, sering kali saling tidak terhubung, bahkan tak jarang saling melemahkan. Umat Islam berjalan tanpa peta peradaban, sibuk bertahan hidup, sibuk dengan urusan domestik, sementara panggung dunia dikuasai oleh kekuatan yang jauh dari nilai keadilan dan kemanusiaan.
Dalam kehidupan berbangsa dan bernegara, umat Islam nyaris tidak menjadi aktor utama. Umat lebih sering menjadi objek kebijakan, bukan subjek penentu arah. Kekuasaan politik menjauh dari nilai-nilai Islam, bahkan kerap bertentangan dengannya. Korupsi dianggap wajar. Ketimpangan sosial diterima sebagai keniscayaan. Penindasan dilegitimasi atas nama pembangunan. Alam dieksploitasi tanpa amanah, tanpa tanggung jawab sebagai khalifah di muka bumi. Semua itu berlangsung setiap hari, menjadi rutinitas, menjadi normalitas baru yang mematikan nurani.
Dalam bidang ekonomi, kondisi umat Islam tidak jauh berbeda. Secara kuantitatif, umat Islam besar dalam jumlah, tetapi kecil dalam kendali. Secara nilai, umat Islam jauh dari sistem ekonomi yang berkeadilan. Umat lebih banyak berperan sebagai konsumen, bukan produsen. Sebagai pasar, bukan pengendali pasar. Rantai nilai ekonomi dikuasai oleh segelintir pihak, sementara umat Islam terjebak dalam siklus ketergantungan, utang, dan eksploitasi. Ekonomi tidak lagi menjadi sarana ibadah dan kemaslahatan, tetapi menjadi alat penjajahan gaya baru.
Lebih dari itu, umat Islam perlahan menjauh dari masjid. Masjid yang dahulu menjadi jantung peradaban kini mengalami penyempitan makna. Masjid direduksi menjadi tempat ritual semata. Shalat ditegakkan, tetapi keadilan tidak diperjuangkan. Dzikir menggema, tetapi kepedulian sosial melemah. Saf-saf dirapatkan, tetapi barisan umat dalam kehidupan nyata tercerai-berai.
Padahal dalam sejarah Islam, masjid bukan sekadar bangunan ibadah. Masjid Nabawi adalah pusat segala-galanya. Dari masjid lahir kepemimpinan. Dari masjid disusun strategi. Dari masjid diatur ekonomi umat. Dari masjid dibangun solidaritas sosial. Dari masjid lahir peradaban yang mencerahkan dunia. Masjid adalah pusat kesadaran, pusat pendidikan, pusat kebijakan, pusat pengorganisasian umat.
Hari ini, masjid harus kembali menemukan jati dirinya. Masjid harus menjadi Masjid Kebangkitan.
Masjid Kebangkitan adalah masjid yang menghidupkan ruh umat.
Masjid yang melahirkan kesadaran bahwa Islam bukan hanya agama ritual, tetapi sistem nilai yang mengatur kehidupan.
Masjid yang mendidik jamaahnya menjadi manusia beriman sekaligus manusia berperan.
Masjid Kebangkitan bukan hanya ramai oleh jamaah shalat, tetapi juga hidup oleh aktivitas pembinaan.
Di dalamnya tumbuh literasi keislaman dan kebangsaan.
Di dalamnya lahir kader pemimpin yang berintegritas.
Di dalamnya dirajut ukhuwah sosial dan ekonomi.
Di dalamnya umat belajar berdiri di atas kaki sendiri.
Masjid Kebangkitan harus menjadi pusat penguatan ekonomi umat. Dari masjid lahir kesadaran untuk saling menguatkan dalam muamalah, saling membeli, saling mendukung usaha, membangun ekosistem ekonomi yang adil dan berkelanjutan. Masjid bukan anti dunia, tetapi mengarahkan dunia agar tunduk pada nilai ketauhidan dan kemaslahatan.
Masjid Kebangkitan juga harus menjadi pusat advokasi keadilan. Masjid tidak boleh diam ketika ketidakadilan merajalela. Masjid harus menjadi suara moral yang menegur kekuasaan, membela yang lemah, dan menjaga amanah bumi. Dakwah tidak hanya di mimbar, tetapi hadir dalam keberpihakan nyata.
Masjid Kebangkitan adalah tempat lahirnya manusia-manusia merdeka.
Merdeka dari ketergantungan.
Merdeka dari ketakutan.
Merdeka dari penjajahan ekonomi dan budaya.
Merdeka karena iman.
Kebangkitan umat tidak akan lahir dari kekuasaan politik yang kosong nilai.
Tidak akan lahir dari pertumbuhan ekonomi yang timpang.
Tidak akan lahir dari pembangunan fisik tanpa ruh.
Kebangkitan umat hanya akan lahir dari kesadaran kolektif yang tumbuh dari pusat nilai. Dan pusat nilai itu adalah masjid.
Dari masjid, iman ditanamkan. Dari masjid, ilmu disebarkan. Dari masjid, kepemimpinan dibentuk. ODari masjid, peradaban dibangun.
Maka saatnya masjid tidak lagi berdiri sebagai simbol kesalehan individual semata, tetapi sebagai pusat gerakan perubahan. Gerakan yang tenang namun mengakar. Gerakan yang sunyi namun menggetarkan sejarah. Gerakan yang dimulai dari sujud, lalu menjelma menjadi peradaban.
Masjid Kebangkitan. Dari iman menuju peran. Dari ibadah menuju peradaban. Dari masjid menuju kebangkitan umat.
SiS, Antarkita