You are currently viewing MBG Versi Pak Pujiono

MBG Versi Pak Pujiono

MBG Versi Pak Pujiono

Begitulah kira-kira judulnya, hehehe.

Mumpung MBG (Makan Bergizi Gratis) lagi naik daun, lagi wara-wiri di pidato, baliho, dan layar kaca, ya sekalian saja kita ikut nimbrung. Tapi tenang, ini bukan MBG versi Konoha. Ini cerita MBG versi dapur rakyat, versi keringat, versi akal sehat.

Jauh sebelum MBG versi negara diluncurkan dengan segala atribut kekuasaan, MBG versi Pak Pujiono sudah lebih dulu berjalan. Tanpa konferensi pers. Tanpa klaim prestasi. Tanpa narasi “keberpihakan”. Tapi nyata—dirasakan setiap hari oleh keluarganya.

MBG itu kepanjangan dari Makan Bergizi Gratis.

Kalimatnya pendek, terdengar sederhana, bahkan terkesan murah. Tapi coba kita jujur sebentar. Kata gratis itu bukan kata ringan. Begitu gratis dihapus, yang muncul adalah angka-angka yang bikin dahi berkerut, hehehe.

Mari kita hitung pakai logika dapur, bukan logika podium.

Makan bergizi dengan lauk ayam kampung.

Satu porsi Rp40.000.

Anggota keluarga empat orang.

Sekali makan habis Rp160.000.

Kalau dilakukan setiap hari selama sebulan?

Rp4,8 juta per bulan.

Itu baru satu kali makan.

Belum sarapan.

Belum makan malam.

Belum telur, buah, sayur, susu, dan kebutuhan gizi lainnya.

Pertanyaannya sederhana tapi menyakitkan:

masa gaji bulanan habis cuma buat makan?

Kalau iya, lalu hidup buat apa? Hehehe.

Dari kegelisahan itulah Pak Pujiono berpikir dan bertindak.

Bukan menyalahkan pemerintah.

Bukan mengutuk keadaan.

Apalagi menunggu bansos.

Beliau memilih jalan sunyi: bertani dan beternak sendiri.

Bertani dan beternak memang sudah menjadi hobi Pak Pujiono. Tapi hobi ini bukan sekadar pengisi waktu luang. Hobi ini berubah menjadi strategi hidup. Ayam dipelihara, mentok dikandangkan, cabai dan sayur ditanam, pisang dirawat. Perlahan tapi pasti, dapur keluarga menjadi lebih mandiri.

Inilah MBG versi Pak Pujiono:

makan bergizi, hasil dari kerja sendiri, gratis dari sisi belanja harian, mahal dari sisi usaha dan tanggung jawab.

Ini bukan romantisasi kemiskinan.

Ini perlawanan diam-diam terhadap mahalnya hidup.

Karena Pak Pujiono paham betul, kalau semua kebutuhan pangan bergizi harus dibeli, maka seberapa pun gaji akan selalu terasa kurang. Harga bisa naik kapan saja, kebijakan bisa berubah kapan saja, tapi tanaman yang kita rawat sendiri tidak ikut pidato siapa pun.

Menariknya, setelah kebutuhan “dalam negeri” keluarga terpenuhi, sisa hasil panen dan ternak justru mendatangkan penghasilan tambahan. Dijual ke sekitar, dipasarkan, memberi nilai ekonomi. Dari ketahanan pangan, lahir ketahanan finansial.

Dan siapa Pak Pujiono ini?

Beliau adalah anggota polisi yang masih aktif berdinas di Kepolisian Resor Banyumas. Di sela tugas menjaga keamanan dan ketertiban, beliau memanfaatkan lahan kosong di area kompleks Polresta Banyumas.

Lahan yang dulunya seperti hutan belantara, beliau sulap menjadi mini farm produktif: ayam, mentok, pisang, cabai, dan aneka sayuran tumbuh di sana.

Ironisnya, di saat banyak pejabat sibuk bicara soal kedaulatan pangan dari balik mikrofon, Pak Pujiono mempraktikkannya dari balik cangkul dan kandang.

Di sinilah sentilan politiknya terasa.

Ketika negara sibuk mendesain program dengan anggaran triliunan, rakyat dipaksa percaya lewat slogan.

Sementara Pak Pujiono membuktikan: kedaulatan pangan itu bukan soal jargon, tapi soal kemauan dan kerja nyata.

Lebih ironis lagi, ketika sebagian orang lebih memilih hidup dari jatah—jatah parkir, jatah proyek, jatah kekuasaan—Pak Pujiono justru mengajarkan sebaliknya.

Buang jauh-jauh mental malas.

Buang jauh-jauh mental mengemis.

Pesannya sederhana tapi menampar:

kalau ingin makan, ya bekerja.

kalau butuh duit, ya berusaha.

Bukan dengan menengadah tangan ke penguasa,

bukan dengan berlindung di balik seragam ormas,

apalagi dengan menjadikan negara sebagai sapi perah.

Jangan menengadah tangan melulu, hehehe.

MBG versi Pak Pujiono mungkin tidak akan masuk laporan kinerja.

Tidak akan diklaim sebagai keberhasilan rezim.

Tidak akan dijadikan bahan kampanye.

Tapi justru di situlah nilainya.

Ia hidup, tumbuh, dan memberi contoh.

Karena sejatinya, ketahanan pangan nasional tidak akan pernah kuat kalau ketahanan pangan keluarga rapuh.

Dan kedaulatan bangsa tidak dibangun dari baliho, tapi dari dapur-dapur yang berdaulat.

Suwatnoibnusudihardjo

Antarkita

Tinggalkan Balasan