You are currently viewing MENGHIDUPKAN EKOSISTEM

MENGHIDUPKAN EKOSISTEM

MENGHIDUPKAN EKOSISTEM

Oleh SiS, antarkita

Dalam perjalanan kehidupan berbangsa, kadang kita masih merasakan pola lama yang sering disebut orang sebagai politik belah bambu.

Satu sisi diinjak, sisi lain diangkat.

Artinya selalu ada pihak yang dimenangkan oleh sebuah kebijakan, sementara di sisi lain ada pihak yang harus menanggung dampaknya. Pola ini sering terasa dalam berbagai kebijakan publik, bahkan sampai pada masa pemerintahan Prabowo Subianto saat ini.

Padahal negara yang sehat seharusnya tidak hanya menghasilkan pemenang dan korban, tetapi mampu membangun ekosistem yang hidup dan saling menguatkan.

Ekosistem berarti sebuah sistem kehidupan di mana setiap bagian memiliki ruang untuk berperan. Tidak hanya mereka yang memiliki modal besar, tetapi juga rakyat kecil yang selama ini menjadi tulang punggung ekonomi sehari-hari.

Dalam konteks kebijakan publik saat ini, salah satu program yang banyak dibicarakan adalah Makan Bergizi Gratis (MBG).

Secara konsep, program ini memiliki tujuan yang sangat baik. Pemerintah ingin memastikan anak-anak Indonesia mendapatkan asupan gizi yang cukup, sekaligus diharapkan mampu menggerakkan ekonomi melalui kebutuhan pangan yang besar.

Gagasan seperti ini sebenarnya sangat strategis. Jika dirancang dengan baik, program besar seperti MBG bisa menggerakkan rantai ekonomi dari hulu sampai hilir.

Petani bisa menyuplai beras dan sayuran.

Peternak bisa memasok telur, ayam, atau susu.

Nelayan bisa menyediakan ikan.

Usaha kecil bisa mengolah makanan.

Dengan desain ekosistem yang tepat, satu program bisa menghidupkan banyak sektor ekonomi rakyat.

Namun dalam berbagai diskusi ekonomi, muncul sejumlah kritik terhadap implementasinya.

Ekonom Hendri Saparini dari Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia pernah menyampaikan bahwa jika tujuan program MBG juga untuk pemberdayaan ekonomi, maka sistem pelaksanaannya harus benar-benar membuka ruang bagi pelaku ekonomi kecil.

Jika tidak, program yang besar justru berpotensi hanya menguntungkan kelompok usaha tertentu.

Beberapa persoalan memang muncul dalam praktik.

Ada laporan menu yang belum sepenuhnya memenuhi standar gizi.

Bahkan dalam beberapa kasus muncul kabar keracunan makanan yang membuat masyarakat mempertanyakan kesiapan sistem distribusinya.

Di sisi lain, dari sisi rantai pasok bahan makanan juga muncul tantangan.

Karena kebutuhan produksi sangat besar dan sistem pembayaran sering menggunakan tempo, maka yang mampu masuk ke dalam sistem suplai biasanya adalah pemodal besar yang memiliki modal kuat dan kapasitas produksi tinggi.

Petani kecil, peternak kecil, dan usaha pangan skala mikro sering kesulitan ikut terlibat karena keterbatasan produksi dan keterbatasan modal untuk menunggu pembayaran.

Akibatnya tujuan pemberdayaan ekonomi rakyat tidak sepenuhnya tercapai.

Bahkan dalam beberapa kasus lain, program makanan terpusat seperti ini juga berdampak pada pedagang kecil yang selama ini berjualan makanan di sekitar sekolah.

Bagi mereka, kehadiran program makanan gratis bisa berarti turunnya omzet, bahkan hilangnya sumber penghasilan.

Padahal mereka bukan pengusaha besar.

Mereka hanyalah rakyat kecil yang berusaha bertahan hidup dengan cara sederhana.

Bangun pagi, memasak makanan, lalu berjualan demi menyambung kehidupan keluarga.

Ironisnya, mereka tidak kalah bersaing karena malas bekerja, tetapi karena sistem kebijakan yang berubah tanpa memberi ruang bagi mereka untuk ikut hidup di dalamnya.

Padahal dalam Undang-Undang Dasar 1945, negara memiliki tanggung jawab untuk menciptakan penghidupan yang layak bagi rakyatnya.

Rakyat kecil ini sebenarnya sudah berjuang sendiri tanpa banyak bantuan negara.

Mereka tidak meminta proyek besar.

Mereka hanya meminta satu hal sederhana: ruang untuk hidup.

Di sinilah pentingnya memahami konsep ekosistem ekonomi.

Kebijakan publik tidak cukup hanya melihat tujuan besar di atas kertas.

Ia harus melihat bagaimana kebijakan itu mempengaruhi keseluruhan sistem kehidupan masyarakat.

Menariknya, kita sebenarnya bisa belajar dari tubuh manusia.

Tubuh manusia bekerja melalui berbagai sistem yang saling terhubung.

Ada Sistem pencernaan manusia yang mengolah makanan menjadi energi.

Ada Sistem pernapasan manusia yang memasok oksigen ke dalam tubuh.

Ada juga Sistem metabolisme yang mengatur proses perubahan energi di dalam tubuh.

Semua sistem ini tidak bekerja sendiri-sendiri.

Mereka saling terhubung dan saling mendukung.

Jika satu sistem terganggu, maka seluruh tubuh akan merasakan dampaknya.

Begitu juga dengan ekonomi sebuah bangsa.

Jika kebijakan hanya memperkuat satu kelompok sementara kelompok lain melemah, maka keseimbangan ekosistem akan terganggu.

Yang dibutuhkan bukan sekadar program besar, tetapi desain sistem yang saling menghidupkan.

Program negara seharusnya mampu:

menghidupkan petani,

menghidupkan pedagang kecil,

menghidupkan usaha mikro,

menghidupkan koperasi,

dan sekaligus memenuhi kebutuhan masyarakat.

Jika semua bagian terhubung dalam satu ekosistem yang sehat, maka ekonomi tidak hanya tumbuh di atas, tetapi juga mengalir sampai ke akar rumput.

Pada akhirnya, kekuatan sebuah bangsa tidak hanya diukur dari besar kecilnya anggaran program.

Tetapi dari seberapa hidup ekosistem kehidupan rakyatnya.

Karena bangsa yang kuat bukanlah bangsa yang sekadar menciptakan pemenang…

melainkan bangsa yang mampu menghidupkan seluruh ekosistem kehidupan masyarakatnya.

SiS, antarkita 🌱

Tinggalkan Balasan