Tahajud atau Kesombongan? Ujian Hati di Sepertiga Malam
Oleh: SiS, antarkita
Di sepertiga malam terakhir, ketika sebagian manusia terlelap dan langit terasa lebih dekat, ada jiwa-jiwa yang bangun untuk bermunajat. Air wudhu menyentuh wajah, sajadah terbentang, doa-doa berbisik dalam sunyi.
Namun di waktu yang sama, ada pula yang tertidur hingga fajar, lalu bangun dengan perasaan menyesal: “Ya Allah, aku lalai lagi malam ini.”
Secara lahiriah, tentu yang bangun untuk tahajud lebih utama. Tetapi ada satu penyakit yang jauh lebih berbahaya daripada sekadar kesiangan: ujub dan kesombongan karena merasa diri sholeh.
Karena boleh jadi orang yang tertidur tetapi menyesal, lebih selamat hatinya daripada orang yang bangun malam tetapi hatinya dipenuhi rasa bangga.
Jangan Merasa Suci
Allah ﷻ telah mengingatkan dengan tegas:
“Maka janganlah kamu menganggap dirimu suci. Dialah yang paling mengetahui siapa yang paling bertakwa.”
(QS. Al-Qur’an, An-Najm: 32)
Ayat ini bukan hanya larangan untuk memuji diri secara lisan. Ia adalah peringatan terhadap kesombongan yang tersembunyi dalam hati.
Kadang kita tidak mengucapkan apa-apa, tetapi hati berbisik:
“Aku lebih rajin dari mereka.”
“Aku lebih disiplin.”
“Aku lebih dekat dengan Allah.”
Di sinilah ujian sebenarnya. Amal bisa tampak indah, tetapi hati bisa rusak tanpa kita sadari.
Rasulullah ﷺ bersabda:
“Tidak akan masuk surga orang yang di dalam hatinya terdapat kesombongan walaupun sebesar biji sawi.”
(HR. Imam Muslim)
Kesombongan tidak selalu tentang harta dan jabatan. Ia bisa bersembunyi dalam ibadah. Ia bisa tumbuh dalam rakaat tahajud.
Menyesal Itu Tanda Hidupnya Hati
Bangun kesiangan lalu menyesal adalah tanda hati masih hidup. Penyesalan adalah cahaya. Ia menunjukkan bahwa kita mencintai kebaikan meski belum mampu meraihnya.
Rasulullah ﷺ bersabda:
“Penyesalan adalah taubat.”
(HR. Ibnu Majah, hasan)
Selama hati masih menyesal, selama itu pula pintu kembali masih terbuka.
Sebaliknya, orang yang merasa dirinya sudah cukup sholeh sering kali berhenti memperbaiki diri. Ia tidak lagi merasa butuh istighfar. Ia tidak lagi merasa lemah. Padahal justru kelemahan itulah yang membuat kita bergantung kepada Allah.
Dalam hadits shahih, Rasulullah ﷺ bersabda:
“Seandainya kalian tidak berbuat dosa, sungguh Allah akan menggantikan kalian dengan kaum yang berbuat dosa lalu mereka memohon ampun kepada Allah, lalu Allah mengampuni mereka.”
(HR. Imam Muslim)
Bukan dosa yang membuat kita binasa, tetapi kesombongan yang membuat kita enggan memohon ampun.
Semua Amal Adalah Karunia, Bukan Prestasi
Ketika kita bisa bangun tahajud, itu bukan karena kita hebat. Itu karena Allah membangunkan.
Ketika kita bisa sujud dengan khusyuk, itu bukan karena kita suci. Itu karena Allah memberi hidayah.
Allah ﷻ berfirman:
“Dan apa saja nikmat yang ada pada kamu, maka dari Allah-lah (datangnya).”
(QS. Al-Qur’an, An-Nahl: 53)
Termasuk nikmat bisa beribadah.
Maka setelah tahajud, sikap terbaik bukan merasa bangga, tetapi merasa berutang syukur. Bukan merasa lebih tinggi, tetapi merasa semakin kecil di hadapan Allah.
Rasulullah ﷺ—yang telah diampuni dosa-dosanya—shalat malam hingga kakinya bengkak. Ketika ditanya mengapa begitu bersungguh-sungguh, beliau menjawab:
“Tidakkah aku menjadi hamba yang bersyukur?”
(HR. Imam Bukhari dan Imam Muslim)
Beliau tidak berkata, “Aku ingin dikenal sebagai ahli ibadah.”
Beliau berkata, “Aku ingin menjadi hamba yang bersyukur.”
Inilah puncak spiritualitas: rasa syukur, bukan rasa bangga.
Lebih Takut Amal Ditolak daripada Takut Ketinggalan Amal
Para salaf dahulu lebih takut amalnya tidak diterima daripada takut kurang beramal. Mereka menangis bukan karena tidak bisa banyak beribadah, tetapi karena tidak tahu apakah ibadahnya diterima.
Allah ﷻ berfirman:
“Sesungguhnya Allah hanya menerima (amal) dari orang-orang yang bertakwa.”
(QS. Al-Qur’an, Al-Ma’idah: 27)
Maka persoalannya bukan sekadar bangun atau tidak bangun tahajud.
Persoalannya adalah: bagaimana kondisi hati kita?
Lebih baik kita tertidur lalu bangun dengan hati yang remuk dan penuh istighfar, daripada bangun malam dengan hati yang membusung dan merasa paling benar.
Karena Allah melihat hati sebelum melihat gerakan.
Jadilah Hamba yang Rendah Hati
Jika Allah membangunkan kita untuk tahajud, bersyukurlah.
Jika kita tertidur, menyesallah dan perbaiki niat.
Tetapi dalam dua keadaan itu, jangan pernah merasa diri suci.
Kita semua bergantung pada rahmat dan hidayah-Nya. Tanpa itu, kita tidak akan mampu berdiri satu rakaat pun.
Semoga setiap ibadah membuat kita semakin rendah hati.
Semoga setiap kebaikan membuat kita semakin sadar bahwa semua itu adalah karunia, bukan prestasi.
Semoga kita menjadi hamba yang tidak bangga pada amal, tetapi bangga menjadi milik Allah.
Karena yang Allah cintai bukan hamba yang merasa hebat, tetapi hamba yang merasa lemah lalu bersandar sepenuhnya kepada-Nya.
Oleh: SiS, antarkita