You are currently viewing Terperangah dan Termangu

Terperangah dan Termangu

Terperangah dan Termangu

Selasa, 20 Januari 2026

Sudah hampir sepekan saya mencari waktu yang pas untuk berkunjung ke seorang sahabat lama. Seorang ustadz, pengajar tahfidz Al-Qur’an.

Kami dulu sering bertemu saat sama-sama aktif di masjid kampus negeri di Purwokerto. Waktu berlalu, kesibukan memisahkan, tapi rasa persaudaraan itu tidak pernah benar-benar putus.

Alhamdulillah, sore ini Allah memberikan kesempatan.

Kami bertemu. Bersalaman. Berpelukan.

Obrolan ringan pun mengalir—tentang kesehatan, keluarga, dan perjalanan hidup yang sama-sama tidak selalu lurus.

Lalu pembicaraan berlanjut ke kondisi pondok pesantren tempat beliau mengabdi.

Saya teringat masa awal berdirinya pondok itu. Dulu, kami bahkan pernah patungan memasang CCTV karena sering terjadi kemalingan. Maka saya pun bertanya,

“Sekarang bagaimana keadaannya, Ustadz?”

Beliau tersenyum kecil.

“Masih kecil juga,” jawabnya pelan.

Belum sempat saya mencerna kalimat itu, beliau melanjutkan,

“Pintu gerbang asrama putri… digondol.”

Saya terperangah.

“Waduh… maling kok tega amat, Ustadz.”

Belum selesai rasa kaget itu, beliau menambahkan lagi,

“Pintu kamar asrama putri juga digondol. Tiga pintu.”

Saya terdiam sejenak.

“Jadi… kamarnya tanpa pintu, Ustadz?”

“Iya,” jawab beliau lirih.

“Sekarang cuma pakai korden.”

Di titik itu, saya benar-benar termangu.

Bukan karena kisah kemalingannya semata, tapi karena membayangkan para santri putri yang belajar menghafal Kalamullah, tinggal di kamar tanpa pintu—ditutup hanya sehelai kain.

Saya tarik napas panjang.

Lalu saya bertanya tentang kondisi para santri. Alhamdulillah, mereka sehat, tetap semangat menghafal Qur’an.

Kemudian giliran saya bertanya hal yang lebih sensitif,

“Kalau para ustadz dan ustadzah… bagaimana kesejahteraannya?”

Beliau tertawa kecil. Bukan tawa bahagia, lebih seperti tawa yang sudah terlalu sering berdamai dengan keadaan.

“Belum ada perubahan,” katanya.

Gaji para ustadz dan ustadzah di pondok itu berada di kisaran Rp400.000, maksimal Rp1.000.000 per bulan.

Waduh.

Lagi-lagi saya hanya bisa terdiam.

Di tengah negeri yang gaduh dengan isu politik, hiruk pikuk proyek, dan angka-angka triliunan yang sering kita dengar di berita, ternyata masih ada penjaga Al-Qur’an yang hidup dengan angka-angka yang bahkan nyaris tak disebut layak.

Namun justru di titik itu, hati saya bergetar.

Saya merasa ini bukan sekadar kisah sedih, tapi pintu masuk untuk beramal.

Saya sampaikan ke beliau,

“Ustadz, insyaAllah ini jadi jalan kebaikan.”

Beliau lalu bercerita, saat ini ada sekitar 40 santri, dengan 2 orang musyrif. Salah satu kebutuhan mendesak yang belum terpenuhi: mesin cuci.

Tanpa banyak berpikir, di hadapan beliau juga, saya langsung menghubungi seorang senior. Saya ceritakan kondisi pondok, kondisi para ustadz, dan kebutuhan mendesak itu. Saya sampaikan pula nomor rekening Mudir pondok.

Alhamdulillah.

Tidak lama berselang, mesin cuci teratasi.

Bukan jumlahnya yang membuat hati ini hangat, tapi kecepatan respon dan ketulusan niat. Karena seringkali, yang dibutuhkan bukan program besar, tapi kepedulian yang tidak menunda.

Pekan ini, insyaAllah saya akan mengajak senior saya untuk bertemu langsung dengan Mudir pondok tersebut. Bukan hanya untuk memberi, tapi untuk mencari solusi yang lebih berkelanjutan.

Ustadz Mudir menyampaikan terima kasih dan mendoakan senior saya dengan penuh keikhlasan. Doa yang keluar dari lisan penjaga Al-Qur’an—saya yakin—tidak pernah sia-sia.

Semoga pekan ini bisa lanjut kopdar.

Dan bagi teman-teman yang ingin ikut bergerak, ikut melihat langsung, ikut mencari jalan solusi bersama, silakan menghubungi kami.

Karena kadang, perubahan besar tidak dimulai dari rapat mewah atau forum megah,

melainkan dari kunjungan sederhana,

obrolan jujur,

dan hati yang tidak tega untuk berpaling.

 

Salam hangat,                                    Inisiator Aspirasimu

Tinggalkan Balasan