You are currently viewing Kesederhanaan dan Kemudahan sebagai Jalan Kemandirian dan Kedaulatan Ekonomi

Kesederhanaan dan Kemudahan sebagai Jalan Kemandirian dan Kedaulatan Ekonomi

Kesederhanaan dan Kemudahan sebagai Jalan Kemandirian dan Kedaulatan Ekonomi

Banyumas, Awal 2026

Di tengah lanskap ekonomi digital yang semakin dikuasai oleh platform raksasa dengan modal besar dan teknologi kompleks, Antarkita.com memilih untuk mengambil jalan yang berbeda. Jalan yang sederhana, membumi, dan berpihak pada manusia. Jalan yang meyakini bahwa inti dari ekonomi bukanlah algoritma, melainkan relasi, kepercayaan, dan ukhuwah.

Antarkita.com diinisiasi oleh Suwatno Ibnu Sudihardjo sebagai ikhtiar kecil namun bernilai sikap besar: menghadirkan layanan transportasi online yang adil, mudah diakses, dan berangkat dari semangat kemandirian serta kedaulatan ekonomi jama’ah.

“Kami sadar, Antarkita.com tidak bisa dibandingkan dengan aplikasi raksasa yang ada hari ini. Tapi kami juga yakin, setiap ikhtiar punya ceruk rezekinya masing-masing. Keunggulan Antarkita.com bukan pada teknologi dan modal uang, melainkan pada modal spirit,” ujar Suwatno.

Inspirasi Pasar Rasulullah ﷺ: Ekonomi yang Memanusiakan

Spirit Antarkita.com terinspirasi dari pasar yang dibangun Rasulullah ﷺ di Madinah. Ketika hijrah, Rasulullah ﷺ mendapati bahwa pasar dikuasai oleh sistem yang sarat riba, monopoli, dan ketidakadilan. Alih-alih melawan dengan kekerasan, Rasulullah ﷺ memilih membangun pasar alternatif—pasar yang bebas pungutan, bebas riba, dan menjunjung kejujuran.

Dalam hadis disebutkan:

“Ini adalah pasar kalian. Jangan dipersempit dan jangan dipungut pajak.” (HR. Ibnu Majah)

Pasar bagi Rasulullah ﷺ bukan sekadar tempat jual beli, tetapi instrumen kedaulatan umat. Di sanalah martabat manusia dijaga, dan ekonomi ditempatkan sebagai sarana ibadah sosial.

Nilai inilah yang coba dihidupkan kembali oleh Antarkita.com dalam konteks kekinian. Bukan untuk menumbangkan sistem besar, tetapi menghadirkan pilihan yang lebih adil dan manusiawi.

Teknologi yang Sederhana, Manusia sebagai Subjek

Antarkita.com mengedepankan kesederhanaan teknologi dan kemudahan penggunaan. Platform ini dapat diakses langsung melalui website tanpa harus mengunduh aplikasi. Pengguna cukup memiliki:

ponsel yang bisa membuka website, dan

aplikasi WhatsApp untuk terhubung dengan operator Antarkita.

Pendekatan ini dipilih secara sadar. Di tengah masyarakat yang sangat beragam, tidak semua orang memiliki ponsel dengan spesifikasi tinggi atau ruang penyimpanan besar. Antarkita.com ingin memastikan bahwa teknologi tidak menjadi penghalang rezeki.

Dengan dukungan operator berbasis WhatsApp, relasi antara penumpang, driver, dan pengelola tetap terasa hangat, komunikatif, dan manusiawi. Tidak ada jarak algoritma yang dingin, tidak ada sistem yang membungkam suara manusia.

“Bagi kami, teknologi hanyalah alat. Manusia tetap subjek utama. Hubungan bisnis adalah hubungan sesama manusia,” tegas Suwatno.

Tanpa Potongan, Tanpa Menekan: Ekonomi yang Lebih Adil

Antarkita.com hadir dengan sistem tanpa potongan atau biaya yang sangat kompetitif. Model ini dirancang agar:

penumpang lebih hemat,

driver mendapatkan penghasilan yang lebih besar dan layak.

Di saat banyak platform menerapkan potongan tinggi dan skema insentif yang sering berubah, Antarkita.com memilih konsistensi dan keadilan. Tidak ada algoritma yang menekan, tidak ada target yang memberatkan, dan tidak ada relasi timpang antara platform dan mitra.

Driver bukan sekadar “mitra sistem”, tetapi saudara seperjalanan dalam ekosistem ekonomi yang saling menghidupi.

Dari Kita, Oleh Kita, Untuk Kita

Antarkita.com hidup bukan dari iklan besar atau suntikan modal raksasa, melainkan dari partisipasi jama’ah dan kepercayaan komunitas. Platform ini dibangun dengan kesadaran bahwa kemandirian ekonomi tidak lahir dari ketergantungan, tetapi dari keberanian memulai.

Antarkita.com mengajak masyarakat—khususnya warga Muhammadiyah dan umat Islam—untuk mulai mengalihkan pilihan:

menggunakan jasa transportasi dari ekosistem sendiri,

menghidupkan rezeki saudara sendiri,

dan membangun perputaran ekonomi yang berdaulat.

“Kami ingin membuktikan bahwa ekonomi bisa tumbuh dari bawah, dari jama’ah, dari kesadaran bersama,” tambah Suwatno.

Penutup: Ikhtiar Kecil, Sikap Besar

Antarkita.com menyadari keterbatasannya. Namun sebagaimana kisah burung pipit yang membawa setetes air saat Nabi Ibrahim AS dibakar, Antarkita.com tidak sedang menghitung besar-kecil hasil, tetapi menentukan keberpihakan.

Allah SWT berfirman:

“Allah melapangkan rezeki bagi siapa yang Dia kehendaki dan menyempitkannya bagi siapa yang Dia kehendaki.” (QS. Ar-Ra’d: 26)

Tugas manusia adalah berikhtiar dengan cara yang benar, adil, dan bermartabat. Adapun hasil, sepenuhnya milik Allah SWT.

Dengan kesederhanaan dan kemudahan sebagai prinsip, Antarkita.com melangkah sebagai ikhtiar ekonomi berbasis nilai, membangun kemandirian, kedaulatan, dan ukhuwah di tengah arus besar ekonomi digital.

SiS, Antarkita

Tinggalkan Balasan