Antarkita

3 Maret 2026

Kabarkita, Prespektif, Ruang Kita

Cukuplah Bertuhan pada Allah SWT

Cukuplah Bertuhan pada Allah SWT Oleh: SiS, antarkita Bukan pada doa, ikhtiar, usaha ataupun metode. Karena dunia ini tidak linier ataupun berbanding terbalik. Doa, ikhtiar, dan metode adalah bukti kita bertuhan pada Allah SWT. Ada satu hal yang sangat halus dalam perjalanan iman: bergesernya tempat sandaran hati. Awalnya kita bersandar kepada Allah. Lalu perlahan, tanpa sadar, kita mulai bersandar pada doa yang kita panjatkan. Kita mulai yakin pada jumlah usaha yang kita lakukan. Kita mulai percaya pada metode yang kita susun. Ketika doa belum terkabul, kita gelisah. Ketika usaha belum berhasil, kita marah. Ketika metode gagal, kita kecewa. Mengapa? Karena diam-diam kita menaruh harapan terbesar bukan pada Allah, tetapi pada cara. Padahal dunia ini tidak linier. Tidak selalu semakin banyak doa, semakin cepat jawaban turun. Tidak selalu semakin keras usaha, semakin besar hasil yang didapat. Tidak pula selalu kesulitan berarti hukuman dan kemudahan berarti kemuliaan. Allah menjadikan hidup penuh variabel agar manusia tidak mempertuhankan sebab. Jika dunia ini linier, manusia akan menyembah rumus. Jika dunia ini selalu berbanding terbalik, manusia akan menyembah teori baru. Tetapi Allah menjadikannya kompleks agar manusia tetap tunduk. Cukuplah bertuhan pada Allah SWT. Bukan pada doa itu sendiri. Bukan pada ikhtiar itu sendiri. Bukan pada usaha ataupun metode itu sendiri. Doa bukan Tuhan. Ikhtiar bukan Tuhan. Metode bukan Tuhan. Semuanya hanyalah bentuk ubudiyah—bukti bahwa kita hamba. Doa adalah pengakuan bahwa kita lemah. Ikhtiar adalah bentuk ketaatan karena kita diperintah berusaha. Metode adalah amanah akal yang Allah titipkan agar digunakan dengan bijak. Namun hasil akhir bukan milik doa kita. Bukan milik kerja keras kita. Bukan milik kecerdasan kita. Hasil akhir milik Allah SWT. Bertuhan kepada Allah berarti tetap berdoa meski belum melihat jawaban. Tetap berusaha meski belum melihat hasil. Tetap menyusun strategi meski belum melihat kepastian. Bertuhan kepada Allah berarti hati tidak hancur ketika usaha gagal, dan tidak sombong ketika usaha berhasil. Karena keberhasilan bukan bukti metode paling hebat. Dan kegagalan bukan bukti doa tidak didengar. Sering kali Allah menunda agar hati kita bersih dari kesombongan. Sering kali Allah memberi agar kita belajar bersyukur. Sering kali Allah menggagalkan cara agar kita kembali bersandar. Di situlah tauhid diuji. Apakah kita hanya yakin kepada Allah ketika hasil sesuai keinginan? Ataukah kita tetap yakin meski takdir berbeda dari rencana? Doa, ikhtiar, dan metode adalah bukti kita bertuhan pada Allah SWT. Kita berdoa karena kita percaya Allah Maha Mendengar. Kita berusaha karena kita percaya Allah memerintahkan gerak. Kita menyusun metode karena kita percaya akal adalah amanah. Namun kita tidak mengkultuskan semuanya. Karena jika hati lebih tenang pada strategi daripada pada sujud, di situlah ada yang perlu diluruskan. Cukuplah bertuhan pada Allah SWT. Ketika doa belum terkabul, katakan: Allah Maha Tahu waktu terbaik. Ketika usaha belum berhasil, katakan: Allah sedang mendidik sabar. Ketika metode runtuh, katakan: Allah sedang menunjukkan jalan lain. Hidup bukan tentang memastikan hasil, tetapi tentang memastikan hati tetap lurus. Gunakan doa dengan sungguh-sungguh. Lakukan ikhtiar dengan sepenuh tanggung jawab. Rancang metode dengan ilmu dan hikmah. Lalu lepaskan semuanya dalam keyakinan yang utuh: Apa pun hasilnya, itulah keputusan Allah yang terbaik bagi hamba-Nya. Karena yang kita sembah adalah Allah, bukan doa kita, bukan usaha kita, dan bukan metode kita. Cukuplah bertuhan pada Allah SWT. Oleh: SiS, antarkita

Kabarkita, Prespektif, Ruang Kita

Rakyat Bersatu Tak Bisa Dikalahkan

Rakyat Bersatu Tak Bisa Dikalahkan Dari Spirit 1998 Menuju Tantangan Kontrol Moral Umat Hari Ini Oleh: SiS Antarkita “Rakyat bersatu tak bisa dikalahkan.” Kalimat itu bukan sekadar slogan demonstrasi. Ia pernah menjadi energi kolektif yang menggetarkan fondasi kekuasaan. Pada 1998, gelombang mahasiswa dan rakyat bergerak serentak, memaksa Presiden Soeharto mengakhiri lebih dari tiga dekade kekuasaannya. Sejarah mencatat: ketika rakyat menemukan titik temu perjuangannya, rezim sekuat apa pun bisa runtuh. Tetapi pertanyaan yang jarang dijawab secara jernih adalah: siapa yang menyatukan rakyat saat itu? Apakah mahasiswa? Ya, mereka motor penggerak. Apakah krisis ekonomi? Jelas, ia bahan bakar yang membakar kesadaran. Apakah elite politik? Sebagian mungkin membaca arah angin sejarah. Namun lebih dari semua itu, ada satu faktor yang paling menentukan: perasaan senasib. Ketika harga kebutuhan pokok melonjak, PHK terjadi di mana-mana, dan ketidakadilan terasa nyata, rakyat menemukan kesamaan nasib. Dari kesadaran kolektif itulah persatuan lahir—bukan karena komando tunggal, melainkan karena penderitaan yang dirasakan bersama. Persatuan 1998 adalah persatuan emosional, sosial, dan moral. Ia lahir dari krisis yang menyentuh semua lapisan. Lalu kita melompat ke hari ini. Indonesia tetap demokratis, pemilu berjalan, kebebasan berpendapat relatif terbuka. Namun muncul pertanyaan reflektif: mengapa energi kontrol rakyat seperti 1998 terasa tidak lagi sekuat dulu? Secara kuantitas dan struktur sosial, Indonesia memiliki dua organisasi Islam terbesar yang secara historis dan demografis mewakili mayoritas umat: Muhammadiyah dan Nahdlatul Ulama. Keduanya memiliki jaringan hingga pelosok desa, amal usaha pendidikan dan kesehatan, serta pengaruh sosial yang luas. Secara teoritis, jika dua kekuatan moral ini bergerak dalam satu irama, mereka bisa menjadi pilar kontrol sosial yang sangat kuat terhadap pemerintah—bukan dalam posisi oposisi politik, tetapi sebagai penjaga etika kebangsaan. Namun realitasnya lebih kompleks. Banyak tokoh yang kini duduk di pemerintahan, parlemen, maupun lembaga negara memiliki afiliasi atau latar belakang dari NU dan Muhammadiyah. Ketika kader masuk ke dalam sistem, muncul dilema klasik: apakah mereka menjadi penyambung aspirasi umat, atau justru terserap oleh logika kekuasaan? Di sinilah problem kontrol menjadi tidak sederhana. Ketika jarak organisasi dengan negara semakin dekat, independensi moral diuji. Kritik bisa terasa seperti serangan kepada “orang sendiri”. Padahal dalam demokrasi, kontrol adalah bentuk cinta kepada negara, bukan permusuhan. Ada beberapa faktor yang patut ditelisik lebih dalam. Pertama, fragmentasi kepentingan umat. Berbeda dengan 1998 yang dipersatukan oleh krisis ekonomi total, hari ini masalah terasa sektoral: ada yang terdampak kebijakan ekonomi, ada yang terdampak regulasi pendidikan, ada yang terdampak isu agraria, tetapi tidak semua merasakannya secara bersamaan. Tanpa perasaan senasib yang kuat, sulit membangun gelombang kolektif. Kedua, perubahan lanskap komunikasi. Media sosial mempercepat arus informasi, tetapi juga memecah perhatian publik. Isu cepat viral, tetapi cepat pula dilupakan. Energi kemarahan sering meledak sesaat tanpa konsolidasi yang matang. Ketiga, integrasi elite ormas ke dalam struktur kekuasaan. Ketika kader-kader terbaik dipercaya mengisi jabatan publik, itu tentu membanggakan. Namun di sisi lain, organisasi harus menjaga jarak kritis agar tidak kehilangan fungsi kontrolnya. Tanpa keseimbangan, organisasi bisa terjebak menjadi legitimasi simbolik bagi kebijakan yang mungkin perlu dikritisi. Lalu, apakah NU dan Muhammadiyah kehilangan daya kontrolnya? Belum tentu. Kedua organisasi ini masih memiliki kekuatan moral dan basis massa yang besar. Namun tantangannya adalah bagaimana menjaga independensi nilai di tengah kedekatan struktural dengan negara. Kontrol tidak harus selalu berbentuk demonstrasi. Ia bisa berupa pernyataan sikap, kajian akademik, fatwa moral, advokasi kebijakan, hingga pendidikan politik warga. Tetapi semuanya mensyaratkan keberanian moral dan konsistensi. Pertanyaannya menjadi lebih mendasar: apakah umat masih melihat dirinya sebagai satu kesatuan nasib? Atau sudah terfragmentasi oleh kepentingan politik jangka pendek? Persatuan 1998 tidak lahir dari romantisme, tetapi dari kesadaran kolektif akan ketidakadilan yang dirasakan bersama. Jika hari ini rakyat merasa baik-baik saja, maka persatuan tidak akan lahir. Tetapi jika ketimpangan, korupsi, atau ketidakadilan dirasakan luas dan nyata, sejarah selalu menunjukkan bahwa rakyat menemukan jalannya sendiri. NU dan Muhammadiyah memiliki potensi besar menjadi penjaga moral bangsa—bukan sekadar pemain dalam panggung kekuasaan. Keduanya adalah warisan sejarah yang dibangun di atas spirit pembaruan, pendidikan, dan keberpihakan pada rakyat kecil. Maka pekerjaan rumahnya jelas: bagaimana menjaga keseimbangan antara kedekatan dengan negara dan keberanian mengoreksi negara? Jika keseimbangan itu terjaga, maka kalimat sakral itu tidak akan pernah kehilangan maknanya: Rakyat bersatu tak bisa dikalahkan. Namun persatuan bukanlah sesuatu yang otomatis. Ia lahir dari kesadaran, keberanian, dan integritas. Tanpa itu, slogan hanya akan menjadi nostalgia. Dengan itu, ia bisa kembali menjadi kekuatan sejarah.

Scroll to Top