Antarkita

4 Maret 2026

Prespektif, Ruang Kita

Lebih Baik Kehilangan

Lebih Baik Kehilangan Oleh: SiS, antarkita Pikiran masih melayang ke mana-mana ketika sholat? Tubuh berdiri tegak, tetapi hati sibuk berkelana. Lisan membaca ayat, tetapi pikiran menghitung urusan. Sujud terasa cepat, salam terasa lega—seolah ada yang ingin segera diselesaikan. Padahal saat itu kita sedang berdiri di hadapan Sang Pemilik kehidupan. Kita sedang mengadukan masalah kepada Dzat yang menggenggam solusi. Kita sedang menyebut nama-Nya, sementara Dia mengetahui isi hati kita bahkan sebelum kita meminta. Sholat bukan sekadar kewajiban yang ditunaikan lima kali sehari. Ia adalah momen paling intim antara hamba dan Rabb-nya. Ia adalah ruang sunyi di tengah hiruk-pikuk dunia. Namun mengapa justru dalam ruang sunyi itu pikiran menjadi paling ramai? Karena hati sering lebih melekat pada dunia daripada pada Allah. Kita khawatir kehilangan kesempatan. Kita takut tertinggal informasi. Kita takut kehilangan pelanggan, jabatan, relasi, atau momentum. Padahal yang lebih layak kita takutkan adalah kehilangan sholat itu sendiri. Sholat adalah momen berdialog dengan Sang Pencipta dengan memahami bacaan sholat. Ketika kita membaca Alhamdulillahi Rabbil ‘alamin, kita sedang memuji-Nya. Ketika kita membaca Iyyaka na’budu wa iyyaka نستain, kita sedang menyatakan ketergantungan total. Ketika kita memohon ihdinas shirathal mustaqim, kita sedang meminta arah hidup. Itu bukan sekadar bacaan. Itu adalah pengakuan. Itu adalah percakapan. Semakin kita memahami maknanya, semakin terasa bahwa sholat bukan ritual mekanis. Ia adalah dialog yang hidup. Setiap gerakan punya makna. Setiap kalimat punya jiwa. Rukuk mengajarkan tunduk. Sujud mengajarkan rendah hati. Duduk di antara dua sujud mengajarkan harap dan pengakuan akan kebutuhan. Sholat mengajarkan bahwa kita ini lemah. Dan justru karena lemah itulah kita kuat—ketika bersandar kepada-Nya. Tetapi jika sholat kita lakukan tanpa hati, yang tersisa hanya gerakan. Tanpa kesadaran, ia hanya rutinitas. Tanpa pemahaman, ia kehilangan ruh. Di sinilah kita perlu mengingatkan diri sendiri: Lebih baik kehilangan sesuatu karena sholat daripada kehilangan sholat karena sesuatu. Jika harus menunda urusan dunia demi adzan, relakan. Jika harus meninggalkan percakapan demi sujud, lakukan. Jika harus dianggap tidak selalu “siap sedia” karena menjaga waktu sholat, biarkan. Karena apa pun yang kita tinggalkan demi Allah tidak pernah benar-benar hilang. Ia mungkin kembali dalam bentuk lain—ketenangan, keberkahan, kemudahan yang tak terduga. Tetapi jika kita meninggalkan sholat demi sesuatu, kita sedang menukar yang abadi dengan yang sementara. Sholat bukan penghalang kesuksesan. Ia adalah fondasinya. Sholat bukan mengurangi waktu produktif. Ia menyucikan niat dan meluruskan arah. Ketika pikiran melayang saat sholat, jangan putus asa. Itu tanda kita masih perlu melatih hati. Tarik kembali pikiran perlahan. Sadari setiap bacaan. Resapi setiap makna. Katakan dalam hati: “Aku sedang berbicara dengan Allah.” “Aku sedang menyerahkan hidupku kepada-Nya.” Karena boleh jadi, masalah yang kita pikirkan saat sholat justru sedang menunggu untuk diserahkan di dalam sholat. Kita sering mencari solusi ke mana-mana, padahal tempat paling tepat untuk mengadu sudah Allah sediakan lima kali sehari. Lebih baik kehilangan sesuatu yang fana, daripada kehilangan momen berdialog dengan Yang Maha Kekal. Karena dunia bisa Allah ganti. Peluang bisa Allah datangkan lagi. Rezeki bisa Allah alirkan dari arah yang tidak disangka. Tetapi sholat yang terlewat dengan sengaja— adalah kehilangan yang sesungguhnya. Maka jagalah sholat. Hadirkan hati. Pahami bacaan. Rasakan dialognya. Karena di situlah letak kekuatan seorang hamba. Lebih baik kehilangan sesuatu karena sholat, daripada kehilangan sholat karena sesuatu. Oleh: SiS, antarkita

Prespektif, Ruang Kita

Aspirasimu: Parlemen Persyarikatan

Aspirasimu: Parlemen Persyarikatan (Rame Boleh, Tapi Jangan Cuma Jadi Notifikasi!) Oleh: SiS, antarkita Kalau ada yang bilang Aspirasimu itu mirip parlemen, rasanya tidak berlebihan. Bedanya cuma satu: di sini tidak ada mikrofon yang dimatikan pimpinan sidang. Semua bebas bicara. Kadang bahkan terlalu bebas. Ide datang seperti hujan deras di musim penghujan—deras, bertubi-tubi, penuh semangat. Harapan kita terhadap Persyarikatan Muhammadiyah memang besar. Kita ingin Muhammadiyah selalu menjadi pelopor perubahan, peneduh di tengah polarisasi, penggerak solusi atas problem sosial, dan pelindung nilai Islam berkemajuan. Kita ingin organisasi ini tetap relevan, membumi, dan berpihak pada persoalan riil umat. Namun dalam kenyataan, tak jarang terasa ada jarak. Muhammadiyah tampak megah—amal usaha luas, jaringan nasional, bahkan internasional. Tetapi di saat yang sama, sebagian warga merasakan ketimpangan antara dinamika problem sosial di bawah dengan respons struktural di atas. Kadang Muhammadiyah terasa seperti istana gading: bangunannya kokoh, arsitekturnya indah, wibawanya kuat—tetapi berjarak dari hiruk-pikuk kehidupan sosial sehari-hari. Tentu ini bukan tudingan, melainkan kegelisahan yang lahir dari rasa memiliki. Dan di tengah jarak itu, lahirlah Aspirasimu. Di grup ini, energi berpikir luar biasa. Ada analisis kebijakan, kritik sosial, tafsir keagamaan, gagasan pemberdayaan ekonomi, sampai strategi dakwah digital. Semuanya ada. Bahkan kadang lebih progresif daripada seminar resmi. Masalahnya satu: jangan sampai semua itu hanya menjadi “debat berjilid” yang berhenti di layar. Sangat disayangkan jika energi intelektual sebesar ini hanya menguap bersama scroll ke bawah. Kita diskusi panjang, saling menguatkan argumen, lalu esok harinya topik baru datang dan yang lama tenggelam. Aspirasimu jangan sampai menjadi menara gading berikutnya—versi digital. Kalau Muhammadiyah terasa jauh, jangan sampai Aspirasimu ikut-ikutan menjauh dengan menjadi forum elit yang hanya puas dengan analisis tinggi. Jangan hanya jadi ruang wacana, tapi jadilah ruang artikulasi. Jangan hanya jadi tempat “uneg-uneg terdidik”, tapi jadi dapur gagasan yang matang dan siap saji. Parlemen persyarikatan bukan sekadar tempat bersuara keras, tetapi tempat mengolah suara menjadi keputusan moral. Di sinilah tantangannya: bagaimana obrolan WA naik kelas menjadi rekomendasi tertulis? Bagaimana kritik berubah menjadi proposal? Bagaimana diskusi berubah menjadi gerakan? Kita tidak kekurangan kecerdasan. Kita hanya perlu disiplin kolektif. Bayangkan jika setiap bulan ada rangkuman aspirasi yang dirumuskan rapi. Bayangkan jika gagasan-gagasan itu disalurkan ke forum musyawarah resmi. Bayangkan jika energi yang selama ini berseliweran itu menemukan jalur implementasi. Itulah fungsi parlemen: bukan sekadar gaduh, tetapi mengawal. Kalau struktur terasa lambat, jangan kita hanya mengeluh. Dorong dengan gagasan yang sistematis. Kalau kebijakan terasa kurang membumi, jangan hanya mengkritik. Turunkan alternatif solusi. Kita ini warga rumah besar. Mengkritik berarti peduli. Tetapi mengawal sampai tuntas berarti bertanggung jawab. Aspirasimu harus menjadi jembatan antara harapan besar warga dan langkah konkret persyarikatan. Ia harus menjadi ruang loyalitas kritis—bukan oposisi emosional, bukan pula tepuk tangan tanpa nalar. Rame boleh. Perdebatan boleh. Beda pendapat sangat boleh. Yang tidak boleh adalah energi besar terbuang percuma. Jangan sampai kita hebat di notifikasi, tetapi sunyi di kontribusi. Jangan sampai kita tajam dalam analisis, tetapi tumpul dalam aksi. Kalau sudah begitu, barulah Aspirasimu benar-benar menjadi Parlemen Persyarikatan—bukan sekadar ruang diskusi, tetapi mesin gagasan yang bekerja untuk kemajuan. Karena rumah besar tidak butuh gema kosong. Ia butuh warga yang bersuara, berpikir, dan bergerak.

Prespektif, Ruang Kita

Menulis Itu Berpikir

Menulis Itu Berpikir Oleh: SiS, antarkita Banyak orang mengira menulis hanyalah aktivitas merangkai kata. Duduk, mengetik, selesai. Padahal sesungguhnya menulis adalah aktivitas berpikir yang paling jujur dan paling telanjang. Ketika berbicara, kita masih bisa bersembunyi di balik intonasi, ekspresi, atau improvisasi spontan. Tetapi ketika menulis, kita berhadapan langsung dengan isi kepala sendiri. Tidak ada yang bisa ditutupi. Kalimat yang tidak runtut akan terlihat. Logika yang meloncat-loncat akan terasa. Argumen yang rapuh akan mudah runtuh. Menulis itu berpikir. Ia memaksa kita menyusun gagasan. Memilih mana yang utama, mana yang pendukung. Mana yang fakta, mana yang asumsi. Mana yang keyakinan, mana yang sekadar perasaan sesaat. Sering kali kita merasa sudah memahami sesuatu. Namun saat mencoba menuliskannya, kita justru kebingungan memulai. Mengapa? Karena memahami secara samar berbeda dengan memahami secara utuh. Menulis memaksa pemahaman itu menjadi utuh. Menulis adalah proses merapikan kekacauan di dalam kepala. Di dalam pikiran kita, ide bercampur dengan emosi. Pengalaman bercampur dengan prasangka. Informasi bercampur dengan opini. Semua terasa seperti satu kesatuan. Tetapi ketika dituliskan, semuanya harus dipisahkan. Harus diperjelas. Harus dipertanggungjawabkan. Menulis melatih disiplin berpikir. Ia mengajarkan kita untuk tidak tergesa-gesa menyimpulkan. Untuk tidak mudah terprovokasi. Untuk tidak sembarang menyebarkan pendapat tanpa dasar. Di era ketika semua orang bisa berbicara dan berkomentar dalam hitungan detik, menulis adalah latihan untuk memperlambat diri. Untuk memberi jeda antara emosi dan respons. Untuk memastikan bahwa apa yang keluar dari diri kita sudah melalui proses pertimbangan. Menulis juga melatih kejujuran intelektual. Saat menulis, kita akan bertanya pada diri sendiri: Apakah ini benar? Apakah ini adil? Apakah ini sekadar pembenaran diri? Tulisan yang baik lahir dari pikiran yang rendah hati. Pikiran yang mau dikoreksi. Pikiran yang tidak alergi pada fakta. Menulis bukan hanya menuangkan apa yang kita tahu, tetapi juga menyadarkan kita tentang apa yang belum kita tahu. Semakin sering menulis, semakin kita sadar bahwa berpikir itu pekerjaan serius. Ia butuh data, butuh perenungan, butuh keberanian untuk merevisi diri sendiri. Menulis juga membentuk karakter. Orang yang terbiasa menulis biasanya terbiasa berpikir sebelum bertindak. Ia tidak mudah terseret arus. Ia punya jeda dalam mengambil keputusan. Ia belajar bahwa setiap kalimat memiliki konsekuensi, sebagaimana setiap keputusan memiliki dampak. Menulis itu berpikir. Dan berpikir adalah bentuk tanggung jawab sebagai manusia. Karena manusia dimuliakan bukan hanya karena bisa berbicara, tetapi karena bisa memahami dan merenungkan. Menulis membantu kita memahami diri sendiri. Apa yang kita takutkan. Apa yang kita inginkan. Apa yang kita perjuangkan. Tanpa menulis, banyak pikiran hanya berputar-putar di kepala tanpa pernah benar-benar dipahami. Tulisan adalah cermin. Ia memantulkan kualitas cara berpikir kita. Jika tulisan kita emosional tanpa arah, mungkin pikiran kita sedang kacau. Jika tulisan kita jernih dan runtut, kemungkinan besar pikiran kita pun terlatih. Maka jangan remehkan kebiasaan menulis. Menulislah meski hanya satu paragraf sehari. Menulislah bukan demi terlihat pintar, tetapi demi melatih kejernihan. Menulislah bukan demi pujian, tetapi demi pertumbuhan diri. Karena setiap kata yang kita susun sedang membentuk cara kita melihat dunia. Dan cara kita melihat dunia akan menentukan cara kita bertindak di dalamnya. Menulis itu berpikir. Dan siapa yang menjaga pikirannya, ia sedang menjaga arah hidupnya. Oleh: SiS, antarkita

Prespektif, Ruang Kita

Zakat, Infaq dan Sedekah sebagai Instrumen Mewujudkan Jaminan Pendapatan Dasar 

Zakat, Infaq dan Sedekah sebagai Instrumen Mewujudkan Jaminan Pendapatan Dasar Oleh: Barid Hardiyanto Diskursus mengenai pengentasan kemiskinan di Indonesia sedang berada di persimpangan jalan. Meskipun angka kemiskinan makro menunjukkan tren penurunan, realitas di akar rumput sering kali berbicara lain. Kita masih menyaksikan fenomena kemiskinan kronis yang sulit ditembus oleh skema bantuan sosial konvensional. Di sinilah relevansi Affirmative Basic Income (ABI) mengemuka sebagai tawaran progresif namun terukur untuk mempercepat pemutusan rantai kemiskinan. Namun, pertanyaan klasiknya selalu sama: dari mana anggarannya? Di tengah ruang fiskal APBN yang kian sempit akibat beban subsidi dan pembayaran utang, gagasan ABI sering kali dianggap utopia finansial. Namun, jika kita melihat struktur kelembagaan negara secara jeli, kita memiliki instrumen raksasa yang belum teroptimalisasi secara sistemik untuk mendukung jaminan pendapatan dasar: Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS). Sebagai lembaga pemerintah non-struktural, BAZNAS bukan sekadar pengelola filantropi, melainkan pilar strategis yang mampu menjadi penyokong utama ABI ketika negara menghadapi keterbatasan anggaran. Selama ini, strategi jaring pengaman sosial kita terjebak dalam model pemberian bantuan yang bersifat episodik dan penuh syarat (conditional). Model ini sering kali gagal memberikan “ketenangan batin” bagi si miskin untuk merencanakan masa depannya. Ketakutan akan kehilangan bantuan jika mereka mulai produktif menciptakan poverty trap atau jebakan kemiskinan. ABI menawarkan pendekatan berbeda. Ia adalah jaminan pendapatan yang bersifat afirmatif -diberikan secara konsisten kepada kelompok paling rentan- untuk memastikan kebutuhan dasar terpenuhi tanpa syarat yang memberatkan. Hal ini sejalan dengan temuan Banerjee, Niehaus, dan Suri (2019) dalam studinya “Universal Basic Income in the Developing World”, yang menekankan bahwa transfer tunai tanpa syarat dapat merelaksasi hambatan psikologis akibat kemiskinan dan memungkinkan individu mengambil risiko produktif. Dalam konteks Indonesia, BAZNAS dapat mentransformasikan dana zakat, infaq dan sedekah menjadi instrumen pendapatan dasar yang stabil. BAZNAS sebagai Instrumen Fiskal Alternatif Mengapa BAZNAS menjadi kunci? Secara legal-formal, BAZNAS adalah bagian dari infrastruktur negara, yang memungkinkannya melakukan sinkronisasi data dengan kementerian terkait secara organik. Potensi zakat di Indonesia sangat kolosal, dan realisasinya terus meningkat. Ketika APBN tertekan, dana zakat, infaq, dan sedekah (ZIS) tetap mengalir sebagai partisipasi publik yang mandiri. Penelitian oleh Saoqi et al. (2025) dalam “Empowering Mustahik Through Da’wah Zakat: Evaluating the Impact of BAZNAS Programs on Poverty Alleviation in Indonesia” membuktikan bahwa program-program BAZNAS telah berhasil mengangkat mustahik keluar dari kemiskinan melalui pendekatan yang terintegrasi. Dengan data empiris ini, menempatkan BAZNAS sebagai pendukung utama ABI bukan lagi spekulasi, melainkan langkah berbasis bukti (evidence-based policy). BAZNAS dapat mengambil porsi pendanaan untuk kelompok yang belum terjangkau oleh bantuan pemerintah, bertindak sebagai penyangga fiskal yang lincah. Kondisi fiskal saat ini memang belum sepenuhnya berpihak pada perwujudan jaminan pendapatan dasar menyeluruh. Namun, BAZNAS adalah kendaraan yang paling siap untuk memulai. Dengan menggunakan skema zakat produktif yang ditransformasikan menjadi jaminan pendapatan, BAZNAS bisa menginisiasi “Pilot Project ABI” di kantong kemiskinan ekstrem. Dana ZIS tidak lagi habis dalam sekejap untuk sembako, melainkan menjadi arus pendapatan bulanan yang pasti bagi keluarga mustahik. Integrasi ini diperkuat oleh model yang diusulkan dalam literatur ekonomi syariah modern. Azizah (2025) dalam artikelnya “Integration of Zakat and Takaful: The Scheme for Optimizing the Welfare of Low-Income Communities”, berargumen bahwa integrasi instrumen keuangan sosial Islam sangat efektif untuk memperkuat ketahanan finansial kelompok berpendapatan rendah. Jika BAZNAS mengadopsi prinsip ABI, maka perlindungan yang diberikan bukan lagi sekadar bantuan darurat, melainkan sebuah sistem perlindungan sosial yang kokoh dan berkelanjutan. Syarat mutlak keberhasilan ini adalah integrasi data. Data Tunggal Sosial Ekonomi Nasional (DTSEN) perlu disinergikan dengan data mustahik BAZNAS secara real-time. Dengan digitalisasi, penyaluran ABI melalui BAZNAS dapat dilakukan secara cashless, menjamin transparansi bagi para muzakki. Setiap rupiah zakat dapat dilacak alirannya hingga menjadi “pendapatan dasar” di tangan mereka yang berhak. Hal ini tidak hanya mempercepat pengentasan kemiskinan, tetapi juga memperkuat kepercayaan publik terhadap BAZNAS sebagai instrumen transformasi sosial yang modern. Selain aspek pendanaan, keberhasilan implementasi Affirmative Basic Income melalui BAZNAS juga sangat ditentukan oleh desain kebijakan dan tata kelola yang akuntabel. Program ABI tidak cukup hanya menjamin transfer pendapatan secara rutin, tetapi juga harus dirancang sebagai bagian dari ekosistem pemberdayaan ekonomi yang berkelanjutan. Oleh karena itu, penerima manfaat tidak hanya ditempatkan sebagai objek bantuan, melainkan sebagai subjek pembangunan yang didorong menuju kemandirian ekonomi. Dalam praktiknya, skema ABI yang dikelola BAZNAS dapat diintegrasikan dengan program pemberdayaan usaha mikro, pelatihan keterampilan, serta pendampingan kewirausahaan bagi mustahik. Pendekatan ini memungkinkan jaminan pendapatan dasar berfungsi sebagai bantalan ekonomi (economic cushion) yang memberikan ruang bagi masyarakat miskin untuk meningkatkan kapasitas produktifnya tanpa tekanan risiko kehilangan penghasilan. Dengan demikian, ABI tidak menciptakan ketergantungan, tetapi justru mempercepat mobilitas sosial. Dari sisi tata kelola, prinsip transparansi dan akuntabilitas menjadi fondasi utama. BAZNAS perlu mengembangkan sistem monitoring dan evaluasi berbasis indikator kesejahteraan yang terukur, seperti peningkatan pendapatan rumah tangga, pengurangan tingkat kerentanan ekonomi, serta keberhasilan graduasi mustahik menjadi muzakki. Mekanisme evaluasi berbasis data ini penting untuk memastikan bahwa kebijakan ABI benar-benar memberikan dampak struktural terhadap pengurangan kemiskinan. Lebih jauh, kolaborasi multipihak juga menjadi faktor strategis. Pemerintah daerah, lembaga keuangan syariah, perguruan tinggi, dan sektor swasta dapat dilibatkan dalam penguatan implementasi ABI berbasis zakat, infaq dan sedekah. Perguruan tinggi dapat berperan dalam riset dan evaluasi kebijakan, sementara sektor swasta dapat mendukung melalui program tanggung jawab sosial yang terintegrasi dengan skema pemberdayaan mustahik. Dengan tata kelola yang kuat, integrasi kelembagaan, dan orientasi pada pemberdayaan jangka panjang, peran BAZNAS dalam skema Affirmative Basic Income tidak hanya menjadi solusi jangka pendek terhadap kemiskinan, tetapi juga menjadi instrumen transformasi sosial yang mampu membangun ketahanan ekonomi masyarakat secara sistemik. Akhirnya, melibatkan BAZNAS dalam skema ABI adalah langkah nyata menuju keadilan distributif. Secara teologis, ZIS memastikan kekayaan tidak hanya berputar di kalangan tertentu. Secara sosiologis, ABI adalah alat untuk memastikan martabat manusia tetap terjaga. Jika pemerintah menempatkan BAZNAS sebagai mitra strategis dalam penyediaan jaminan pendapatan dasar, maka percepatan pengentasan kemiskinan bukan lagi sekadar slogan. Optimalisasi peran BAZNAS sebagai penyokong utama ABI adalah solusi yang memadai dan konstitusional di tengah keterbatasan fiskal. Sudah saatnya BAZNAS naik kelas: dari pengelola kedermawanan menjadi pilar jaminan sosial nasional yang membawa Indonesia menuju nol persen kemiskinan. *Dosen di UIN Prof Saifuddin Zuhri dan Universitas Nahdlatul Ulama (UNU) Purwokerto serta Peneliti Senior di Lembaga Penelitian Pengembangan Sumberdaya dan Lingkungan Hidup […]

Prespektif, Ruang Kita

Menggema di Bulan Suci, Bakat Islami Siswa SD/MI Bersinar di SMP Muhammadiyah Purwojati

Menggema di Bulan Suci, Bakat Islami Siswa SD/MI Bersinar di SMP Muhammadiyah Purwojati Banyumas || AntarKita.com – SMP Muhammadiyah Purwojati sukses menggelar Lomba Gema Ramadhan Anak Sholeh tingkat SD/MI se-Kabupaten Banyumas sejak 26 Februari 2026 dengan tema “Menjadi Anak Sholeh dengan Suara, Kata dan Karya.” Kegiatan yang berlangsung meriah, tertib, dan penuh sportivitas ini bertujuan membina generasi Qurani yang berakhlak mulia, percaya diri, dan berprestasi, Senin, 2 Maret 2026.   Acara dibuka secara resmi oleh Ketua Pimpinan Cabang Muhammadiyah Purwojati, Drs. H. Mulyanto. Dalam sambutannya, beliau menyampaikan apresiasi atas terselenggaranya kegiatan yang dinilai mampu menumbuhkan semangat religius sekaligus kreativitas generasi muda. Ia menegaskan bahwa ajang seperti ini sangat penting dalam membentuk karakter anak sejak dini agar tumbuh menjadi generasi yang berakhlak mulia, percaya diri, dan berdaya saing. Ketua Panitia, Salmauz Difa, S.Pd., menyampaikan rasa terima kasih kepada seluruh pihak yang telah berkontribusi menyukseskan kegiatan, baik dari unsur guru, karyawan, maupun siswa-siswi SMP Muhammadiyah Purwojati. Ia juga mengapresiasi dukungan para donatur dan sponsor yang turut membantu kelancaran acara. Sementara itu, Kepala SMP Muhammadiyah Purwojati, Nur Khasbi, S.H.I., M.M., dalam sambutannya menegaskan bahwa kegiatan ini bukan sekadar perlombaan, melainkan bagian dari ikhtiar pendidikan untuk membentuk generasi Qurani yang percaya diri, berakhlak mulia, dan berprestasi. Ia berharap ajang ini menjadi sarana pembinaan akhlak sekaligus ruang bagi peserta untuk menampilkan potensi Islami terbaik mereka. Cabang lomba yang dipertandingkan meliputi Lomba Adzan, Pildacil, dan Kaligrafi, dengan tiga Juara Utama dan tiga Juara Harapan di setiap cabang. Kemeriahan semakin terasa dengan hadiah Beasiswa Pendidikan Rp1.000.000 bagi Juara 1–3 di tiap cabang, disertai piala dan piagam, sementara seluruh peserta menerima sertifikat. Adapun para pemenang adalah: Lomba Adzan – Juara 1 Qolis Noval Hari (SDN 1 Gerduren), Juara 2 Syafi Dhamar (SDN Kaliputih), Juara 3 Dhamar Argani (SDN Klapasawit), Harapan 1 Rasya Muhammad H (SD Muhammadiyah Cipete, Cilongok), Harapan 2 Dhamar Adhi Wijaya (SDN Kaliurip), Harapan 3 Dava Rifano Ibrahim (SDN 2 Kaliwangi). Lomba Pildacil – Juara 1 Farhan Zaeni (SDN Kaliputih), Juara 2 Putri Maulida (SDN Kaliputih), Juara 3 Dahayu Aatifah (SDN 2 Karangtalun Kidul), Harapan 1 Lulu Yesenia (SDN Karangtalun Lor), Harapan 2 Alfaroz Gavriel (SDN 1 Kadul), Harapan 3 Salmha Adzwa (MIM Karangtalun Kidul). Lomba Kaligrafi – Juara 1 Habibi Sakhi Zaidan (SDN 1 Gerduren), Juara 2 Bani Nuha Warina (SDN 1 Bojong), Juara 3 Hifsabila Agwinu (SDN Kaliurip), Harapan 1 Rafif Azril Ramadhani (MIM Kedungwuluh), Harapan 2 Farah Anindya (SD Kaliputih), Harapan 3 Alifa Nayla Yosinda (SD Kaliwangi). Dengan terselenggaranya Lomba Gema Ramadhan Anak Sholeh ini, SMP Muhammadiyah Purwojati berharap dapat terus menjadi pusat kegiatan positif bagi generasi muda sekaligus mempererat ukhuwah antar sekolah di Kabupaten Banyumas. Kegiatan ini diharapkan menjadi agenda tahunan yang melahirkan bibit-bibit unggul, tidak hanya dalam bidang akademik, tetapi juga dalam akhlak dan spiritualitas. Melalui kegiatan ini, SMP Muhammadiyah Purwojati berkomitmen mencetak generasi muda yang tidak hanya unggul dalam prestasi, tetapi juga memiliki akhlak mulia serta mampu mengekspresikan nilai-nilai Islam melalui suara, kata, dan karya (Tarqum Aziz/Aflah).

Scroll to Top