Antarkita

8 Maret 2026

Prespektif, Ruang Kita

MENGHIDUPKAN EKOSISTEM

MENGHIDUPKAN EKOSISTEM Oleh SiS, antarkita Dalam perjalanan kehidupan berbangsa, kadang kita masih merasakan pola lama yang sering disebut orang sebagai politik belah bambu. Satu sisi diinjak, sisi lain diangkat. Artinya selalu ada pihak yang dimenangkan oleh sebuah kebijakan, sementara di sisi lain ada pihak yang harus menanggung dampaknya. Pola ini sering terasa dalam berbagai kebijakan publik, bahkan sampai pada masa pemerintahan Prabowo Subianto saat ini. Padahal negara yang sehat seharusnya tidak hanya menghasilkan pemenang dan korban, tetapi mampu membangun ekosistem yang hidup dan saling menguatkan. Ekosistem berarti sebuah sistem kehidupan di mana setiap bagian memiliki ruang untuk berperan. Tidak hanya mereka yang memiliki modal besar, tetapi juga rakyat kecil yang selama ini menjadi tulang punggung ekonomi sehari-hari. Dalam konteks kebijakan publik saat ini, salah satu program yang banyak dibicarakan adalah Makan Bergizi Gratis (MBG). Secara konsep, program ini memiliki tujuan yang sangat baik. Pemerintah ingin memastikan anak-anak Indonesia mendapatkan asupan gizi yang cukup, sekaligus diharapkan mampu menggerakkan ekonomi melalui kebutuhan pangan yang besar. Gagasan seperti ini sebenarnya sangat strategis. Jika dirancang dengan baik, program besar seperti MBG bisa menggerakkan rantai ekonomi dari hulu sampai hilir. Petani bisa menyuplai beras dan sayuran. Peternak bisa memasok telur, ayam, atau susu. Nelayan bisa menyediakan ikan. Usaha kecil bisa mengolah makanan. Dengan desain ekosistem yang tepat, satu program bisa menghidupkan banyak sektor ekonomi rakyat. Namun dalam berbagai diskusi ekonomi, muncul sejumlah kritik terhadap implementasinya. Ekonom Hendri Saparini dari Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia pernah menyampaikan bahwa jika tujuan program MBG juga untuk pemberdayaan ekonomi, maka sistem pelaksanaannya harus benar-benar membuka ruang bagi pelaku ekonomi kecil. Jika tidak, program yang besar justru berpotensi hanya menguntungkan kelompok usaha tertentu. Beberapa persoalan memang muncul dalam praktik. Ada laporan menu yang belum sepenuhnya memenuhi standar gizi. Bahkan dalam beberapa kasus muncul kabar keracunan makanan yang membuat masyarakat mempertanyakan kesiapan sistem distribusinya. Di sisi lain, dari sisi rantai pasok bahan makanan juga muncul tantangan. Karena kebutuhan produksi sangat besar dan sistem pembayaran sering menggunakan tempo, maka yang mampu masuk ke dalam sistem suplai biasanya adalah pemodal besar yang memiliki modal kuat dan kapasitas produksi tinggi. Petani kecil, peternak kecil, dan usaha pangan skala mikro sering kesulitan ikut terlibat karena keterbatasan produksi dan keterbatasan modal untuk menunggu pembayaran. Akibatnya tujuan pemberdayaan ekonomi rakyat tidak sepenuhnya tercapai. Bahkan dalam beberapa kasus lain, program makanan terpusat seperti ini juga berdampak pada pedagang kecil yang selama ini berjualan makanan di sekitar sekolah. Bagi mereka, kehadiran program makanan gratis bisa berarti turunnya omzet, bahkan hilangnya sumber penghasilan. Padahal mereka bukan pengusaha besar. Mereka hanyalah rakyat kecil yang berusaha bertahan hidup dengan cara sederhana. Bangun pagi, memasak makanan, lalu berjualan demi menyambung kehidupan keluarga. Ironisnya, mereka tidak kalah bersaing karena malas bekerja, tetapi karena sistem kebijakan yang berubah tanpa memberi ruang bagi mereka untuk ikut hidup di dalamnya. Padahal dalam Undang-Undang Dasar 1945, negara memiliki tanggung jawab untuk menciptakan penghidupan yang layak bagi rakyatnya. Rakyat kecil ini sebenarnya sudah berjuang sendiri tanpa banyak bantuan negara. Mereka tidak meminta proyek besar. Mereka hanya meminta satu hal sederhana: ruang untuk hidup. Di sinilah pentingnya memahami konsep ekosistem ekonomi. Kebijakan publik tidak cukup hanya melihat tujuan besar di atas kertas. Ia harus melihat bagaimana kebijakan itu mempengaruhi keseluruhan sistem kehidupan masyarakat. Menariknya, kita sebenarnya bisa belajar dari tubuh manusia. Tubuh manusia bekerja melalui berbagai sistem yang saling terhubung. Ada Sistem pencernaan manusia yang mengolah makanan menjadi energi. Ada Sistem pernapasan manusia yang memasok oksigen ke dalam tubuh. Ada juga Sistem metabolisme yang mengatur proses perubahan energi di dalam tubuh. Semua sistem ini tidak bekerja sendiri-sendiri. Mereka saling terhubung dan saling mendukung. Jika satu sistem terganggu, maka seluruh tubuh akan merasakan dampaknya. Begitu juga dengan ekonomi sebuah bangsa. Jika kebijakan hanya memperkuat satu kelompok sementara kelompok lain melemah, maka keseimbangan ekosistem akan terganggu. Yang dibutuhkan bukan sekadar program besar, tetapi desain sistem yang saling menghidupkan. Program negara seharusnya mampu: menghidupkan petani, menghidupkan pedagang kecil, menghidupkan usaha mikro, menghidupkan koperasi, dan sekaligus memenuhi kebutuhan masyarakat. Jika semua bagian terhubung dalam satu ekosistem yang sehat, maka ekonomi tidak hanya tumbuh di atas, tetapi juga mengalir sampai ke akar rumput. Pada akhirnya, kekuatan sebuah bangsa tidak hanya diukur dari besar kecilnya anggaran program. Tetapi dari seberapa hidup ekosistem kehidupan rakyatnya. Karena bangsa yang kuat bukanlah bangsa yang sekadar menciptakan pemenang… melainkan bangsa yang mampu menghidupkan seluruh ekosistem kehidupan masyarakatnya. — SiS, antarkita 🌱

Prespektif, Ruang Kita

Driver Preneur

Driver Preneur Oleh: SiS antarkita Menjadi seorang driver bukan sekadar pekerjaan, tetapi sebuah perjalanan hidup yang penuh perjuangan. Setiap hari driver berada di jalan, menembus kemacetan, menghadapi panas dan hujan, serta berinteraksi dengan berbagai karakter penumpang. Profesi ini menuntut kedisiplinan, kesabaran, dan terutama kondisi fisik yang selalu prima. Seorang driver bekerja dengan mengandalkan tenaga, fokus, dan stamina. Jam kerja yang panjang, mobilitas yang tinggi, serta kondisi lalu lintas yang tidak menentu membuat profesi ini membutuhkan ketahanan fisik yang kuat. Selama tubuh masih kuat dan semangat masih tinggi, pekerjaan ini dapat dijalankan dengan baik. Namun ada satu kenyataan yang tidak dapat dihindari oleh siapa pun: usia terus bertambah. Seiring berjalannya waktu, kemampuan fisik perlahan akan mengalami penurunan. Daya tahan tubuh tidak lagi sekuat dulu, refleks tidak secepat sebelumnya, dan stamina tidak selalu bisa dipaksakan seperti saat masih muda. Di sisi lain, kehidupan tidak berhenti berjalan. Justru sebaliknya, kebutuhan hidup cenderung semakin meningkat. Kebutuhan keluarga harus terus dipenuhi. Biaya pendidikan anak, kebutuhan rumah tangga, kesehatan, hingga berbagai tanggung jawab sosial dalam kehidupan bermasyarakat menjadi bagian dari realitas yang harus dihadapi. Dalam situasi seperti ini, mengandalkan penghasilan yang sepenuhnya bergantung pada tenaga fisik tentu memiliki keterbatasan. Di sinilah muncul pertanyaan penting: Bagaimana seorang driver dapat menyiapkan masa depan yang lebih aman dan berkelanjutan? Jawaban dari pertanyaan ini terletak pada sebuah perubahan cara pandang. Driver tidak hanya perlu bekerja keras hari ini, tetapi juga perlu berpikir strategis untuk masa depan. Salah satu pendekatan yang dapat dilakukan adalah dengan membangun semangat entrepreneurship. Dari sinilah lahir konsep Driver Preneur. Driver Preneur adalah sebuah gagasan yang mengajak para driver untuk tidak hanya menjadi pengemudi, tetapi juga menjadi pelaku usaha yang kreatif dan mandiri. Driver tidak hanya mengandalkan pendapatan dari mengantar penumpang atau barang, tetapi juga mulai membangun berbagai peluang usaha yang dapat berkembang dari aktivitas yang dijalani setiap hari. Jika dipikirkan lebih dalam, seorang driver sebenarnya memiliki banyak potensi yang sering kali tidak disadari. Setiap hari driver bertemu dengan banyak orang dari berbagai latar belakang. Mereka mengenal banyak wilayah, memahami kebutuhan masyarakat, serta melihat langsung aktivitas ekonomi yang terjadi di berbagai tempat. Semua itu adalah modal sosial dan pengetahuan lapangan yang sangat berharga. Seorang driver dapat memanfaatkan peluang tersebut untuk mengembangkan berbagai bentuk usaha. Misalnya dengan membantu mempromosikan produk UMKM kepada pelanggan yang ditemui setiap hari. Driver juga dapat menjadi bagian dari jaringan distribusi produk lokal, membantu mengantarkan barang dari produsen ke konsumen dengan lebih cepat dan efisien. Selain itu, berbagai layanan berbasis kebutuhan masyarakat juga dapat dikembangkan, seperti jasa titip belanja, pengantaran produk lokal, layanan kurir komunitas, hingga promosi usaha kecil di lingkungan sekitar. Aktivitas yang selama ini hanya menjadi rutinitas pekerjaan dapat berkembang menjadi peluang usaha yang bernilai ekonomi. Dengan cara ini, driver tidak hanya bekerja untuk memenuhi kebutuhan hari ini, tetapi juga mulai membangun sumber penghasilan yang lebih beragam untuk masa depan. Semangat Driver Preneur juga membawa perubahan dalam cara memandang profesi driver. Driver tidak lagi hanya dipandang sebagai pekerja transportasi, tetapi sebagai bagian penting dari ekosistem ekonomi masyarakat. Driver dapat menjadi penghubung antara produsen dan konsumen, antara UMKM dan pasar, serta antara kebutuhan masyarakat dan solusi yang tersedia. Di sinilah pentingnya kehadiran sebuah ekosistem yang dapat mendukung perubahan tersebut. Antarkita.com hadir untuk membersamai para driver dalam perjalanan menuju masa depan sebagai entrepreneur. Antarkita.com tidak hanya dibangun sebagai platform layanan transportasi online, tetapi juga sebagai ekosistem digital yang membuka peluang ekonomi bagi para driver dan masyarakat. Melalui platform ini, driver tidak hanya menerima order perjalanan, tetapi juga memiliki kesempatan untuk terlibat dalam berbagai aktivitas ekonomi lainnya. Antarkita.com membuka ruang bagi driver untuk berperan sebagai mitra promosi UMKM, mitra distribusi produk lokal, hingga bagian dari jaringan ekonomi berbasis komunitas. Dengan dukungan teknologi digital, peluang usaha dapat diakses dengan lebih mudah, lebih luas, dan lebih terorganisir. Driver tidak berjalan sendiri. Mereka menjadi bagian dari sebuah ekosistem yang saling mendukung dan saling menguatkan. Semangat Driver Preneur bukan sekadar tentang menambah penghasilan, tetapi tentang membangun kemandirian ekonomi. Tentang bagaimana seorang driver dapat mempersiapkan masa depan yang lebih stabil bagi dirinya dan keluarganya. Tentang bagaimana profesi driver dapat berkembang menjadi jalan menuju kewirausahaan. Perjalanan ini tentu tidak terjadi dalam satu malam. Dibutuhkan proses belajar, keberanian mencoba, serta dukungan dari ekosistem yang tepat. Namun setiap langkah kecil yang diambil hari ini dapat menjadi fondasi penting bagi masa depan yang lebih baik. Menjadi driver adalah sebuah profesi yang mulia. Menjadi Driver Preneur adalah langkah menuju kemandirian. Dan bersama antarkita.com, para driver tidak hanya menjalani pekerjaan hari ini, tetapi juga membangun masa depan sebagai entrepreneur. 🚗✨

Kabarkita, Ruang Kita

Syakir dan Syakur dalam Bersyukur

Syakir dan Syakur dalam Bersyukur Oleh SiS Antarkita Purwokerto Selatan, Ahad, 8 Maret 2026 — Suasana pagi yang sejuk menyelimuti kawasan Karangklesem, Purwokerto Selatan, ketika jamaah mulai berdatangan ke Masjid As-Salam untuk mengikuti pengajian Ahad pagi yang rutin diselenggarakan oleh Ranting Muhammadiyah Karangklesem. Kegiatan yang berlangsung mulai pukul 06.45 hingga 08.00 WIB tersebut menghadirkan Ustadz Kelik sebagai pemateri dengan tema reflektif: “Syakir dan Syakur dalam Bersyukur.” Pengajian Ahad pagi ini menjadi ruang pembelajaran spiritual bagi jamaah untuk memperdalam pemahaman tentang makna syukur dalam kehidupan sehari-hari. Dalam penyampaiannya, Ustadz Kelik menegaskan bahwa syukur dalam ajaran Islam tidak hanya dimaknai sebagai ucapan alhamdulillah, tetapi sebagai kesadaran mendalam yang melibatkan hati, lisan, dan perbuatan. Syukur adalah cara seorang hamba memaknai setiap anugerah kehidupan sekaligus menyadari bahwa semua yang dimiliki berasal dari Allah. Dalam kajian tersebut, Ustadz Kelik menguraikan dua istilah penting dalam Al-Qur’an yang berkaitan dengan kesyukuran, yaitu syakir dan syakur, yang masing-masing memiliki kedalaman makna tersendiri. Istilah syakir merujuk pada manusia yang mampu bersyukur atas nikmat yang diterima. Hal ini sebagaimana disebutkan dalam Surah Al-A’raf ayat 144, ketika Allah memerintahkan Nabi Musa untuk menerima wahyu yang diberikan dan menjadi bagian dari orang-orang yang bersyukur. Sikap syakir menggambarkan kesadaran manusia untuk mengakui nikmat yang diberikan Allah serta menggunakan nikmat tersebut dengan penuh tanggung jawab. Lebih jauh, Ustadz Kelik menjelaskan tentang tingkat kesyukuran yang lebih tinggi, yaitu syakur. Konsep ini dijelaskan dalam Surah Al-Isra ayat 3, yang menyebut Nabi Nuh sebagai hamba yang sangat bersyukur (‘abdan syakura). Dalam perspektif spiritual, syakur menggambarkan seseorang yang tidak hanya bersyukur ketika menerima nikmat, tetapi juga mampu bersyukur ketika menghadapi ujian dan kesulitan hidup. Menurut Ustadz Kelik, pada tingkat syakur seseorang telah mencapai kedewasaan spiritual. Ia mampu melihat bahwa setiap peristiwa dalam hidup, baik yang menyenangkan maupun yang berat, mengandung hikmah dan merupakan bagian dari rencana terbaik dari Allah. Dalam kajian tersebut juga disampaikan bahwa syukur tidak dapat dipisahkan dari sikap sabar. Kehidupan manusia selalu berada di antara dua keadaan: nikmat dan ujian. Ketika mendapatkan nikmat, manusia dituntut untuk bersyukur. Sebaliknya, ketika menghadapi ujian, manusia dituntut untuk bersabar. Hal ini sebagaimana ditegaskan dalam Surah Az-Zumar ayat 10, bahwa orang-orang yang bersabar akan memperoleh pahala tanpa batas. Ustadz Kelik menegaskan bahwa sabar dan syukur merupakan dua kekuatan spiritual yang saling melengkapi. Syukur menjadikan manusia tidak mudah sombong ketika memperoleh keberhasilan, sementara sabar menjadikan manusia tetap teguh ketika menghadapi kesulitan. Pengajian Ahad pagi di Masjid As-Salam ini juga menjadi ruang silaturahmi antarjamaah sekaligus sarana memperkuat pembinaan keagamaan di lingkungan masyarakat. Rutin diselenggarakan setiap pekan, kegiatan ini menjadi salah satu upaya dakwah untuk memperkaya wawasan keislaman sekaligus memperkuat karakter spiritual umat. Melalui tema “Syakir dan Syakur dalam Bersyukur,” jamaah diajak untuk tidak hanya memahami syukur sebagai konsep teologis, tetapi juga mempraktikkannya dalam kehidupan sehari-hari. Kesadaran bersyukur diharapkan mampu melahirkan sikap hidup yang lebih sederhana, penuh ketenangan, serta mampu memandang kehidupan dengan perspektif yang lebih luas dan bijaksana. Dengan pengajian seperti ini, Masjid As-Salam diharapkan terus menjadi pusat pembinaan umat yang tidak hanya menguatkan dimensi ibadah ritual, tetapi juga memperdalam pemahaman spiritual dan nilai-nilai kehidupan Islami di tengah masyarakat. SiS Antarkita  

Scroll to Top