Antarkita

Maret 2026

Prespektif, Ruang Kita

Aspirasimu: Parlemen Persyarikatan

Aspirasimu: Parlemen Persyarikatan (Rame Boleh, Tapi Jangan Cuma Jadi Notifikasi!) Oleh: SiS, antarkita Kalau ada yang bilang Aspirasimu itu mirip parlemen, rasanya tidak berlebihan. Bedanya cuma satu: di sini tidak ada mikrofon yang dimatikan pimpinan sidang. Semua bebas bicara. Kadang bahkan terlalu bebas. Ide datang seperti hujan deras di musim penghujan—deras, bertubi-tubi, penuh semangat. Harapan kita terhadap Persyarikatan Muhammadiyah memang besar. Kita ingin Muhammadiyah selalu menjadi pelopor perubahan, peneduh di tengah polarisasi, penggerak solusi atas problem sosial, dan pelindung nilai Islam berkemajuan. Kita ingin organisasi ini tetap relevan, membumi, dan berpihak pada persoalan riil umat. Namun dalam kenyataan, tak jarang terasa ada jarak. Muhammadiyah tampak megah—amal usaha luas, jaringan nasional, bahkan internasional. Tetapi di saat yang sama, sebagian warga merasakan ketimpangan antara dinamika problem sosial di bawah dengan respons struktural di atas. Kadang Muhammadiyah terasa seperti istana gading: bangunannya kokoh, arsitekturnya indah, wibawanya kuat—tetapi berjarak dari hiruk-pikuk kehidupan sosial sehari-hari. Tentu ini bukan tudingan, melainkan kegelisahan yang lahir dari rasa memiliki. Dan di tengah jarak itu, lahirlah Aspirasimu. Di grup ini, energi berpikir luar biasa. Ada analisis kebijakan, kritik sosial, tafsir keagamaan, gagasan pemberdayaan ekonomi, sampai strategi dakwah digital. Semuanya ada. Bahkan kadang lebih progresif daripada seminar resmi. Masalahnya satu: jangan sampai semua itu hanya menjadi “debat berjilid” yang berhenti di layar. Sangat disayangkan jika energi intelektual sebesar ini hanya menguap bersama scroll ke bawah. Kita diskusi panjang, saling menguatkan argumen, lalu esok harinya topik baru datang dan yang lama tenggelam. Aspirasimu jangan sampai menjadi menara gading berikutnya—versi digital. Kalau Muhammadiyah terasa jauh, jangan sampai Aspirasimu ikut-ikutan menjauh dengan menjadi forum elit yang hanya puas dengan analisis tinggi. Jangan hanya jadi ruang wacana, tapi jadilah ruang artikulasi. Jangan hanya jadi tempat “uneg-uneg terdidik”, tapi jadi dapur gagasan yang matang dan siap saji. Parlemen persyarikatan bukan sekadar tempat bersuara keras, tetapi tempat mengolah suara menjadi keputusan moral. Di sinilah tantangannya: bagaimana obrolan WA naik kelas menjadi rekomendasi tertulis? Bagaimana kritik berubah menjadi proposal? Bagaimana diskusi berubah menjadi gerakan? Kita tidak kekurangan kecerdasan. Kita hanya perlu disiplin kolektif. Bayangkan jika setiap bulan ada rangkuman aspirasi yang dirumuskan rapi. Bayangkan jika gagasan-gagasan itu disalurkan ke forum musyawarah resmi. Bayangkan jika energi yang selama ini berseliweran itu menemukan jalur implementasi. Itulah fungsi parlemen: bukan sekadar gaduh, tetapi mengawal. Kalau struktur terasa lambat, jangan kita hanya mengeluh. Dorong dengan gagasan yang sistematis. Kalau kebijakan terasa kurang membumi, jangan hanya mengkritik. Turunkan alternatif solusi. Kita ini warga rumah besar. Mengkritik berarti peduli. Tetapi mengawal sampai tuntas berarti bertanggung jawab. Aspirasimu harus menjadi jembatan antara harapan besar warga dan langkah konkret persyarikatan. Ia harus menjadi ruang loyalitas kritis—bukan oposisi emosional, bukan pula tepuk tangan tanpa nalar. Rame boleh. Perdebatan boleh. Beda pendapat sangat boleh. Yang tidak boleh adalah energi besar terbuang percuma. Jangan sampai kita hebat di notifikasi, tetapi sunyi di kontribusi. Jangan sampai kita tajam dalam analisis, tetapi tumpul dalam aksi. Kalau sudah begitu, barulah Aspirasimu benar-benar menjadi Parlemen Persyarikatan—bukan sekadar ruang diskusi, tetapi mesin gagasan yang bekerja untuk kemajuan. Karena rumah besar tidak butuh gema kosong. Ia butuh warga yang bersuara, berpikir, dan bergerak.

Prespektif, Ruang Kita

Menulis Itu Berpikir

Menulis Itu Berpikir Oleh: SiS, antarkita Banyak orang mengira menulis hanyalah aktivitas merangkai kata. Duduk, mengetik, selesai. Padahal sesungguhnya menulis adalah aktivitas berpikir yang paling jujur dan paling telanjang. Ketika berbicara, kita masih bisa bersembunyi di balik intonasi, ekspresi, atau improvisasi spontan. Tetapi ketika menulis, kita berhadapan langsung dengan isi kepala sendiri. Tidak ada yang bisa ditutupi. Kalimat yang tidak runtut akan terlihat. Logika yang meloncat-loncat akan terasa. Argumen yang rapuh akan mudah runtuh. Menulis itu berpikir. Ia memaksa kita menyusun gagasan. Memilih mana yang utama, mana yang pendukung. Mana yang fakta, mana yang asumsi. Mana yang keyakinan, mana yang sekadar perasaan sesaat. Sering kali kita merasa sudah memahami sesuatu. Namun saat mencoba menuliskannya, kita justru kebingungan memulai. Mengapa? Karena memahami secara samar berbeda dengan memahami secara utuh. Menulis memaksa pemahaman itu menjadi utuh. Menulis adalah proses merapikan kekacauan di dalam kepala. Di dalam pikiran kita, ide bercampur dengan emosi. Pengalaman bercampur dengan prasangka. Informasi bercampur dengan opini. Semua terasa seperti satu kesatuan. Tetapi ketika dituliskan, semuanya harus dipisahkan. Harus diperjelas. Harus dipertanggungjawabkan. Menulis melatih disiplin berpikir. Ia mengajarkan kita untuk tidak tergesa-gesa menyimpulkan. Untuk tidak mudah terprovokasi. Untuk tidak sembarang menyebarkan pendapat tanpa dasar. Di era ketika semua orang bisa berbicara dan berkomentar dalam hitungan detik, menulis adalah latihan untuk memperlambat diri. Untuk memberi jeda antara emosi dan respons. Untuk memastikan bahwa apa yang keluar dari diri kita sudah melalui proses pertimbangan. Menulis juga melatih kejujuran intelektual. Saat menulis, kita akan bertanya pada diri sendiri: Apakah ini benar? Apakah ini adil? Apakah ini sekadar pembenaran diri? Tulisan yang baik lahir dari pikiran yang rendah hati. Pikiran yang mau dikoreksi. Pikiran yang tidak alergi pada fakta. Menulis bukan hanya menuangkan apa yang kita tahu, tetapi juga menyadarkan kita tentang apa yang belum kita tahu. Semakin sering menulis, semakin kita sadar bahwa berpikir itu pekerjaan serius. Ia butuh data, butuh perenungan, butuh keberanian untuk merevisi diri sendiri. Menulis juga membentuk karakter. Orang yang terbiasa menulis biasanya terbiasa berpikir sebelum bertindak. Ia tidak mudah terseret arus. Ia punya jeda dalam mengambil keputusan. Ia belajar bahwa setiap kalimat memiliki konsekuensi, sebagaimana setiap keputusan memiliki dampak. Menulis itu berpikir. Dan berpikir adalah bentuk tanggung jawab sebagai manusia. Karena manusia dimuliakan bukan hanya karena bisa berbicara, tetapi karena bisa memahami dan merenungkan. Menulis membantu kita memahami diri sendiri. Apa yang kita takutkan. Apa yang kita inginkan. Apa yang kita perjuangkan. Tanpa menulis, banyak pikiran hanya berputar-putar di kepala tanpa pernah benar-benar dipahami. Tulisan adalah cermin. Ia memantulkan kualitas cara berpikir kita. Jika tulisan kita emosional tanpa arah, mungkin pikiran kita sedang kacau. Jika tulisan kita jernih dan runtut, kemungkinan besar pikiran kita pun terlatih. Maka jangan remehkan kebiasaan menulis. Menulislah meski hanya satu paragraf sehari. Menulislah bukan demi terlihat pintar, tetapi demi melatih kejernihan. Menulislah bukan demi pujian, tetapi demi pertumbuhan diri. Karena setiap kata yang kita susun sedang membentuk cara kita melihat dunia. Dan cara kita melihat dunia akan menentukan cara kita bertindak di dalamnya. Menulis itu berpikir. Dan siapa yang menjaga pikirannya, ia sedang menjaga arah hidupnya. Oleh: SiS, antarkita

Prespektif, Ruang Kita

Zakat, Infaq dan Sedekah sebagai Instrumen Mewujudkan Jaminan Pendapatan Dasar 

Zakat, Infaq dan Sedekah sebagai Instrumen Mewujudkan Jaminan Pendapatan Dasar Oleh: Barid Hardiyanto Diskursus mengenai pengentasan kemiskinan di Indonesia sedang berada di persimpangan jalan. Meskipun angka kemiskinan makro menunjukkan tren penurunan, realitas di akar rumput sering kali berbicara lain. Kita masih menyaksikan fenomena kemiskinan kronis yang sulit ditembus oleh skema bantuan sosial konvensional. Di sinilah relevansi Affirmative Basic Income (ABI) mengemuka sebagai tawaran progresif namun terukur untuk mempercepat pemutusan rantai kemiskinan. Namun, pertanyaan klasiknya selalu sama: dari mana anggarannya? Di tengah ruang fiskal APBN yang kian sempit akibat beban subsidi dan pembayaran utang, gagasan ABI sering kali dianggap utopia finansial. Namun, jika kita melihat struktur kelembagaan negara secara jeli, kita memiliki instrumen raksasa yang belum teroptimalisasi secara sistemik untuk mendukung jaminan pendapatan dasar: Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS). Sebagai lembaga pemerintah non-struktural, BAZNAS bukan sekadar pengelola filantropi, melainkan pilar strategis yang mampu menjadi penyokong utama ABI ketika negara menghadapi keterbatasan anggaran. Selama ini, strategi jaring pengaman sosial kita terjebak dalam model pemberian bantuan yang bersifat episodik dan penuh syarat (conditional). Model ini sering kali gagal memberikan “ketenangan batin” bagi si miskin untuk merencanakan masa depannya. Ketakutan akan kehilangan bantuan jika mereka mulai produktif menciptakan poverty trap atau jebakan kemiskinan. ABI menawarkan pendekatan berbeda. Ia adalah jaminan pendapatan yang bersifat afirmatif -diberikan secara konsisten kepada kelompok paling rentan- untuk memastikan kebutuhan dasar terpenuhi tanpa syarat yang memberatkan. Hal ini sejalan dengan temuan Banerjee, Niehaus, dan Suri (2019) dalam studinya “Universal Basic Income in the Developing World”, yang menekankan bahwa transfer tunai tanpa syarat dapat merelaksasi hambatan psikologis akibat kemiskinan dan memungkinkan individu mengambil risiko produktif. Dalam konteks Indonesia, BAZNAS dapat mentransformasikan dana zakat, infaq dan sedekah menjadi instrumen pendapatan dasar yang stabil. BAZNAS sebagai Instrumen Fiskal Alternatif Mengapa BAZNAS menjadi kunci? Secara legal-formal, BAZNAS adalah bagian dari infrastruktur negara, yang memungkinkannya melakukan sinkronisasi data dengan kementerian terkait secara organik. Potensi zakat di Indonesia sangat kolosal, dan realisasinya terus meningkat. Ketika APBN tertekan, dana zakat, infaq, dan sedekah (ZIS) tetap mengalir sebagai partisipasi publik yang mandiri. Penelitian oleh Saoqi et al. (2025) dalam “Empowering Mustahik Through Da’wah Zakat: Evaluating the Impact of BAZNAS Programs on Poverty Alleviation in Indonesia” membuktikan bahwa program-program BAZNAS telah berhasil mengangkat mustahik keluar dari kemiskinan melalui pendekatan yang terintegrasi. Dengan data empiris ini, menempatkan BAZNAS sebagai pendukung utama ABI bukan lagi spekulasi, melainkan langkah berbasis bukti (evidence-based policy). BAZNAS dapat mengambil porsi pendanaan untuk kelompok yang belum terjangkau oleh bantuan pemerintah, bertindak sebagai penyangga fiskal yang lincah. Kondisi fiskal saat ini memang belum sepenuhnya berpihak pada perwujudan jaminan pendapatan dasar menyeluruh. Namun, BAZNAS adalah kendaraan yang paling siap untuk memulai. Dengan menggunakan skema zakat produktif yang ditransformasikan menjadi jaminan pendapatan, BAZNAS bisa menginisiasi “Pilot Project ABI” di kantong kemiskinan ekstrem. Dana ZIS tidak lagi habis dalam sekejap untuk sembako, melainkan menjadi arus pendapatan bulanan yang pasti bagi keluarga mustahik. Integrasi ini diperkuat oleh model yang diusulkan dalam literatur ekonomi syariah modern. Azizah (2025) dalam artikelnya “Integration of Zakat and Takaful: The Scheme for Optimizing the Welfare of Low-Income Communities”, berargumen bahwa integrasi instrumen keuangan sosial Islam sangat efektif untuk memperkuat ketahanan finansial kelompok berpendapatan rendah. Jika BAZNAS mengadopsi prinsip ABI, maka perlindungan yang diberikan bukan lagi sekadar bantuan darurat, melainkan sebuah sistem perlindungan sosial yang kokoh dan berkelanjutan. Syarat mutlak keberhasilan ini adalah integrasi data. Data Tunggal Sosial Ekonomi Nasional (DTSEN) perlu disinergikan dengan data mustahik BAZNAS secara real-time. Dengan digitalisasi, penyaluran ABI melalui BAZNAS dapat dilakukan secara cashless, menjamin transparansi bagi para muzakki. Setiap rupiah zakat dapat dilacak alirannya hingga menjadi “pendapatan dasar” di tangan mereka yang berhak. Hal ini tidak hanya mempercepat pengentasan kemiskinan, tetapi juga memperkuat kepercayaan publik terhadap BAZNAS sebagai instrumen transformasi sosial yang modern. Selain aspek pendanaan, keberhasilan implementasi Affirmative Basic Income melalui BAZNAS juga sangat ditentukan oleh desain kebijakan dan tata kelola yang akuntabel. Program ABI tidak cukup hanya menjamin transfer pendapatan secara rutin, tetapi juga harus dirancang sebagai bagian dari ekosistem pemberdayaan ekonomi yang berkelanjutan. Oleh karena itu, penerima manfaat tidak hanya ditempatkan sebagai objek bantuan, melainkan sebagai subjek pembangunan yang didorong menuju kemandirian ekonomi. Dalam praktiknya, skema ABI yang dikelola BAZNAS dapat diintegrasikan dengan program pemberdayaan usaha mikro, pelatihan keterampilan, serta pendampingan kewirausahaan bagi mustahik. Pendekatan ini memungkinkan jaminan pendapatan dasar berfungsi sebagai bantalan ekonomi (economic cushion) yang memberikan ruang bagi masyarakat miskin untuk meningkatkan kapasitas produktifnya tanpa tekanan risiko kehilangan penghasilan. Dengan demikian, ABI tidak menciptakan ketergantungan, tetapi justru mempercepat mobilitas sosial. Dari sisi tata kelola, prinsip transparansi dan akuntabilitas menjadi fondasi utama. BAZNAS perlu mengembangkan sistem monitoring dan evaluasi berbasis indikator kesejahteraan yang terukur, seperti peningkatan pendapatan rumah tangga, pengurangan tingkat kerentanan ekonomi, serta keberhasilan graduasi mustahik menjadi muzakki. Mekanisme evaluasi berbasis data ini penting untuk memastikan bahwa kebijakan ABI benar-benar memberikan dampak struktural terhadap pengurangan kemiskinan. Lebih jauh, kolaborasi multipihak juga menjadi faktor strategis. Pemerintah daerah, lembaga keuangan syariah, perguruan tinggi, dan sektor swasta dapat dilibatkan dalam penguatan implementasi ABI berbasis zakat, infaq dan sedekah. Perguruan tinggi dapat berperan dalam riset dan evaluasi kebijakan, sementara sektor swasta dapat mendukung melalui program tanggung jawab sosial yang terintegrasi dengan skema pemberdayaan mustahik. Dengan tata kelola yang kuat, integrasi kelembagaan, dan orientasi pada pemberdayaan jangka panjang, peran BAZNAS dalam skema Affirmative Basic Income tidak hanya menjadi solusi jangka pendek terhadap kemiskinan, tetapi juga menjadi instrumen transformasi sosial yang mampu membangun ketahanan ekonomi masyarakat secara sistemik. Akhirnya, melibatkan BAZNAS dalam skema ABI adalah langkah nyata menuju keadilan distributif. Secara teologis, ZIS memastikan kekayaan tidak hanya berputar di kalangan tertentu. Secara sosiologis, ABI adalah alat untuk memastikan martabat manusia tetap terjaga. Jika pemerintah menempatkan BAZNAS sebagai mitra strategis dalam penyediaan jaminan pendapatan dasar, maka percepatan pengentasan kemiskinan bukan lagi sekadar slogan. Optimalisasi peran BAZNAS sebagai penyokong utama ABI adalah solusi yang memadai dan konstitusional di tengah keterbatasan fiskal. Sudah saatnya BAZNAS naik kelas: dari pengelola kedermawanan menjadi pilar jaminan sosial nasional yang membawa Indonesia menuju nol persen kemiskinan. *Dosen di UIN Prof Saifuddin Zuhri dan Universitas Nahdlatul Ulama (UNU) Purwokerto serta Peneliti Senior di Lembaga Penelitian Pengembangan Sumberdaya dan Lingkungan Hidup […]

Prespektif, Ruang Kita

Menggema di Bulan Suci, Bakat Islami Siswa SD/MI Bersinar di SMP Muhammadiyah Purwojati

Menggema di Bulan Suci, Bakat Islami Siswa SD/MI Bersinar di SMP Muhammadiyah Purwojati Banyumas || AntarKita.com – SMP Muhammadiyah Purwojati sukses menggelar Lomba Gema Ramadhan Anak Sholeh tingkat SD/MI se-Kabupaten Banyumas sejak 26 Februari 2026 dengan tema “Menjadi Anak Sholeh dengan Suara, Kata dan Karya.” Kegiatan yang berlangsung meriah, tertib, dan penuh sportivitas ini bertujuan membina generasi Qurani yang berakhlak mulia, percaya diri, dan berprestasi, Senin, 2 Maret 2026.   Acara dibuka secara resmi oleh Ketua Pimpinan Cabang Muhammadiyah Purwojati, Drs. H. Mulyanto. Dalam sambutannya, beliau menyampaikan apresiasi atas terselenggaranya kegiatan yang dinilai mampu menumbuhkan semangat religius sekaligus kreativitas generasi muda. Ia menegaskan bahwa ajang seperti ini sangat penting dalam membentuk karakter anak sejak dini agar tumbuh menjadi generasi yang berakhlak mulia, percaya diri, dan berdaya saing. Ketua Panitia, Salmauz Difa, S.Pd., menyampaikan rasa terima kasih kepada seluruh pihak yang telah berkontribusi menyukseskan kegiatan, baik dari unsur guru, karyawan, maupun siswa-siswi SMP Muhammadiyah Purwojati. Ia juga mengapresiasi dukungan para donatur dan sponsor yang turut membantu kelancaran acara. Sementara itu, Kepala SMP Muhammadiyah Purwojati, Nur Khasbi, S.H.I., M.M., dalam sambutannya menegaskan bahwa kegiatan ini bukan sekadar perlombaan, melainkan bagian dari ikhtiar pendidikan untuk membentuk generasi Qurani yang percaya diri, berakhlak mulia, dan berprestasi. Ia berharap ajang ini menjadi sarana pembinaan akhlak sekaligus ruang bagi peserta untuk menampilkan potensi Islami terbaik mereka. Cabang lomba yang dipertandingkan meliputi Lomba Adzan, Pildacil, dan Kaligrafi, dengan tiga Juara Utama dan tiga Juara Harapan di setiap cabang. Kemeriahan semakin terasa dengan hadiah Beasiswa Pendidikan Rp1.000.000 bagi Juara 1–3 di tiap cabang, disertai piala dan piagam, sementara seluruh peserta menerima sertifikat. Adapun para pemenang adalah: Lomba Adzan – Juara 1 Qolis Noval Hari (SDN 1 Gerduren), Juara 2 Syafi Dhamar (SDN Kaliputih), Juara 3 Dhamar Argani (SDN Klapasawit), Harapan 1 Rasya Muhammad H (SD Muhammadiyah Cipete, Cilongok), Harapan 2 Dhamar Adhi Wijaya (SDN Kaliurip), Harapan 3 Dava Rifano Ibrahim (SDN 2 Kaliwangi). Lomba Pildacil – Juara 1 Farhan Zaeni (SDN Kaliputih), Juara 2 Putri Maulida (SDN Kaliputih), Juara 3 Dahayu Aatifah (SDN 2 Karangtalun Kidul), Harapan 1 Lulu Yesenia (SDN Karangtalun Lor), Harapan 2 Alfaroz Gavriel (SDN 1 Kadul), Harapan 3 Salmha Adzwa (MIM Karangtalun Kidul). Lomba Kaligrafi – Juara 1 Habibi Sakhi Zaidan (SDN 1 Gerduren), Juara 2 Bani Nuha Warina (SDN 1 Bojong), Juara 3 Hifsabila Agwinu (SDN Kaliurip), Harapan 1 Rafif Azril Ramadhani (MIM Kedungwuluh), Harapan 2 Farah Anindya (SD Kaliputih), Harapan 3 Alifa Nayla Yosinda (SD Kaliwangi). Dengan terselenggaranya Lomba Gema Ramadhan Anak Sholeh ini, SMP Muhammadiyah Purwojati berharap dapat terus menjadi pusat kegiatan positif bagi generasi muda sekaligus mempererat ukhuwah antar sekolah di Kabupaten Banyumas. Kegiatan ini diharapkan menjadi agenda tahunan yang melahirkan bibit-bibit unggul, tidak hanya dalam bidang akademik, tetapi juga dalam akhlak dan spiritualitas. Melalui kegiatan ini, SMP Muhammadiyah Purwojati berkomitmen mencetak generasi muda yang tidak hanya unggul dalam prestasi, tetapi juga memiliki akhlak mulia serta mampu mengekspresikan nilai-nilai Islam melalui suara, kata, dan karya (Tarqum Aziz/Aflah).

Kabarkita, Prespektif, Ruang Kita

Cukuplah Bertuhan pada Allah SWT

Cukuplah Bertuhan pada Allah SWT Oleh: SiS, antarkita Bukan pada doa, ikhtiar, usaha ataupun metode. Karena dunia ini tidak linier ataupun berbanding terbalik. Doa, ikhtiar, dan metode adalah bukti kita bertuhan pada Allah SWT. Ada satu hal yang sangat halus dalam perjalanan iman: bergesernya tempat sandaran hati. Awalnya kita bersandar kepada Allah. Lalu perlahan, tanpa sadar, kita mulai bersandar pada doa yang kita panjatkan. Kita mulai yakin pada jumlah usaha yang kita lakukan. Kita mulai percaya pada metode yang kita susun. Ketika doa belum terkabul, kita gelisah. Ketika usaha belum berhasil, kita marah. Ketika metode gagal, kita kecewa. Mengapa? Karena diam-diam kita menaruh harapan terbesar bukan pada Allah, tetapi pada cara. Padahal dunia ini tidak linier. Tidak selalu semakin banyak doa, semakin cepat jawaban turun. Tidak selalu semakin keras usaha, semakin besar hasil yang didapat. Tidak pula selalu kesulitan berarti hukuman dan kemudahan berarti kemuliaan. Allah menjadikan hidup penuh variabel agar manusia tidak mempertuhankan sebab. Jika dunia ini linier, manusia akan menyembah rumus. Jika dunia ini selalu berbanding terbalik, manusia akan menyembah teori baru. Tetapi Allah menjadikannya kompleks agar manusia tetap tunduk. Cukuplah bertuhan pada Allah SWT. Bukan pada doa itu sendiri. Bukan pada ikhtiar itu sendiri. Bukan pada usaha ataupun metode itu sendiri. Doa bukan Tuhan. Ikhtiar bukan Tuhan. Metode bukan Tuhan. Semuanya hanyalah bentuk ubudiyah—bukti bahwa kita hamba. Doa adalah pengakuan bahwa kita lemah. Ikhtiar adalah bentuk ketaatan karena kita diperintah berusaha. Metode adalah amanah akal yang Allah titipkan agar digunakan dengan bijak. Namun hasil akhir bukan milik doa kita. Bukan milik kerja keras kita. Bukan milik kecerdasan kita. Hasil akhir milik Allah SWT. Bertuhan kepada Allah berarti tetap berdoa meski belum melihat jawaban. Tetap berusaha meski belum melihat hasil. Tetap menyusun strategi meski belum melihat kepastian. Bertuhan kepada Allah berarti hati tidak hancur ketika usaha gagal, dan tidak sombong ketika usaha berhasil. Karena keberhasilan bukan bukti metode paling hebat. Dan kegagalan bukan bukti doa tidak didengar. Sering kali Allah menunda agar hati kita bersih dari kesombongan. Sering kali Allah memberi agar kita belajar bersyukur. Sering kali Allah menggagalkan cara agar kita kembali bersandar. Di situlah tauhid diuji. Apakah kita hanya yakin kepada Allah ketika hasil sesuai keinginan? Ataukah kita tetap yakin meski takdir berbeda dari rencana? Doa, ikhtiar, dan metode adalah bukti kita bertuhan pada Allah SWT. Kita berdoa karena kita percaya Allah Maha Mendengar. Kita berusaha karena kita percaya Allah memerintahkan gerak. Kita menyusun metode karena kita percaya akal adalah amanah. Namun kita tidak mengkultuskan semuanya. Karena jika hati lebih tenang pada strategi daripada pada sujud, di situlah ada yang perlu diluruskan. Cukuplah bertuhan pada Allah SWT. Ketika doa belum terkabul, katakan: Allah Maha Tahu waktu terbaik. Ketika usaha belum berhasil, katakan: Allah sedang mendidik sabar. Ketika metode runtuh, katakan: Allah sedang menunjukkan jalan lain. Hidup bukan tentang memastikan hasil, tetapi tentang memastikan hati tetap lurus. Gunakan doa dengan sungguh-sungguh. Lakukan ikhtiar dengan sepenuh tanggung jawab. Rancang metode dengan ilmu dan hikmah. Lalu lepaskan semuanya dalam keyakinan yang utuh: Apa pun hasilnya, itulah keputusan Allah yang terbaik bagi hamba-Nya. Karena yang kita sembah adalah Allah, bukan doa kita, bukan usaha kita, dan bukan metode kita. Cukuplah bertuhan pada Allah SWT. Oleh: SiS, antarkita

Kabarkita, Prespektif, Ruang Kita

Rakyat Bersatu Tak Bisa Dikalahkan

Rakyat Bersatu Tak Bisa Dikalahkan Dari Spirit 1998 Menuju Tantangan Kontrol Moral Umat Hari Ini Oleh: SiS Antarkita “Rakyat bersatu tak bisa dikalahkan.” Kalimat itu bukan sekadar slogan demonstrasi. Ia pernah menjadi energi kolektif yang menggetarkan fondasi kekuasaan. Pada 1998, gelombang mahasiswa dan rakyat bergerak serentak, memaksa Presiden Soeharto mengakhiri lebih dari tiga dekade kekuasaannya. Sejarah mencatat: ketika rakyat menemukan titik temu perjuangannya, rezim sekuat apa pun bisa runtuh. Tetapi pertanyaan yang jarang dijawab secara jernih adalah: siapa yang menyatukan rakyat saat itu? Apakah mahasiswa? Ya, mereka motor penggerak. Apakah krisis ekonomi? Jelas, ia bahan bakar yang membakar kesadaran. Apakah elite politik? Sebagian mungkin membaca arah angin sejarah. Namun lebih dari semua itu, ada satu faktor yang paling menentukan: perasaan senasib. Ketika harga kebutuhan pokok melonjak, PHK terjadi di mana-mana, dan ketidakadilan terasa nyata, rakyat menemukan kesamaan nasib. Dari kesadaran kolektif itulah persatuan lahir—bukan karena komando tunggal, melainkan karena penderitaan yang dirasakan bersama. Persatuan 1998 adalah persatuan emosional, sosial, dan moral. Ia lahir dari krisis yang menyentuh semua lapisan. Lalu kita melompat ke hari ini. Indonesia tetap demokratis, pemilu berjalan, kebebasan berpendapat relatif terbuka. Namun muncul pertanyaan reflektif: mengapa energi kontrol rakyat seperti 1998 terasa tidak lagi sekuat dulu? Secara kuantitas dan struktur sosial, Indonesia memiliki dua organisasi Islam terbesar yang secara historis dan demografis mewakili mayoritas umat: Muhammadiyah dan Nahdlatul Ulama. Keduanya memiliki jaringan hingga pelosok desa, amal usaha pendidikan dan kesehatan, serta pengaruh sosial yang luas. Secara teoritis, jika dua kekuatan moral ini bergerak dalam satu irama, mereka bisa menjadi pilar kontrol sosial yang sangat kuat terhadap pemerintah—bukan dalam posisi oposisi politik, tetapi sebagai penjaga etika kebangsaan. Namun realitasnya lebih kompleks. Banyak tokoh yang kini duduk di pemerintahan, parlemen, maupun lembaga negara memiliki afiliasi atau latar belakang dari NU dan Muhammadiyah. Ketika kader masuk ke dalam sistem, muncul dilema klasik: apakah mereka menjadi penyambung aspirasi umat, atau justru terserap oleh logika kekuasaan? Di sinilah problem kontrol menjadi tidak sederhana. Ketika jarak organisasi dengan negara semakin dekat, independensi moral diuji. Kritik bisa terasa seperti serangan kepada “orang sendiri”. Padahal dalam demokrasi, kontrol adalah bentuk cinta kepada negara, bukan permusuhan. Ada beberapa faktor yang patut ditelisik lebih dalam. Pertama, fragmentasi kepentingan umat. Berbeda dengan 1998 yang dipersatukan oleh krisis ekonomi total, hari ini masalah terasa sektoral: ada yang terdampak kebijakan ekonomi, ada yang terdampak regulasi pendidikan, ada yang terdampak isu agraria, tetapi tidak semua merasakannya secara bersamaan. Tanpa perasaan senasib yang kuat, sulit membangun gelombang kolektif. Kedua, perubahan lanskap komunikasi. Media sosial mempercepat arus informasi, tetapi juga memecah perhatian publik. Isu cepat viral, tetapi cepat pula dilupakan. Energi kemarahan sering meledak sesaat tanpa konsolidasi yang matang. Ketiga, integrasi elite ormas ke dalam struktur kekuasaan. Ketika kader-kader terbaik dipercaya mengisi jabatan publik, itu tentu membanggakan. Namun di sisi lain, organisasi harus menjaga jarak kritis agar tidak kehilangan fungsi kontrolnya. Tanpa keseimbangan, organisasi bisa terjebak menjadi legitimasi simbolik bagi kebijakan yang mungkin perlu dikritisi. Lalu, apakah NU dan Muhammadiyah kehilangan daya kontrolnya? Belum tentu. Kedua organisasi ini masih memiliki kekuatan moral dan basis massa yang besar. Namun tantangannya adalah bagaimana menjaga independensi nilai di tengah kedekatan struktural dengan negara. Kontrol tidak harus selalu berbentuk demonstrasi. Ia bisa berupa pernyataan sikap, kajian akademik, fatwa moral, advokasi kebijakan, hingga pendidikan politik warga. Tetapi semuanya mensyaratkan keberanian moral dan konsistensi. Pertanyaannya menjadi lebih mendasar: apakah umat masih melihat dirinya sebagai satu kesatuan nasib? Atau sudah terfragmentasi oleh kepentingan politik jangka pendek? Persatuan 1998 tidak lahir dari romantisme, tetapi dari kesadaran kolektif akan ketidakadilan yang dirasakan bersama. Jika hari ini rakyat merasa baik-baik saja, maka persatuan tidak akan lahir. Tetapi jika ketimpangan, korupsi, atau ketidakadilan dirasakan luas dan nyata, sejarah selalu menunjukkan bahwa rakyat menemukan jalannya sendiri. NU dan Muhammadiyah memiliki potensi besar menjadi penjaga moral bangsa—bukan sekadar pemain dalam panggung kekuasaan. Keduanya adalah warisan sejarah yang dibangun di atas spirit pembaruan, pendidikan, dan keberpihakan pada rakyat kecil. Maka pekerjaan rumahnya jelas: bagaimana menjaga keseimbangan antara kedekatan dengan negara dan keberanian mengoreksi negara? Jika keseimbangan itu terjaga, maka kalimat sakral itu tidak akan pernah kehilangan maknanya: Rakyat bersatu tak bisa dikalahkan. Namun persatuan bukanlah sesuatu yang otomatis. Ia lahir dari kesadaran, keberanian, dan integritas. Tanpa itu, slogan hanya akan menjadi nostalgia. Dengan itu, ia bisa kembali menjadi kekuatan sejarah.

Kabarkita

Pembuatan MCK Titik 3 di Jeumpa Sikureng, TMMD Tingkatkan Fasilitas Sanitasi Warga.

Pembuatan MCK Titik 3 di Jeumpa Sikureng, TMMD Tingkatkan Fasilitas Sanitasi Warga. Bireuen, Aceh – Pembangunan Mandi, Cuci, Kakus (MCK) di titik 3 Desa Jeumpa Sikureng Kecamatan Jeunib Kabupaten Bireuen terus berjalan sebagai bagian dari program TNI Manunggal Membangun Desa (TMMD) Ke-127 Kodim 0111/Bireuen. Kegiatan ini merupakan salah satu sasaran fisik yang bertujuan meningkatkan kualitas sanitasi dan kesehatan lingkungan masyarakat. Senin (2/3/2026). Pengerjaan MCK dilakukan secara bertahap, mulai dari pembuatan pondasi, pemasangan dinding, hingga penyelesaian atap dan instalasi saluran air. Satgas TMMD bersama warga setempat terlibat aktif dalam setiap proses pembangunan dengan semangat gotong royong. Keberadaan MCK ini diharapkan dapat memberikan akses sanitasi yang lebih layak bagi masyarakat sekitar, sekaligus mendukung upaya menjaga kebersihan lingkungan dan mencegah penyakit berbasis lingkungan. Melalui pembangunan fasilitas MCK di titik 3 ini, TMMD tidak hanya menghadirkan pembangunan infrastruktur, tetapi juga berkontribusi langsung terhadap peningkatan kualitas hidup masyarakat Desa Jeumpa Sikureng.

Kabarkita, Ruang Kita

Pastikan Kualitas dan Ketahanan Infrastruktur,

Pastikan Kualitas dan Ketahanan Infrastruktur, Satgas TMMD Ke 127 Kodim 0111/Bireuen Laksanakan Domping. Bireuen – Pembangunan jalan di Desa Jeumpa Sikureng terus berjalan sesuai tahapan. Saat ini, Satgas TNI Manunggal Membangun Desa (TMMD)Ke 127 Kodim 0111/Bireuen melaksanakan proses domping atau pemadatan badan jalan sebagai bagian penting dalam memastikan kualitas dan ketahanan infrastruktur yang dibangun. Senin (2/3/2026). Pemadatan dilakukan menggunakan alat berat guna memastikan material timbunan menyatu secara optimal dan memiliki daya dukung yang kuat. Tahap ini sangat krusial sebelum memasuki proses finishing, karena menentukan kekuatan jalan dalam jangka panjang serta meminimalisir potensi kerusakan. Anggota Satgas TMMD bersama masyarakat setempat turut terlibat aktif dalam pengawasan dan pendampingan proses pekerjaan di lapangan. Semangat gotong royong antara TNI dan warga menjadi kunci kelancaran setiap tahapan pembangunan. Dengan dilaksanakannya domping jalan ini, progres pembangunan semakin mendekati tahap akhir. Diharapkan, jalan yang dibangun dapat memberikan manfaat besar bagi masyarakat Desa Jeumpa Sikureng, khususnya dalam memperlancar akses transportasi, meningkatkan mobilitas warga, serta mendorong pertumbuhan ekonomi desa. Program TMMD tidak hanya menghadirkan pembangunan fisik, tetapi juga memperkuat kemanunggalan TNI dengan rakyat dalam mewujudkan pemerataan pembangunan hingga ke pelosok desa.

Kabarkita, Ruang Kita

Aspirasi MBG

Aspirasi MBG Evaluasi Program MBG Demi Masa Depan Anak Hari ini, Senin 2 Maret 2026, ||Antarkita.com Bapak Slamet Sudiarso melaksanakan peran dan tanggung jawabnya sebagai warga negara sekaligus orang tua siswa dengan mendatangi kepala sekolah dan guru di tempat anak beliau bersekolah. Langkah tersebut dilakukan sebagai bentuk kepedulian terhadap kualitas pelaksanaan program MBG (Makan Bergizi Gratis) yang diterima para siswa. Beliau menghimbau agar pihak sekolah mengembalikan MBG yang dibagikan hari ini dan pada kesempatan berikutnya apabila kualitas dan kuantitasnya tidak sesuai dengan ketentuan yang semestinya. Aspirasi ini bukan bentuk penolakan terhadap program, melainkan bentuk kontrol sosial yang konstruktif agar pelaksanaan program benar-benar memenuhi standar gizi, kelayakan, dan manfaat bagi peserta didik. Kepedulian Orang Tua adalah Bentuk Cinta Program pemenuhan gizi bagi anak sekolah adalah program strategis yang menyangkut masa depan generasi bangsa. Karena itu, kualitas makanan, kebersihan, kandungan gizi, serta porsi yang diberikan harus sesuai dengan standar yang ditetapkan. Kepedulian orang tua untuk mengawasi pelaksanaan program adalah bagian dari tanggung jawab moral terhadap: Kesehatan anak Pertumbuhan dan perkembangan siswa Keamanan pangan di lingkungan sekolah Masa depan generasi Indonesia Evaluasi demi Perbaikan Aspirasi ini diharapkan menjadi bahan evaluasi bersama, baik bagi pihak sekolah maupun pihak penyelenggara program, agar: Distribusi berjalan sesuai standar Kualitas dan kuantitas terjaga Tidak terjadi pemborosan anggaran Program benar-benar bermanfaat bagi siswa Kontrol sosial yang sehat adalah bagian dari demokrasi dan cinta tanah air. Ajakan Kepedulian Apabila masyarakat merasa memiliki kepedulian yang sama terhadap kualitas program untuk anak-anak, maka hendaknya menyampaikan aspirasi dengan cara yang santun, dialogis, dan sesuai aturan. Karena mencintai anak-anak berarti menjaga hak mereka. Mencintai negeri berarti memastikan kebijakan berjalan dengan baik. Oleh: SiS Antarkita Purwokerto, 2 Maret 202

Kabarkita, Ruang Kita

Sinergi Pengadaan Beras Zakat

Sinergi Strategis Pengadaan Beras Zakat Transparan, Profesional, dan Memberdayakan Ekonomi Internal Muhammadiyah Purwokerto, 2 Maret 2026|| Antarkita.com Dalam rangka meningkatkan kualitas pengelolaan dan distribusi zakat yang amanah serta berdampak luas, telah dilaksanakan rapat koordinasi antara Lazismu, Majelis Dikdasmen, Majelis Pemberdayaan Masyarakat (MPM), dan JATAM. Rapat tersebut menghasilkan kesepakatan bersama terkait pelaksanaan kerja sama pengadaan beras zakat bagi Amal Usaha Muhammadiyah (AUM) bidang pendidikan di wilayah Banyumas. Program ini tidak hanya bertujuan memenuhi kebutuhan distribusi zakat, tetapi juga memperkuat ekosistem ekonomi internal Muhammadiyah melalui keterlibatan aktif jaringan saudagar. Latar Belakang dan Tujuan Zakat merupakan instrumen penting dalam membangun kesejahteraan umat. Agar pelaksanaannya tepat sasaran, diperlukan tata kelola yang sistematis, transparan, dan profesional. Melalui kerja sama ini, diharapkan tercapai: Standar kualitas beras zakat yang terjaga. Distribusi tepat waktu dan tepat sasaran. Transparansi alur keuangan. Pemberdayaan anggota Muhammadiyah sebagai penyedia beras. Sinergi ini mencerminkan kolaborasi nyata antar-majelis dan jaringan saudagar dalam membangun kemandirian umat. Pokok-Pokok Kesepakatan 1️⃣ Kerja Sama Pengadaan Beras Zakat Disepakati pelaksanaan kerja sama pengadaan beras zakat dengan pembagian peran sebagai berikut: Lazismu bertindak sebagai lembaga penerima dan pengelola dana zakat. JATAM selaku pengelola keuangan operasional pengadaan. Majelis Dikdasmen mengoordinasikan AUM/sekolah dalam proses pemesanan. MPM dan JATAM mengoordinir anggota JATAM yang menjadi penyedia beras. Struktur ini dibangun untuk memastikan pengelolaan berjalan tertib, akuntabel, dan sesuai prinsip amanah. 2️⃣ Mekanisme Pemesanan dan Pembayaran Pemesanan beras dari sekolah dilakukan paling lambat Jumat, 6 Maret 2026. Pembayaran dilakukan oleh sekolah melalui rekening resmi Lazismu. Dengan sistem pembayaran terpusat, pengawasan dan akuntabilitas dana zakat dapat terjaga secara optimal. 3️⃣ Harga dan Distribusi Harga disepakati sebesar Rp 42.000 per paket (3 kg). Pengiriman dilakukan langsung ke masing-masing sekolah paling lambat 11 Maret 2026, pada jam operasional sekolah. Distribusi tepat waktu menjadi komitmen bersama agar program dapat berjalan sesuai jadwal dan kebutuhan penerima manfaat. 4️⃣ Standar dan Kualifikasi Beras Untuk menjaga kualitas dan kehormatan zakat yang disalurkan, beras wajib memenuhi kriteria: Beras baru (bukan oplosan). Bersih dan layak konsumsi. Kualitas medium (tidak pera). Dikemas dalam plastik ukuran 3 kg. Plastik kemasan disediakan oleh Lazismu dan dapat diambil di Kantor Lazismu, Kompleks Kantor PDM Jl. dr. Angka, Purwokerto. Standar ini ditetapkan sebagai bentuk tanggung jawab moral dalam menjaga amanah zakat. 5️⃣ Partisipasi Anggota JATAM Bagi anggota JATAM yang berminat menjadi penyedia beras, dapat menghubungi: P. Rohmat Pak Fathurrahman (Kober) Keterlibatan anggota diharapkan menjadi bagian dari gerakan ekonomi berjamaah yang saling menguatkan antara sektor sosial dan sektor usaha. Komitmen Bersama Kerja sama ini merupakan wujud nyata komitmen Muhammadiyah Banyumas dalam: Mengelola zakat secara profesional dan transparan. Memberdayakan jaringan saudagar Muhammadiyah. Membangun sistem distribusi yang efisien dan berkualitas. Menguatkan sinergi antar-majelis dalam satu gerak langkah. Dengan kolaborasi ini, diharapkan pengelolaan zakat tidak hanya bersifat konsumtif, tetapi juga memberi dampak ekonomi yang berkelanjutan. Demikian press release ini disampaikan untuk menjadi perhatian dan pedoman bersama. Apabila terdapat kekurangan atau kekeliruan, akan dilakukan evaluasi dan koreksi sebagaimana mestinya.

Scroll to Top