You are currently viewing Belajar dari Universitas Muhammadiyah Kupang: Ketika Biskuit Cahaya Menemukan Jalan Ekspansi Peradaban

Belajar dari Universitas Muhammadiyah Kupang: Ketika Biskuit Cahaya Menemukan Jalan Ekspansi Peradaban

Belajar dari Universitas Muhammadiyah Kupang: Ketika Biskuit Cahaya Menemukan Jalan Ekspansi Peradaban

Universitas Muhammadiyah Kupang (UMK) adalah sebuah paradoks yang meneduhkan. Ia adalah universitas Islam, lahir dari rahim Muhammadiyah, namun justru dipercaya dan dipilih oleh mayoritas mahasiswa non-Muslim. Di tengah dunia yang sering kali menjadikan identitas agama sebagai batas sosial, UMK tampil sebagai bukti bahwa nilai Islam yang dikelola secara berkemajuan mampu menembus sekat-sekat keyakinan.

Pertanyaan yang sering muncul pun sederhana namun mendalam: bagaimana mungkin sebuah universitas Islam bisa dihuni oleh mayoritas mahasiswa non-Muslim? Jawabannya tidak terletak pada strategi pemasaran semata, melainkan pada konsistensi nilai, mutu layanan, dan orientasi kemanusiaan yang dijalankan kampus ini selama bertahun-tahun.

UMK tidak menjual simbol Islam secara eksklusif. Ia menghadirkan Islam sebagai etos: kejujuran akademik, profesionalisme pengelolaan, keterbukaan ruang dialog, dan pelayanan pendidikan yang menghormati martabat setiap manusia. Islam tidak dipaksakan sebagai identitas formal, tetapi dihidupkan sebagai nilai peradaban. Di titik inilah kepercayaan publik tumbuh—bahkan dari mereka yang berbeda iman.

Pelajaran besar dari UMK inilah yang semestinya menginspirasi lahir dan tumbuhnya produk-produk bisnis Muhammadiyah, termasuk Biskuit Cahaya.

Biskuit Cahaya adalah ikhtiar mulia. Ia lahir dari semangat kemandirian ekonomi Aisyiyah Jawa Tengah, membawa pesan halal, bergizi, dan berkemajuan. Namun, sebagaimana UMK, produk ini tidak cukup hanya berdiri sebagai “produk internal umat”. Ia harus melangkah lebih jauh: menjadi produk publik yang diterima lintas identitas, lintas kelas sosial, dan lintas budaya.

UMK mengajarkan satu prinsip penting: kepercayaan tidak dibangun oleh identitas, tetapi oleh kualitas. Demikian pula Biskuit Cahaya dan produk-produk Muhammadiyah lainnya. Label halal bukan sekadar simbol religius, melainkan jaminan etika produksi, kebersihan proses, kejujuran bahan, dan tanggung jawab sosial. Nilai-nilai ini bersifat universal—diterima oleh siapa pun, apa pun agamanya.

Jika UMK mampu menjadi rumah belajar bersama bagi mereka yang berbeda keyakinan, maka produk bisnis Muhammadiyah pun harus mampu menjadi rumah manfaat bersama. Biskuit Cahaya idealnya hadir di meja siapa saja: rumah tangga, kantor, sekolah, komunitas, bahkan ruang publik lintas agama. Bukan karena ia produk Muhammadiyah, tetapi karena ia layak dipilih.

Selama ini, Muhammadiyah telah menorehkan sejarah panjang di bidang pendidikan dan kesehatan. Sekolah, universitas, rumah sakit, dan klinik Muhammadiyah berdiri hampir di seluruh penjuru negeri. Keberhasilan ini adalah prestasi besar yang diakui publik. Namun, keberhasilan itu juga menghadirkan tantangan baru: apakah Muhammadiyah akan berhenti di sana?

Negeri ini masih menyimpan banyak pekerjaan rumah. Ketahanan pangan yang rapuh, ketergantungan impor, lemahnya industri nasional, minimnya pelaku usaha berbasis nilai, hingga ketimpangan ekonomi struktural—semua ini menunggu kehadiran kekuatan sosial yang berintegritas dan berpengalaman. Muhammadiyah, dengan modal jaringan, sumber daya manusia, dan kepercayaan publik, sejatinya memiliki peluang besar untuk mengambil peran lebih luas.

Saatnya kader Muhammadiyah melakukan ekspansi pengabdian terhadap negeri. Bukan dengan meninggalkan dakwah, tetapi dengan memperluas maknanya. Ekonomi, bisnis, pertanian, industri, otomotif, peternakan, energi, teknologi—semua adalah ladang dakwah baru yang menuntut profesionalisme, inovasi, dan keberanian mengambil risiko.

Di sinilah Biskuit Cahaya menemukan makna strategisnya. Ia bukan sekadar produk makanan, tetapi simbol awal keberanian. Jika satu produk bisa lahir, tumbuh, dan diterima publik, maka produk lain akan menyusul. Dari biskuit, bisa lahir industri pangan. Dari industri pangan, bisa tumbuh ekosistem pertanian. Dari ekosistem pertanian, terbuka lapangan kerja dan kemandirian ekonomi.

Biskuit Cahaya diharapkan sukses, bukan hanya dari sisi penjualan, tetapi sebagai stimulus psikologis dan organisatoris. Ia memberi pesan kepada kader Muhammadiyah: bahwa bisnis bukan wilayah yang asing, bahwa ekonomi bukan ruang yang harus ditakuti, dan bahwa nilai Islam bisa hidup subur di dunia usaha.

Dari Universitas Muhammadiyah Kupang, kita belajar bahwa keberagaman bisa dirangkul tanpa kehilangan identitas. Dari Biskuit Cahaya, semoga lahir kesadaran bahwa ekonomi adalah medan jihad peradaban yang tak kalah penting dari pendidikan dan kesehatan.

Jika pendidikan dan kesehatan telah menjadi jejak sejarah Muhammadiyah, maka ekonomi, industri, dan bisnis semoga menjadi jejak peradaban Muhammadiyah di masa depan—jejak yang menerangi, seperti cahaya, bagi siapa saja yang disentuhnya.

Oleh: SiS | Antarki

Tinggalkan Balasan