Menjadi Kader Muhammadiyah yang Berkemajuan dan Mencerahkan Semesta
Oleh SiS, antarkita
Di tengah dunia yang semakin bising, kita menyaksikan percakapan manusia terbagi dalam tiga arus besar.
Orang besar berbicara tentang ide-ide.
Orang biasa berbicara tentang kejadian.
Orang kecil berbicara tentang orang lain.
Kalimat ini bukan sekadar ungkapan motivasi. Ia adalah cermin kualitas jiwa dan keluasan visi seseorang. Dan sebagai kader Muhammadiyah, kita ditantang untuk menentukan posisi: menjadi pembicara gosip, pengamat peristiwa, atau perancang masa depan?
Muhammadiyah tidak lahir dari energi membicarakan orang lain. Ia lahir dari kegelisahan intelektual dan spiritual seorang ulama pembaru, Ahmad Dahlan. Beliau tidak sibuk mengkritik tanpa solusi. Beliau membangun sekolah. Beliau mendirikan rumah sakit. Beliau membentuk sistem pendidikan modern. Beliau menggerakkan umat dari keterbelakangan menuju kemajuan.
Itulah ruh kader berkemajuan.
🌱 1. Berkemajuan dalam Akidah dan Spirit
Kader Muhammadiyah yang berkemajuan memiliki tauhid yang murni dan kokoh.
Tauhid bukan hanya doktrin teologis, tetapi fondasi keberanian. Orang yang bertauhid kuat tidak mudah takut pada tekanan, tidak mudah silau oleh jabatan, dan tidak mudah tergoda oleh kepentingan pribadi.
Ia sadar bahwa perjuangan ini bukan untuk dirinya, tetapi untuk kemaslahatan umat.
Ia tidak menggadaikan nilai demi popularitas.
Ia tidak menjual prinsip demi kenyamanan.
Karena ia tahu, cahaya tidak akan lahir dari hati yang redup.
🧠 2. Berkemajuan dalam Pikiran
Kader berkemajuan berpikir strategis. Ia berbicara tentang:
Bagaimana pendidikan Muhammadiyah melahirkan generasi unggul dan berdaya saing global.
Bagaimana ranting menjadi pusat pemberdayaan ekonomi umat.
Bagaimana teknologi digital dimanfaatkan untuk dakwah dan transformasi sosial.
Bagaimana membangun ekosistem bisnis yang memperkuat kemandirian jamaah.
Ia tidak berhenti pada kritik. Ia menawarkan desain. Ia menyusun peta jalan. Ia merancang masa depan.
Dalam sejarahnya, Muhammadiyah selalu adaptif terhadap zaman. Ketika pendidikan tradisional stagnan, Muhammadiyah menghadirkan sistem modern. Ketika layanan kesehatan terbatas, Muhammadiyah membangun rumah sakit. Ketika umat lemah secara ekonomi, muncul gagasan koperasi dan pemberdayaan.
Semangat itu harus hidup dalam setiap kader.
⚙️ 3. Berkemajuan dalam Gerakan Nyata
Berbicara ide saja tidak cukup. Ide tanpa gerakan hanya menjadi wacana.
Kader berkemajuan mewujudkan gagasan menjadi amal:
Menguatkan struktur ranting sebagai basis gerakan peradaban.
Menggerakkan kemandirian ekonomi keluarga.
Membangun jaringan kolaborasi lintas komunitas.
Menjadi teladan profesional dan berintegritas dalam pekerjaan.
Ia memahami bahwa perubahan besar selalu dimulai dari lingkaran kecil.
Dari keluarga yang kuat.
Dari jamaah yang solid.
Dari komunitas yang produktif.
🌍 4. Mencerahkan Semesta, Bukan Menghangatkan Konflik
Di era media sosial, sangat mudah menjadi komentator. Sangat mudah menyebarkan opini. Sangat mudah memperkeruh suasana.
Namun kader Muhammadiyah tidak dipanggil untuk menjadi penyulut api. Ia dipanggil untuk menjadi cahaya.
Mencerahkan semesta berarti:
Menghadirkan solusi, bukan provokasi.
Mengedukasi, bukan memecah belah.
Menguatkan ukhuwah, bukan memperdalam jurang perbedaan.
Islam berkemajuan bukan Islam yang reaktif. Ia proaktif. Ia membangun, bukan merobohkan. Ia memimpin peradaban, bukan terseret arusnya.
🔥 5. Tantangan Zaman dan Tanggung Jawab Kader
Hari ini kita menghadapi tantangan yang jauh lebih kompleks:
Disrupsi teknologi.
Ketimpangan ekonomi.
Krisis moral generasi muda.
Polarisasi sosial dan politik.
Jika kader Muhammadiyah hanya sibuk membicarakan orang lain, maka ia kehilangan momentum sejarah.
Sebaliknya, jika kader berbicara tentang ide-ide besar dan bergerak mewujudkannya, maka ia sedang menulis bab baru peradaban.
Kita tidak boleh hanya menjadi penonton perubahan.
Kita harus menjadi arsitek perubahan.
✨ 6. Menjadi Besar dalam Cara Berpikir
Menjadi kader berkemajuan berarti melatih diri untuk:
Melihat jauh ke depan.
Berpikir lintas generasi.
Tidak terjebak pada konflik kecil.
Tidak larut dalam perdebatan personal.
Orang besar berbicara tentang ide karena ia memikirkan masa depan.
Orang kecil berbicara tentang orang lain karena pikirannya sempit dan visinya pendek.
Kader Muhammadiyah harus memilih menjadi besar — bukan karena jabatan, tetapi karena visi dan kontribusi.
🌟 Penutup: Cahaya Itu Harus Dinyalakan
Muhammadiyah adalah gerakan pencerahan.
Tetapi pencerahan tidak akan lahir jika kadernya redup.
Tidak akan maju jika kadernya stagnan.
Tidak akan mencerahkan jika kadernya hanya menjadi pengamat.
Maka menjadi kader Muhammadiyah yang berkemajuan dan mencerahkan semesta adalah komitmen untuk:
Berpikir besar.
Berjiwa bersih.
Bergerak nyata.
Berkontribusi luas.
Berhenti membicarakan orang lain.
Mulai membicarakan ide.
Lalu wujudkan dalam amal.
Karena sejarah tidak diingat oleh mereka yang sibuk berkomentar,
tetapi oleh mereka yang berani membangun.
Oleh SiS, antarkita.