Wahabi dan Jawa Puritan: Ilusi Kemurnian dan Jejak Sejarah yang Tak Terhapus
Oleh: SiS Antarkita
Di ruang publik hari ini, dua wacana sering mengemuka dengan nada yang hampir sama: kembali kepada yang “murni”.
Sebagian ingin berislam secara langsung kepada Muhammad tanpa perantara imam mazhab.
Sebagian lain ingin “berjawa” secara murni, seolah-olah Jawa pernah berdiri steril tanpa pengaruh luar.
Namun sejarah jarang sekali berjalan dalam garis lurus dan steril.
🕌 Wahabi: Antara Purifikasi dan Kritik terhadap Tradisi
Gerakan yang kemudian dikenal sebagai Wahabi berakar dari gagasan Muhammad bin Abdul Wahhab pada abad ke-18 di Najd. Seruannya sederhana namun tegas: pemurnian tauhid dan pemberantasan praktik-praktik yang dianggap menyimpang dari ajaran generasi awal Islam (salaf).
Secara teologis, gerakan ini banyak merujuk pada pemikiran Ibn Taymiyyah yang menekankan kembali kepada Al-Qur’an dan Sunnah secara literal serta kritik terhadap taklid buta kepada mazhab.
Namun perlu dicatat, dalam sejarah Islam klasik, mazhab bukanlah penghalang menuju sunnah. Mazhab justru lahir sebagai metodologi ilmiah untuk menjaga umat dari penafsiran liar. Empat mazhab besar—Hanafi, Maliki, Syafi’i, dan Hanbali—membangun disiplin ushul fikih, kaidah istinbath, dan sistem verifikasi hadis yang ketat.
Mengabaikan mazhab bukan berarti otomatis lebih dekat kepada Nabi. Tanpa perangkat metodologis, seseorang bisa terjebak pada pembacaan tekstual yang ahistoris.
Dalam kajian akademik kontemporer, termasuk yang berkembang di UIN Sunan Kalijaga, purifikasi sering dipahami sebagai respons terhadap krisis sosial-politik, bukan sekadar semangat religius murni. Ia muncul ketika ada kegelisahan atas kemunduran umat, kolonialisme, atau degradasi moral.
🌿 Jawa Puritan: Mencari Keaslian yang Tak Pernah Tunggal
Di sisi lain, muncul gagasan “Jawa puritan”: keinginan untuk kembali pada kejawaan asli yang dianggap belum tersentuh Arabisasi atau Islamisasi.
Namun jika kita membuka lembaran sejarah, Jawa tidak pernah menjadi ruang budaya yang tertutup. Ia sejak awal adalah simpul perjumpaan Hindu-Buddha, animisme lokal, dan kemudian Islam.
Peran Wali Songo dalam proses Islamisasi Jawa bukanlah dengan menghapus budaya, melainkan mengislamkan makna melalui simbol dan bahasa. Strateginya adalah transformasi, bukan konfrontasi.
Banyak istilah Jawa yang kini dianggap “asli” ternyata memiliki akar Arab atau Islam, misalnya:
Ngapunten yang diyakini memiliki jejak dari kata ‘afwan (maaf)
Ta’awun yang menjadi bagian dari praktik sosial gotong royong
Istilah seperti iman, rahmat, akhirat, dunia yang menyatu dalam kosakata keseharian
Bahasa Jawa modern adalah hasil dialog panjang. Ia bukan monolit, melainkan mosaik.
📚 Perspektif Akademik: Identitas adalah Proses, Bukan Produk Jadi
Dr. Yaser Arafat, MA, dosen di UIN Sunan Kalijaga, dalam berbagai diskursus akademik tentang Islam dan identitas menegaskan bahwa konstruksi “kemurnian” sering kali merupakan narasi ideologis, bukan fakta historis.
Identitas agama maupun budaya selalu terbentuk melalui negosiasi sosial. Islam di Jawa bukan Islam yang kehilangan kemurnian, tetapi Islam yang menemukan artikulasi kulturalnya.
Demikian pula Jawa tidak kehilangan dirinya karena menerima Islam. Justru melalui Islam, Jawa menemukan horizon makna baru.
Purifikasi total—baik dalam agama maupun budaya—cenderung mengabaikan fakta bahwa sejarah selalu bergerak melalui perjumpaan, adaptasi, dan reinterpretasi.
⚖️ Ketegangan yang Perlu Dikelola, Bukan Dipertajam
Wahabi lahir dari kegelisahan terhadap praktik keagamaan yang dianggap menyimpang.
Jawa puritan lahir dari kegelisahan terhadap identitas yang dianggap tergerus.
Keduanya memiliki niat menjaga. Tetapi menjaga tanpa kesadaran sejarah bisa berubah menjadi penolakan terhadap kenyataan.
Islam tanpa tradisi bisa menjadi kering dan legalistik.
Budaya tanpa dialog bisa menjadi eksklusif dan rapuh.
Yang perlu dibangun bukanlah nostalgia kemurnian, melainkan kedewasaan dalam membaca sejarah.
🌏 Menjadi Autentik Tanpa Menjadi Ahistoris
Kita tidak perlu takut pada dialog antara Arab dan Jawa, antara teks dan konteks, antara wahyu dan ijtihad. Karena justru di sanalah peradaban tumbuh.
Kemurnian yang memutus sejarah adalah ilusi.
Kemurnian yang sadar sejarah adalah kebijaksanaan.
Mungkin yang perlu kita rawat bukan “kemurnian absolut”, tetapi kejujuran intelektual dan kesadaran historis. Karena pada akhirnya, kita semua adalah hasil perjumpaan panjang peradaban.
Dan dari perjumpaan itulah identitas menjadi hidup.