Belajar dari Episcopal Church: Pensiun Marbot dan Imam, Antara Mimpi dan Saldo Kas Masjid
Oleh SiS, antarkita
Pertanyaan ini mungkin terasa terlalu jauh. Terlalu melompat. He he he…
Boro-boro mikir pensiun, yang masih aktif saja kadang penghasilannya tidak menentu. Honor datang kalau ingat. Tunjangan hadir kalau ada sisa. Sementara setiap Jumat, laporan kas masjid dibacakan dengan penuh wibawa:
“Saldo per pekan ini… sekian ratus juta rupiah.”
Jamaah mengangguk kagum.
Marbot ikut mengangguk.
Imam tersenyum tipis.
Lalu pulang dengan amplop yang kadang lebih ringan dari kotak amal anak-anak TPA.
Tapi mari kita mundur sejenak. New York, tahun 1914.
Di tengah hiruk-pikuk dunia yang sedang menuju perang besar, para pengelola Episcopal Church justru memikirkan satu hal yang sunyi tapi penting: bagaimana nasib para pendeta dan karyawan gereja ketika usia mereka tak lagi produktif?
Bukan soal renovasi mimbar.
Bukan soal pengecatan gedung.
Bukan soal pendingin ruangan.
Mereka bertanya: apakah para pelayan gereja yang telah mengabdi puluhan tahun harus menghadapi masa tua tanpa kepastian?
Jawabannya bukan seminar. Bukan wacana. Bukan “kita bentuk tim kecil dulu”.
Mereka mendirikan Church Pension Fund. Dana abadi. Dikelola profesional. Diinvestasikan modern. Hasilnya untuk membayar pensiun bulanan para pendeta dan pekerja gereja.
Sederhana. Visioner. Sistemik.
Sekarang kembali ke kita.
Ada sekitar ratusan ribu masjid. Di dalamnya ada marbot yang membuka pintu sebelum subuh, menyapu halaman, mengisi galon wudu, memastikan sound system hidup, kadang juga jadi teknisi dadakan kalau mic berdecit.
Ada imam yang suaranya dulu menggelegar, kini mulai bergetar. Yang dulu berdiri tegak satu jam saat tarawih, kini mulai mencari sandaran.
Pertanyaannya: setelah mereka pensiun, bagaimana?
Apakah ada “Dana Pensiun Marbot dan Imam”?
Atau hanya ada “Dana Renovasi Kubah Tahap Kedua”?
He he he… mungkin kita memang lebih cepat memikirkan kubah daripada memikirkan manusia di bawahnya.
Padahal, kalau dihitung-hitung, bukankah masjid sering memiliki saldo yang tidak kecil? Bahkan sebagian masjid besar memiliki dana mengendap bertahun-tahun. Dana itu aman, tentu. Tapi apakah produktif? Apakah sebagian kecilnya bisa diwakafkan sebagai dana abadi?
Bayangkan skenario sederhana:
Setiap masjid besar menyisihkan sebagian dana sebagai wakaf produktif.
Dikelola secara kolektif di tingkat kota atau nasional.
Diinvestasikan dengan manajemen profesional.
Hasilnya khusus untuk pensiun marbot dan imam.
Tidak perlu langsung miliaran.
Tidak perlu langsung sempurna.
Yang penting ada sistem.
Karena selama ini, kita sering mengandalkan keikhlasan. Dan memang, marbot dan imam adalah orang-orang yang ikhlas. Tapi keikhlasan bukan alasan untuk membiarkan ketidakpastian.
Lucunya, kita rajin mendoakan kesejahteraan umat setiap selesai salat.
Tapi lupa memastikan kesejahteraan orang yang memimpin doa itu.
Ironisnya, marbot menjaga kotak amal.
Tapi masa depannya sendiri belum tentu terjaga.
He he he… mungkin ini terdengar seperti satire ringan. Tapi bukankah humor sering kali adalah cara paling halus untuk menyentil kenyataan?
Belajar dari Episcopal Church bukan berarti meniru mentah-mentah. Tapi meniru cara berpikirnya: jauh ke depan. Berani membuat sistem. Tidak hanya mengandalkan semangat.
Karena pada akhirnya, marbot dan imam bukan relawan musiman. Mereka penjaga ritme ibadah harian. Mereka memastikan masjid hidup, bukan hanya bangunannya yang berdiri.
Dan bukankah peradaban diukur bukan dari tinggi kubahnya, tapi dari bagaimana ia memuliakan para pengabdinya?
Mungkin suatu hari nanti, ketika laporan kas dibacakan, akan ada tambahan kalimat:
“Saldo dana pensiun marbot dan imam… berkembang dengan baik.”
Dan jamaah akan mengangguk—bukan hanya kagum, tapi bangga.
He he he… ternyata pertanyaan yang terasa terlalu melompat itu justru mungkin lompatan pertama menuju keadilan yang lebih matang.