You are currently viewing ANTARKITA,Kesederhanaan dan Kemandirian

ANTARKITA,Kesederhanaan dan Kemandirian

ANTARKITA,Kesederhanaan dan Kemandirian

ANTARKITA lahir dari kesadaran bahwa kemajuan zaman tidak selalu membawa manusia pada kemanusiaannya. Di tengah teknologi yang semakin canggih dan sistem ekonomi yang semakin kompleks, hubungan antarmanusia justru semakin menyempit. Interaksi digantikan oleh algoritma, kepercayaan digantikan oleh rating, dan silaturahmi direduksi menjadi transaksi. Manusia hadir bukan sebagai subjek, melainkan sebagai bagian kecil dari sistem besar yang sering kali tidak ia pahami dan tidak ia kuasai.

ANTARKITA hadir sebagai upaya sederhana untuk melawan arus itu. Kesederhanaan bukan berarti keterbelakangan, tetapi pilihan sikap. Pilihan untuk mengembalikan hubungan ekonomi pada hakikatnya: hubungan antarmanusia. ANTARKITA berangkat dari keyakinan bahwa bisnis sejatinya adalah ruang perjumpaan, ruang komunikasi, dan ruang silaturahmi. Teknologi seharusnya menjadi jembatan yang mendekatkan manusia, bukan tembok yang menjauhkan.

Prinsip ini sejalan dengan pandangan Muhammadiyah tentang ekonomi sebagai bagian dari dakwah sosial. Sejak awal berdirinya, Muhammadiyah tidak memisahkan agama dari persoalan kehidupan nyata. KH. Ahmad Dahlan melalui spirit Al-Ma’un mengajarkan bahwa keberagamaan yang sejati harus hadir dalam kerja-kerja pembebasan dari kemiskinan, kebodohan, dan ketertindasan. Ekonomi, dalam pandangan Muhammadiyah, adalah alat untuk memuliakan manusia, bukan untuk menindas atau mengeksploitasinya.

Dalam berbagai keputusan Muktamar dan Tanwir, Muhammadiyah menegaskan bahwa kemandirian ekonomi merupakan pilar ketiga gerakan Muhammadiyah, setelah pendidikan dan kesehatan. Pilar ini lahir dari kesadaran bahwa dakwah tidak akan berdaulat jika umatnya bergantung secara ekonomi. Ketergantungan ekonomi akan melahirkan ketergantungan sikap, ketergantungan kebijakan, bahkan ketergantungan keberpihakan.

Muhammadiyah memaknai kemandirian ekonomi bukan sebagai isolasi, tetapi sebagai kedaulatan. Kedaulatan untuk menentukan arah pembangunan ekonomi, kedaulatan untuk memilih sistem yang adil, dan kedaulatan untuk membangun kesejahteraan secara kolektif. Prinsip ini ditegaskan dalam spirit ta’awun (tolong-menolong), syirkah (kemitraan), dan keadilan sosial sebagaimana termaktub dalam ajaran Islam dan diperjuangkan Muhammadiyah dalam konteks kebangsaan.

ANTARKITA bergerak dalam napas nilai tersebut. ANTARKITA adalah ikhtiar membangun kemandirian ekosistem bisnis UMKM, agar pelaku usaha kecil dan menengah tidak terus-menerus berada di posisi pinggiran. Dalam sistem ekonomi kapitalistik, UMKM sering hanya menjadi pelengkap, pemanis, atau sekadar objek yang dieksploitasi oleh sistem besar. ANTARKITA menolak posisi itu.

ANTARKITA memandang UMKM sebagai subjek utama ekonomi rakyat. Ekosistem dibangun bukan dengan logika dominasi, tetapi kolaborasi. Bukan dengan relasi menundukkan, tetapi relasi saling menguatkan. Inilah ekonomi kebersamaan yang sejalan dengan amanat Pasal 33 UUD 1945 dan nilai Islam Berkemajuan yang diusung Muhammadiyah.

Kesederhanaan teknologi menjadi pilihan sadar ANTARKITA. Bukan karena menolak kemajuan, tetapi karena ingin menjaga arah. Teknologi yang terlalu kompleks sering kali justru menciptakan ketergantungan baru. ANTARKITA memilih teknologi yang memudahkan, transparan, dan manusiawi—teknologi yang tetap menempatkan manusia sebagai pengendali, bukan yang dikendalikan.

Dalam perspektif Muhammadiyah, ekonomi yang sehat adalah ekonomi yang menghadirkan kebermanfaatan, keadilan, dan keberkahan. Bukan hanya pertumbuhan, tetapi pemerataan. Bukan hanya keuntungan, tetapi kemaslahatan. Sebagaimana ditegaskan oleh para pimpinan Muhammadiyah, termasuk Prof. Dr. Muhadjir Effendy, spirit Al-Ma’un menuntut adanya kesetaraan dan keadilan ekonomi, serta keberpihakan nyata kepada kelompok yang lemah dan terpinggirkan.

ANTARKITA menyadari bahwa jalan ini bukan jalan cepat. Ini adalah jalan panjang, jalan sunyi, dan sering kali jalan yang dipandang kecil. Namun dari kesederhanaan itulah tumbuh kekuatan. Dari kemandirian itulah lahir martabat. Dan dari kebersamaan itulah kesejahteraan menemukan maknanya.

ANTARKITA percaya, sebagaimana firman Allah SWT dalam QS. Ar-Ra’d ayat 11, perubahan tidak datang dari luar, tetapi dimulai dari keberanian manusia untuk mengubah dirinya sendiri. Kemandirian ekonomi umat bukan hadiah, melainkan hasil dari ikhtiar kolektif yang konsisten.

Melalui kesederhanaan dan kemandirian, ANTARKITA berupaya menghadirkan ekonomi yang kembali berwajah manusia. Ekonomi yang tidak menjauhkan, tetapi mendekatkan. Tidak menindas, tetapi memerdekakan. Tidak sekadar menghidupi, tetapi memuliakan.

SiS,ANTARKITA

Tinggalkan Balasan