Berkhidmat di Muhammadiyah: Niat Ikhlas, Cara yang Benar, dan Akhlak yang Baik
Oleh SiS, antarkita
Berkhidmat di Muhammadiyah bukan sekadar aktivitas organisasi. Ia adalah ibadah sosial. Ia adalah pengabdian yang menyatukan niat spiritual dan kerja profesional. Dalam khidmat, yang diuji bukan hanya kemampuan, tetapi juga keikhlasan, ketepatan cara, dan keluhuran akhlak.
Karena itu, berkhidmat memerlukan tiga fondasi utama: niat yang ikhlas, cara yang benar, dan cara yang baik.
1. Niat yang Ikhlas: Fondasi Spiritual Pengabdian
Dalam tradisi Islam, niat adalah pangkal dari setiap amal. Rasulullah ﷺ bersabda:
“Sesungguhnya setiap amal tergantung pada niatnya.”
(HR. Muhammad al-Bukhari dan Muslim ibn al-Hajjaj)
Ikhlas berarti memurnikan tujuan hanya karena Allah, bukan demi jabatan, pengaruh, atau pengakuan. Imam Al-Ghazali dalam Ihya’ Ulum al-Din menjelaskan bahwa keikhlasan adalah ruh amal; tanpa keikhlasan, amal menjadi kosong dari nilai spiritual.
Dalam konteks ber-Muhammadiyah, keikhlasan berarti:
Siap bekerja meski tidak terlihat.
Siap berkontribusi tanpa harus dipuji.
Siap berkorban tanpa menghitung untung-rugi pribadi.
Muhammadiyah sendiri sejak berdirinya oleh Ahmad Dahlan dibangun di atas semangat tajdid (pembaruan) yang berlandaskan niat memurnikan ajaran Islam dan memajukan umat. Gerakan ini bukan didirikan untuk kekuasaan, tetapi untuk kemaslahatan.
Keikhlasan melahirkan ketahanan. Orang yang ikhlas tidak mudah goyah oleh kritik, tidak rapuh oleh perbedaan, dan tidak berhenti karena tidak dihargai.
2. Cara yang Benar: Sesuai Prinsip dan Manhaj
Niat baik saja tidak cukup. Ia harus ditempuh dengan cara yang benar. Dalam kaidah fikih disebutkan:
Al-ghayah la tubarriru al-wasilah — tujuan yang baik tidak membenarkan cara yang salah.
Muhammadiyah dikenal sebagai gerakan Islam berkemajuan yang menekankan manhaj yang sistematis, rasional, dan berbasis dalil. Dalam Muqaddimah Anggaran Dasar Muhammadiyah, ditegaskan bahwa gerakan ini berlandaskan Al-Qur’an dan Sunnah serta menggunakan akal pikiran yang sehat.
Max Weber dalam The Protestant Ethic and the Spirit of Capitalism (1905) menjelaskan bahwa etika kerja yang disiplin dan rasional menjadi faktor kemajuan sosial. Dalam konteks Muhammadiyah, profesionalisme, tata kelola yang baik, transparansi, dan akuntabilitas adalah bagian dari “cara yang benar”.
Cara yang benar berarti:
Mengikuti mekanisme organisasi.
Menghormati keputusan musyawarah.
Tidak menabrak aturan demi kepentingan pribadi.
Menjaga integritas dan amanah.
Samuel P. Huntington dalam Political Order in Changing Societies (1968) menegaskan bahwa kekuatan organisasi terletak pada tingkat institusionalisasinya. Tanpa disiplin terhadap aturan, organisasi akan melemah dari dalam.
Berkhidmat berarti tunduk pada sistem, bukan pada ego.
3. Cara yang Baik: Akhlak sebagai Penjaga Gerakan
Selain benar secara prosedur, cara juga harus baik secara akhlak. Allah berfirman:
“Serulah (manusia) kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik.”
(QS. An-Nahl: 125)
Cara yang baik mencerminkan adab, empati, dan kelembutan. Dalam organisasi, perbedaan pendapat adalah keniscayaan. Namun cara menyikapinya menentukan kualitas ukhuwah.
Imam Al-Shafi’i pernah berkata, “Pendapatku benar tetapi mungkin salah, dan pendapat orang lain salah tetapi mungkin benar.” Sikap ini menunjukkan kerendahan hati intelektual.
Robert Putnam dalam Making Democracy Work (1993) menekankan pentingnya modal sosial—kepercayaan, norma, dan jaringan—dalam keberhasilan institusi. Tanpa kepercayaan dan adab yang baik, institusi akan rapuh meski strukturnya kuat.
Cara yang baik berarti:
Mengedepankan dialog, bukan konfrontasi.
Menguatkan, bukan menjatuhkan.
Mengkritik dengan solusi, bukan emosi.
Menghormati perbedaan sebagai rahmat.
Akhlak adalah wajah dakwah. Jika cara kita kasar, pesan kebaikan sulit diterima.
Integrasi Tiga Pilar Khidmat
Niat yang ikhlas melahirkan ketulusan.
Cara yang benar melahirkan keteraturan.
Cara yang baik melahirkan persaudaraan.
Ketiganya tidak boleh dipisahkan.
Ikhlas tanpa cara yang benar bisa melahirkan kekacauan.
Benar tanpa cara yang baik bisa melahirkan perpecahan.
Baik tanpa keikhlasan bisa berubah menjadi pencitraan.
Berkhidmat di Muhammadiyah berarti menjaga keseimbangan antara spiritualitas, profesionalitas, dan moralitas.
Khidmat sebagai Jalan Peradaban
Muhammadiyah telah membuktikan bahwa kerja yang ikhlas dan terorganisir mampu melahirkan ribuan sekolah, rumah sakit, dan amal usaha yang bermanfaat luas. Semua itu lahir dari kombinasi niat yang lurus, manajemen yang benar, dan akhlak yang terjaga.
Kini, setiap kader dan simpatisan memikul tanggung jawab moral untuk menjaga warisan itu.
Berkhidmat bukan tentang posisi, tetapi kontribusi.
Bukan tentang pengaruh, tetapi kemanfaatan.
Bukan tentang siapa yang paling terlihat, tetapi siapa yang paling memberi arti.
Karena pada akhirnya, nilai pengabdian tidak diukur oleh manusia, tetapi oleh Allah.
Dan berkhidmat di Muhammadiyah adalah jalan panjang menuju kemaslahatan umat—dengan niat yang ikhlas, cara yang benar, dan cara yang baik.
Oleh SiS, antarkita