Catatan Awal Tahun 2026, Delapan Tahun Jaringan Saudagar Muhammadiyah Banyumas: Meneruskan Spirit Saudagar Kyai Ahmad Dahlan**
Awal tahun 2026 menjadi ruang jeda yang bermakna bagi Jaringan Saudagar Muhammadiyah (JSM) Banyumas. Delapan tahun perjalanan bukan sekadar penanda usia organisasi, melainkan penanda konsistensi ikhtiar dalam meneruskan satu spirit penting dalam sejarah Muhammadiyah: Islam yang bergerak di ranah ekonomi, berdiri di atas kemandirian, dan berpihak pada kaum kecil.
Muhammadiyah sejak awal tidak lahir dari ruang hampa. Pendiri Muhammadiyah, Kyai Ahmad Dahlan, bukan hanya seorang ulama dan pembaharu pemikiran Islam, tetapi juga seorang saudagar. Aktivitas dagang Kyai Dahlan bukan sekadar sarana mencari nafkah, melainkan medium dakwah dan alat pembebasan. Dari dunia niaga itulah beliau membiayai gerakan, membangun sekolah, menghidupkan amal usaha, dan menanamkan etos kemandirian.
Spirit inilah yang kemudian menjadi fondasi moral lahirnya Jaringan Saudagar Muhammadiyah—sebuah kesadaran kolektif bahwa dakwah tidak akan kokoh tanpa kemandirian ekonomi, dan amal usaha tidak akan berdaulat jika umat hanya menjadi objek dalam sistem ekonomi.
Jejak Awal: Keberanian Banyumas Tahun 2017
Sejarah JSM Banyumas tidak dapat dilepaskan dari momentum nasional. Seusai pertemuan inisiasi pendirian Jaringan Saudagar Muhammadiyah di Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Yogyakarta, pada 14 September 2017, Banyumas mengambil langkah yang tidak semua daerah berani lakukan saat itu: mendeklarasikan Jaringan Saudagar Muhammadiyah Banyumas.
Langkah ini bukan didorong oleh kesiapan yang sempurna, melainkan oleh keberanian membaca keadaan. Di tingkat akar rumput, pelaku usaha kecil, pedagang, dan UMKM warga Muhammadiyah menghadapi tekanan yang nyata: pasar yang tidak ramah, modal yang terbatas, serta sistem ekonomi yang lebih menguntungkan pemodal besar. Banyumas memilih tidak menunggu terlalu lama. Deklarasi dilakukan sebagai bentuk ikhtiar awal—bahwa perjuangan ekonomi umat harus dimulai, meski dengan langkah kecil.
Kini, delapan tahun telah berlalu sejak deklarasi itu. Delapan tahun perjalanan sejarah yang diwarnai dinamika, jatuh bangun, dan pembelajaran. Tidak semua rencana berjalan mulus, tidak semua harapan segera terwujud. Namun satu hal yang tetap terjaga: niat untuk terus bergerak.
JSM Banyumas di Tengah Zaman yang Tidak Mudah
Memasuki tahun 2026, tantangan yang dihadapi umat justru semakin kompleks. Perekonomian nasional masih diliputi ketidakpastian. Daya beli masyarakat melemah, UMKM terseok, dan konsentrasi modal semakin menguat di tangan segelintir korporasi besar. Di saat yang sama, arah politik pemerintahan sering kali terasa tidak memberikan kepastian jangka panjang bagi ekonomi rakyat.
Dalam situasi seperti ini, kehadiran JSM Banyumas mungkin tidak spektakuler. Namun justru di situlah maknanya. JSM Banyumas hadir sebagai cahaya kecil harapan—bukan cahaya yang menyilaukan, tetapi cukup untuk menandai bahwa masih ada gerakan yang berpihak, masih ada ikhtiar yang tidak menyerah pada keadaan.
Peran JSM Banyumas bukan untuk menggantikan negara, apalagi menyaingi kekuatan ekonomi besar. Perannya adalah menjaga bara kesadaran: bahwa umat harus mulai mengurus ekonominya sendiri, membangun jejaring, saling menguatkan, dan tidak sepenuhnya bergantung pada sistem yang sering kali abai terhadap keadilan.
Belajar dari Burung Pipit
Dalam tradisi narasi keislaman, kisah burung pipit yang membawa setetes air untuk memadamkan api yang membakar Nabi Ibrahim AS selalu relevan. Burung pipit itu tahu bahwa setetes air tidak akan memadamkan api yang begitu besar. Namun ia tetap terbang, tetap membawa air, karena yang sedang ia lakukan bukan soal hasil, melainkan soal keberpihakan.
JSM Banyumas berada pada posisi yang sama. Dengan segala keterbatasan—modal, jaringan, dan sumber daya—ikhtiar ini sering kali tampak kecil di hadapan sistem ekonomi yang besar dan mapan. Namun diam bukan pilihan. Bergerak, meski pelan dan terbatas, adalah bentuk kesetiaan pada nilai.
Tidak Menunggu Sempurna untuk Bergerak
Delapan tahun perjalanan ini menegaskan satu pelajaran penting: kita tidak mungkin menunggu kesempurnaan untuk bergerak, sementara keadaan terus mendesak dan umat membutuhkan solusi. Menunggu sempurna sering kali justru menjadi alasan untuk menunda, bahkan berhenti.
JSM Banyumas memilih jalan yang berbeda: bergerak sambil belajar, membangun sambil memperbaiki. Prinsip ini sejalan dengan semangat tajdid Muhammadiyah—pembaruan yang tidak berhenti, tetapi terus menyesuaikan diri dengan zaman tanpa kehilangan nilai dasar.
Dari kesadaran inilah berbagai ikhtiar ekonomi terus dirintis, termasuk upaya membangun platform dan jejaring ekonomi alternatif seperti Antarkita. Bukan sebagai jalan pintas, melainkan sebagai kelanjutan dari spirit Kyai Ahmad Dahlan: berdagang, berjejaring, dan berdakwah melalui kerja nyata.
Penutup: Ikhtiar yang Harus Terus Dilanjutkan
Delapan tahun Jaringan Saudagar Muhammadiyah Banyumas bukanlah titik akhir. Ia adalah pengingat bahwa jalan ini masih panjang. Namun selama spirit saudagar Kyai Ahmad Dahlan tetap menjadi kompas—ikhlas, mandiri, dan berpihak pada kemaslahatan—maka ikhtiar sekecil apa pun akan memiliki arti.
Karena tugas kita bukan memastikan kemenangan, melainkan memastikan keberpihakan.
Bukan menunggu sempurna, tetapi bergerak terus-menerus dengan segala keterbatasannya.
SiS, Antarkita