Institusi UMKM sebagai Jalan Perubahan: Menguatkan Ragam Usaha Rakyat untuk Kemandirian Ekonomi dan Perluasan Dakwah
Oleh SiS, antarkita
Setiap gagasan lahir dari kepedulian. Namun kepedulian tanpa kelembagaan sering berhenti sebagai wacana. Di tengah kompleksitas persoalan ekonomi masyarakat, kita membutuhkan lebih dari sekadar semangat—kita membutuhkan institusi yang mampu mengorganisir, menguatkan, dan memastikan keberlanjutan solusi.
Dalam konteks ekonomi umat, pembentukan institusi yang fokus pada UMKM menjadi kebutuhan strategis. Bukan untuk menambah struktur semata, tetapi untuk menghadirkan sistem yang bekerja: sistem yang memayungi beragam jenis usaha rakyat agar tumbuh bersama dan saling menguatkan.
UMKM: Wajah Nyata Ekonomi Rakyat
UMKM bukan entitas tunggal. Ia adalah denyut kehidupan ekonomi sehari-hari. Ia hadir di gang-gang kecil, di pasar tradisional, di rumah-rumah produksi, di lahan pertanian, hingga di ruang digital.
Beragam jenis usaha UMKM yang menjadi tulang punggung ekonomi rakyat antara lain:
1. Sektor Kuliner
Warung makan dan angkringan
Pedagang kaki lima
Usaha katering rumahan
Produsen makanan ringan dan oleh-oleh
Minuman herbal, kopi lokal, dan jajanan tradisional
2. Sektor Perdagangan
Toko kelontong dan sembako
Agen LPG dan air minum isi ulang
Reseller online dan dropshipper
Pedagang pasar tradisional
3. Sektor Pertanian dan Peternakan
Petani padi, sayur, buah
Peternak ayam, kambing, sapi
Budidaya ikan air tawar
Produksi pupuk organik dan hasil olahan pertanian
4. Sektor Jasa
Bengkel motor dan mobil
Laundry kiloan
Jasa jahit dan konveksi kecil
Jasa servis elektronik
Ojek dan transportasi lokal
5. Sektor Industri Kreatif
Pengrajin batik dan tenun
Kerajinan kayu dan mebel
Souvenir dan produk handmade
Desain grafis dan percetakan kecil
6. Sektor Digital dan Teknologi
UMKM berbasis marketplace
Konten kreator lokal
Jasa digital marketing
Pengembang aplikasi skala kecil
Semua sektor ini lahir dari kebutuhan. Ketika lapangan pekerjaan formal terbatas, masyarakat menciptakan ruang ekonominya sendiri.
Keith Hart (1973) menyebut fenomena ini sebagai bagian dari informal economy—bentuk adaptasi rasional masyarakat terhadap keterbatasan sistem formal. Sementara Muhammad Yunus membuktikan bahwa usaha kecil mampu mengangkat keluarga dari kemiskinan ketika didukung akses modal dan pendampingan.
Tantangan Nyata yang Dihadapi UMKM
Meski perannya besar, UMKM sering berada dalam posisi rentan:
Modal terbatas dan sulit mengakses pembiayaan formal
Literasi manajemen dan pembukuan yang minim
Persaingan dengan ritel modern dan produk impor
Akses pasar terbatas
Ketergantungan pada lokasi usaha yang rentan penggusuran
Tidak terintegrasi dalam kebijakan ekonomi skala besar
Bahkan kebijakan publik yang bertujuan baik, seperti program MBG, bisa berdampak pada pelaku usaha kecil jika tidak melibatkan mereka dalam rantai pasoknya.
Amartya Sen dalam Development as Freedom (1999) mengingatkan bahwa pembangunan harus memperluas kapabilitas masyarakat. Jika UMKM kehilangan ruang usaha tanpa dukungan sistemik, maka yang tergerus bukan hanya pendapatan, tetapi kebebasan ekonomi.
Mengapa Institusi UMKM Sangat Diperlukan?
Permasalahan UMKM bukan sekadar persoalan individu, tetapi persoalan sistem. Karena itu, solusi pun harus bersifat kolektif dan terstruktur.
Institusi UMKM dapat menjadi:
1. Pusat Konsolidasi Lintas Sektor
Menghubungkan petani dengan pedagang, pengrajin dengan pasar digital, produsen dengan distributor dalam satu jaringan terpadu.
2. Inkubator dan Pusat Pelatihan
Memberikan edukasi tentang:
Manajemen usaha
Pembukuan sederhana
Sertifikasi halal
Pengemasan produk
Digitalisasi dan pemasaran online
3. Ekosistem Rantai Pasok Internal
Menghubungkan:
Petani dengan katering lokal
Peternak dengan usaha kuliner
Pengrajin dengan jaringan distribusi internal
UMKM digital dengan promosi kolektif
4. Penguatan Daya Tawar
Dengan terorganisir, UMKM memiliki posisi tawar lebih kuat dalam kemitraan maupun dialog kebijakan.
Douglass C. North menegaskan bahwa institusi menciptakan kepastian dan stabilitas dalam interaksi ekonomi. Tanpa institusi, UMKM berjalan sendiri-sendiri. Dengan institusi, mereka menjadi kekuatan ekonomi kolektif.
UMKM sebagai Wajah Dakwah yang Membumi
Dakwah bukan hanya tentang nilai spiritual, tetapi juga tentang kesejahteraan umat. Ketika ekonomi keluarga kuat, ibadah menjadi lebih tenang, pendidikan anak lebih terjamin, dan solidaritas sosial lebih kokoh.
Penguatan UMKM berarti:
Mengurangi pengangguran
Meningkatkan ketahanan keluarga
Mendorong distribusi ekonomi yang lebih adil
Menumbuhkan solidaritas antar pelaku usaha
Konsep empowerment (Rappaport, 1987) menyatakan bahwa pemberdayaan terjadi ketika individu memiliki kontrol atas sumber daya ekonominya. Institusi UMKM adalah alat pemberdayaan kolektif.
Dakwah menjadi nyata ketika ia hadir dalam bentuk solusi ekonomi.
Menuju Ekosistem Ekonomi yang Terorganisir
Energi masyarakat untuk berusaha sudah besar. Kreativitas melimpah. Potensi tersebar di berbagai sektor. Yang dibutuhkan adalah wadah yang mampu:
Mengintegrasikan berbagai jenis usaha
Menjaga profesionalisme dan transparansi
Mengembangkan pasar bersama
Mendorong inovasi dan adaptasi digital
Institusi UMKM harus menjadi ekosistem, bukan sekadar nama. Ia harus hidup, bergerak, dan memberi manfaat nyata.
Karena pada akhirnya, perubahan tidak lahir dari simpati sesaat, tetapi dari sistem yang konsisten bekerja.
UMKM adalah kekuatan rakyat.
Institusi adalah penguatnya.
Kemandirian ekonomi adalah tujuannya.
Dan dakwah yang membumi adalah hasilnya.
Ketika berbagai jenis usaha kecil bersatu dalam satu sistem yang terorganisir, maka ekonomi umat akan tumbuh lebih kokoh dan berkelanjutan.
Oleh SiS, antarkita