You are currently viewing Membangun Organisasi Bisnis Modern: Lompatan Strategis Pergerakan Muhammadiyah Abad Kedua

Membangun Organisasi Bisnis Modern: Lompatan Strategis Pergerakan Muhammadiyah Abad Kedua

Membangun Organisasi Bisnis Modern: Lompatan Strategis Pergerakan Muhammadiyah Abad Kedua

Oleh SiS, antarkita

Memasuki abad kedua, Muhammadiyah menghadapi realitas baru. Jika abad pertama adalah fase membangun fondasi—pendidikan, kesehatan, pelayanan sosial, dan dakwah pencerahan—maka abad kedua adalah fase penguatan kemandirian dan keberlanjutan.

Sejak didirikan oleh Ahmad Dahlan pada 1912, Muhammadiyah tampil sebagai gerakan Islam modern yang visioner. Ia tidak berhenti pada ceramah dan wacana, tetapi membangun institusi. Sekolah didirikan. Rumah sakit dibangun. Panti asuhan, perguruan tinggi, dan berbagai amal usaha tumbuh menjadi jaringan nasional.

Model organisasi modern yang dirintis sejak awal itulah yang menjadikan Muhammadiyah berbeda: sistematis, terstruktur, berbadan hukum, dan memiliki tata kelola kelembagaan.

Namun zaman berubah.

Hari ini, Muhammadiyah mengelola ribuan sekolah dari TK hingga SMA, ratusan perguruan tinggi, dan jaringan rumah sakit serta klinik yang tersebar di seluruh Indonesia. Amal usaha itu adalah kekuatan sosial yang luar biasa. Tetapi kekuatan sosial tanpa fondasi ekonomi yang kokoh akan selalu menghadapi keterbatasan.

Masih ada guru yang penghasilannya belum ideal.

Masih ada tenaga kependidikan yang bergantung pada subsidi silang.

Masih ada unit usaha yang berjalan tanpa model bisnis berkelanjutan.

Di sinilah urgensi membangun organisasi bisnis modern menjadi sangat relevan.

Dari Amal Usaha ke Mesin Ekonomi Strategis

Selama ini, banyak amal usaha Muhammadiyah berfungsi sebagai unit pelayanan sosial. Namun di abad kedua, diperlukan lompatan paradigma: dari sekadar unit pelayanan menjadi entitas yang memiliki model bisnis sehat, efisien, dan menghasilkan surplus untuk mendukung misi dakwah.

Dalam literasi korporasi modern, keberlanjutan organisasi bertumpu pada tiga pilar:

Sustainability (Keberlanjutan Finansial) – Organisasi harus memiliki arus pendapatan yang stabil dan terdiversifikasi.

Governance (Tata Kelola) – Transparansi, akuntabilitas, profesionalisme, dan manajemen risiko.

Value Creation (Penciptaan Nilai Jangka Panjang) – Tidak hanya mencari laba, tetapi membangun nilai sosial dan institusional.

Muhammadiyah memiliki modal yang sangat besar: jaringan anggota jutaan orang, reputasi kepercayaan publik, aset tanah dan bangunan yang luas, serta ekosistem pendidikan dan kesehatan yang mapan. Modal sosial dan aset ini jika dikelola dengan pendekatan korporasi modern dapat menjadi kekuatan ekonomi yang signifikan.

Organisasi Bisnis Modern sebagai Penyempurna Pergerakan

Membangun organisasi bisnis modern bukan berarti menggeser orientasi dakwah menjadi semata-mata profit. Justru sebaliknya, bisnis adalah instrumen untuk memperkuat dakwah.

Jika dakwah adalah ruh, maka bisnis modern adalah otot.

Jika visi adalah kompas, maka ekonomi adalah bahan bakarnya.

Organisasi bisnis modern dapat berbentuk:

Holding company yang mengelola portofolio usaha strategis.

Investasi produktif berbasis aset Muhammadiyah.

Pengembangan sektor riil yang bersentuhan langsung dengan kebutuhan umat.

Penguatan BUMM (Badan Usaha Milik Muhammadiyah) berbasis manajemen profesional.

Yang penting bukan sekadar mendirikan usaha, tetapi membangun sistem.

Prinsip-Prinsip Tata Kelola Abad Kedua

Untuk mewujudkan organisasi bisnis modern, ada beberapa prinsip kunci yang harus ditegakkan:

1. Pemisahan Fungsi Sosial dan Fungsi Bisnis

Unit dakwah dan unit bisnis harus memiliki struktur dan akuntabilitas yang jelas. Bisnis dikelola profesional, sementara surplusnya memperkuat misi sosial.

2. Profesionalisme dan Meritokrasi

Pengelolaan bisnis harus berbasis kompetensi. Manajemen dipilih karena kapasitas, bukan semata-mata kedekatan struktural.

3. Good Corporate Governance

Transparansi laporan keuangan, audit independen, pengawasan internal, dan manajemen risiko adalah keharusan.

4. Orientasi Jangka Panjang

Bisnis Muhammadiyah harus dibangun dengan visi dekade, bukan hanya periode kepengurusan.

5. Kesejahteraan SDM sebagai Prioritas

Salah satu tujuan utama organisasi bisnis modern adalah memastikan kesejahteraan guru, tenaga kesehatan, dan seluruh penggerak amal usaha meningkat secara sistemik.

Tantangan dan Peluang

Abad kedua Muhammadiyah berada dalam konteks globalisasi ekonomi, digitalisasi, dan persaingan terbuka. Organisasi yang tidak adaptif akan tertinggal. Namun Muhammadiyah memiliki keunggulan unik: jaringan luas dan kepercayaan publik.

Kepercayaan adalah aset ekonomi yang sangat mahal.

Jaringan adalah modal distribusi yang sangat kuat.

Nilai-nilai Islam berkemajuan adalah diferensiasi yang tidak mudah ditiru.

Jika semua itu dipadukan dalam organisasi bisnis modern yang terkelola baik, Muhammadiyah tidak hanya menjadi gerakan sosial terbesar, tetapi juga kekuatan ekonomi umat yang diperhitungkan.

Abad Kedua: Dari Bertahan ke Bertumbuh

Abad pertama adalah abad membangun fondasi dan membuktikan relevansi.

Abad kedua adalah abad memperkuat kemandirian dan memperluas dampak.

Membangun organisasi bisnis modern bukan agenda sampingan. Ia adalah agenda strategis untuk memastikan bahwa dakwah pencerahan tidak tergantung pada fluktuasi donasi, tetapi ditopang oleh kekuatan ekonomi yang berkelanjutan.

Karena gerakan besar membutuhkan visi besar.

Visi besar membutuhkan sistem yang kuat.

Dan sistem yang kuat membutuhkan fondasi ekonomi yang kokoh.

Jika pada abad pertama Muhammadiyah berhasil memodernisasi dakwah, maka pada abad kedua saatnya memodernisasi kekuatan ekonominya—agar pergerakan tetap relevan, berdaya, dan berdaulat di tengah perubahan zaman.

Tinggalkan Balasan