You are currently viewing Mengkonversikan Energi Besar dan Positif Menjadi Solusi Nyata: Dari Ledakan Informasi Menuju Gerakan Transformatif

Mengkonversikan Energi Besar dan Positif Menjadi Solusi Nyata: Dari Ledakan Informasi Menuju Gerakan Transformatif

Mengkonversikan Energi Besar dan Positif Menjadi Solusi Nyata: Dari Ledakan Informasi Menuju Gerakan Transformatif Oleh SiS, antarkita

Kita hidup dalam era yang oleh banyak ilmuwan disebut sebagai era informasi atau bahkan era hiper-konektivitas. Perkembangan teknologi digital, internet, dan media sosial telah mengubah cara manusia berpikir, berinteraksi, dan bertindak. Manuel Castells dalam The Rise of the Network Society (1996) menyebut lahirnya “network society”—masyarakat jejaring—di mana arus informasi menjadi kekuatan utama yang membentuk struktur sosial, ekonomi, dan politik. Informasi bergerak melampaui batas geografis dan institusional, menciptakan ruang publik baru yang sangat cair dan dinamis.

Dalam konteks ini, jarak geografis tidak lagi menjadi penghalang penyebaran pengetahuan. Batasan struktur organisasi pun tidak lagi sepenuhnya mampu membendung aliran gagasan. Setiap orang memiliki kesempatan yang relatif setara untuk menyampaikan opini, aspirasi, dan kritik. Dunia digital telah mendemokratisasi ruang ekspresi.

Anthony Giddens dalam The Consequences of Modernity (1990) menegaskan bahwa modernitas ditandai oleh “time-space distanciation”—terlepasnya interaksi sosial dari batas ruang dan waktu. Inilah yang kita alami hari ini: diskusi di satu kota dapat mempengaruhi kebijakan di kota lain; opini di satu platform dapat membentuk persepsi publik secara luas.

Energi intelektual yang lahir dari ruang digital ini sungguh besar. Setiap hari lahir tulisan, video, diskusi, analisis, bahkan perdebatan tajam. Tidak sedikit kader dan simpatisan Muhammadiyah yang aktif menyuarakan gagasan pembaruan, kritik kebijakan, serta refleksi keummatan di berbagai platform.

Secara teoritik, ini adalah modal sosial yang luar biasa. Robert Putnam dalam Bowling Alone (2000) menekankan pentingnya social capital—jejaring, kepercayaan, dan partisipasi—sebagai fondasi keberhasilan gerakan sosial. Dunia digital sebenarnya menyediakan peluang besar untuk memperkuat modal sosial tersebut melalui konektivitas dan kolaborasi.

Namun di sisi lain, kita juga menyaksikan fenomena yang oleh banyak akademisi disebut sebagai slacktivism—aktivisme dangkal yang berhenti pada simbol dan ekspresi digital tanpa tindak lanjut nyata. Evgeny Morozov dalam The Net Delusion (2011) mengingatkan bahwa internet dapat menciptakan ilusi partisipasi: orang merasa telah berkontribusi hanya dengan menyukai, membagikan, atau berkomentar, padahal perubahan nyata membutuhkan kerja struktural dan berkelanjutan.

Di sinilah paradoks itu muncul. Energi besar berputar di ruang digital, tetapi persoalan nyata di lapangan sering tetap berjalan tanpa solusi signifikan. Perdebatan berlangsung intens, tetapi implementasi berjalan lambat. Narasi berkembang cepat, tetapi aksi terhambat oleh koordinasi, sistem, dan komitmen.

Padahal Muhammadiyah sejak awal berdirinya oleh Ahmad Dahlan tidak dibangun sebagai gerakan wacana semata. Ia adalah gerakan aksi. Amal usaha di bidang pendidikan, kesehatan, dan sosial adalah bukti konkret bahwa gagasan tauhid dan tajdid diterjemahkan menjadi pelayanan nyata. Spirit itulah yang seharusnya menjadi inspirasi dalam menghadapi era digital.
Tugas kader Muhammadiyah hari ini bukan sekadar memperbanyak wacana, melainkan mengkonversikan energi besar tersebut menjadi solusi nyata. Konversi di sini berarti transformasi—dari diskusi menjadi desain program, dari kritik menjadi rekomendasi kebijakan, dari aspirasi menjadi gerakan kolektif.

Secara konseptual, proses ini dapat dipahami melalui teori knowledge-to-action (Graham et al., 2006) yang menjelaskan bahwa pengetahuan hanya berdampak jika diterjemahkan melalui siklus implementasi: identifikasi masalah, adaptasi solusi, uji coba, evaluasi, dan perbaikan berkelanjutan. Tanpa siklus ini, pengetahuan berhenti sebagai informasi, bukan transformasi.
Dalam konteks gerakan, energi digital harus diarahkan pada beberapa langkah strategis:

Pertama, kurasi isu. Tidak semua isu viral adalah isu prioritas. Dibutuhkan literasi kritis untuk memilah mana persoalan struktural dan mana sekadar sensasi. Paulo Freire dalam Pedagogy of the Oppressed (1970) menekankan pentingnya kesadaran kritis (critical consciousness) agar masyarakat tidak terjebak pada realitas semu.

Kedua, institusionalisasi gagasan. Ide-ide yang baik perlu masuk dalam mekanisme organisasi agar dapat dieksekusi secara sistematis. Muhammadiyah sebagai organisasi modern memiliki struktur, majelis, dan lembaga yang bisa menjadi kanal implementasi.

Ketiga, kolaborasi lintas jejaring. Dunia digital memudahkan sinergi lintas wilayah dan disiplin. Energi individu harus dihimpun menjadi kekuatan kolektif. Dalam teori gerakan sosial (Charles Tilly, 2004), keberhasilan gerakan sangat ditentukan oleh kapasitas organisasi dan koordinasi sumber daya.

Keempat, budaya eksekusi. Perubahan sosial membutuhkan konsistensi. James Clear dalam Atomic Habits (2018) menegaskan bahwa perubahan besar lahir dari kebiasaan kecil yang dilakukan terus-menerus. Dalam konteks gerakan, konsistensi implementasi lebih penting daripada gemuruh awal.

Muhammadiyah memiliki modal historis untuk melakukan konversi ini. Tradisi amal usaha menunjukkan bahwa gagasan tidak berhenti di forum, tetapi diwujudkan dalam sistem pelayanan umat. Tantangannya adalah bagaimana energi digital hari ini mempercepat, memperluas, dan memperdalam dampak tersebut.

Jika energi besar hanya berputar dalam ruang perdebatan, maka ia akan menguap menjadi kelelahan kolektif. Tetapi jika diarahkan dengan visi, sistem, dan disiplin gerakan, ia akan menjadi bahan bakar transformasi.

Pada akhirnya, zaman ini tidak hanya membutuhkan kecerdasan retorika, tetapi kecerdasan implementasi. Tidak hanya membutuhkan opini, tetapi kerja nyata yang terukur dampaknya. Mengkonversikan energi besar dan positif berarti menjadikan teknologi sebagai akselerator dakwah dan pemberdayaan—bukan sekadar panggung argumentasi.

Sebagaimana warisan pembaruan Ahmad Dahlan, gerakan sejati selalu menghubungkan iman dengan aksi, ilmu dengan amal, gagasan dengan pelayanan. Maka tugas kader Muhammadiyah hari ini adalah menjembatani dunia digital dan dunia nyata—mengubah arus informasi menjadi arus solusi.

Karena pada akhirnya, ukuran keberhasilan bukan pada ramainya perdebatan, melainkan pada hadirnya manfaat yang dirasakan umat. Dan di situlah energi besar menemukan makna sejatinya: menjadi solusi nyata bagi kehidupan.

Tinggalkan Balasan