Mengurai Jalan Menuju Kedaulatan Ekosistem Bisnis Beras
Sosialisasi MPM dan Jaringan Tani Muhammadiyah Jawa Tengah di Banyumas
Banyumas, 16 Februari 2026 – Upaya membangun kedaulatan ekonomi umat melalui sektor pangan kembali ditegaskan oleh Majelis Pemberdayaan Masyarakat (MPM) bersama Jaringan Tani Muhammadiyah (Jatam) Jawa Tengah dalam kegiatan Sosialisasi Membangun Ekosistem Bisnis Beras yang digelar pada Senin, 16 Februari 2026, pukul 08.00–11.00 WIB di Aula Abu Dardiri PDM Banyumas.
Kegiatan ini menjadi momentum penting dalam merumuskan langkah konkret menuju integrasi produksi dan konsumsi beras berbasis jaringan Muhammadiyah.
Potensi Besar yang Belum Terintegrasi
Dalam paparannya, Ketua MPM Jawa Tengah, Ir. Fathur Rahman, menyampaikan bahwa Muhammadiyah secara struktur memiliki potensi pasar internal yang sangat besar.
“Muhammadiyah memiliki jaringan amal usaha dari tingkat TK hingga perguruan tinggi, rumah sakit, pesantren, panti asuhan, hingga lembaga filantropi seperti Lazismu yang secara rutin membutuhkan suplai beras dalam kegiatan sosialnya. Secara teori, ini adalah ekosistem yang sangat ideal. Namun hari ini kita masih berada pada tataran konsep. Tantangan kita adalah menjadikannya sebagai sistem yang berjalan,” ungkapnya.
Beliau menegaskan bahwa nilai ekonomi dari kebutuhan beras di lingkungan Muhammadiyah bukanlah angka kecil. Jika kebutuhan tersebut dapat disinergikan dengan produksi petani Muhammadiyah, maka akan tercipta efek berganda (multiplier effect) yang signifikan bagi pemberdayaan ekonomi umat.
Tantangan di Sektor Hilir
Indonesia sering dijuluki sebagai negara agraris dengan kemampuan teknis pertanian yang tidak diragukan lagi. Produksi benih unggul, ketersediaan pupuk, serta teknik budidaya terus berkembang. Tani Muhammadiyah pun memiliki kapasitas teknis yang memadai dalam proses produksi.
Namun persoalan utama bukan berada di hulu, melainkan di sektor hilir.
Petani kerap menghadapi:
Ketidakpastian daya serap hasil panen
Fluktuasi harga yang tajam
Ketergantungan pada tengkulak atau distributor besar
Lemahnya posisi tawar dalam rantai distribusi
Kondisi tersebut menyebabkan petani berada dalam situasi yang rentan, meskipun produksi berjalan dengan baik.
Melalui pembangunan ekosistem bisnis beras, MPM dan Jatam berupaya menjawab persoalan ini dengan membangun sistem terintegrasi dari produksi hingga distribusi dan pasar internal.
Membangun Sistem, Bukan Sekadar Program
Ekosistem bisnis beras yang dirancang mencakup beberapa tahapan strategis:
Penguatan kapasitas produksi petani Muhammadiyah
Standarisasi kualitas dan pengemasan
Pengelolaan pasca panen dan penggilingan
Sistem distribusi berbasis jaringan
Komitmen pasar internal Muhammadiyah
Konsep ini menempatkan amal usaha Muhammadiyah bukan hanya sebagai konsumen, tetapi sebagai bagian dari sistem pemberdayaan.
Ir. Fathur Rahman menekankan bahwa membangun kedaulatan ekosistem bisnis beras bukan hanya tugas MPM atau Jatam semata.
“Ini adalah pekerjaan kolektif. Jika institusi dan jamaah Muhammadiyah memiliki kesadaran untuk menjadi bagian dari sistem ini, maka kita sedang membangun kemandirian ekonomi umat secara nyata, bukan sekadar wacana,” tegasnya.
Dampak Strategis bagi Ekonomi Umat
Jika terimplementasi dengan baik, ekosistem bisnis beras Muhammadiyah berpotensi:
Memberikan kepastian pasar bagi petani
Menstabilkan harga dan menjaga kualitas
Menjamin suplai beras yang sehat dan ekonomis bagi amal usaha
Memperkuat perputaran ekonomi di lingkungan internal Muhammadiyah
Menjadi model pemberdayaan ekonomi berbasis organisasi
Lebih jauh, inisiatif ini diharapkan menjadi pintu masuk untuk mengembangkan ekosistem bisnis lainnya seperti hortikultura, peternakan, dan sektor pangan strategis lainnya.
Harapan dan Langkah Ke Depan
Sosialisasi ini menjadi titik awal konsolidasi gagasan menuju implementasi nyata di tingkat daerah. Harapannya, Banyumas dan wilayah lain dapat menjadi percontohan integrasi ekosistem bisnis beras Muhammadiyah di Jawa Tengah.
Karena kedaulatan ekonomi tidak lahir dari potensi semata, tetapi dari keberanian membangun sistem, komitmen kolektif, dan konsistensi gerakan.
Dengan semangat kolaborasi dan pemberdayaan, Muhammadiyah didorong untuk melangkah dari teori menuju praktik, dari konsep menuju kemandirian, dan dari potensi menuju kedaulatan.
SiS, antarkita