You are currently viewing Pengembangan Peran Muhammadiyah dalam Membangun Kedaulatan Ekosistem Peternakan Sapi Potong

Pengembangan Peran Muhammadiyah dalam Membangun Kedaulatan Ekosistem Peternakan Sapi Potong

Pengembangan Peran Muhammadiyah dalam Membangun Kedaulatan Ekosistem Peternakan Sapi Potong

Kedaulatan pangan merupakan bagian penting dari kedaulatan bangsa. Dalam komoditas daging sapi, Indonesia masih menghadapi persoalan mendasar berupa ketergantungan pada impor sapi bakalan dan daging beku. Ketika terjadi fluktuasi harga global, pelemahan nilai tukar, atau gangguan pasokan akibat penyakit hewan, stabilitas nasional ikut terdampak. Kondisi ini menunjukkan bahwa ekosistem peternakan sapi potong nasional belum sepenuhnya kokoh dan mandiri.

Dalam situasi tersebut, dibutuhkan peran aktif berbagai elemen masyarakat, termasuk organisasi kemasyarakatan yang memiliki jaringan luas dan kekuatan sosial-ekonomi yang mapan. Muhammadiyah, sebagai salah satu organisasi Islam terbesar di Indonesia, memiliki potensi strategis untuk berkontribusi nyata dalam membangun kedaulatan ekosistem peternakan sapi potong.

Muhammadiyah: Modal Sosial dan Infrastruktur Kelembagaan

Muhammadiyah bukan sekadar organisasi dakwah, tetapi juga gerakan sosial-ekonomi yang memiliki ribuan amal usaha di bidang pendidikan, kesehatan, dan pelayanan sosial. Jaringan yang tersebar hingga tingkat ranting di desa dan kota merupakan kekuatan struktural yang sangat besar.

Modal sosial berupa kepercayaan jamaah, kultur gotong royong, serta sistem organisasi yang rapi menjadi fondasi untuk membangun gerakan ekonomi berbasis komunitas. Dengan pendekatan yang terencana dan profesional, Muhammadiyah dapat mengembangkan ekosistem peternakan sapi potong yang terintegrasi dari hulu hingga hilir.

Penguatan Sektor Hulu: Pembibitan dan Produksi

Fondasi utama kedaulatan sapi potong terletak pada sistem pembibitan (breeding) yang kuat. Tanpa pembibitan yang berkelanjutan, ketergantungan pada sapi bakalan impor akan terus terjadi.

Muhammadiyah dapat mengambil peran dalam:

Mendorong pembentukan kelompok peternak berbasis jamaah

Mengembangkan pusat pembibitan sapi lokal unggul

Bekerja sama dengan perguruan tinggi Muhammadiyah dalam riset genetika dan manajemen pakan

Mengakses skema pembiayaan syariah untuk modal ternak

Mengelola wakaf produktif berupa lahan dan kandang peternakan

Dengan manajemen yang baik, peternakan rakyat dapat ditingkatkan skalanya tanpa kehilangan karakter berbasis komunitas. Sistem klaster atau koperasi akan memperkuat posisi tawar peternak dan meningkatkan efisiensi produksi.

Integrasi Sektor Tengah: Feedlot dan Pengolahan

Selain pembibitan, sistem penggemukan (feedlot) perlu diperkuat agar nilai tambah tetap berada di dalam negeri. Muhammadiyah dapat mengembangkan unit usaha penggemukan yang terhubung langsung dengan peternak binaan.

Penguatan sektor ini meliputi:

Standarisasi manajemen pakan dan kesehatan ternak

Sistem pencatatan produksi yang transparan

Rumah potong hewan yang memenuhi standar halal dan higienis

Pelatihan kewirausahaan bagi generasi muda Muhammadiyah

Dengan integrasi ini, rantai pasok menjadi lebih pendek dan efisien.

Penguatan Sektor Hilir: Distribusi dan Pasar Internal

Keunggulan Muhammadiyah terletak pada jaringan amal usaha yang sangat luas. Sekolah, pesantren, rumah sakit, universitas, hingga koperasi internal merupakan pasar potensial yang dapat menyerap hasil produksi peternak.

Jika kebutuhan daging di lingkungan amal usaha dipasok dari jaringan internal Muhammadiyah, maka akan tercipta:

Kepastian pasar bagi peternak

Stabilitas harga

Transparansi distribusi

Peningkatan kualitas produk

Pengembangan kios daging dan unit olahan berbasis jamaah juga dapat menjadi instrumen untuk memperluas pasar sekaligus memperkuat branding produk halal dan berkualitas.

Model Ekosistem Terintegrasi

Pengembangan peran Muhammadiyah dalam peternakan sapi potong harus berbasis pada ekosistem yang saling terhubung:

Hulu → Pembibitan dan produksi

Tengah → Penggemukan dan pengolahan

Hilir → Distribusi dan perdagangan

Ketika seluruh mata rantai berada dalam satu jaringan nilai, keuntungan tidak terfragmentasi dan kesejahteraan jamaah meningkat secara kolektif.

Dampak Sosial-Ekonomi yang Luas

Jika dijalankan secara konsisten dan profesional, gerakan ini akan memberikan dampak signifikan:

Meningkatkan pendapatan peternak rakyat

Membuka lapangan kerja baru di pedesaan

Mengurangi ketergantungan impor

Memperkuat ekonomi umat berbasis nilai

Mendukung ketahanan pangan nasional

Lebih dari itu, ini merupakan bentuk nyata dakwah bil hal—dakwah melalui pemberdayaan ekonomi yang berkeadilan dan berkelanjutan.

Komitmen Jangka Panjang dan Profesionalisme

Kedaulatan tidak dapat dibangun dalam waktu singkat. Dibutuhkan komitmen jangka panjang, tata kelola yang transparan, serta manajemen profesional. Muhammadiyah perlu membangun sistem bisnis yang akuntabel, berbasis data, dan terintegrasi secara digital agar mampu bersaing di pasar modern.

Kolaborasi dengan pemerintah, swasta, dan lembaga riset juga menjadi bagian penting dalam memperkuat daya saing.

Penutup: Dakwah Ekonomi untuk Negeri

Pengembangan peran Muhammadiyah dalam membangun kedaulatan ekosistem peternakan sapi potong adalah langkah strategis yang sejalan dengan misi besar persyarikatan: membangun masyarakat Islam yang berkemajuan.

Dari kandang peternak di desa hingga distribusi di kota, dari jamaah untuk jamaah, Muhammadiyah dapat menghadirkan model ekonomi umat yang produktif, adil, dan berkelanjutan. Inilah kontribusi nyata dalam memperkuat kemandirian pangan dan memperkokoh fondasi ekonomi bangsa.

Kedaulatan daging sapi bukan sekadar cita-cita, tetapi agenda perjuangan bersama. Dan Muhammadiyah memiliki kapasitas untuk menjadi bagian penting dari gerakan besar tersebut.

Oleh SiS, antarkita

Tinggalkan Balasan