PRM Kediri, Cabang Karanglewas: Amanah Dakwah Kolektif yang Ditanam dengan Kesabaran
Karanglewas, Banyumas || Antara Kita — Pimpinan Ranting Muhammadiyah (PRM) Kediri resmi berdiri pada Ahad, 11 Januari 2026, bertempat di Mushola Al-Falah, Dusun Jambon, Desa Kediri, Kecamatan Karanglewas, Kabupaten Banyumas. Momentum ini bukan sekadar pengesahan struktur organisasi, melainkan peneguhan perjalanan panjang dakwah Muhammadiyah di tingkat akar rumput yang dirintis dengan kesabaran, ketekunan, dan keikhlasan lintas generasi selama lebih dari setengah abad.
PRM Kediri tercatat sebagai ranting ke-15 di lingkungan Pimpinan Cabang Muhammadiyah (PCM) Karanglewas, sekaligus menjadi ranting ke-275 di Kabupaten Banyumas. Kehadirannya memperkuat struktur Persyarikatan Muhammadiyah serta memperluas jangkauan dakwah, pendidikan, dan pelayanan sosial yang langsung bersentuhan dengan kehidupan masyarakat desa. Sebagai struktur terdepan Persyarikatan, ranting merupakan wajah Muhammadiyah yang paling dekat dengan denyut kehidupan jamaah dan umat.
Ranting sebagai Basis Dakwah Islam Berkemajuan
Ranting Muhammadiyah adalah ruang di mana nilai-nilai Islam berkemajuan diuji dan dihidupkan dalam praktik keseharian. Di tingkat inilah pembinaan keimanan, penguatan ukhuwah, serta pemberdayaan umat dijalankan secara sederhana, konsisten, dan berkelanjutan—tanpa hiruk-pikuk, namun kokoh dalam orientasi dakwah pencerahan.
Pembentukan PRM Kediri menjadi simbol bahwa dakwah Muhammadiyah bukan kerja instan, melainkan proses panjang yang membutuhkan kesabaran kolektif. Ia adalah buah dari keteguhan menjaga nilai, meskipun hasilnya baru tampak puluhan tahun kemudian.
Jejak Panjang Dakwah dan Keteladanan Para Sesepuh
Sejarah dakwah Muhammadiyah di Desa Kediri tidak dapat dilepaskan dari sosok para perintis, di antaranya Bapak Warno, Casim, dan KH. Wahidi. Di usia 96 tahun, KH. Wahidi menjadi living history Muhammadiyah—saksi hidup bahwa dakwah tumbuh dari keikhlasan, kesabaran, dan kesetiaan tanpa pamrih.
Sejak kurun 1955–1975, dakwah Muhammadiyah di Desa Kediri dirawat melalui pengajian kampung, pembinaan keagamaan, dan keteladanan para sesepuh, meskipun belum terwadahi dalam struktur formal. Mushola Al-Falah menjadi pusat perawatan ruh dakwah tersebut, ruang kolektif yang menjaga api Muhammadiyah secara kultural hingga akhirnya bersemi secara struktural dengan berdirinya PRM Kediri.
Apresiasi dan Amanah Organisasi
Wakil Ketua PCM Karanglewas, Badri, S.Pd., menilai berdirinya PRM Kediri merupakan hasil konsolidasi dakwah jangka panjang yang menunjukkan kematangan jamaah dan kesiapan organisatoris.
“Ranting adalah fondasi Persyarikatan. Dari rantinglah kaderisasi dan penguatan jamaah bertumbuh secara nyata karena langsung bersentuhan dengan kehidupan umat,” ujarnya.
Sementara itu, Ketua Lembaga Pengembangan Cabang dan Ranting (LPCR) PDM Banyumas, Yuli Night Budi Permana, S.Pd., menegaskan bahwa berdirinya PRM Kediri merupakan amanah dakwah kolektif yang harus dijaga dan dikembangkan.
“PRM Kediri sebagai ranting ke-275 di Banyumas adalah bukti bahwa Muhammadiyah tumbuh dari kesabaran. Tantangannya ke depan adalah memastikan pembinaan jamaah berjalan berkelanjutan serta mengembangkan amal usaha yang relevan dengan kebutuhan umat,” tegasnya.
Babak Baru Dakwah Struktural
Secara simbolis, Sekretaris PCM Karanglewas, Alim Fahmi, ST., S.Kom., menyerahkan berita acara pembentukan PRM Kediri kepada Fauzan Romadhon sebagai ketua terpilih. Terpilihnya Fauzan Romadhon menandai dimulainya babak baru perjuangan Muhammadiyah di Desa Kediri—dari fase dakwah kultural menuju penguatan dakwah struktural yang lebih tertib, sistematis, dan terarah.
Dengan dukungan warga Muhammadiyah setempat, PCM Karanglewas, serta LPCR PDM Banyumas, PRM Kediri diharapkan mampu berjalan tertib secara organisatoris, kokoh secara ideologis, dan adaptif secara sosial. Ranting ini diproyeksikan menjadi duta Persyarikatan di tingkat lokal, menebarkan pencerahan, merawat ukhuwah lintas ormas, serta hadir membela kepentingan umat dalam kehidupan bermasyarakat.
Legitimasi dan Dukungan Persyarikatan
Proses pembentukan PRM Kediri disaksikan langsung jajaran pleno PCM Karanglewas, di antaranya Drs. H. M. Izhar, Badri, S.Pd., Salam Hidayatullah, S.Pd.I., Juasep Awali, S.Pd.I., M.S.I., serta Alim Fahmi, ST., S.Kom. Turut hadir anggota LPCR PCM Karanglewas Joko Pamungkas dan Tohani, perwakilan PRM Jipang Suwandi, serta jajaran LPCR PDM Banyumas yang dipimpin Yuli Night Budi Permana, S.Pd., bersama Deni Firman Suprayoga, S.Pd., dan Marwoto Tri Priyono, S.Pd.
Kehadiran unsur struktural ini menjadi legitimasi organisatoris sekaligus penegasan dukungan penuh Persyarikatan terhadap lahirnya PRM Kediri sebagai bagian dari penguatan Muhammadiyah di tingkat desa.
Menanam dengan Setia, Menuai dengan Istiqamah
Berdirinya PRM Kediri bukan sekadar pengesahan struktur, melainkan penghormatan atas kesetiaan para perintis dakwah dan amanah sejarah bagi generasi penerus untuk melanjutkan perjuangan Muhammadiyah secara istiqamah, berkelanjutan, dan membumi.
Dari Desa Kediri, Muhammadiyah kembali menegaskan bahwa dakwah adalah kerja panjang: menanam dengan setia, meski hasilnya baru dipetik oleh generasi setelahnya. Sebagaimana teladan KH. Wahidi, di situlah makna sejati perjuangan Muhammadiyah—sunyi, sabar, dan mencerahkan.
(Tarqum Aziz – JurnalisMu Banyumas Raya)