Spirit ANTARKITA
Setetes Air Burung Pipit di Tengah Api Zaman
Sejarah selalu bergerak melalui pilihan-pilihan kecil yang lahir dari keberanian nurani. Dalam kisah Nabi Ibrahim AS, dunia seakan diam menyaksikan api raksasa yang disiapkan Raja Namrud untuk membungkam kebenaran. Api itu bukan sekadar kobaran fisik, melainkan simbol kekuasaan, kesombongan, dan hegemoni yang merasa tak terkalahkan.
Di tengah api sebesar itu, hadir seekor burung pipit kecil. Ia tidak datang dengan kekuatan, tidak membawa strategi besar, apalagi harapan memadamkan api. Ia datang membawa setetes air—sebuah ikhtiar yang tampak mustahil. Namun pipit tidak sedang menghitung hasil. Ia sedang menentukan keberpihakan.
ANTARKITA lahir dari kesadaran yang sama.
Di zaman ini, api itu bernama hegemoni ekonomi kapitalistik. Ia hadir di hampir seluruh sendi kehidupan: dari dapur hingga kasur, dari pangan hingga transportasi, dari keuangan hingga teknologi. Ia tampil begitu dominan, rapi, dan sistematis hingga dianggap sebagai satu-satunya jalan hidup yang mungkin. Banyak yang akhirnya menyerah, memilih menyesuaikan diri, atau sekadar menjadi penonton.
ANTARKITA menyadari posisinya. Apa yang dilakukan ANTARKITA hanyalah setetes air di tengah api zaman. Kecil, sederhana, dan jauh dari kata sempurna. Namun, seperti burung pipit, ANTARKITA tidak sedang mengejar kesempurnaan hasil. ANTARKITA sedang memilih sikap—berpihak pada ekonomi yang memanusiakan manusia, bukan yang menundukkan manusia.
Kecil atau besar bukanlah ukuran nilai. Sejarah tidak digerakkan oleh ukuran, melainkan oleh keberanian untuk berdiri di pihak yang benar, meski sendirian. Burung pipit mengajarkan bahwa makna sebuah perjuangan tidak ditentukan oleh besarnya dampak, tetapi oleh lurusnya niat dan konsistensi langkah.
Tentu, setiap pilihan sikap memiliki konsekuensi. Akan selalu ada yang menertawakan, meremehkan, bahkan menentang. Seperti cicak yang memilih meniup api, selalu ada pihak yang merasa lebih aman berada di sisi kekuasaan dan hegemoni. Ada yang menganggap perlawanan sebagai kebodohan, ada pula yang menyebutnya ilusi.
ANTARKITA tidak menutup mata terhadap kenyataan itu. Justru di situlah letak ujian perjuangan. Menjadi pipit berarti siap dianggap kecil. Menjadi pipit berarti siap berjalan pelan. Menjadi pipit berarti siap berbeda.
Namun ANTARKITA meyakini satu hal: api kezaliman tidak pernah padam oleh mereka yang meniupnya, tetapi oleh mereka yang berani memilih arah meski tampak lemah.
ANTARKITA hadir membangun ekonomi kebersamaan, mempertemukan manusia dengan manusia, menghidupkan kembali silaturahmi dalam transaksi, dan menempatkan teknologi sebagai alat, bukan tuan. ANTARKITA tidak bermimpi menumbangkan api sendirian, tetapi berikhtiar agar semakin banyak pipit yang berani terbang.
Karena bila setetes air jatuh sendiri, ia mungkin menguap. Tetapi bila banyak pipit membawa setetes air, sejarah bisa berubah.
Selebihnya, ANTARKITA sepenuhnya sadar bahwa hasil bukan milik manusia. Tugas manusia hanyalah berikhtiar, menjaga niat, dan tetap lurus dalam keberpihakan. Adapun kemenangan, keberhasilan, dan keberkahan adalah urusan Sang Pemilik Kehidupan.
Seperti Nabi Ibrahim AS yang akhirnya diselamatkan bukan oleh air pipit, melainkan oleh kehendak Allah SWT, demikian pula perjuangan ini. Manusia hanya memilih sikap, Allah yang menentukan akhir.
Dan di tengah api zaman ini, ANTARKITA memilih menjadi setetes air, bukan tiupan api.
SiS,ANTARKITA