Antarkita

UNTUNGNYA DOLAR TINGGI

UNTUNGNYA DOLAR TINGGI

Dari Peluang UMKM Tepung Telur hingga Strategi Hilirisasi Ayam Terintegrasi untuk Kemandirian Ekonomi Nasional

Oleh SiS Antarkita

Kamis, 5 November 2026**

Ada satu sudut pandang menarik yang saya temukan dalam sebuah kunjungan ke Kabupaten Blitar, Jawa Timur.

Di tengah kekhawatiran masyarakat terhadap tingginya nilai tukar dolar Amerika Serikat, ternyata ada pelaku UMKM yang justru melihatnya sebagai peluang bisnis.

Bagi sebagian besar masyarakat, dolar yang semakin mahal identik dengan ancaman ekonomi. Harga barang impor meningkat, biaya produksi membengkak, dan daya beli masyarakat berpotensi tertekan.

Namun, bagi pelaku usaha yang memproduksi barang substitusi impor atau memiliki orientasi ekspor, situasinya bisa berbeda.

Produk lokal justru berpeluang menjadi lebih kompetitif.

Inilah yang saya sebut sebagai perspektif lain dalam melihat perubahan ekonomi: **dolar tinggi tidak selalu menjadi ancaman. Dalam struktur bisnis tertentu, justru bisa menjadi peluang.**

Tentu saja, bukan berarti pelemahan rupiah selalu menguntungkan. Dampaknya bergantung pada struktur biaya, bahan baku, teknologi, pasar, dan posisi sebuah usaha dalam rantai pasok.

Tetapi ada satu pertanyaan penting yang perlu kita renungkan: mengapa ketika rupiah melemah, sebagian produk dalam negeri justru belum mampu mengambil peluang untuk menggantikan produk impor?

Persoalannya mungkin bukan semata-mata nilai tukar, tetapi kemampuan kita membangun produksi, pengolahan, dan ekosistem bisnis nasional.

Pengalaman Tahun 1996: Dolar Naik, Harga Komoditas Melonjak

Saya teringat pengalaman sekitar tahun 1996.

Ketika nilai tukar dolar mulai mengalami kenaikan, kami yang saat itu memegang komoditas berorientasi ekspor justru merasakan dampak positif.

Harga komoditas yang kami miliki meningkat tajam ketika dikonversikan ke dalam rupiah.

Bagi pelaku usaha yang memiliki produk untuk pasar ekspor, pelemahan rupiah dapat meningkatkan penerimaan dalam mata uang domestik.

Pengalaman itu memberikan pelajaran bahwa perubahan ekonomi tidak selalu berdampak sama kepada setiap orang.

Ada yang tertekan, ada yang mendapatkan peluang.

Pelaku usaha yang bergantung pada bahan baku impor akan menghadapi kenaikan biaya. Sebaliknya, pelaku usaha yang memiliki produk lokal dengan pasar yang sebelumnya dikuasai barang impor dapat memperoleh kesempatan memperluas pasar.

Artinya, kita tidak cukup hanya mengeluhkan perubahan nilai tukar. Kita juga harus mampu membaca peluang yang muncul dari perubahan tersebut.

Pertanyaannya bukan hanya berapa harga dolar hari ini, tetapi seberapa siap produk dalam negeri mengambil ruang pasar yang selama ini diisi produk impor?

Pertemuan di Blitar: UMKM Lokal Justru Diuntungkan oleh Dolar Tinggi

Dalam kunjungan Menteri Pertanian ke Kabupaten Blitar, saya menemukan cerita menarik dari seorang pelaku UMKM yang memproduksi tepung telur.

Ada sesuatu yang menarik dari usaha ini.

Indonesia memiliki produksi telur ayam yang besar, bahkan mengalami surplus. Namun, kebutuhan industri terhadap tepung telur masih harus dipenuhi melalui impor.

Di sinilah peluang bisnis muncul.

Ketika dolar meningkat, harga tepung telur impor menjadi semakin mahal jika dikonversikan ke rupiah. Sementara itu, pelaku UMKM yang memproduksi tepung telur di dalam negeri memiliki peluang menawarkan produk dengan harga yang lebih kompetitif.

Dengan kata lain, pelemahan rupiah memberikan ruang persaingan bagi produk lokal.

Bagi saya, ini bukan sekadar cerita tentang satu UMKM yang memperoleh keuntungan dari kenaikan dolar.

Ini adalah gambaran nyata tentang peluang substitusi impor.

Kita memiliki bahan baku, yaitu telur. Kita memiliki peternak. Kita memiliki pasar industri yang membutuhkan produk olahan telur. Namun, kemampuan pengolahan dalam negeri masih perlu diperkuat.

Mengapa peluang sebesar ini belum sepenuhnya kita manfaatkan?

Mengapa kita bisa menghasilkan telur dalam jumlah besar, tetapi masih mengimpor produk turunannya?

Pertanyaan inilah yang seharusnya menjadi perhatian bersama.

Ironi Ekonomi: Telur Surplus, Tepung Telur Masih Impor

Sebagaimana diberitakan Suara.com pada 26 Oktober 2026, Indonesia mengalami surplus produksi telur, tetapi kebutuhan tepung telur masih dipenuhi melalui impor. Pemerintah pun mulai merencanakan pembangunan pabrik tepung telur.

Kondisi ini memperlihatkan adanya kesenjangan antara kemampuan produksi bahan baku dan kemampuan industri pengolahan.

Telur segar dan tepung telur memang memiliki karakteristik pasar yang berbeda.

Industri makanan, bakery, produk olahan pangan, dan berbagai sektor industri membutuhkan bahan baku telur dalam bentuk yang praktis, tahan lama, mudah disimpan, dan memenuhi standar kualitas tertentu.

Tepung telur menjawab kebutuhan tersebut.

Untuk menghasilkan tepung telur diperlukan teknologi pengolahan, proses pengeringan, pengendalian mutu, pengemasan, serta standar keamanan pangan.

Jadi, persoalannya bukan hanya berapa banyak telur yang bisa diproduksi peternak, melainkan juga seberapa besar kemampuan kita mengolahnya menjadi produk industri.

Bayangkan, peternak menghasilkan telur melimpah, tetapi industri makanan masih membeli tepung telur dari luar negeri.

Ini merupakan peluang ekonomi yang belum sepenuhnya kita tangkap.

Surplus produksi seharusnya menjadi modal untuk membangun industri pengolahan, bukan sekadar menjadi persoalan ketika harga telur di tingkat peternak mengalami tekanan.

Kita perlu menghubungkan produksi dengan pengolahan dan pemasaran.

Kunjungan Menteri Pertanian: Membangun Ekosistem dari Hulu sampai Hilir

Kunjungan Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman ke Kabupaten Blitar pada 5 November 2026 memberikan gambaran penting tentang upaya membangun ekosistem peternakan ayam.

Sebagaimana diberitakan Suara Jatim Post, pemerintah menyerahkan 180 ton jagung SPHP kepada 18 perwakilan koperasi peternak mikro. Jagung tersebut disediakan melalui Perum Bulog dengan harga Rp5.000 per kilogram di gudang Bulog.

Kebijakan ini diarahkan untuk membantu peternak memperoleh bahan baku pakan dengan harga yang lebih terjangkau.

Namun, hal yang lebih menarik adalah upaya menghubungkan petani jagung, koperasi, peternak ayam, dan BUMN pangan.

Rantai ekonominya dapat dibangun sebagai berikut:

1. Petani memproduksi jagung sebagai bahan baku pakan.

2. Koperasi dan peternak menjadi bagian dari jaringan penyerapan hasil panen.

3. Bulog berperan dalam mendukung penyerapan dan pengelolaan stok jagung.

4. Peternak memperoleh kepastian pasokan bahan baku pakan.

5. Peternak menghasilkan telur untuk memenuhi kebutuhan pasar.

6. Bulog dan ID FOOD didorong ikut berperan dalam penyerapan hasil produksi telur.

Dalam pemberitaan tersebut juga disampaikan rencana pembelian telur dari peternak mikro senilai Rp30 miliar secara bertahap hingga Desember 2026, dengan acuan HPP Rp24.000 per kilogram.

Ini memberikan gambaran bahwa persoalan peternakan tidak bisa diselesaikan hanya dengan meningkatkan produksi ayam atau telur.

Peternak membutuhkan kepastian pasokan pakan, harga yang wajar, akses pembiayaan, pendampingan, dan pasar yang jelas.

Demikian pula petani jagung membutuhkan kepastian pembeli.

Semua mata rantai tersebut harus saling terhubung.

 

I Putu Yastika dan Strategi PT Berdikari: Hilirisasi Ayam Terintegrasi dari Hulu hingga Hilir

 

Peluang industri tepung telur sesungguhnya merupakan bagian dari agenda yang lebih besar, yaitu membangun kemandirian industri protein hewani nasional.

Dalam konteks ini, PT Berdikari (Persero), salah satu BUMN di sektor pangan dan peternakan, memiliki peran strategis melalui program **Hilirisasi Ayam Terintegrasi (HAT)**.

Salah satu figur yang mengawal pengembangan program tersebut adalah **I Putu Yastika, Direktur Operasional PT Berdikari**.

Program Hilirisasi Ayam Terintegrasi dikembangkan di sejumlah wilayah, antara lain Bone, Sumbawa, Gorontalo, serta melalui kerja sama dengan Otorita Ibu Kota Nusantara (IKN).

Pendekatan HAT bukan sekadar membangun peternakan ayam dalam skala besar. Lebih jauh, program ini diarahkan untuk membangun ekosistem bisnis peternakan yang terhubung dari hulu hingga hilir.

Ada beberapa mata rantai penting yang menjadi bagian dari strategi tersebut.

**Pertama, penguatan sektor hulu.**

Membangun ketersediaan bibit ayam, sarana produksi peternakan, dan sumber bahan baku pakan. Salah satu komponen pentingnya adalah jagung sebagai bahan baku utama pakan ternak.

**Kedua, penguatan produksi peternakan.**

Membangun kapasitas budidaya ayam dengan sistem pengelolaan yang lebih baik, efisien, dan berkelanjutan. Peternak rakyat harus memiliki ruang untuk terlibat dalam ekosistem usaha tersebut.

**Ketiga, pengembangan industri pengolahan.**

Hasil peternakan tidak boleh berhenti sebagai produk segar. Telur, daging ayam, dan produk turunannya harus memiliki nilai tambah melalui industri pengolahan.

Dalam konteks telur, salah satu peluang pentingnya adalah pembangunan industri tepung telur untuk memenuhi kebutuhan industri pangan nasional.

**Keempat, penguatan distribusi dan pemasaran.**

Industri peternakan membutuhkan kepastian pasar. Produksi harus terhubung dengan kebutuhan industri makanan, hotel, restoran, katering, lembaga pangan, dan pasar lainnya.

**Kelima, membangun kemitraan dan ekosistem usaha.**

BUMN, koperasi, peternak rakyat, pengusaha, UMKM, perguruan tinggi, investor, serta jaringan distribusi perlu dilibatkan sesuai kapasitas dan perannya.

Dengan pendekatan tersebut, HAT berpeluang menjadi model pengembangan industri protein hewani yang tidak hanya mengejar peningkatan produksi, tetapi juga membangun nilai tambah dan memperkuat kesejahteraan peternak.

Dalam kerangka inilah pembangunan pabrik tepung telur menjadi sangat relevan.

Indonesia tidak cukup hanya memiliki telur yang melimpah. Kita harus mampu mengolahnya menjadi produk industri bernilai tambah.

Pabrik tepung telur dapat menjadi penghubung antara hasil produksi peternak dengan kebutuhan industri pengolahan makanan nasional.

Namun, keberhasilan pembangunan pabrik tidak cukup hanya dengan menyediakan mesin dan bangunan.

Diperlukan kepastian pasokan bahan baku, standar kualitas telur, efisiensi produksi, teknologi pengolahan, pembiayaan, serta kepastian pasar.

Pabrik membutuhkan pasokan telur yang konsisten. Peternak membutuhkan kepastian pembeli. Industri pengguna membutuhkan produk dengan kualitas terstandar. Investor membutuhkan model bisnis yang layak.

Semua harus dirancang dalam satu ekosistem.

**Inilah esensi hilirisasi: bukan sekadar membangun pabrik, tetapi membangun rantai nilai ekonomi yang memberikan manfaat kepada seluruh pelaku usaha, termasuk peternak rakyat.**

Persoalan Sebenarnya Bukan Hanya Produksi, tetapi Nilai Tambah

Dari berbagai gambaran tersebut, saya melihat bahwa persoalan mendasar ekonomi kita bukan semata-mata kemampuan menghasilkan bahan baku.

Persoalannya adalah bagaimana menciptakan nilai tambah.

Kita bisa menghasilkan jagung dalam jumlah besar, tetapi jika tidak ada kepastian pasar, petani tetap menghadapi risiko harga jatuh.

Kita bisa menghasilkan telur berlimpah, tetapi jika tidak tersedia industri pengolahan dan mekanisme penyerapan yang baik, peternak tetap berpotensi mengalami kerugian.

Sebaliknya, industri pengolahan bisa berkembang, tetapi jika bahan bakunya harus diimpor, ketergantungan ekonomi tetap berlangsung.

Karena itu, orientasi pembangunan ekonomi harus bergerak dari sekadar meningkatkan produksi menuju penciptaan nilai tambah.

Bayangkan rantai bisnis peternakan ayam yang terintegrasi:

– Jagung dihasilkan petani.

– Jagung diolah menjadi pakan.

– Pakan digunakan peternak untuk menghasilkan telur.

– Telur diolah menjadi tepung telur.

– Tepung telur digunakan sebagai bahan baku industri makanan.

– Produk industri didistribusikan ke pasar domestik dan ekspor.

Dari satu komoditas, lahir banyak aktivitas ekonomi.

Ada kegiatan pertanian, perdagangan, transportasi, pergudangan, industri pakan, peternakan, pengolahan pangan, pengemasan, hingga distribusi.

Inilah kekuatan sebuah ekosistem bisnis.

Peluang Substitusi Impor: Jangan Hanya Menjadi Pasar bagi Produk Luar Negeri

Kembali pada persoalan dolar.

Ketika rupiah melemah, produk impor menjadi lebih mahal. Situasi ini memang dapat membebani pelaku usaha yang menggunakan bahan baku atau mesin impor.

Namun, bagi produsen lokal yang mampu menghasilkan produk substitusi impor dengan kualitas dan harga kompetitif, situasi tersebut dapat membuka peluang.

Tepung telur merupakan salah satu contohnya.

Selama industri dalam negeri mampu menghasilkan produk dengan standar kualitas, keamanan pangan, kapasitas pasokan, dan harga yang bersaing, maka industri pengguna memiliki alternatif selain membeli produk impor.

Peluang serupa sebenarnya terdapat di banyak sektor: pertanian, peternakan, perikanan, pangan olahan, bahan baku industri, dan berbagai kebutuhan masyarakat.

Tetapi kita tidak boleh hanya mengandalkan mahalnya produk impor akibat kenaikan dolar.

Produk lokal harus dibangun agar memiliki daya saing yang berkelanjutan.

Kita membutuhkan teknologi, efisiensi, kualitas, kapasitas produksi, dan kepastian pasokan.

Jangan sampai ketika dolar turun, produk lokal kembali kalah bersaing karena tidak memiliki fondasi usaha yang kuat.

Tujuan kita bukan sekadar memanfaatkan momentum kenaikan dolar, melainkan membangun industri nasional yang mampu bersaing dalam kondisi ekonomi apa pun.

Kemandirian Ekonomi Membutuhkan Orkestrasi Bisnis

Di sinilah pentingnya kolaborasi lintas sektor.

Pemerintah memiliki peran dalam kebijakan, regulasi, dan fasilitasi. BUMN dapat menjadi penggerak investasi, infrastruktur, penyerapan, dan penghubung pasar. Perguruan tinggi berkontribusi melalui penelitian, teknologi, dan inovasi.

Koperasi mengonsolidasikan kekuatan ekonomi masyarakat. Petani dan peternak menjadi basis produksi. Pengusaha dan UMKM menggerakkan aktivitas perdagangan serta pengolahan.

Tidak semua harus dikerjakan oleh satu lembaga atau satu perusahaan.

Justru kekuatan ekonomi akan tumbuh ketika setiap pihak menjalankan perannya dan saling melengkapi.

Kita membutuhkan orkestrasi bisnis.

Orkestrasi bisnis bukan sekadar mempertemukan banyak orang dalam forum, menandatangani nota kesepahaman, atau membentuk organisasi baru.

Orkestrasi bisnis harus menghasilkan transaksi nyata, kepastian pasar, investasi, peningkatan kapasitas produksi, dan pembagian manfaat ekonomi yang adil.

Petani mendapatkan kepastian pembeli. Peternak mendapatkan kepastian pakan dan pasar. UMKM mendapatkan akses bahan baku dan peluang pengolahan. Industri memperoleh pasokan yang konsisten. Investor mendapatkan model bisnis yang layak.

Dengan cara inilah potensi ekonomi daerah dapat dihubungkan menjadi kekuatan ekonomi nasional.

Penutup: Untungnya Dolar Tinggi, Kalau Kita Mampu Membangun Kemandirian

Saya tidak sedang mengatakan bahwa dolar tinggi selalu menguntungkan.

Bagi sebagian masyarakat dan pelaku usaha, pelemahan rupiah tentu membawa beban yang tidak ringan.

Namun, pengalaman tahun 1996 dan pertemuan dengan pelaku UMKM tepung telur di Blitar memberikan satu pelajaran penting.

Perubahan ekonomi bisa menjadi ancaman bagi mereka yang tidak siap, tetapi dapat menjadi peluang bagi mereka yang memiliki kapasitas produksi dan posisi yang tepat dalam rantai ekonomi.

Karena itu, persoalan kita bukan sekadar bagaimana menghadapi dolar yang tinggi atau rendah.

Persoalan yang jauh lebih penting adalah bagaimana membangun kemandirian ekonomi.

Kita harus mampu menghasilkan bahan baku, mengolahnya menjadi produk industri, membangun jaringan distribusi, menciptakan pasar, dan meningkatkan daya saing produk nasional.

Kita tidak harus menutup pintu terhadap produk luar negeri. Perdagangan internasional tetap penting. Namun, jangan sampai pasar dalam negeri yang begitu besar hanya menjadi tempat menjual produk negara lain.

Kita harus menjadi produsen, pengolah, pemilik jaringan bisnis, sekaligus pemain di pasar global.

**Dari jagung menjadi pakan. Dari pakan menjadi telur. Dari telur menjadi tepung telur. Dari tepung telur menjadi produk industri. Dari produksi menjadi perdagangan. Dari perdagangan menjadi kesejahteraan.**

Itulah gambaran sederhana bagaimana sebuah ekosistem ekonomi harus dibangun.

Jangan hanya bertanya, berapa harga dolar hari ini?

Mari bertanya lebih jauh: berapa banyak kebutuhan bangsa ini yang masih kita impor, padahal kita memiliki potensi untuk memproduksinya sendiri?

Dan lebih penting lagi, siapa yang bersedia menghubungkan seluruh potensi tersebut menjadi kekuatan ekonomi bersama?

Karena pada akhirnya, **kemandirian ekonomi bukan ditentukan oleh seberapa kuat kita bertahan menghadapi perubahan, tetapi seberapa mampu kita menciptakan peluang dan nilai tambah dari setiap perubahan.**

*SiS Antarkita*

Tinggalkan Komentar

Scroll to Top