Antarkita

28 Desember 2025

Donasi

LADANG PAHALA JARIYAH : FINISHING PEMBANGUNAN MASJID

💧 *LADANG PAHALA JARIYAH : FINISHING PEMBANGUNAN MASJID*💧 Saat ini, Pimpinan Cabang Muhammadiyah Sumbang Daerah Banyumas sedang membangun masjid dan rumah tahfiz yang berlokasi di Desa Kebanggan, Kecamatan Sumbang. Proses pembangunan tahap 1 adalah membangun masjid, yang saat ini bangunan baru mencapai 75%. Karena keterbatasan yang ada, kami membuka peluang besar bagi kita semua untuk turut serta dalam amal jariyah.   *🎯 Kebutuhan Dana : Rp 64.850.000,-* ( pasang plafon, pengecatan, pasang Keramik)   ✅ Transfer Donasi ke Rekening: an Lazismu Banyumas   BRI: 007701002829308 BNI: 179 852 805 8 BSI: 7 333 7 5555 8 Bank Jateng Syariah: 504 200 5555   Bukti Transfer mohon dikirim ke 081911274168 ( Divisi publikasi & penghimpunan)   Kontak Person : – PCM Sumbang ( Yahya, S. Pd +62 813-2701-4386 ) – PRM Kebanggan ( Taryono, S. Pd +62 858-7601-2627 ) – Panitia ( Nito, S. Pd +62 857-4787-1338 )

Donasi

♻️ Bekas Jadi Berkah! 🤝 Berbagi Manfaat, Mewujudkan Kepedulian

♻️ Bekas Jadi Berkah! 🤝 Berbagi Manfaat, Mewujudkan Kepedulian Di setiap rumah, sering tersimpan barang-barang yang sudah tidak lagi digunakan. Pakaian, perabot, buku, perlengkapan rumah tangga, dan berbagai barang lain yang masih layak serta memiliki nilai jual. Jika dibiarkan, barang-barang tersebut hanya akan menumpuk. Namun jika disedekahkan, ia dapat berubah menjadi manfaat dan keberkahan bagi banyak orang. ♻️ SEDEKAH BARANG BEKAS BERKUALITAS Sedekah bukan sekadar memberi, tetapi berbagi dengan kelayakan dan martabat. Barang-barang bekas yang masih baik akan kami kelola dan salurkan secara bertanggung jawab untuk membantu sesama serta mendukung kegiatan sosial dan dakwah. Untuk memudahkan, kami siap menjemput sedekah barang langsung ke rumah Anda. 🧹 LAYANAN JASA BERSIH-BERSIH RUMAH Selain sedekah barang, kami juga menyediakan jasa bersih-bersih rumah. Layanan ini hadir untuk membantu masyarakat menata, membersihkan, dan merapikan hunian agar kembali nyaman, sehat, dan lapang. Proses bersih-bersih dapat sekaligus membantu pemilahan barang, sehingga rumah bersih dan niat berbagi pun semakin mudah terwujud. 💚 Pimpinan Ranting Muhammadiyah Arcawinangun, Purwokerto Timur menghadirkan dua layanan ini sebagai bentuk kepedulian sosial— mengubah barang tak terpakai menjadi berkah, serta menghadirkan rumah yang bersih dan tertata. Mari mulai kebaikan dari rumah sendiri. Bersih rumahnya, ringan bebannya, mengalir keberkahannya.   📞 Hubungi: +62 858-4274-0541 +62 851-2262-5529

Prespektif, Ruang Kita

Jadi Pipit atau Cicak? Pilih Mana?(Kekuasaan, Keberpihakan, dan Ujian Zaman)

Jadi Pipit atau Cicak? Pilih Mana?(Kekuasaan, Keberpihakan, dan Ujian Zaman)   Sejarah selalu mencatat satu hal yang sama: kekuasaan tidak pernah kekal, tetapi sikap manusia terhadap kekuasaanlah yang menentukan apakah sebuah bangsa akan bangkit atau runtuh. Naiknya Prabowo Subianto sebagai Presiden Republik Indonesia berada di antara harapan besar dan paradoks yang menggelisahkan. Bagi sebagian rakyat, ia adalah simbol ketegasan; seorang jenderal yang diharapkan mampu memulihkan wibawa negara, menegakkan hukum tanpa pandang bulu, dan membela kepentingan rakyat di atas kepentingan oligarki. Namun bagi sebagian lainnya, realitas politik pasca-pemilu justru menghadirkan rasa deja vu. Banyak figur lama tetap bercokol. Banyak pola lama tetap lestari. Dan berbagai persoalan besar—khususnya terkait korupsi struktural dan kebijakan strategis—belum menunjukkan tanda-tanda perubahan mendasar. Di sinilah kekecewaan mulai bersemi. Kekuasaan Bukan Warisan, Tapi Mandat Dalam negara republik, kekuasaan bukan hadiah, bukan warisan, dan bukan pula simbol kehormatan pribadi. Kekuasaan adalah mandat rakyat. UUD 1945 menegaskannya secara gamblang: “Kedaulatan berada di tangan rakyat dan dilaksanakan menurut Undang-Undang Dasar.” (Pasal 1 ayat (2) UUD 1945) Artinya, presiden—siapa pun dia—hanyalah pelaksana mandat. Ia diberi kewenangan, anggaran, fasilitas, dan legitimasi politik untuk bekerja bagi rakyat, bukan untuk mempertahankan status quo yang merugikan rakyat. Ketika rakyat mempertanyakan mengapa: kasus-kasus besar korupsi masa lalu terasa mandek, penegakan hukum tampak tumpul ke atas dan tajam ke bawah, proyek strategis nasional seperti IKN dipersepsikan belum jelas keberlanjutan dan dampak nyatanya, maka pertanyaan itu bukan bentuk kebencian. Itu adalah hak konstitusional rakyat. Kritik Bukan Penghancur Negara Konstitusi justru melindungi kritik. “Setiap orang berhak atas kebebasan menyampaikan pendapat.” (Pasal 28E ayat (3) UUD 1945) Negara hukum—sebagaimana ditegaskan dalam Pasal 1 ayat (3) UUD 1945—tidak menguji loyalitas warga melalui pujian, tetapi menguji kualitas kekuasaan melalui koreksi. Bangsa tidak pernah runtuh karena kritik. Bangsa runtuh karena kekuasaan yang dikelilingi penjilat, dibutakan pencitraan, dan ditidurkan oleh narasi palsu keberhasilan. Pipit dan Cicak: Metafora Keberpihakan Di titik inilah kisah Nabi Ibrahim ‘alaihis salam menemukan relevansinya. Ketika Ibrahim dibakar oleh Namrud, api menyala begitu besar. Tidak ada satu pun makhluk kecil yang mampu memadamkannya. Namun burung pipit tetap datang, membawa setetes air dengan paruhnya yang kecil. Ia sadar tindakannya tampak sia-sia, tetapi ia tidak mau Allah melihatnya diam saat kebenaran dizalimi. Sebaliknya, cicak justru meniup api. Bukan karena tiupannya berarti, tetapi karena ia memilih berpihak pada kekuasaan zalim. Allah tidak menilai besar-kecilnya dampak, tetapi arah keberpihakan. “Maka barang siapa mengerjakan kebaikan seberat dzarrah, niscaya dia akan melihat balasannya.” (QS. Az-Zalzalah: 7) Dalam konteks hari ini: Pipit adalah mereka yang tetap kritis, meski diledek, diserang, dan dituduh pembenci negara. Cicak adalah mereka yang menjilat kekuasaan, membungkam kritik, memelintir fakta, dan memungut sisa-sisa kekuasaan—baik berupa jabatan, proyek, maupun kedekatan. Jongos Kekuasaan dan Bahaya Sistemik Jongos kekuasaan adalah ancaman paling serius bagi bangsa. Mereka bukan sekadar individu, melainkan ekosistem pembenaran. Apa pun kebijakan penguasa: dibela. Apa pun kritik rakyat: dicemooh. Apa pun kegagalan: disulap menjadi prestasi. Akibatnya fatal. Pemerintah kehilangan cermin. Kekuasaan berjalan tanpa koreksi. Kesalahan diulang. Dan negara perlahan masuk ke dalam krisis moral dan struktural. Padahal tujuan bernegara telah ditegaskan secara eksplisit dalam Pembukaan UUD 1945 alinea keempat: melindungi segenap bangsa, memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa, dan mewujudkan keadilan sosial. Tujuan-tujuan itu mustahil tercapai jika kritik dianggap musuh dan jongos dianggap pahlawan. Allah Maha Mampu, Manusia Sedang Diuji Allah SWT sangat mampu mengubah Indonesia dalam sekejap. Namun Allah memilih menguji manusia melalui proses, melalui kekuasaan, dan melalui pergiliran kepemimpinan. “Dan masa (kejayaan dan kehancuran) itu Kami pergilirkan di antara manusia.” (QS. Ali ‘Imran: 140) Pergiliran kekuasaan bukan sekadar politik, tetapi ujian iman dan integritas: siapa yang tetap jujur saat dekat kekuasaan, siapa yang tetap kritis saat penguasa adalah idolanya, dan siapa yang menjual nurani demi keamanan pribadi. Penutup: Pilihan yang Tak Bisa Dihindari Pada akhirnya, setiap orang akan memilih. Tidak memilih pun sejatinya adalah pilihan. Menjadi pipit mungkin tidak populer, tidak kaya, dan tidak aman. Namun ia menjaga iman, akal sehat, dan martabat. Menjadi cicak mungkin nyaman dan menguntungkan sesaat. Namun ia meninggalkan jejak kehinaan dalam sejarah dan hisab akhirat. Karena kekuasaan akan berlalu. Tetapi keberpihakan akan dicatat—oleh sejarah dan oleh Allah SWT. Jadi, kita mau jadi siapa? Pipit… atau cicak?   SiS,Antarkita

Prespektif, Ruang Kita

ANTARKITA: Mengembalikan Manusia dalam Peradaban Digital

ANTARKITA: Mengembalikan Manusia dalam Peradaban Digital Zaman terus bergerak maju, teknologi berkembang pesat, dan sistem ekonomi semakin efisien. Namun di balik kemajuan itu, ada sesuatu yang perlahan menghilang dari kehidupan manusia: kehangatan relasi sosial. Manusia hari ini hidup semakin individualistis dan materialistik. Segalanya diukur dengan angka, kecepatan, dan keuntungan. Interaksi antarmanusia menyusut menjadi sekadar fungsi, bukan hubungan. Ruang-ruang perjumpaan sosial yang dulu hidup—warung, pangkalan, jalan kampung, pasar—kini tergantikan oleh layar gawai. Komunikasi memang semakin cepat, tetapi semakin jauh dari sentuhan emosional dan spiritual. Kita saling terhubung, namun sering kali tidak saling mengenal. Kita bertransaksi, tetapi jarang berelasi. Dalam dunia ekonomi dan bisnis, kondisi ini terasa paling nyata. Hubungan kerja dan usaha direduksi menjadi relasi transaksional semata. Pengemudi dan penumpang bertemu tanpa sapaan, penjual dan pembeli berpisah tanpa ikatan. Manusia diperlakukan sebagai angka dalam sistem, bukan sebagai subjek dengan martabat dan cerita hidup. Dari kegelisahan inilah ANTARKITA lahir. ANTARKITA bukan sekadar layanan transportasi. ANTARKITA adalah gerakan sosial-ekonomi yang berangkat dari kesadaran bahwa teknologi seharusnya melayani manusia, bukan sebaliknya. ANTARKITA memilih jalan yang sederhana: tidak memaksa orang mengunduh aplikasi, tidak mempersulit dengan sistem yang kaku. Cukup dengan WhatsApp, alat komunikasi yang sudah akrab dengan keseharian masyarakat. Kesederhanaan ini bukan kelemahan, tetapi pilihan nilai. ANTARKITA percaya bahwa teknologi terbaik adalah teknologi yang inklusif, mudah diakses oleh siapa saja—termasuk mereka yang selama ini terpinggirkan oleh kompleksitas sistem digital. ANTARKITA hadir untuk rakyat kecil, pelaku UMKM, dan para pekerja sektor informal yang ingin tetap bermartabat di tengah arus ekonomi digital. ANTARKITA membuka ruang kemandirian ekonomi, bukan dengan eksploitasi, tetapi dengan kemitraan. Bukan dengan kompetisi yang mematikan, tetapi dengan kolaborasi yang menguatkan. Lebih dari itu, ANTARKITA ingin menghidupkan kembali ruh sosial dalam setiap perjalanan dan transaksi. Relasi antara pengemudi dan penumpang tidak berhenti pada titik antar-jemput, tetapi menjadi ruang perjumpaan antarmanusia. Ada sapaan, ada empati, ada rasa saling menghargai. Di situlah ekonomi bertemu dengan nilai kemanusiaan. ANTARKITA menolak pandangan bahwa bisnis harus dingin dan tanpa rasa. ANTARKITA percaya bahwa bisnis bisa menjadi sarana silaturahmi, sarana ibadah sosial, dan sarana pemerataan kesejahteraan. Dalam ANTARKITA, keuntungan bukan tujuan tunggal, melainkan hasil dari proses yang adil dan manusiawi. Di tengah bangsa yang majemuk, ANTARKITA memosisikan diri sebagai ruang bersama—ruang ANTAR KITA, tempat berbagai latar belakang bertemu tanpa sekat. Tidak ada hierarki antara pengguna dan mitra, tidak ada jarak antara teknologi dan manusia. Yang ada adalah semangat gotong royong khas Indonesia. ANTARKITA hadir untuk mereka yang lelah dengan sistem yang meminggirkan. Untuk mereka yang percaya bahwa kemajuan sejati adalah kemajuan yang tetap menjaga nilai, etika, dan kemanusiaan. Untuk mereka yang ingin ekonomi tumbuh tanpa kehilangan jiwa. Pada akhirnya, ANTARKITA bukan hanya tentang berpindah dari satu tempat ke tempat lain. ANTARKITA adalah tentang perjalanan bersama—membangun kembali relasi sosial, memperkuat kemandirian ekonomi UMKM, dan merawat kemanusiaan di tengah peradaban digital. Karena Indonesia tidak hanya membutuhkan teknologi yang canggih, tetapi juga teknologi yang beradab. SiS,ANTARKITA

Prespektif, Ruang Kita

Futuristik Kiai Ahmad Dahlan: Dari Kesadaran Zaman Menuju Pembangunan Peradaban

Futuristik Kiai Ahmad Dahlan: Dari Kesadaran Zaman Menuju Pembangunan Peradaban   Kiai Ahmad Dahlan adalah contoh langka seorang ulama yang tidak hanya hidup di zamannya, tetapi melompat melampaui zamannya. Pada awal abad ke-20, ketika sebagian besar masyarakat Muslim Nusantara masih terkungkung oleh kemiskinan struktural, kebodohan, dan pemahaman keagamaan yang ritualistik, Dahlan justru membaca tanda-tanda perubahan dunia. Ia memahami bahwa umat Islam tidak akan bangkit hanya dengan kesalehan simbolik, melainkan dengan pembaruan cara berpikir, cara beragama, dan cara mengelola kehidupan sosial. Futuristik Kiai Ahmad Dahlan bukan futurisme spekulatif yang sibuk meramal masa depan, melainkan futurisme praksis—membangun masa depan melalui tindakan nyata hari ini. Ia menyadari bahwa masa depan umat ditentukan oleh kualitas institusi, sistem pendidikan, etos kerja, dan keberpihakan sosial. Karena itu, Dahlan tidak berhenti pada dakwah lisan, tetapi membangun struktur peradaban yang memungkinkan nilai Islam hidup dan berdaya guna lintas generasi. Dari Tauhid ke Transformasi Sosial Akar futurisme Dahlan bertumpu pada pemahaman tauhid yang menyeluruh. Tauhid baginya bukan sekadar pengakuan teologis, tetapi prinsip pembebasan manusia dari kebodohan, ketergantungan, dan ketidakadilan. Inilah yang kemudian dikenal sebagai tauhid sosial—sebuah konsep yang menegaskan bahwa iman harus berdampak pada struktur sosial dan kehidupan bersama. Kisah pengajian Surah Al-Ma’un yang berulang-ulang adalah bukti paling jelas. Dahlan menolak pemahaman agama yang berhenti pada hafalan dan ritual. Pertanyaannya yang terkenal, “Kalau sudah paham, apa sudah diamalkan?”, bukan sekadar teguran moral, melainkan kritik epistemologis terhadap cara beragama yang mandek. Baginya, agama yang tidak melahirkan tindakan sosial adalah agama yang kehilangan makna sejarahnya. Dari tafsir Al-Ma’un inilah lahir gerakan amal Muhammadiyah. Anak yatim, fakir miskin, orang sakit, dan kaum terpinggirkan bukan objek belas kasihan, tetapi subjek perjuangan keadilan sosial. Di sinilah futurisme Dahlan bekerja: ia menjadikan teks suci sebagai energi perubahan sosial. Modernisasi Pendidikan sebagai Investasi Peradaban Salah satu lompatan futuristik terbesar Kiai Ahmad Dahlan adalah di bidang pendidikan. Pada masanya, pendidikan agama dan pendidikan umum dipisahkan secara tajam. Dahlan memandang dikotomi ini sebagai sumber kemunduran umat. Maka ia membangun sekolah-sekolah yang mengintegrasikan ilmu agama dan ilmu modern—sebuah langkah radikal pada zamannya. Bagi Dahlan, pendidikan bukan sekadar transfer ilmu, tetapi proses pembentukan manusia beriman, berilmu, dan berdaya guna. Ia memahami bahwa masa depan umat Islam tidak mungkin dibangun tanpa penguasaan ilmu pengetahuan, keterampilan, dan etos rasional. Inilah sebabnya Muhammadiyah sejak awal menjadi pionir pendidikan modern di Indonesia, jauh sebelum negara memiliki sistem pendidikan nasional yang mapan. Keberanian ini menunjukkan bahwa Dahlan tidak sedang mempertahankan masa lalu, tetapi menyiapkan generasi masa depan. Membangun Organisasi yang Melampaui Figur Futuristik Kiai Ahmad Dahlan juga tampak jelas dalam cara ia membangun Muhammadiyah sebagai organisasi. Muhammadiyah tidak dibangun di atas karisma personal, melainkan di atas sistem, nilai, dan tata kelola. Dahlan memahami bahwa gerakan besar tidak boleh bergantung pada satu tokoh, tetapi harus memiliki mekanisme kaderisasi, administrasi, dan evaluasi yang berkelanjutan. Inilah sebabnya Muhammadiyah mampu bertahan lebih dari satu abad dan tetap relevan dalam berbagai rezim politik, perubahan sosial, dan tantangan zaman. Muhammadiyah tidak berhenti sebagai organisasi dakwah, tetapi berkembang menjadi gerakan peradaban: pendidikan, kesehatan, sosial, ekonomi, hingga kebencanaan. Apa yang dilakukan Dahlan sejatinya adalah desain masa depan—membangun institusi yang mampu hidup lebih lama dari dirinya sendiri. Islam Berkemajuan: Warisan Futuristik Dahlan Pemikiran futuristik Kiai Ahmad Dahlan kemudian dirumuskan secara konseptual dalam gagasan Islam Berkemajuan. Islam Berkemajuan bukan Islam yang tercerabut dari tradisi, tetapi Islam yang berani berdialog dengan modernitas. Islam yang tidak defensif terhadap perubahan, tetapi kritis, selektif, dan kreatif. Dalam kerangka ini, Muhammadiyah tidak alergi terhadap sains, teknologi, dan perubahan sosial. Namun, semuanya harus diarahkan pada kemaslahatan, keadilan, dan martabat manusia. Inilah yang membuat Muhammadiyah selalu relevan dengan perkembangan zaman—bukan karena mengikuti arus, tetapi karena memiliki kompas nilai yang jelas. Dari Dahlan ke Masa Kini Lebih dari satu abad setelah wafatnya, Kiai Ahmad Dahlan masih “hidup” melalui amal dan gagasannya. Rumah sakit Muhammadiyah, sekolah, universitas, panti asuhan, gerakan sosial, dan ekonomi umat adalah bukti konkret bahwa futurisme Dahlan bukan utopia. Dalam dunia yang hari ini dikuasai kapitalisme global, krisis kemanusiaan, dan ketimpangan sosial, warisan Dahlan justru semakin relevan. Ia mengajarkan bahwa agama harus menjadi solusi, bukan sekadar identitas. Bahwa masa depan tidak ditunggu, tetapi dibangun—dengan iman yang rasional, amal yang terorganisir, dan keberpihakan yang jelas kepada kemanusiaan. Futuristik Kiai Ahmad Dahlan adalah pelajaran penting bagi kita hari ini: bahwa berpikir ke depan bukan berarti meninggalkan nilai, dan membangun masa depan tidak cukup dengan wacana, tetapi membutuhkan keberanian untuk bekerja, berkorban, dan berorganisasi.   SiS,,Antarkita

Scroll to Top