Antarkita

30 Desember 2025

Prespektif, Ruang Kita

Kami Lebih Cinta Kemerdekaan: Melawan Kenyamanan di Bawah Bayang Penjajahan Digital

Kami Lebih Cinta Kemerdekaan: Melawan Kenyamanan di Bawah Bayang Penjajahan Digital Hari ini, dunia kita telah dibentuk oleh algoritma dan aplikasi. Setiap pesan yang kita kirim, setiap produk yang kita beli, setiap klik yang kita lakukan — semuanya menjadi bagian dari sistem ekonomi digital yang menguasai kehidupan manusia modern. Kita hidup di masa di mana banyak orang telah begitu nyaman menggunakan layanan digital global, tanpa pernah bertanya: siapa yang mengendalikan kenyamanan itu? Banyak platform raksasa dunia — yang setiap hari kita gunakan — secara langsung atau tidak langsung terafiliasi dengan Israel dan jaringan ekonomi Yahudi global. Sementara sebagian masyarakat Muslim di Palestina masih berjuang mempertahankan tanah dan hidup mereka, kita justru memberi mereka kekuatan ekonomi melalui kebiasaan konsumsi yang tanpa kesadaran. Ironis, bukan? Kita mengutuk penjajahan, tetapi setiap hari tanpa sadar membiayai roda penjajahan itu sendiri. 🔥 Ketika Banyak yang Menyerah, Kami Memilih Sikap Sebagian orang berkata, “Itu sudah takdir zaman.” Sebagian lagi berkata, “Tak mungkin kita lepas dari mereka.” Dan sebagian lainnya sudah menyerah sejak awal, bahkan menikmati semua kenyamanan itu dengan rasa bangga. Namun, kami memilih untuk bersikap lain. Kami menolak tunduk pada sistem yang menjajah dengan senyum dan kemudahan. Kami memilih untuk merintis kemerdekaan ekonomi rakyat Indonesia. Langkah kami mungkin kecil. Kami sadar, perjuangan ini tidak spektakuler, tidak viral, bahkan mungkin dianggap utopis. Tapi kami percaya, setiap perjuangan besar selalu berawal dari keyakinan kecil yang disertai keberanian moral. Seperti burung emprit yang terbang membawa setetes air untuk memadamkan api yang membakar Nabi Ibrahim — kami pun tahu air itu takkan cukup, tapi kami ingin berpihak pada kebenaran. Kami tidak memilih kenyamanan, kami memilih keberpihakan. Kami tidak mencari tepuk tangan, kami mencari ridha Allah. 💡 Spirit Al-Ma’un: Jalan Iman yang Bergerak Bagi kami, perjuangan ini bukan sekadar urusan ekonomi atau bisnis. Ini adalah urusan iman. Sebab sebagaimana diajarkan oleh Kyai Ahmad Dahlan melalui spirit Al-Ma’un, iman yang sejati adalah iman yang menolak diam di hadapan ketidakadilan sosial. Kyai Dahlan menggugah umat dengan tafsir yang hidup: membaca Al-Ma’un bukan hanya untuk dihafal, tetapi untuk dihidupkan. Ia mengajarkan bahwa siapa pun yang beriman, harus menolong yang lemah, memberdayakan yang miskin, dan melawan sistem yang menindas manusia. Dan hari ini, bentuk penindasan itu tidak lagi datang dari senjata dan penjajahan fisik, melainkan dari ketergantungan ekonomi digital —dari sistem yang membuat kita menjadi pasar tanpa kedaulatan,konsumen tanpa pilihan,dan umat tanpa arah. Maka, meneladani Kyai Ahmad Dahlan di era ini bukan sekadar mendirikan sekolah atau rumah yatim, tetapi membangun kesadaran dan kemandirian digital umat. Itulah tafsir modern dari Al-Ma’un yang harus kita perjuangkan bersama. 🌱 Kita Semua Punya Peran Kita tidak bisa menunggu lahirnya pahlawan baru. Kita semua adalah bagian dari barisan perubahan itu. Sebagai konsumen, kita bisa mulai dengan hal sederhana: mengalihkan layanan bisnis kita, berbelanja dari platform yang berpihak pada bangsa sendiri, dan menghargai karya anak negeri. Sebagai pelaku usaha, kita bisa bergabung dalam gerakan ekonomi digital berkeadilan —membangun ekosistem baru yang berlandaskan nilai gotong royong, keberkahan, dan kejujuran. Sebagai kader umat, kita bisa menanamkan kesadaran bahwa dakwah hari ini tak lagi cukup di mimbar masjid, tapi juga di ruang digital — di mana jutaan jiwa sedang ditarik oleh sistem yang hanya memuliakan profit, bukan moral. 🤝 Kami Bukan Siapa-siapa, Tapi Kami Tidak Akan Diam Kami sadar, kami bukan siapa-siapa. Apa yang kami lakukan bukan apa-apa jika dibandingkan dengan besarnya masalah yang kita hadapi. Namun, kami percaya: Allah tidak menilai hasil, tetapi niat dan keberpihakan. Kami ingin berdiri di sisi yang benar, meski kecil. Kami ingin menyumbang tetes air untuk memadamkan api ketergantungan ekonomi, meski tahu bara itu besar. Kami tidak ingin dikenang sebagai orang yang diam ketika umatnya dijajah secara digital, tetapi sebagai bagian dari mereka yang pernah berjuang —menolak tunduk pada kenyamanan yang menipu. ❤️ Kami Suka Kenyamanan, Tapi Kami Lebih Cinta Kemerdekaan Kami mencintai teknologi, kami menghargai kemajuan. Namun kami tidak rela kenyamanan itu dibayar dengan harga kemerdekaan bangsa. Karena kenyamanan tanpa kedaulatan hanyalah penjara yang dibungkus kemewahan. Kami percaya, kemerdekaan ekonomi bukanlah utopia.Ia adalah cita-cita yang bisa dicapai jika kita berani memulai — dari kesadaran kecil, dari langkah sederhana, dari keberanian untuk berkata tidak pada penjajahan digital. Dan jika kita bersatu,suatu hari nanti bangsa ini akan benar-benar berdiri tegak —mandiri secara ekonomi, berdaulat secara digital, dan merdeka secara moral. —✊Suwatno Ibnu Sudihardjo,Jaringan Saudagar Muhammadiyah Banyumas

Uncategorized

Bahaya Limiting Beliefs: Penjara Kehidupan yang Tak Kasat Mata

Bahaya Limiting Beliefs: Penjara Kehidupan yang Tak Kasat Mata Tidak semua penjara memiliki tembok. Tidak semua hukuman dijatuhkan oleh hakim. Dan tidak semua keterbatasan berasal dari kenyataan. Sebagian penjara justru lahir dari pikiran manusia sendiri—sunyi, rapi, dan tampak wajar. Ia tidak menjerit, tidak memborgol, dan tidak memaksa. Namun ia membuat seseorang berhenti bermimpi, berhenti berharap, dan akhirnya berhenti hidup secara utuh. Penjara itu bernama limiting beliefs—keyakinan yang membatasi. Penjara yang Tidak Pernah Diumumkan Limiting beliefs tidak datang sebagai musuh. Ia datang sebagai suara akrab di kepala: “Sudahlah, jangan terlalu berharap.” “Kamu bukan siapa-siapa.” “Orang seperti kita cukup sampai di sini.” Karena terdengar rasional, kita menerimanya. Karena terdengar realistis, kita membenarkannya. Karena terdengar seperti pengalaman hidup, kita mematuhinya. Tanpa sadar, kita menandatangani vonis bagi diri sendiri. Bagaimana Penjara Ini Dibangun Penjara ini dibangun bukan dalam sehari, tetapi sedikit demi sedikit: dari kegagalan yang tidak dipelajari dengan bijak, dari hinaan yang diulang terus-menerus, dari kegagalan orang lain yang kita jadikan standar, dari pendidikan yang lebih sering mematahkan daripada menguatkan. Akhirnya, seseorang tidak lagi bertanya “apa yang bisa saya capai?”, tetapi “apa batas saya?” Saat itulah penjara selesai dibangun. Limiting Beliefs: Penjara Tanpa Pintu Terkunci Yang membuat limiting beliefs begitu berbahaya adalah karena pintunya sebenarnya terbuka—namun penghuninya merasa tidak layak keluar. Tidak ada yang melarang melangkah, kecuali suara di dalam kepala sendiri. Tidak ada yang menahan, kecuali ketakutan akan gagal. Tidak ada yang memukul, kecuali rasa malu yang diwariskan. Inilah hukuman paling halus: manusia membatasi dirinya sebelum dunia melakukannya. Ketika Hidup Dijalaninya dengan Setengah Jiwa Orang yang hidup dalam limiting beliefs tetap bekerja, tetap berkeluarga, tetap bersosialisasi. Tapi hidupnya tidak pernah penuh. Ia: tidak berani mengambil peluang, selalu merasa kurang, takut terlihat bodoh saat belajar, takut salah saat mencoba, takut berhasil karena takut jatuh lebih keras. Ia tidak gagal. Ia tidak pernah benar-benar mencoba. Penjara Kolektif: Ketika Keyakinan Salah Menjadi Budaya Limiting beliefs bukan hanya masalah pribadi. Ia bisa menjadi budaya sosial. Masyarakat yang terlalu lama hidup dalam keterbatasan akan menormalisasi keterbatasan. Kalimat seperti: “Yang penting cukup.” “Jangan neko-neko.” “Sudah nasib.” menjadi nilai yang diwariskan. Padahal yang diwariskan bukan kebijaksanaan, melainkan ketakutan yang disepakati bersama. Bahaya Terbesar: Membatasi Rahmat Allah Puncak bahaya limiting beliefs bukan pada kegagalan duniawi, tetapi pada rusaknya cara pandang kepada Allah SWT. Ketika seseorang berkata: “Dosa saya terlalu besar.” “Saya tidak pantas ditolong.” “Allah tidak mungkin mengabulkan doa saya.” sesungguhnya ia tidak sedang rendah hati, tetapi mengecilkan rahmat Allah dengan logika manusia. Padahal Allah sendiri menegaskan bahwa rahmat-Nya meliputi segala sesuatu. Masalah manusia selalu terbatas oleh ruang dan waktu, sedangkan rahmat Allah tidak dibatasi oleh apa pun. Limiting beliefs menjadikan luka masa lalu lebih dipercaya daripada janji Tuhan. Membebaskan Diri: Dari Kesadaran Menuju Keberanian Pembebasan dari penjara ini tidak dimulai dengan keberhasilan, tetapi dengan kejujuran pada diri sendiri: “Selama ini, saya bukan tidak mampu. Saya hanya takut.” Kesadaran ini menyakitkan, tetapi membebaskan. Langkah selanjutnya adalah mengganti narasi hidup: bukan “saya gagal”, tetapi “saya sedang belajar”, bukan “saya tidak pantas”, tetapi “Allah Maha Memberi”, bukan “ini nasib saya”, tetapi “ini fase saya”. Saat seseorang berani memperbaiki cara berpikirnya, Allah membukakan jalan yang sebelumnya tidak terlihat. Penutup: Manusia Diciptakan untuk Merdeka Manusia diciptakan dengan akal untuk berpikir, hati untuk berharap, dan iman untuk bersandar. Ia tidak diciptakan untuk hidup selamanya dalam ketakutan. Limiting beliefs adalah penjara yang paling berbahaya karena: tidak disadari, dianggap kebenaran, dan sering dibela oleh penghuninya sendiri. Namun kabar baiknya: penjara ini bisa runtuh tanpa palu, tanpa kekerasan, hanya dengan satu hal—kesadaran dan tawakal. Ketika manusia berhenti membatasi dirinya, dan mulai mempercayai keluasan rahmat Allah, maka ia akan menemukan satu kebenaran sederhana: Bukan masalah yang terlalu besar. Tetapi keyakinan kita yang terlalu kecil. SiS, Antarkita

Prespektif, Ruang Kita, Uncategorized

Paztrooper Profesional:  Ketika Tubuh Dikembalikan pada Fitrahnya

Paztrooper Profesional:        Ketika Tubuh Dikembalikan pada Fitrahnya Tidak semua rasa sakit bersuara keras. Sebagian hadir perlahan—nyeri yang datang dan pergi, tubuh yang mudah lelah, gerak yang tak lagi seimbang. Banyak orang menerimanya sebagai bagian dari usia atau takdir, hingga lupa bahwa tubuh sejatinya diciptakan dalam keadaan sempurna dan mampu memulihkan dirinya sendiri, jika diperlakukan dengan benar. Di ruang sunyi inilah Ibu Munsifah Walid Hatta menjalankan perannya sebagai Paztrooper profesional. Ia bukan sekadar terapis, melainkan penjaga keseimbangan tubuh—membantu manusia kembali mengenali bahasa tubuhnya sendiri melalui terapi PAZ Al Kasaw, sebuah pendekatan biomekanika Islam yang lembut, rasional, dan sarat makna. Dengan pendekatan tanpa obat, tanpa alat, dan tanpa intervensi invasif, Ibu Munsifah telah mendampingi banyak orang yang sebelumnya berada di titik jenuh pengobatan. Keluhan seperti nyeri punggung menahun, lutut lemah, saraf kejepit, hingga gangguan organ dalam ditangani melalui sentuhan yang terukur, penuh adab, dan berlandaskan ilmu. PAZ Al Kasaw: Ilmu yang Menyentuh Kesadaran PAZ Al Kasaw lahir dari pemikiran almarhum Ustadz Haris Moedjahid Rahimahullah, seorang insinyur aeronautika lulusan Delft, Belanda. Berangkat dari pemahaman struktur pesawat—di mana keseimbangan, jalur gaya, dan distribusi beban menentukan keselamatan—beliau menemukan kesamaan mendasar dengan struktur tubuh manusia. Tubuh, sebagaimana pesawat, memiliki jalur mekanika. Ketika jalur ini terganggu—terlalu kencang, kendor, atau melintir—maka muncullah ketidakseimbangan yang memicu nyeri dan gangguan fungsi. PAZ hadir untuk mengembalikan tubuh ke posisi seimbangnya, ke titik yang disebut nol koma nol, agar tubuh dapat bekerja optimal sesuai fitrahnya. PAZ tidak memaksa tubuh berubah. Ia hanya membetulkan jalurnya. Sisanya, tubuh akan menyelesaikan pekerjaannya sendiri—atas izin Allah. Menjaga Ilmu, Menjaga Adab Sebagai Paztrooper berpengalaman, Ibu Munsifah dikenal sangat berhati-hati dalam setiap pemeriksaan. Ia mendengarkan tubuh klien dengan penuh perhatian, membaca pola gerak, dan memahami keluhan bukan hanya sebagai rasa sakit, tetapi sebagai pesan tubuh yang terabaikan. Baginya, terapi adalah amanah ilmu, bukan ruang unjuk kemampuan. Karena itu, ia senantiasa menjaga adab, memperbarui pengetahuan melalui pelatihan resmi PAZ Generasi Unggul, serta memastikan setiap praktik sesuai dengan standar dan nilai keislaman yang lurus. Ia percaya, kesombongan adalah awal dari kegagalan terapi. Kerendahan hati adalah pintu keberkahan. Edukasi: Terapi yang Berlanjut di Rumah Yang membedakan Ibu Munsifah dari banyak praktisi lain adalah komitmennya pada edukasi. Ia meyakini bahwa pemulihan sejati tidak berhenti di ruang terapi, tetapi justru dimulai dari kebiasaan sehari-hari. Cara duduk, berdiri, membawa beban, hingga berjalan—semua ia ajarkan dengan sabar. Banyak klien baru menyadari bahwa penyakit yang mereka alami bukan karena usia atau makanan semata, melainkan karena kesalahan mekanika tubuh yang dibiarkan bertahun-tahun. Dengan memahami tubuhnya sendiri, klien tidak lagi bergantung, tetapi menjadi lebih sadar dan mandiri. Terapi sebagai Pendampingan, Bukan Ketergantungan “Saya bukan penyembuh,” demikian prinsip yang selalu dipegang Ibu Munsifah. “Saya hanya membantu tubuh menemukan jalannya kembali.” Sebagai praktisi terapi holistik, pendekatannya selalu personal, tidak tergesa-gesa, dan berorientasi pada keberlanjutan. Setiap individu memiliki perjalanan tubuh yang berbeda, dan karena itu, tidak ada satu pendekatan yang dipaksakan untuk semua. Terapi baginya adalah perjalanan bersama—antara praktisi dan klien—menuju harmoni tubuh dan pikiran. Undangan untuk Kembali Seimbang Kini, Ibu Munsifah membuka layanan terapi PAZ Al Kasaw dengan sistem reservasi yang tertata dan profesional. Layanannya terbuka bagi siapa pun yang ingin memperbaiki kesehatannya secara alami, ilmiah, dan selaras dengan nilai-nilai Islam. Karena tubuh yang sehat bukan tujuan akhir, melainkan sarana untuk menjalani hidup dengan lebih bermakna. Tubuh yang seimbang akan memudahkan ibadah. Tubuh yang pulih akan memperpanjang manfaat hidup. Alamat Domisili Praktik Jl. Baturraden Timur,Grumbul Sirapan Wetan,Desa Banteran, Kecamatan Sumbang, Banyumas, Jawa Tengah  

Info Wisata, Kabarkita, Kuliner, Ruang Kita

Wedang Banteng, Minuman Herbal Penjaga Daya Tahan Tubuh dari Banyumas

Wedang Banteng, Minuman Herbal Penjaga Daya Tahan Tubuh dari Banyumas Di tengah perubahan zaman yang serba cepat, manusia modern sering kali lupa bahwa kesehatan sejatinya bersumber dari alam. Ketika pola hidup instan mulai menggerus keseimbangan tubuh, kesadaran untuk kembali pada rempah-rempah Nusantara pun tumbuh kembali. Minuman botanikal—sebagaimana didefinisikan oleh BPOM RI sebagai minuman yang dihasilkan dari pencampuran air minum dengan bagian tanaman atau sari herba—kini menjelma bukan hanya sebagai warisan tradisi, tetapi juga sebagai solusi kesehatan masa kini. Dari lereng-lereng perdesaan Banyumas, tepatnya di Desa Sumbang, Kecamatan Sumbang, lahirlah sebuah produk herbal yang menggabungkan tradisi, kesehatan, dan pemberdayaan ekonomi lokal: Wedang Banteng. Produk ini dirintis oleh Dasilah Rachmawati, seorang pelaku UMKM perempuan yang dengan ketekunan dan visi panjang mampu mengangkat kekayaan rempah Banyumas ke tingkat yang lebih bermartabat. Dari Dapur Rumah ke Ikhtiar Kesehatan Masyarakat Wedang Banteng mulai diproduksi sejak tahun 2017. Awalnya, usaha ini berangkat dari kebutuhan sederhana: menyediakan minuman herbal yang aman, berkhasiat, dan dapat dikonsumsi setiap hari oleh keluarga. Namun, seiring berjalannya waktu, Bu Dasilah melihat peluang yang lebih besar. Rempah-rempah lokal yang melimpah, jika diolah dengan baik, bukan hanya menjaga kesehatan masyarakat, tetapi juga membuka lapangan usaha dan memperkuat ekonomi desa. Nama “Wedang Banteng” dipilih sebagai simbol kekuatan, ketahanan, dan semangat pantang menyerah. Sebuah filosofi yang sejalan dengan harapan produknya: menjaga daya tahan tubuh dan memberi energi bagi siapa pun yang mengonsumsinya. Ragam Produk: Tradisi yang Dikemas Modern Wedang Banteng menghadirkan dua jenis minuman herbal utama, yakni Wedang Uwuh dan Teh Celup Herbal, yang keduanya diracik dari sembilan jenis rempah pilihan. Jumlah ini menjadikan Wedang Banteng lebih kaya rasa dan khasiat dibandingkan produk herbal sejenis. 1. Wedang Uwuh Wedang Banteng Wedang Uwuh diproduksi dalam berbagai kemasan, menyesuaikan kebutuhan konsumen: Cup Pouch Plastik Goody bag Setiap kemasan Wedang Uwuh sudah dilengkapi gula batu, sehingga praktis dan siap seduh. Perpaduan rempah-rempah menghasilkan rasa hangat, segar, dan menenangkan, cocok dikonsumsi di berbagai suasana. 2. Teh Celup Herbal Wedang Banteng Teh herbal ini dikemas dalam bentuk tea bag berisi lima gram rempah halus. Setiap tea bag kemudian dikemas dalam aluminium foil untuk menjaga kesegaran, dimasukkan ke box karton, dan disampul plastik pres agar lebih rapi dan higienis. Dari Petani Lokal hingga Produk Bernilai Tinggi Salah satu keunggulan utama Wedang Banteng terletak pada rantai pasoknya yang berkeadilan. Seluruh bahan rempah diperoleh langsung dari petani-petani lokal di sekitar Desa Sumbang. Pola ini tidak hanya menjamin kualitas bahan baku, tetapi juga menciptakan hubungan ekonomi yang saling menguatkan. “Dengan mengambil rempah langsung dari petani, kami bisa memesan bahan yang sudah cukup umur. Rempah yang cukup umur akan menghasilkan rasa lebih kuat dan segar jika diolah secara higienis,” ungkap Bu Dasilah. Setelah rempah datang, proses produksi dilakukan secara berlapis dan penuh kehati-hatian. Rempah ditimbang, dicuci bersih, dirajang, lalu dijemur di bawah sinar matahari hingga kering sempurna. Untuk memastikan higienitas, rempah-rempah kemudian dioven sebelum disimpan dalam toples-toples sesuai jenisnya. Racikan Tradisional, Nilai Modern Peracikan Wedang Banteng mempertahankan cara-cara tradisional yang diwariskan turun-temurun. Khusus untuk teh celup herbal, sembilan jenis rempah dicampur dan ditumbuk menggunakan lumpang dan alu. Proses manual ini diyakini mampu menjaga karakter rasa dan aroma alami rempah. Rempah halus kemudian ditimbang secara presisi, masing-masing lima gram, dimasukkan ke kantong teh celup, direkatkan dengan sealer, lalu dikemas berlapis hingga siap dipasarkan. Seluruh tahapan dilakukan secara higienis, menggabungkan kearifan lokal dengan standar produksi modern. Pemasaran: Dari Banyumas ke Dunia Meski berakar kuat di Banyumas, Wedang Banteng tidak membatasi langkahnya hanya di pasar lokal. Produk ini telah menjangkau berbagai daerah di Indonesia, hingga ke luar Jawa. Bahkan, menurut pengakuan Bu Dasilah, Wedang Banteng mulai dilirik oleh calon suplier dari negara-negara Eropa yang tertarik pada produk herbal alami berbasis rempah Nusantara. Untuk memperluas jangkauan, Wedang Banteng juga dipasarkan secara daring melalui platform e-commerce seperti Shopee dan Blibli, sehingga mudah diakses oleh konsumen dari berbagai wilayah. Saat ini, kapasitas produksi Wedang Banteng mencapai sekitar 3.000 pcs untuk masing-masing produk Wedang Uwuh dan Teh Celup Herbal. Dengan dukungan peralatan produksi yang lebih modern, kapasitas ini diharapkan dapat terus ditingkatkan. Harga, Daya Simpan, dan Legalitas Wedang Uwuh: Rp 60.000 per pack (isi 10 bungkus) Teh Celup Herbal: Rp 42.500 per dus (isi 10 tea bags) Diproses secara tradisional namun higienis, Wedang Banteng memiliki masa simpan hingga satu tahun atau lebih, tanpa mengurangi cita rasa dan khasiatnya. Sebagai produk yang bertanggung jawab, Wedang Banteng telah mengantongi dokumen legalitas lengkap, mulai dari NIB, PIRT, Sertifikat Halal, hingga BPOM, sehingga aman dan terpercaya bagi konsumen. Menyemai Kesehatan, Menumbuhkan Harapan Bagi Bu Dasilah, Wedang Banteng bukan sekadar usaha. Ia adalah medium dakwah kesehatan, pemberdayaan ekonomi desa, dan pelestarian warisan rempah Nusantara. Dengan rasa yang segar, manis alami, dan berkhasiat, Wedang Banteng diharapkan mampu menarik minat generasi muda agar kembali mencintai minuman herbal sebagai bagian dari gaya hidup sehat. Dari tangan-tangan petani Banyumas, rempah diolah dengan cinta dan ketekunan. Dari dapur sederhana, lahir minuman herbal yang menghangatkan tubuh dan menguatkan daya tahan. Wedang Banteng membuktikan bahwa usaha lokal, jika dikelola dengan visi, mampu berdiri sejajar di pasar nasional bahkan global. Alamat Produksi Wedang Banteng: Jl. Kyai Panumbang,Desa Sumbang,Kecamatan Sumbang,Banyumas, Jawa Tengah

Kuliner, Prespektif, Ruang Kita

Muhammadiyah Luncurkan MieMu: Ikhtiar Peradaban Menuju Kedaulatan Pangan dan Kemandirian Umat

Muhammadiyah Luncurkan MieMu: Ikhtiar Peradaban Menuju Kedaulatan Pangan dan Kemandirian Umat Ketergantungan umat Islam terhadap suplai kebutuhan hidup dari pihak luar masih menjadi persoalan serius hingga hari ini. Mulai dari produk kebutuhan dapur sebagai penopang pangan keluarga, kebutuhan sumur dan sanitasi yang berkaitan dengan kamar mandi, hingga kebutuhan sekunder dan tersier lainnya, sebagian besar masih bergantung pada sistem produksi dan distribusi yang tidak sepenuhnya dikuasai umat sendiri. Ketergantungan ini bukan sekadar persoalan konsumsi, tetapi menyangkut kemandirian ekonomi, daya tawar sosial, dan arah masa depan umat. Ketika kebutuhan paling dasar—makan, kebersihan, dan kesehatan—dikendalikan pihak lain, maka umat berada pada posisi yang rentan dan mudah terombang-ambing oleh kepentingan pasar. Muhammadiyah membaca persoalan ini sebagai tantangan peradaban. Sejak awal berdirinya, Muhammadiyah tidak hanya hadir dalam dakwah lisan, pendidikan, dan pelayanan sosial, tetapi juga menjadikan kemandirian ekonomi sebagai bagian tak terpisahkan dari perjuangan. Karena dakwah yang kuat membutuhkan fondasi ekonomi yang kokoh, dan peradaban yang berdaulat hanya mungkin terwujud jika umat mampu memenuhi kebutuhan dasarnya sendiri. Dari Dapur Umat Menuju Kedaulatan Pangan Di tengah pesatnya inovasi dan persaingan industri mi instan, sebuah kesadaran baru lahir: pangan tidak boleh hanya dikuasai oleh logika pasar semata, tetapi harus berpihak pada kesehatan, keterjangkauan, dan keberlanjutan. Dari kesadaran inilah Muhammadiyah melangkah lebih jauh. Majelis Ekonomi dan Kewirausahaan (MEK) Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Surakarta meluncurkan MieMu, produk mi instan yang membawa misi lebih besar dari sekadar bisnis. MieMu hadir sebagai upaya nyata membangun kedaulatan pangan umat, dimulai dari produk dapur yang paling dekat dengan kehidupan sehari-hari masyarakat. Berbeda dengan mi instan pada umumnya, MieMu menggunakan bahan dasar tepung singkong atau modified cassava flour (mocaf). Pilihan ini mencerminkan keberpihakan pada pangan lokal dan kesehatan konsumen. Mocaf dikenal lebih rendah gula, bebas gluten, dan lebih ramah bagi tubuh, sekaligus menjadi alternatif strategis untuk mengurangi ketergantungan pada gandum impor. Ketua MEK PDM Surakarta, Umar Hasyim, menyampaikan bahwa kebutuhan akan mi sehat semakin luas seiring meningkatnya kesadaran masyarakat terhadap pola hidup sehat. “Keinginan menyediakan pangan yang sehat, berkualitas, dan terjangkau untuk masyarakat inilah yang menjadi dasar pemikiran awal lahirnya MieMu,” ujarnya. MieMu: Bisnis Bernilai, Dakwah Nyata Sekretaris Pelaksana sekaligus PIC MieMu, Nurul Khawari, menjelaskan bahwa ide bisnis ini berangkat dari kegelisahan kolektif di masa pandemi COVID-19. Saat banyak sektor ekonomi melemah, Muhammadiyah justru memikirkan usaha produktif yang mampu menghidupkan jejaring ekonomi umat dan memberi harapan baru. “Proses lahirnya MieMu cukup panjang, lebih dari enam bulan. Dimulai dari uji rasa bersama pimpinan Muhammadiyah, lalu perumusan model bisnis, produksi, hingga jaringan distribusi,” jelas Nurul. MieMu lahir bukan dari keputusan instan, melainkan dari proses kolektif yang matang dan terukur. Respons pasar pun di luar dugaan. Meski masih dalam tahap soft launching, permintaan datang dari berbagai daerah di Indonesia, bahkan hingga luar negeri. Lebih dari 2.000 orang mendaftar sebagai agen, dan sekitar 1.500 di antaranya telah aktif. Minat juga datang dari Sudan, Amerika, Malaysia, dan beberapa negara Afrika. Namun, MEK PDM Surakarta memilih langkah bertahap. Distribusi awal difokuskan di Solo Raya dan Jawa Tengah, kemudian diperluas ke Pulau Jawa sebelum menjangkau wilayah lain. Prinsipnya jelas: membangun fondasi produksi dan jaringan bisnis yang sehat, tertata, dan berkelanjutan. Dari Mi Instan ke Ekosistem Kebutuhan Umat Saat ini, MieMu tersedia dalam tiga varian—mi goreng, mi rebus rasa soto mi, dan mi rebus rasa ayam bawang—tanpa MSG, sehingga lebih aman dikonsumsi, termasuk oleh anak-anak. Namun MieMu sejatinya adalah pintu masuk menuju visi yang lebih besar. Muhammadiyah berharap, ke depan akan lahir berbagai produk lain untuk memenuhi kebutuhan dapur, kebutuhan sumur dan sanitasi yang berkaitan dengan kamar mandi, hingga kebutuhan sekunder dan tersier umat. Semua dibangun dalam satu ekosistem ekonomi yang berkeadilan, sehat, dan berpihak pada kemaslahatan bersama. MieMu bukan sekadar mi instan. Ia adalah simbol bahwa kemandirian itu mungkin, bahwa umat mampu berdiri di atas kaki sendiri, dan bahwa dari dapur sederhana bisa tumbuh kekuatan ekonomi yang menopang dakwah dan peradaban. Karena kedaulatan pangan bukan hanya tentang apa yang kita makan, tetapi tentang siapa yang menguasai produksi, dan untuk siapa kemakmuran itu diperjuangkan. SiS, Antarkita

Prespektif, Ruang Kita

ANTARKITA: Terhubung dan Kolaboratif

ANTARKITA: Terhubung dan Kolaboratif Dunia hari ini semakin terkoneksi, tetapi tidak selalu semakin dekat. Teknologi mempercepat perjumpaan, namun sering kali mengikis makna kebersamaan. Hubungan antarmanusia direduksi menjadi sekadar transaksi, sementara kolaborasi digantikan oleh kompetisi yang saling melemahkan. Dalam situasi inilah, ANTARKITA mengambil posisi yang berbeda. ANTARKITA lahir dari keyakinan sederhana bahwa keterhubungan sejati bukan hanya soal jaringan, tetapi soal kepercayaan, empati, dan kerja bersama. Terhubung berarti saling mengenal, saling memahami, dan saling menjaga. Terhubung berarti membangun relasi yang hidup, bukan sekadar bertukar layanan. Melalui pendekatan teknologi yang sederhana dan inklusif, ANTARKITA menghadirkan ruang perjumpaan antarmanusia—pengemudi, penumpang, pelaku UMKM, dan komunitas lokal—dalam satu ekosistem yang saling menguatkan. WhatsApp dipilih bukan semata karena praktis, tetapi karena ia sudah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari masyarakat. Di sana, komunikasi berlangsung natural, manusiawi, dan egaliter. Namun ANTARKITA tidak berhenti pada keterhubungan. ANTARKITA bertumbuh melalui kolaborasi. Kolaborasi antarindividu, antarusaha kecil, antarkomunitas, dan antarwilayah. ANTARKITA percaya bahwa kekuatan ekonomi rakyat tidak lahir dari dominasi satu pihak, melainkan dari sinergi banyak pihak yang bergerak bersama. Dalam ekosistem ANTARKITA, tidak ada yang diposisikan sebagai objek. Semua adalah subjek pembangunan. Pengemudi bukan sekadar mitra kerja, UMKM bukan sekadar pelengkap, dan pelanggan bukan sekadar target pasar. Semuanya adalah bagian dari keluarga besar yang tumbuh bersama, berbagi manfaat, dan saling menopang di tengah tantangan ekonomi. Kolaborasi yang dibangun ANTARKITA adalah kolaborasi yang berakar pada nilai gotong royong. Bukan saling mengalahkan, tetapi saling menguatkan. Bukan mengambil sebanyak-banyaknya, tetapi berbagi seluas-luasnya. Di sinilah ekonomi bertemu dengan etika, dan teknologi berpadu dengan kemanusiaan. ANTARKITA meyakini bahwa masa depan bukan milik mereka yang berjalan sendiri, tetapi milik mereka yang mampu berjalan bersama. Dengan terhubung dan kolaboratif, ANTARKITA berikhtiar menghadirkan ekosistem transportasi dan layanan yang adil, mandiri, dan berkelanjutan. Karena pada akhirnya, kemajuan sejati tidak diukur dari seberapa cepat kita bergerak, tetapi dari seberapa banyak yang bisa kita ajak tumbuh bersama. SiS,ANTARKITA

Info Wisata

Destinasi Unggulan Pokdarwis Kemutug Lor Baturraden, Curug Pinang dan Embung Kemutug Lor

Destinasi Unggulan Pokdarwis Kemutug Lor Baturraden,Curug Pinang dan Embung Kemutug Lor Indonesia dianugerahi kekayaan alam yang tak pernah habis untuk dikagumi. Di kaki Gunung Slamet, tepatnya di wilayah Baturraden, Kabupaten Banyumas, keindahan itu hadir dalam wujud yang sederhana namun memikat: Curug Pinang dan Embung Wisata Kemutug Lor. Dua destinasi ini menjadi kebanggaan sekaligus unggulan Pokdarwis Kemutug Lor, menghadirkan pengalaman wisata alam yang menyegarkan raga, menenangkan jiwa, dan sarat nilai edukasi. Curug Pinang Baturraden: Air Terjun Ramah Keluarga di Tepi Jalan Tersembunyi di balik rimbunnya pepohonan hijau, Curug Pinang Baturraden hadir sebagai oase alami yang menenangkan. Air terjun dengan ketinggian sekitar 6–7 meter ini mengalir tenang, jernih, dan dikelilingi vegetasi hijau yang asri. Gemericik air yang jatuh seolah menjadi musik alam yang menyambut setiap pengunjung yang datang. Berbeda dengan kebanyakan curug yang mengharuskan pengunjung berjalan jauh dan melewati jalur terjal, Curug Pinang justru memiliki keunggulan lokasi yang mudah dijangkau. Terletak di Dusun II, Karangsalam, Baturraden, curug ini berada tepat di tepi jalan, menjadikannya destinasi yang ramah untuk semua kalangan, termasuk keluarga dengan anak-anak. Curug Pinang memiliki dua area kolam alami. Bagian yang dangkal aman untuk anak-anak bermain air, sementara bagian yang lebih dalam berada di dekat pancuran air terjun dan biasa dimanfaatkan oleh pengunjung dewasa untuk berenang atau sekadar berendam. Airnya yang sejuk dan tenang menjadikan aktivitas bermain air di sini terasa menyenangkan sekaligus menyegarkan. Tak hanya menawarkan keindahan alam, Curug Pinang juga menghadirkan berbagai aktivitas seru. Pengunjung bisa berenang, berendam, bermain air, hingga bersantai di area tepi curug yang teduh. Bagi pecinta fotografi, spot-spot alami di sekitar air terjun menjadi latar sempurna untuk mengabadikan momen. Setelah puas bermain air, pengunjung dapat menikmati aneka kuliner lokal yang tersedia di sekitar lokasi. Mulai dari mie hangat, tempe mendoan khas Banyumas, hingga berbagai minuman segar, semuanya siap memanjakan lidah. Tersedia pula bangku dan meja beratap payung di tepi curug, menciptakan suasana yang adem dan cocok untuk healing. Harga tiket masuk Curug Pinang terbilang sangat terjangkau. Wisata ini buka setiap hari pukul 06.00–17.00 WIB dengan tiket masuk sekitar Rp10.000, parkir motor Rp2.000, serta fasilitas tambahan seperti sewa ban, tikar, celana, dan perlengkapan bermain air dengan harga ramah di kantong. Bagi pengunjung yang memiliki kemampuan berenang, area bawah air terjun juga kerap dimanfaatkan untuk belajar menyelam. Namun, kehati-hatian tetap diperlukan karena dasar kolam berbatu dan licin. Keselamatan tetap menjadi prioritas agar keindahan alam bisa dinikmati dengan aman. Embung Wisata Kemutug Lor “Jelita”: Teduh, Tenang, dan Edukatif   Tak jauh dari Curug Pinang, Embung Wisata Kemutug Lor “Jelita” hadir sebagai destinasi alternatif yang menawarkan ketenangan dan refleksi. Terletak di lereng Gunung Slamet, embung ini menyuguhkan panorama alam hijau dengan udara pegunungan yang sejuk dan bersih. Diresmikan pada 6 Maret 2024, embung ini masih terbilang baru namun langsung menarik perhatian wisatawan. Dengan luas sekitar 27.736 meter persegi, kawasan embung menjadi ruang terbuka yang ideal untuk berjalan santai, piknik, atau sekadar duduk menikmati semilir angin sambil memandangi hamparan alam. Lebih dari sekadar tempat rekreasi, Embung Kemutug Lor memiliki fungsi vital bagi warga sekitar. Embung ini menjadi cadangan air, menjaga pasokan air tanah, serta mendukung irigasi lahan pertanian seluas kurang lebih 3 hektar. Di sinilah nilai edukasi wisata hadir—pengunjung diajak memahami pentingnya air sebagai sumber kehidupan dan masa depan desa. Tiket masuk embung pun sangat terjangkau, yakni Rp5.000 untuk umum, Rp2.000 bagi warga lokal, dan parkir motor Rp2.000. Dengan biaya yang ringan, pengunjung bisa menikmati suasana tenang yang jauh dari hiruk-pikuk kota. Embung Wisata Kemutug Lor menjadi bukti bahwa pariwisata tidak harus selalu mewah. Keindahan alam, keteduhan, dan pesan pelestarian lingkungan justru menjadi daya tarik utamanya. Tempat ini cocok bagi siapa saja yang ingin berwisata sambil belajar, menenangkan diri, dan kembali menghargai alam. Dua Destinasi, Satu Cerita: Alam, Edukasi, dan Kebersamaan Curug Pinang dan Embung Kemutug Lor adalah dua wajah wisata alam yang saling melengkapi. Yang satu menghadirkan kesegaran dan keceriaan, yang lain menawarkan ketenangan dan refleksi. Keduanya menjadi bukti nyata peran Pokdarwis Kemutug Lor dalam mengelola potensi desa secara berkelanjutan, menggabungkan keindahan alam dengan manfaat sosial dan edukatif. Jika kamu berkunjung ke Baturraden, pastikan kedua destinasi ini masuk dalam daftar perjalananmu. Datanglah, nikmati alamnya, rasakan ketenangannya, dan pulanglah dengan cerita serta kesadaran baru tentang pentingnya menjaga alam bersama. SiS, Antarkita

Prespektif, Ruang Kita

Seandainya Kang Slamet Menyerah dengan Keadaan

Seandainya Kang Slamet Menyerah dengan Keadaan Seandainya Kang Slamet dulu menyerah dengan keadaan, barangkali hidup akan berjalan biasa saja—mengalir tanpa makna, berlalu tanpa jejak, dan berakhir tanpa cerita yang bisa dipelajari oleh sesama. Dunia mungkin tidak kehilangan apa-apa, tetapi kita kehilangan satu pelajaran penting: bahwa manusia tidak ditentukan oleh titik awalnya, melainkan oleh sikapnya terhadap kehidupan. Kang Slamet hari ini jelas bukan Kang Slamet dua puluh tahun yang lalu. Ia bukan sekadar versi yang lebih tua, melainkan versi yang ditempa. Ia adalah hasil dari kegagalan yang dihadapi, luka yang diterima, dan keputusan-keputusan berat yang dijalani dengan kesadaran. Kisah ini saya sampaikan kembali bukan untuk mengultuskan seseorang, tetapi untuk membuka ruang belajar bersama—bahwa hidup tidak pernah menjanjikan kemudahan, namun selalu menyediakan peluang bagi mereka yang mau bertahan. Dalam perjalanan hidupnya, Kang Slamet tidak hanya berhadapan dengan keterbatasan ekonomi, tetapi juga dengan keyakinan negatif yang membatasi diri (limiting belief). Dalam literasi psikologi dan NLP, limiting belief adalah kepercayaan bawah sadar yang membuat seseorang merasa “tidak mampu”, “tidak layak”, atau “tidak mungkin berhasil”, meskipun faktanya belum tentu demikian. Keyakinan ini sering kali lebih berbahaya daripada kemiskinan itu sendiri, karena ia mematikan keberanian sebelum perjuangan dimulai. Kang Slamet menjadi contoh nyata bahwa membebaskan diri dari limiting belief adalah langkah awal menuju perubahan hidup. Ia membuktikan bahwa seseorang bisa keluar dari belenggu keyakinan yang membatasi, bukan dengan menyalahkan keadaan, melainkan dengan memperbaiki cara pandang terhadap keadaan itu sendiri. Kang Slamet lahir bukan dari keluarga berada. Ia tumbuh dalam keluarga biasa, bahkan bisa dikatakan kekurangan. Kondisi ekonomi memaksanya mengambil keputusan yang sangat berat: berhenti kuliah. Pada titik itu, pendidikan terasa seperti kemewahan, bukan kebutuhan yang bisa dipertahankan. Banyak mimpi yang harus ditangguhkan, banyak harapan yang harus dipendam. Di usia yang lebih matang, Kang Slamet baru menyadari sebuah ironi kehidupan. Ada teman-temannya yang secara ekonomi jauh lebih miskin darinya, namun mampu bertahan, menyelesaikan kuliah, bahkan lulus dengan prestasi membanggakan. Kesadaran ini tidak membuatnya menyesal, tetapi menjadi refleksi mendalam: bahwa kemiskinan bukan satu-satunya faktor kegagalan. Yang sering kali lebih menentukan adalah keberanian untuk tetap percaya pada diri sendiri di tengah keterbatasan. Tentang siapa teman itu dan bagaimana kisahnya, biarlah menjadi cerita tersendiri di waktu yang lain. Setelah meninggalkan bangku kuliah, Kang Slamet benar-benar berhadapan dengan realitas hidup. Tidak ada lagi ruang aman bernama teori, tidak ada lagi jadwal kuliah yang teratur. Yang ada hanyalah tuntutan bertahan hidup. Dunia nyata tidak menanyakan ijazah, tetapi menuntut ketangguhan. Berbagai profesi ia jalani tanpa banyak pertimbangan gengsi. Dari tukang sayur yang harus bangun dini hari, berdagang ban bekas yang penuh ketidakpastian, hingga menjual aksesori kecantikan yang menuntut kepekaan pasar. Semua ia jalani dengan satu prinsip: bekerja jujur dan terus bergerak. Perjalanan ini tentu tidak singkat, tidak mudah, dan jauh dari kata nyaman. Dalam literasi pengembangan diri, fase ini disebut sebagai zona ujian karakter—masa di mana seseorang diuji bukan oleh kesulitan semata, tetapi oleh godaan untuk menyerah. Alasan untuk berhenti selalu tersedia: lelah, rugi, diremehkan, gagal, atau merasa tidak adil. Namun semua alasan itu hanya akan berkuasa jika menyerah dijadikan pilihan. Kang Slamet memilih jalan yang berbeda. Ia memilih untuk terus berjuang dengan afirmasi positif—menanamkan keyakinan bahwa hidup bisa diperbaiki, bahwa hari esok bisa lebih baik dari hari ini, dan bahwa setiap usaha yang jujur tidak akan sia-sia. Dalam perspektif NLP, afirmasi bukan sekadar kata-kata, melainkan program ulang pikiran agar selaras dengan tujuan dan harapan. Salah satu kekuatan utama Kang Slamet adalah kemampuannya membangun relasi. Dalam literasi kewirausahaan, ini dikenal sebagai modal sosial (social capital)—kepercayaan, empati, dan hubungan antarmanusia yang bernilai jauh lebih besar daripada modal finansial. Kang Slamet mudah membangun simpati pembeli bukan karena strategi pemasaran yang rumit, melainkan karena ketulusan. Ia peduli pada konsumennya. Ia mendengar cerita mereka, memahami kebutuhan mereka, dan memperlakukan mereka sebagai sesama manusia. Kang Slamet tidak berdiri sebagai penjual yang merasa lebih tahu, tetapi melebur sebagai bagian dari kehidupan konsumennya. Dari sikap inilah kepercayaan tumbuh, dan dari kepercayaan itulah keberlangsungan usaha terbangun. Dalam literasi bisnis modern, pendekatan ini dikenal sebagai human-centered business—usaha yang berakar pada empati dan nilai kemanusiaan. Tanpa disadari, Kang Slamet telah mempraktikkan prinsip ini jauh sebelum istilahnya populer. Kisah Kang Slamet mengajarkan kita bahwa perubahan hidup tidak selalu dimulai dari pendidikan tinggi, modal besar, atau koneksi elit. Perubahan sering kali dimulai dari keberanian untuk membongkar keyakinan yang membatasi, menggantinya dengan keyakinan yang memberdayakan, serta kesediaan untuk terus belajar dari kehidupan itu sendiri. Seandainya Kang Slamet dulu menyerah dengan keadaan, mungkin ia tetap hidup, tetapi tidak benar-benar bertumbuh. Dan dari kisah inilah kita belajar: keadaan boleh membatasi ruang gerak, tetapi keyakinan dan karakterlah yang menentukan arah hidup seseorang. SiS, Antarkita

Scroll to Top