Bersandar Sepenuhnya kepada Allah: Istiqomah dalam Doa, Teguh dalam Ikhtiar, Tenang dalam Tawakal
Oleh SiS, antarkita
Hidup adalah perjalanan panjang yang dipenuhi ujian, harapan, dan ketidakpastian. Tidak ada satu pun manusia yang mampu memastikan secara mutlak bagaimana masa depannya akan berjalan. Rencana bisa berubah, harapan bisa tertunda, dan usaha kadang belum berbuah sesuai keinginan. Di titik-titik itulah iman diuji: kepada siapa hati ini benar-benar bersandar?
Seorang mukmin diajarkan untuk bergantung sepenuhnya hanya kepada Allah SWT. Bukan kepada jabatan, bukan kepada manusia, bukan kepada kekuatan materi, melainkan kepada Dzat Yang Maha Mengatur seluruh semesta. Ketika hati bersandar kepada Allah, ia tidak mudah goyah oleh perubahan keadaan. Ia mungkin sedih, tetapi tidak putus asa. Ia mungkin lelah, tetapi tidak kehilangan arah.
Allah menegaskan dalam Al-Qur’an (QS. At-Talaq: 3), “Barang siapa bertawakal kepada Allah, niscaya Allah akan mencukupkan (keperluannya).” Ayat ini bukan sekadar kalimat penghibur. Ia adalah prinsip hidup. Tawakal adalah jaminan kecukupan dari Allah—bukan selalu kecukupan sesuai keinginan kita, tetapi kecukupan sesuai kebutuhan dan kebaikan menurut-Nya.
Namun tawakal bukan berarti berhenti berusaha. Islam adalah agama amal, agama gerak, agama ikhtiar. Rasulullah ﷺ memberi teladan yang sangat jelas. Dalam hadis yang diriwayatkan oleh At-Tirmidzi, beliau bersabda: “Ikatlah untamu, kemudian bertawakallah.” Pesan ini mengandung keseimbangan luar biasa: manusia wajib melakukan usaha terbaiknya, lalu menyerahkan hasilnya kepada Allah.
Ikhtiar yang benar adalah ikhtiar yang berada di jalan halal. Di tengah dunia yang menawarkan jalan pintas dan keuntungan instan, integritas menjadi ujian tersendiri. Terkadang godaan terbesar bukanlah kegagalan, melainkan keberhasilan yang datang melalui cara yang tidak diridhai Allah. Padahal keberkahan hanya tumbuh dari proses yang bersih.
Allah juga mengingatkan dalam Al-Qur’an (QS. Al-Baqarah: 286), “Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya.” Artinya, setiap ujian yang datang telah diukur dengan kemampuan kita untuk menghadapinya. Tidak ada kesulitan yang sia-sia. Setiap tantangan adalah sarana pendewasaan iman.
Istiqomah menjadi kunci dalam perjalanan ini. Istiqomah bukan sekadar semangat sesaat, tetapi konsistensi dalam ketaatan. Ia adalah kemampuan untuk tetap berdoa meski jawaban belum tampak. Tetap berusaha meski hasil belum terlihat. Tetap percaya meski keadaan belum berubah.
Dalam hadis riwayat Muslim, Rasulullah ﷺ menjelaskan bahwa doa seorang hamba akan dikabulkan selama ia tidak tergesa-gesa dan berkata, “Aku sudah berdoa, tetapi belum dikabulkan.” Ini menunjukkan bahwa kesabaran adalah bagian dari proses pengabulan doa itu sendiri. Bisa jadi Allah langsung mengabulkan, bisa jadi ditunda karena waktu terbaik belum tiba, atau diganti dengan sesuatu yang lebih baik.
Kita sering kali ingin pertolongan datang sesuai skenario kita: cepat, jelas, dan sesuai harapan. Tetapi Allah Maha Mengetahui apa yang tidak kita ketahui. Dalam Al-Qur’an (QS. Al-Baqarah: 216) disebutkan, “Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu.” Ayat ini mengajarkan kerendahan hati spiritual: bahwa tidak semua yang kita anggap buruk benar-benar buruk, dan tidak semua yang kita anggap baik benar-benar membawa kebaikan jangka panjang.
Bersandar kepada Allah melahirkan ketenangan batin. Ketika hati sudah yakin bahwa Allah adalah sebaik-baik Pengatur, maka kegagalan tidak menghancurkan, dan keberhasilan tidak membuat sombong. Kita belajar bahwa tugas manusia adalah memperbaiki niat, memaksimalkan usaha, dan menjaga kehalalan proses. Adapun hasil, waktu, dan cara datangnya pertolongan adalah wilayah ketetapan Allah SWT.
Pertolongan itu bisa datang melalui orang yang tidak kita sangka. Bisa datang melalui pintu yang sebelumnya tertutup. Bisa pula datang dalam bentuk kekuatan hati untuk tetap sabar dan tegar. Kadang pertolongan bukan berupa perubahan situasi, tetapi perubahan cara pandang yang membuat kita mampu melewati situasi itu dengan lebih kuat.
Maka tetaplah bersandar dan bergantung hanya kepada Allah SWT. Perbanyak doa dalam keheningan malam. Perbaiki ikhtiar dalam keseharian. Jaga integritas dalam setiap langkah. Jangan lelah berjalan di jalan yang halal meski terasa lambat. Jangan goyah meski jawaban belum tampak.
Biarlah Allah SWT yang menentukan seperti apa, bagaimana, dan kapan pertolongan itu datang. Karena ketika pertolongan datang dari-Nya, ia selalu tepat waktu, tepat cara, dan penuh keberkahan.
Pada akhirnya, hidup bukan tentang seberapa cepat kita sampai, tetapi tentang seberapa lurus kita berjalan. Dan selama hati ini tetap bersandar kepada Allah, kita tidak pernah benar-benar sendirian dalam perjalanan.