Antarkita

Desember 2025

Prespektif, Ruang Kita

Tanpa Modal Duit, Tapi Untung Lebih Besar (Kisah Nyata, Bukan Asumsi).

Tanpa Modal Duit, Tapi Untung Lebih Besar (Kisah Nyata, Bukan Asumsi). Judul ini sering bikin orang refleks mengernyitkan dahi. Sebagian langsung senyum kecut, sebagian lagi nyeletuk pelan, “Wah… ini pasti teori.” Padahal tidak. Judul ini bukan asumsi, bukan rekaan, dan bukan pula bualan motivasi. Ini kisah nyata yang terjadi di lapangan. Dan sejak awal perlu ditegaskan: tulisan ini tidak menafikan pentingnya modal duit dalam bisnis. Uang tetap penting. Uang tetap dibutuhkan. Namun judul ini lahir sebagai langkah strategis, khususnya bagi orang-orang yang ingin berbisnis tetapi terkendala modal duit—tidak cukup untuk produksi, tidak cukup untuk belanja barang, atau tidak cukup untuk sekadar mulai. Karena faktanya, ketika seseorang terkendala modal duit, ia sebenarnya sedang menghadapi dua masalah sekaligus. Masalah pertama: mencari modal bukan perkara mudah. Masalah kedua: ketika modal sudah ada, muncul ketakutan baru—apakah bisnis ini aman, apakah pasarnya ada, apakah risikonya bisa dikendalikan. Dan kita semua paham, bisnis pasti berisiko, baik teknis maupun non-teknis. Maka tidak heran jika banyak orang akhirnya berhenti di tahap “nanti dulu”. Sekarang mari kita masuk ke kisah nyata yang sederhana, tapi diam-diam membuka mata. Pak Aryo, Pak Bejo, dan Susu yang Langka Cerita ini disampaikan oleh Pak Aryo (nama samaran). Pak Aryo memiliki produk susu yang pada satu waktu menjadi barang langka untuk suplai dapur MBG. Permintaan ada, pasar jelas, kebutuhan nyata. Namun Pak Aryo tidak selalu memasarkan produknya langsung ke dapur. Ada jalur distribusi lain yang ia manfaatkan, salah satunya melalui temannya, sebut saja Pak Bejo. Awalnya tampak biasa saja. Namun saat deal order terjadi, barulah muncul pembagian keuntungan yang—jujur saja—cukup bikin dahi berkerut sekaligus senyum. Mari kita ilustrasikan secara sederhana. Ilustrasi Angka yang Bikin Mikir Pak Aryo: Jumlah order: 500 karton Harga per karton: Rp100.000 Total nilai barang: Rp50.000.000 Tanggung jawab: modal duit, stok barang, dan pengiriman Keuntungan Pak Aryo: Rp2.000 per karton Total keuntungan: 500 × Rp2.000 = Rp1.000.000 Jika dilihat secara persentase: Modal barang: Rp50.000.000 Keuntungan: Rp1.000.000 ➡️ Margin keuntungan ±2% Sekarang kita lihat Pak Bejo. Pak Bejo: Tidak menyediakan barang Tidak keluar modal untuk produksi Tidak menanggung risiko stok Tidak mengurus pengiriman Modal Pak Bejo hanya: Transport dan komunikasi: Rp100.000 Keuntungan Pak Bejo: Rp1.000 per karton Total keuntungan kotor: 500 × Rp1.000 = Rp500.000 Keuntungan bersih Pak Bejo: Rp500.000 − Rp100.000 = Rp400.000 Sekarang hitung persentasenya: Modal: Rp100.000 Untung bersih: Rp400.000 ➡️ Return 400% Coba berhenti sebentar. Tarik napas. Baca ulang pelan-pelan. Pak Aryo menggerakkan modal puluhan juta, menanggung risiko barang dan distribusi, mendapat margin sekitar 2%. Pak Bejo keluar rumah, naik kendaraan, ngobrol, jaga relasi, lalu pulang dengan keuntungan 400% dari modalnya. Unik? Iya. Lucu? Lumayan. Masuk akal? Ternyata… iya. Pak Aryo sendiri bercerita sambil tertawa: “Ya mau gimana lagi, memang rezeki sudah ada bagiannya.” Pelajaran Penting yang Sering Terlewat Kisah ini bukan untuk membandingkan siapa lebih hebat. Ini bukan soal siapa lebih pintar. Ini soal posisi dan peran. Banyak orang merasa belum bisa berbisnis karena tidak punya modal duit. Padahal sering kali yang kurang bukan modal, melainkan kesadaran akan posisi yang paling aman dan realistis. Ada orang yang cocok di produksi. Ada yang kuat di distribusi. Ada yang unggul di relasi dan komunikasi. Pak Bejo tidak memaksakan diri menjadi produsen. Ia masuk dari pintu yang memang terbuka baginya. Risikonya kecil, tekanannya rendah, dan untungnya—untuk ukuran modalnya—sangat masuk akal. Untung Lebih Besar Itu Tidak Selalu Soal Angka Besar Judul “untung lebih besar” bukan berarti nominalnya selalu paling besar. Kadang yang lebih besar justru: Persentase keuntungan Ketenangan pikiran Minim risiko Beban mental yang ringan Pak Bejo mungkin tidak terlihat wah di atas kertas, tetapi secara rasional posisinya sangat strategis. Dan benar kata Pak Aryo sambil ketawa kecil: “Rezeki memang sudah ada bagiannya.” Tugas kita bukan membandingkan bagian orang lain, melainkan menemukan bagian kita sendiri dan menjalaninya dengan cerdas. Semoga kisah ini bisa menjadi inspirasi untuk diterapkan di banyak model bisnis lainnya. SiS Antarkita    

Prespektif, Ruang Kita

Reset Indonesia: Membicarakan Ulang Arah Bangsa dari Perspektif Jurnalis.

Reset Indonesia: Membicarakan Ulang Arah Bangsa dari Perspektif Jurnalis. Indonesia kerap dibicarakan dari pusat kekuasaan, dari grafik pertumbuhan ekonomi, dan dari pidato-pidato penuh optimisme. Namun, buku Reset Indonesia: Gagasan Tentang Indonesia Baru justru mengajak kita melihat Indonesia dari tempat yang jarang disorot: dari pinggiran, dari desa-desa yang terhimpit kepentingan, dari masyarakat yang terdorong keluar dari ruang hidupnya sendiri. Buku ini diluncurkan di Pos Bloc, Sawah Besar, Jakarta, Sabtu (4/10/2025), sebagai hasil perenungan panjang empat jurnalis lintas generasi atas perjalanan bangsa. Karya ini bukan sekadar kumpulan catatan perjalanan. Ia lahir dari tiga ekspedisi jurnalistik besar yang berlangsung selama 15 tahun: Ekspedisi Zamrud Khatulistiwa (2009), Indonesia Biru (2015), dan Ekspedisi Indonesia Baru (2022–2023). Dalam perjalanan panjang itu, para jurnalis menembus batas geografis dan sosial, menyusuri laut, hutan, kampung adat, hingga wilayah konflik. Mereka membawa pulang bukan hanya cerita, tetapi juga bukti visual berupa 12 terabyte video dan 80 ribu frame foto yang merekam wajah Indonesia apa adanya. Empat penulis buku ini berasal dari generasi yang berbeda: Farid Gaban (Baby Boomer), Dandhy (Generasi X), Yusuf Priambodo (Milenial), dan Benaya Harobu (Generasi Z). Perbedaan usia tidak memisahkan mereka, justru menyatukan perspektif lintas zaman tentang satu persoalan yang sama: arah Indonesia yang kian menjauh dari keadilan sosial. Mereka menuliskan Indonesia dari pinggiran, dari suara warga yang sering kalah oleh kebijakan, dan dari realitas kesehatan, lingkungan, serta ekonomi yang dialami langsung oleh masyarakat. Bagi Benaya Harobu, Reset Indonesia adalah ekspresi cinta kepada tanah air—cinta yang diuji di lapangan. Ia menyaksikan langsung konflik di berbagai daerah, dari Jawa, Bali, Lombok, hingga Papua. Setiap persinggahan di wilayah konflik membuat rasa cintanya kian tergerus. Namun, kegelisahan itu tidak memadamkan optimisme, justru melahirkan dorongan untuk bersuara. Buku ini, baginya, adalah puncak keresahan generasi muda yang merasa masa depannya semakin sempit. Benaya menyoroti persoalan mendasar yang menghantui generasi Z dan milenial: akses terhadap tempat tinggal. Puluhan juta anak muda hidup dengan kenyataan pahit bahwa memiliki rumah hanyalah mimpi. Harga tanah melambung tak masuk akal, sementara penghasilan jauh tertinggal. Ketimpangan kepemilikan lahan menjadi simbol rusaknya sistem yang seharusnya menjamin keadilan. Tanah, sebagai sumber kehidupan, justru dikuasai segelintir elite, meninggalkan mayoritas rakyat tanpa ruang hidup yang layak. Keresahan itu sejalan dengan pandangan Yusuf Priambodo yang mengibaratkan Indonesia sebagai rumah tua berusia 80 tahun kemerdekaan: bocor di banyak sisi, tetapi hanya ditambal seadanya. Dari perjalanannya, Yusuf menemukan potret nyata ketimpangan di Pulau Komodo. Suku Ata Modo, masyarakat adat yang telah lama hidup berdampingan dengan alam, harus kehilangan cara hidupnya setelah wilayah mereka dijadikan taman nasional dan destinasi wisata kelas dunia. Dari pemburu dan nelayan, mereka dipaksa beralih menjadi penjual cenderamata murah di tanah leluhur sendiri. Ironi pembangunan semakin terasa di Labuan Bajo. Kota yang dipromosikan sebagai “Bali Baru” itu menyimpan kenyataan pahit bagi warganya. Air bersih, kebutuhan paling dasar manusia, justru menjadi barang mahal. Warga harus membeli air setiap hari, sementara hotel-hotel mewah di sekitarnya menikmati kolam renang yang tak pernah kering. Kemewahan berdiri di atas keterbatasan warga lokal, mempertegas jurang ketimpangan yang kian menganga. Dari Trenggalek, Yusuf membawa kisah Pak Nur Kawit, seorang nelayan yang menolak rencana tambang emas seluas 12 ribu hektar. Baginya, hutan dan laut adalah “emas hijau” yang memberi kehidupan bagi banyak orang, bukan “emas kuning” yang hanya menguntungkan segelintir pihak. Pandangan sederhana itu mencerminkan kebijaksanaan rakyat yang sering diabaikan dalam kebijakan pembangunan. Reset Indonesia bukan buku yang menawarkan solusi instan atau janji manis. Ia adalah ajakan untuk berhenti sejenak, bercermin, dan berani mengakui bahwa arah pembangunan bangsa perlu ditinjau ulang. Dari pinggiran, empat jurnalis lintas generasi ini mengingatkan bahwa Indonesia bukan sekadar proyek ekonomi, melainkan ruang hidup bersama yang harus dijaga keadilannya. Pertanyaannya kini bukan lagi apakah Indonesia perlu di-reset, melainkan apakah kita cukup berani untuk melakukannya. SiS,Antarkita

Prespektif, Ruang Kita

Hanya Kegaduhan

  Hanya Kegaduhan Bencana banjir yang melanda Sumatera belum benar-benar selesai. Air memang surut di beberapa wilayah, tetapi luka sosial, ekonomi, dan psikologis rakyat masih menganga. Rumah hancur, sawah gagal panen, akses jalan terputus, layanan kesehatan terganggu, dan ribuan warga hidup dalam ketidakpastian. Dalam situasi seperti ini, negara seharusnya bekerja dalam senyap—cepat, fokus, dan tanpa gaduh. Namun yang justru muncul ke ruang publik adalah kegaduhan baru. Belum selesai urusan kemanusiaan, Perpol Nomor 10 Tahun 2025 disahkan. Sebuah regulasi yang bukan hanya memantik kontroversi, tetapi juga membuka kembali perdebatan lama tentang batas kewenangan, supremasi sipil, dan arah reformasi institusi negara. Literasi yang muncul dari berbagai sumber memperlihatkan satu benang merah: Perpol ini tidak lahir di waktu yang tepat. Ombudsman RI secara tegas mengingatkan bahwa Perpol 10/2025 bukan sekadar urusan internal kepolisian. Ia berdampak langsung pada tata kelola pelayanan publik. Ketika anggota Polri aktif ditempatkan di jabatan sipil, muncul persoalan serius: siapa yang bertanggung jawab jika terjadi maladministrasi? Bagaimana mekanisme pengawasan? Dan yang paling krusial, bagaimana menjamin pelayanan publik tetap profesional, transparan, dan bebas dari konflik kewenangan? Sementara itu, Hukumonline mengurai polemik dari sisi hukum tata negara. Banyak pakar menilai Perpol 10/2025 berpotensi bertentangan dengan putusan Mahkamah Konstitusi yang menegaskan pemisahan tegas antara aparat keamanan aktif dan jabatan sipil. Dalam negara hukum, regulasi di bawah undang-undang tidak boleh melampaui atau menyiasati putusan konstitusi. Ketika itu terjadi, yang terancam bukan hanya legalitas, tetapi juga legitimasi negara. Masalahnya bukan sekadar soal pro dan kontra. Masalahnya adalah prioritas. Di saat rakyat membutuhkan kehadiran negara secara penuh untuk penanganan bencana, energi elite justru tersedot pada produksi kebijakan yang memicu polemik. Negara terlihat lebih cepat mengurus aturan, daripada mengurus korban. Kalian mengatakan sudah bekerja. Kalian beralasan keterbatasan sarana, keterbatasan anggaran, keterbatasan logistik, dan keterbatasan akses wilayah. Alasan-alasan itu mungkin masuk akal di meja birokrasi. Tetapi di lapangan, alasan itu terdengar seperti pembenaran. Apakah kalian melihat bagaimana relawan rakyat bekerja? Tanpa anggaran negara. Tanpa fasilitas lengkap. Tanpa jaminan keselamatan. Mereka datang membawa dana sendiri, peralatan sendiri, dan tekad sendiri. Mereka tidak bertanya siapa berwenang, siapa berkuasa. Mereka hanya tahu satu hal: jika tidak bergerak sekarang, korban akan bertambah. Di tengah kelambanan sistem, Muhammadiyah melalui MDMC menunjukkan wajah lain dari Indonesia. Ketika komunikasi lumpuh dan koordinasi bantuan terhambat, mereka bergerak cepat memulihkan jaringan menggunakan Starlink. Ini bukan sekadar soal teknologi, tetapi soal cara berpikir: melihat masalah, mengambil keputusan, dan langsung bertindak. Tidak banyak omong. Tidak sibuk pencitraan. Tidak menunggu panggung. Literasi media juga mencatat bahwa sebagian besar tenaga kesehatan dan relawan di wilayah terdampak adalah relawan sipil. Negara hadir, tetapi sering kali datang belakangan. Yang pertama tiba justru masyarakat sipil. Lebih jauh, Tempo mencatat dampak sosial-politik yang jauh lebih berbahaya. Lambannya penanganan bencana memicu kekecewaan mendalam, bahkan melahirkan kembali narasi lama seperti “Aceh Merdeka”. Ini bukan semata soal separatisme, melainkan simbol krisis kepercayaan. Ketika negara gagal hadir di saat paling genting, ingatan kolektif tentang ketidakadilan masa lalu ikut bangkit. Ini alarm keras. Bukan untuk ditakuti, tetapi untuk disadari. Sementara di ruang publik, rakyat disuguhi pernyataan pejabat: akan datang, sedang direncanakan, belum terlaksana sampai jam sekian. Bahasa birokrasi ini mungkin rapi di laporan, tetapi bagi korban bencana, bahasa itu terasa dingin. Rakyat tidak hidup dalam jadwal rapat. Mereka hidup dalam waktu darurat, di mana satu hari tanpa bantuan bisa berarti kehilangan segalanya. Masalah terbesar kita hari ini bukan hanya lambatnya kerja, tetapi hilangnya empati struktural. Negara tampak lebih sibuk mengelola kewenangan daripada mengelola penderitaan. Lebih sigap membahas regulasi daripada memastikan komunikasi pulih, dapur umum berjalan, dan anak-anak bisa tidur dengan tenang. Kegaduhan ini bukan datang dari rakyat. Kegaduhan lahir dari kebijakan yang tidak peka terhadap konteks penderitaan. Jika negara ingin kembali dipercaya, maka pelajarannya sederhana tetapi berat: Tunda kebijakan yang tidak mendesak di tengah krisis. Fokuskan seluruh energi pada penyelamatan manusia. Hentikan politik alasan, mulai politik kehadiran. Belajarlah dari masyarakat sipil yang bekerja tanpa kuasa, tetapi penuh tanggung jawab. Karena pada akhirnya, rakyat tidak menilai negara dari seberapa banyak aturan yang diterbitkan, tetapi dari seberapa cepat dan seberapa tulus negara hadir saat rakyat jatuh. Jika pelajaran ini terus diabaikan, maka benar adanya: yang tersisa bukan solusi, melainkan kegaduhan. Sis Antarkita

Kuliner

Pisang Kembung Gus Pur, Camilan yang Bikin Gak Berhenti Ngunyah

Pisang Kembung Gus Pur, Camilan yang Bikin Gak Berhenti Ngunyah Ada kalanya kita hanya ingin camilan sederhana, tapi rasanya bisa bikin senyum muncul tanpa sadar. Pisang Kembung Gus Pur hadir dari dapur rumahan dengan rasa manis dan gurih yang pas, menghadirkan sensasi renyah di luar namun lembut di dalam. Sekali gigit, tangan rasanya ingin terus mengambil potongan berikutnya. Camilan ini pas dinikmati di berbagai suasana. Saat sore santai, menemani obrolan keluarga, atau jadi teman setia saat rebahan. Rasanya ringan, tidak bikin enek, tapi justru bikin sulit berhenti mengunyah. Inilah kelezatan jajanan tradisional yang tetap relevan di segala zaman. Pisang kembung juga menjadi pilihan tepat bagi pecinta olahan pisang yang praktis dan tidak ribet. Dengan resep yang sederhana dan antigagal, siapa pun sebenarnya bisa mencoba membuatnya sendiri di rumah. Namun, bagi kamu yang sedang mager atau ingin langsung menikmati tanpa repot, Gus Pur siap melayani pesanan secara online.   Menariknya, Pisang Kembung Gus Pur hadir dengan banyak pilihan rasa. Mulai dari original, cokelat, keju, tiramisu, hingga matcha. Ada juga varian spesial dua topping serta pilihan custom sesuai selera, jadi setiap orang bisa menemukan rasa favoritnya. Soal harga, tak perlu khawatir. Dengan harga mulai 7 ribu rupiah, camilan nikmat ini ramah di kantong siapa saja. Jika ingin datang langsung, kamu bisa menemukan Pisang Kembung Gus Pur di 📍 Perumahan Kedungwaringin Blok B No. 123 Atau lebih praktis lagi, lakukan delivery order secara online melalui: 👉 antarkita.com Pisang Kembung Gus Pur bukan sekadar camilan, tapi teman kecil yang menghadirkan rasa hangat di setiap momen. 🍌✨

Prespektif, Ruang Kita

KETIKA KLAIM KEBENARAN MENIMBULKAN PERPECAHAN: Kembalilah kepada Makna Lā Ilāha Illallāh

KETIKA KLAIM KEBENARAN MENIMBULKAN PERPECAHAN: Kembalilah kepada Makna Lā Ilāha Illallāh (Sri Ningsih, S. Pd, M. Si)   Dari pengamatan yang jujur, sering kali tampak bahwa manusia lebih mudah menyukai perpecahan daripada persatuan. Setiap perbedaan—baik di dunia nyata maupun di ruang maya—nyaris selalu berujung pada permusuhan. Ironisnya, bukti telah ditampakkan, hujjah sudah ditegakkan, namun sebagian orang tetap menutup mata dan hati, mempertahankan keyakinan yang keliru dengan sikap keras kepala.   Inilah yang membuat klaim-klaim kebenaran sulit dipertemukan, bukan karena kebenaran itu tidak jelas, tetapi karena nafsu, fanatisme kelompok, dan kesombongan intelektual telah menghalangi hati dari petunjuk.   Makna Lā Ilāha Illallāh sebagai Titik Temu   Dalam perenungan yang dalam, ketika semua argumentasi menemui jalan buntu (deadlock), maka rujukan paling jujur dan lurus adalah makna Lā ilāha illallāh.   Bukan sekadar ucapan, tetapi penafian seluruh bentuk pengkultusan:   pengkultusan kelompok   pengkultusan tokoh   pengkultusan madzhab   pengkultusan ego dan pendapat diri   dan penetapan bahwa hanya Allah satu-satunya yang berhak ditaati secara mutlak.   Allah berfirman:   إِنِ الْحُكْمُ إِلَّا لِلَّهِ “Menetapkan hukum itu hanyalah hak Allah.” (QS. Yusuf: 40)   Jika ini benar-benar dipahami, maka fanatisme buta akan runtuh dengan sendirinya.   Rasulullah ﷺ telah memberikan peringatan yang sangat tegas, tanpa ruang tafsir yang kabur:   لَيْسَ مِنَّا مَنْ دَعَا إِلَىٰ عَصَبِيَّةٍ، وَلَيْسَ مِنَّا مَنْ قَاتَلَ عَلَىٰ عَصَبِيَّةٍ، وَلَيْسَ مِنَّا مَنْ مَاتَ عَلَىٰ عَصَبِيَّةٍ   “Bukan dari golongan kami orang yang menyeru kepada fanatisme golongan, bukan dari golongan kami orang yang berperang karena fanatisme golongan, dan bukan dari golongan kami orang yang mati di atas fanatisme golongan.” (HR. Abu Dawud)   Kalimat “laysa minnā” bukan perkara ringan. Ini adalah vonis keras dari Nabi ﷺ bagi siapa pun yang berjuang bukan karena kebenaran, melainkan karena kelompoknya.   Lebih menyedihkan lagi, ketika realitas umat yang rusak, agama justru dituduh gagal membangun masyarakat. Padahal:   aturan halal–haram sudah jelas   perintah dan larangan sangat rinci   akhlak dan keadilan ditekankan secara menyeluruh   Allah menegaskan:   وَمَا كَانَ اللَّهُ لِيَظْلِمَهُمْ وَلَٰكِن كَانُوا أَنفُسَهُمْ يَظْلِمُونَ   “Allah tidak menzalimi mereka, tetapi merekalah yang menzalimi diri mereka sendiri.” (QS. At-Taubah: 70)   Maka yang gagal bukan agamanya, melainkan SDM yang merasa pintar, tetapi enggan tunduk kepada kebenaran.   Mengaku Paling Sunnah, Tapi Gemar Mentahdzir   Fenomena lain yang melelahkan adalah munculnya kelompok-kelompok kajian yang:   mengklaim paling Sunnah   mudah membid’ahkan   gemar mentahdzir   sibuk menjatuhkan sesama Muslim   Padahal Allah telah mengingatkan:   فَلَا تُزَكُّوا أَنفُسَكُمْ ۖ هُوَ أَعْلَمُ بِمَنِ اتَّقَىٰ “Maka janganlah kamu menganggap dirimu suci. Dialah yang paling mengetahui siapa yang bertakwa.” (QS. An-Najm: 32)   Dan Rasulullah ﷺ bersabda:   إِذَا قَالَ الرَّجُلُ هَلَكَ النَّاسُ فَهُوَ أَهْلَكُهُمْ   “Jika seseorang berkata: ‘Manusia telah binasa’, maka dialah yang paling binasa.” (HR. Muslim)   Dakwah yang benar menghidupkan hati, bukan memuaskan ego kelompok.   Perpecahan bukan karena kurangnya dalil, melainkan karena hati yang enggan tunduk.   Jika umat ini benar-benar kembali kepada: Al-Qur’an, Sunnah, dan makna Lā ilāha illallāh maka persatuan akan lahir secara alami bukan persatuan semu di atas kepentingan,tetapi persatuan di atas kebenaran.

Prespektif, Ruang Kita

Haruskah Selalu Bermodal Uang? Menata Ulang Cara Pandang Bisnis dalam Tauhid Rezeki

Haruskah Selalu Bermodal Uang? Menata Ulang Cara Pandang Bisnis dalam Tauhid Rezeki Salah satu kegelisahan terbesar yang sering saya temui di tengah masyarakat adalah anggapan bahwa bisnis tidak akan pernah bisa berjalan tanpa modal uang. Banyak orang terjebak dalam pikiran ini. Mereka menunda memulai usaha, merasa tidak pantas bermimpi, bahkan kehilangan kepercayaan diri, hanya karena belum memiliki dana. Kalimat yang sering terdengar adalah: “Bisnis saya tidak jalan karena belum ada modal.” Namun ketika ditanya lebih dalam—“Jika modal uang sudah ada, apakah Anda bisa memastikan bisnis pasti berjalan?”—jawaban tegas justru jarang muncul. Kebanyakan terdiam. Ada yang ragu, ada yang mengakui pernah gagal meski modal cukup, bahkan tidak sedikit yang trauma karena sudah mengeluarkan uang namun hasilnya nihil. Fakta di lapangan membuktikan bahwa uang tidak pernah menjadi jaminan keberhasilan. Banyak orang yang sudah punya modal besar, tetapi bingung menentukan jenis usaha. Ada pula yang sudah memulai, namun akhirnya rugi karena salah memilih partner, salah membaca pasar, atau tidak memiliki sistem yang benar. Bahkan ada yang tertipu, kehilangan uang sekaligus kepercayaan diri. Ini menunjukkan satu hal penting: uang hanyalah alat, bukan penentu. Kesalahan Cara Pandang terhadap Modal Orang-orang yang terlalu fokus pada uang sebagai modal bisnis sejatinya sedang menghadapi dua masalah besar sekaligus. Pertama, kesulitan mendapatkan modal itu sendiri. Kedua, kegelisahan apakah bisnis akan berjalan setelah modal didapatkan. Dua beban ini sering kali membuat seseorang tidak pernah benar-benar memulai. Dalam Islam, cara pandang ini perlu diluruskan. Sebab rezeki tidak identik dengan uang, dan uang bukan sumber rezeki. Sumber rezeki hanya satu, yaitu Allah Subhanahu wa Ta’ala. Allah menegaskan diri-Nya sebagai Ar-Razzaq, Maha Pemberi Rezeki. Seluruh perbendaharaan rezeki berada di sisi-Nya. Allah memberi dan menahan rezeki bukan karena sebab dunia semata, melainkan berdasarkan hikmah dan rahmat-Nya yang luas. Bahkan makhluk yang tidak mampu menyimpan makanan pun tetap diberi rezeki setiap hari. Jika rezeki sepenuhnya di tangan Allah, maka uang hanyalah wasilah, bukan penentu takdir. Bisnis Bukan Dimulai dari Uang, tetapi dari Amanah Ketika seseorang memahami tauhid rezeki dengan benar, maka ia akan sadar bahwa yang terpenting bukanlah seberapa besar modal yang ia miliki, melainkan bagaimana ia mengelola apa yang sudah Allah titipkan. Banyak orang tidak sadar bahwa dirinya sesungguhnya sudah memiliki modal, hanya saja modal itu tidak berbentuk uang. Ada modal aset tempat: rumah, halaman, garasi, kios kecil, ruang kosong, atau bahkan dapur yang bisa dioptimalkan. Ada modal aset jaringan: teman, saudara, komunitas, supplier, relasi pasar, atau kepercayaan sosial yang sudah terbangun lama. Ada pula modal keahlian dan pengalaman, yang sering diremehkan karena tidak tercatat sebagai angka. Bahkan ada modal yang jauh lebih fundamental, yaitu modal kepercayaan (trust). Dalam banyak kasus, bisnis berjalan bukan karena uang, tetapi karena kepercayaan. Barang bisa datang belakangan, pembayaran bisa menyusul, produksi bisa berjalan karena reputasi dan amanah. Uang Datang Setelah Masalah Diselesaikan Dalam banyak realitas bisnis, uang justru datang setelah masalah terpecahkan. Bukan sebaliknya. Ketika seseorang mampu menghadirkan solusi, membangun sistem, dan membuka akses pasar, modal uang sering kali mengikuti. Masalahnya, banyak orang ingin uang dulu, baru berpikir. Padahal yang lebih tepat adalah berpikir, membangun jaringan, menguatkan sistem, lalu uang akan datang sebagai konsekuensi dari nilai yang dihadirkan. Di sinilah pentingnya iman, ikhtiar, dan tawakal berjalan bersama. Iman menenangkan hati bahwa rezeki sudah Allah jamin. Ikhtiar menggerakkan akal untuk membaca peluang. Tawakal menjaga jiwa agar tidak tergelincir pada ketamakan dan ketakutan. Bisnis sebagai Jalan Keberkahan, Bukan Sekadar Keuntungan Ketika bisnis hanya dipandang sebagai jalan mencari uang, maka tekanan mentalnya sangat besar. Namun ketika bisnis dipandang sebagai jalan amanah dan kebermanfaatan, maka setiap proses menjadi bagian dari ibadah. Allah tidak menilai seberapa besar omzet kita, tetapi seberapa jujur prosesnya, seberapa lurus niatnya, dan seberapa besar manfaatnya. Dari situlah keberkahan muncul. Dan keberkahan sering kali lebih berharga daripada sekadar angka keuntungan. Maka pertanyaannya bukan lagi: “Berapa modal uang yang saya punya?” Tetapi: “Apa saja modal yang sudah Allah titipkan kepada saya, dan sudahkah saya mengelolanya dengan amanah?” Karena sejatinya, bisnis tidak pernah dimulai dari uang, tetapi dari cara pandang yang benar tentang rezeki. SIS Antarkita

Coach Waidi, Ruang Kita

Character Can Change Everything, Karakter Mengubah Segalanya

Character Can Change Everything, Karakter Mengubah Segalanya Waidi Akbar, MBA, CPC Banyak orang berusaha mengubah hidupnya dengan mengganti pekerjaan, mencari lingkungan baru, menunggu kesempatan, atau berharap keberuntungan datang. Namun sering kali mereka lupa bahwa perubahan paling menentukan justru bersumber dari dalam diri. Character can change everything. Karakter memiliki kekuatan senyap yang bekerja pelan namun pasti, membentuk arah hidup seseorang dari hari ke hari. Karakter adalah akumulasi dari pilihan-pilihan kecil yang diulang terus-menerus. Ia bukan sekadar watak bawaan, melainkan hasil dari pembiasaan panjang dan kesadaran diri. Seseorang boleh lahir dari keluarga sederhana, memiliki keterbatasan ekonomi, bahkan mengalami kegagalan berulang, tetapi dengan karakter yang tepat, ia tetap memiliki peluang besar untuk mengubah nasib hidupnya. Kerajinan adalah karakter awal yang paling nyata. Orang rajin tidak menunggu sempurna untuk memulai, dan tidak menunggu diperintah untuk bergerak. Ia melakukan apa yang harus dilakukan, bahkan ketika tidak ada yang melihat. Dari kerajinan lahirlah ketekunan—kemampuan untuk tetap bertahan ketika proses terasa melelahkan dan hasil belum tampak. Ketekunan kemudian membutuhkan kepercayaan diri. Percaya diri bukan berarti merasa paling hebat, melainkan keyakinan bahwa diri ini mampu belajar, bertumbuh, dan memperbaiki kesalahan. Percaya diri membuat seseorang tidak takut gagal, karena kegagalan dipandang sebagai bagian dari proses belajar, bukan sebagai akhir dari segalanya. Di tengah perjalanan panjang, karakter ulet menjadi penyangga. Ulet adalah kesanggupan untuk bangkit berulang kali. Orang yang ulet tidak berhenti hanya karena jatuh sekali atau dua kali. Ia jatuh, belajar, bangkit, dan melanjutkan langkahnya. Keuletan menjadikan kegagalan bukan alasan berhenti, melainkan bahan bakar untuk melangkah lebih matang. Namun semua karakter positif tersebut membutuhkan satu pengikat utama, yaitu istiqomah. Istiqomah adalah konsistensi dalam nilai dan tindakan. Banyak orang rajin sesaat, semangat sementara, dan berubah hanya ketika sedang termotivasi. Istiqomah membuat seseorang tetap berjalan lurus meski suasana hati naik turun dan situasi tidak selalu mendukung. Inilah karakter yang paling menentukan perubahan nasib jangka panjang. Karakter tidak tumbuh dengan sendirinya. Ia dibangun melalui pembiasaan sadar dan latihan yang terstruktur. Apa yang terus dipikirkan akan membentuk cara pandang. Apa yang terus diucapkan akan membentuk keyakinan. Dan apa yang terus dilakukan akan membentuk karakter. Karena itu, training—baik mental, emosional, maupun spiritual—menjadi sarana penting dalam membangun pribadi unggul. Dalam perspektif NLP, karakter berkaitan erat dengan program pikiran bawah sadar. Banyak orang hidup dengan pola pikir yang melemahkan: merasa tidak mampu, takut gagal, atau terjebak pada label masa lalu. Melalui proses pembelajaran dan latihan yang tepat, pola pikir ini dapat diprogram ulang menjadi keyakinan yang memberdayakan. Ketika pikiran berubah, sikap berubah. Ketika sikap berubah, tindakan berubah. Dan ketika tindakan berubah secara konsisten, nasib pun ikut berubah. Karakter juga menentukan kualitas keputusan hidup. Orang berkarakter tidak tergoda oleh jalan pintas yang menabrak nilai. Ia memilih proses yang benar meski lebih lambat. Ia memahami bahwa keberhasilan sejati bukan hanya soal hasil, tetapi juga tentang cara mencapainya. Karakter menjaga seseorang tetap lurus ketika godaan datang dan tetap rendah hati ketika keberhasilan menghampiri. Pada akhirnya, karakter adalah aset paling tahan krisis. Ketika harta hilang, karakter menjadi modal untuk bangkit. Ketika jabatan lepas, karakter menjadi pegangan untuk tetap bermartabat. Ketika keadaan tidak berpihak, karakter menjadi kekuatan batin untuk bertahan dan melangkah kembali. Maka, jika ingin mengubah hidup, jangan hanya fokus pada apa yang ingin dicapai. Fokuslah pada siapa yang harus kita menjadi. Bangun karakter melalui kebiasaan baik, latihan yang konsisten, dan nilai yang dijaga. Karena ketika karakter berubah, segalanya akan ikut berubah.  

Coach Imansu, Ruang Kita

Kutukan Generasi Ketiga Mengapa Redjo Pentung akhirnya pailit?

Kutukan Generasi Ketiga Mengapa Redjo Pentung akhirnya pailit? Tentu saja tidak ada satu sebab tunggal. Dalam dunia bisnis, kejatuhan sebuah perusahaan hampir selalu merupakan akumulasi dari berbagai keputusan—atau justru ketidakberanian mengambil keputusan—yang terjadi dalam rentang waktu panjang. Namun, jika dilihat melalui kacamata siklus hidup perusahaan, terdapat satu kesalahan strategis yang bersifat fatal dalam pengelolaan Redjo Pentung pada masa jayanya. Sebagai sebuah perusahaan rokok, Redjo Pentung sesungguhnya telah mencapai fase emas: memiliki satu merek yang sangat dikenal, kuat di pasar, dan menghasilkan laba besar. Pada fase ini, teori manajemen bisnis sangat jelas: laba dari merek pertama harus segera digunakan untuk membangun masa depan perusahaan. Caranya ada dua. Pertama, meluncurkan merek baru. Merek kedua dibiayai dari laba merek pertama. Jika merek kedua berhasil, dilanjutkan dengan merek ketiga, keempat, dan seterusnya. Dengan demikian, perusahaan tidak bergantung pada satu sumber pendapatan saja. Kedua, melakukan akuisisi terhadap merek rokok lain yang sudah lebih dulu dikenal pasar. Akuisisi adalah jalan pintas untuk mempercepat pertumbuhan dan memperluas portofolio merek tanpa harus memulai dari nol. Inilah yang disebut sebagai proses korporatisasi—transformasi dari perusahaan keluarga yang bertumpu pada satu produk menjadi korporasi dengan banyak mesin penghasil laba. Contoh ideal dalam industri rokok adalah PT HM Sampoerna. Perusahaan ini tidak bergantung pada satu merek. Ia memiliki Dji Sam Soe, Sampoerna Hijau, dan A Mild, yang masing-masing menyasar segmen pasar berbeda. Bahkan di era rokok elektrik, anak perusahaan Philip Morris ini juga hadir dengan produk Veev. Lebih jauh lagi, langkah strategis Philip Morris mengakuisisi HM Sampoerna senilai sekitar Rp 18 triliun pada tahun 2005 adalah contoh sempurna korporatisasi. Dengan satu langkah besar, Philip Morris langsung menambahkan tiga merek rokok mapan ke dalam portofolionya. Sekali gebrak, dampaknya global. Inilah yang tidak dilakukan oleh Redjo Pentung pada masa kejayaannya. Akibatnya, Redjo Pentung hanya mampu bertahan hingga generasi kedua. Tidak ada diversifikasi merek yang memadai. Tidak ada akuisisi strategis. Tidak ada transformasi dari perusahaan keluarga menjadi korporasi modern yang tahan lintas zaman. Bandingkan dengan Philip Morris, perusahaan rokok yang telah berdiri sejak tahun 1847. Jika jarak antar generasi diasumsikan sekitar 25–30 tahun, maka Philip Morris saat ini telah melewati tujuh generasi kepemilikan dan manajemen. Namun perusahaan ini tetap eksis, bahkan semakin besar. Kini, Philip Morris memiliki merek-merek rokok dengan nilai perusahaan lebih dari Rp 4.000 triliun, beroperasi di lebih dari 180 negara, termasuk Indonesia. Sebuah bukti bahwa umur panjang perusahaan bukanlah kebetulan, melainkan hasil dari keputusan strategis yang konsisten lintas generasi. Pembaca yang baik, Jika Anda adalah pelaku bisnis—terutama bisnis keluarga—pastikan perusahaan Anda tidak berhenti sebagai warisan, tetapi bertumbuh menjadi institusi. Pastikan perusahaan Anda menjalani proses korporatisasi secara sadar dan terencana. Pelajarilah dengan sungguh-sungguh delapan tahap siklus hidup perusahaan. Ketahui di fase mana perusahaan Anda berada. Dan lakukan transformasi yang diperlukan dengan segenap sumber daya yang Anda miliki. Belajarlah dari perusahaan-perusahaan besar seperti Philip Morris. Bukan untuk meniru produknya, tetapi untuk meniru ketangguhan sistemnya. Agar perusahaan Anda tetap unggul dari generasi ke generasi. Agar tidak berhenti di generasi kedua. Agar terhindar dari apa yang sering disebut sebagai: Kutukan Generasi Ketiga Generasi pertama membangun. Generasi kedua menikmati. Generasi ketiga menghancurkan. Karya ke-491 Iman Supriyono,Ditulis untuk dan diterbitkan oleh Majalah Matan,Surabaya, Edisi November 2025

Coach Imansu, Ruang Kita

Kutukan Generasi Ketiga

Kutukan Generasi Ketiga (Tulisan pertama) Caruban, dekade 1980-an. Nama-nama itu masih kokoh berdiri di memori saya hingga hari ini. Atik Suryangsih, Lus Hadi, Ipung, Tatik, Mamik, Jon Jiyono. Mereka adalah insan radio ternama pada masanya di wilayah yang kini menjadi ibu kota Kabupaten Madiun. Nama pertama adalah penyiar RRI Madiun. Empat nama berikutnya adalah penyiar Radio Moderato Madiun. Dan nama terakhir, Jon Jiyono, adalah operator radio Moderato. Pada masa itu, saya hanyalah seorang remaja—namun seorang remaja yang pendengar radio fanatik. Bukan hanya radio lokal. Saya juga setia mendengarkan radio luar negeri. BBC, Radio Australia, dan Voice of America menjadi menu harian. Gelombang short wave yang timbul tenggelam, kadang jernih kadang hilang, justru menghadirkan kenikmatan tersendiri. Ada sensasi perjuangan di sana. Tujuan saya sederhana namun serius: mengasah kemampuan bahasa Inggris. Masa SMP dan SMA adalah masa di mana semangat belajar bahasa Inggris saya sedang menyala-nyala. Radio adalah satu-satunya media yang tersedia. Dari siaran radio luar negeri itulah saya mengenal nama Ebet Kadarisman, penyiar kenamaan yang suaranya hingga kini masih melekat kuat di ingatan. Namun, kecintaan saya pada dunia radio sebenarnya sudah tumbuh sejak masa kanak-kanak. Ada dua nama yang sangat berbekas: Pak Har dan Pak Imam dari RRI Madiun. Pak Har adalah pengasuh acara dongeng anak-anak yang disiarkan setiap Jumat pukul lima sore. Bisa dipastikan, setiap Jumat sebelum jam lima saya sudah duduk nguping di depan radio Philips berbaterei empat di rumah. Tidak pernah absen. Pak Har juga sosok yang ditunggu-tunggu setiap bulan Ramadan. Setiap dini hari, beliau mengisi acara pengantar makan sahur. Sampai hari ini, saya masih menyimpan instrumentalia lagu “Selayang Pandang” yang menjadi musik pembuka dan penutup acara tersebut. Ketika Pak Har uzur, acara itu dilanjutkan oleh Pak Imam. Bagi Iman Supriyono kecil, Pak Har dan Pak Imam adalah sumber ilmu agama yang luar biasa pada zamannya. Radio bukan sekadar hiburan. Ia adalah sekolah kehidupan. Lalu ada iklan. “Rokoke Reco Pentung, Weton pabrik Tulungagung. Tuku rokok ojo bingung, Milih’o cap Reco Pendung…” Lirik iklan itu masih saya hafal hingga hari ini. Sebuah iklan rokok berbentuk tembang gamelan dengan irama lagu Sluku-sluku Bathok. Lagu anak-anak yang sangat populer saat itu. Iklan tersebut diputar berulang-ulang di radio. Sebagai penggemar radio, saya hafal di luar kepala. Dan baru kemudian saya sadar, iklan-iklan itulah yang membiayai siaran radio swasta yang menemani masa kecil dan remaja saya. Dekade 80-an adalah dekade radio. Dan radio hidup dari iklan. Siapa pengiklan terbesar itu? Tidak lain adalah perusahaan rokok cap Redjo Pentung dari Tulungagung. Sebuah pabrik rokok yang memang sedang berada di masa jayanya. Pada puncak kejayaan, bisnis keluarga Soemiran Karsodiwirjo ini mempekerjakan sekitar 4.500 orang. Angka yang luar biasa untuk ukuran industri rokok kretek daerah pada masa itu. Kejayaan Redjo Pentung kemudian saya saksikan dari jarak yang lebih dekat ketika menjadi mahasiswa. Salah satu teman seangkatan saya di Jurusan Teknik Mesin ITS adalah anggota keluarga Redjo Pentung. Saat itu saya tinggal di rumah kos di kawasan Gebang, sebelah barat Kampus ITS. Kamar kos saya berukuran sekitar 2,5 x 3 meter, berisi sebuah ranjang tingkat. Satu kamar dihuni dua mahasiswa. Hidup sederhana, serba terbatas, dan penuh penghematan. Persis di sebelah barat kampung Gebang, berdiri Kompleks Perumahan Kertajaya Indah. Kompleks hunian besutan PT Sinar Galaxy ini adalah perumahan termewah di Surabaya pada masa itu. Rumah-rumah besar, halaman luas, pagar tinggi, dan mobil-mobil mahal menjadi pemandangan biasa. Kawan saya dari keluarga Redjo Pentung tinggal di sana. Ketika saya berkunjung ke rumahnya, perasaan yang muncul hanya satu: perbedaan antara langit dan sumur. Rumah super mewah dengan perabotan kelas atas berhadapan langsung dengan kamar indekos sempit yang saya tempati sehari-hari. Dua dunia. Dua realitas. Dua titik berangkat kehidupan yang sama sekali tidak sejajar. Itulah Redjo Pentung pada zamannya. Namun, sejarah hampir selalu memiliki bab berikutnya. Sepeninggal Soemiran Karsodiwirjo pada tahun 1997, pengelolaan bisnis dilanjutkan oleh Ismanu Soemiran, putra sulungnya, lelaki kelahiran tahun 1949. Di tangannyalah bisnis rokok Redjo Pentung bertahan—namun hanya untuk sementara. Pada awal tahun 2000-an, perusahaan itu akhirnya pailit. Sebuah kisah klasik tentang kejayaan, warisan, dan apa yang oleh banyak literatur manajemen disebut sebagai kutukan generasi ketiga—the third generation curse. Kekayaan yang tidak mampu bertahan lintas generasi. Sebuah pelajaran sunyi tentang bisnis keluarga, tentang kesinambungan, dan tentang betapa sejarah ekonomi sering kali berulang dengan pola yang sama. Karya ke-491 Iman Supriyono,Ditulis untuk dan diterbitkan oleh Majalah Matan,Surabaya, Edisi November 2025  

Kabarkita, Ruang Kita

Lambat Menyelamatkan Aset, Bupati Banyumas Diadukan ke Kejati Jateng

Lambat Menyelamatkan Aset, Bupati Banyumas Diadukan ke Kejati Jateng BANYUMAS, 22 Desember 2025 — Dugaan pembiaran aset negara kembali mencuat di Kabupaten Banyumas. Kali ini, sorotan tertuju pada ruko Kebondalem yang hingga kini masih dikuasai penyewa lama, meskipun status aset tersebut telah sah dikembalikan ke negara sejak Maret 2025. Atas kondisi itu, Bupati Banyumas, Sadewo, resmi diadukan ke Kejaksaan Tinggi Jawa Tengah. Aduan tersebut dilayangkan oleh advokat sekaligus pegiat anti-korupsi, Ananto Widagdo, SH., S.Pd. Ia menilai Pemerintah Kabupaten Banyumas lamban, bahkan terkesan membiarkan aset daerah terus “tersandera” tanpa langkah hukum yang tegas. Menurut Ananto, sikap Pemkab Banyumas menunjukkan kontradiksi yang mencolok. Di satu sisi, pemerintah daerah memasang banner dan pengumuman bahwa ruko-ruko Kebondalem akan dikontrakkan. Namun di sisi lain, ruko-ruko tersebut masih diduduki penyewa lama tanpa ikatan kontrak resmi yang sah dengan Pemkab. “Ini ironis. Pemkab berani pasang banner mau menyewakan ruko, tapi tidak berani mengosongkan atau menertibkan penyewa lama yang sudah tidak punya hak. Aset negara akhirnya macet, tidak produktif, dan berpotensi merugikan keuangan daerah,” tegas Ananto. Dugaan Penyalahgunaan Wewenang Dalam laporan yang telah diterima Kejati Jateng dengan nomor tanda terima 011/AD.LP/SM/X/AW/2025, Ananto menguraikan sejumlah dugaan pelanggaran serius. Salah satunya adalah potensi pelanggaran Pasal 3 Undang-Undang Tindak Pidana Korupsi, terkait penyalahgunaan kewenangan. Sebagai kepala daerah dan pemegang kuasa pengelolaan aset, Bupati Banyumas dinilai memiliki kewajiban hukum untuk melakukan eksekusi pengosongan aset. Ketidakberanian atau kelalaian mengambil tindakan tegas, menurut Ananto, dapat dikategorikan sebagai pembiaran yang menguntungkan pihak lain secara melawan hukum. Tak hanya itu, pembiaran tersebut juga berimplikasi langsung pada hilangnya Pendapatan Asli Daerah (PAD). Selama ruko masih dikuasai penyewa lama, Pemkab tidak bisa mengontrakkan kepada pihak baru. Potensi pemasukan daerah pun menguap, sementara banner pengumuman sewa hanya menjadi simbol tanpa makna. Ancaman Sanksi Pidana Ananto menegaskan, jika terbukti terdapat unsur kesengajaan dalam pembiaran aset yang berdampak pada kerugian keuangan negara, maka konsekuensi hukumnya serius. Berdasarkan UU No. 31 Tahun 1999 jo UU No. 20 Tahun 2001, pelaku dapat diancam pidana penjara minimal 1 tahun hingga maksimal 20 tahun, serta denda hingga Rp1 miliar. Aspirasi Publik Diabaikan Yang lebih memantik kekecewaan publik, menurut Ananto, adalah sikap Pemkab Banyumas yang dinilai mengabaikan aspirasi masyarakat. Ia mengaku telah mengirimkan surat resmi sebanyak tiga kali kepada Bupati Banyumas, mendesak agar dilakukan pengosongan dan penyelamatan aset. Namun seluruh surat tersebut tidak mendapat respons. “Masyarakat Banyumas marah dan kecewa. Bupati adalah mandataris rakyat, bukan sekadar administrator. Tugasnya menjaga aset daerah, bukan ragu menghadapi pihak-pihak yang menguasai aset negara secara ilegal. Kalau Pemkab tidak sanggup, biarkan aparat penegak hukum yang mengambil alih,” tandasnya. Kasus ruko Kebondalem kini menjadi ujian serius bagi komitmen pemerintah daerah dalam menjaga aset publik. Aduan ke Kejati Jateng diharapkan menjadi pintu masuk bagi penegakan hukum yang lebih tegas, sekaligus peringatan bahwa pembiaran terhadap aset negara bukan persoalan sepele, melainkan potensi kejahatan yang merugikan masyarakat luas. (Sis, Antarkita)

Scroll to Top