Antarkita

Februari 2026

Kabarkita, Ruang Kita

Ramadhan Jadi Momentum Pembiasaan Akhlak Mulia di Rumah dan MTs Muhammadiyah Purwokerto

Ramadhan Jadi Momentum Pembiasaan Akhlak Mulia di Rumah dan MTs Muhammadiyah Purwokerto Purwokerto, Banyumas || AntarKita.com ~ Sekitar 200 jamaah yang terdiri dari calon wali murid, wali murid, serta tamu undangan menghadiri Tabligh Akbar dalam rangka menyambut bulan suci Ramadhan 1447 H yang digelar oleh MTs Muhammadiyah Purwokerto. Kegiatan yang berlangsung khidmat tersebut dilaksanakan di halaman sekolah pada Ahad, 16 Februari 2026, dan dimulai sejak pukul 07.30 WIB.   Mengusung tema “Membangun Sekolah sebagai Madrasah Ramadhan, Mencetak Siswa Berprestasi menuju Generasi Muttaqin”, Tabligh Akbar ini menjadi momentum penting untuk memperkuat sinergi antara sekolah dan orang tua dalam membentuk karakter siswa yang unggul secara akademik sekaligus kokoh dalam nilai-nilai keislaman. Dalam sambutannya, Direktur Pesantren Muallimin Muhammadiyah Purwokerto , KH. Amrulloh Sucipto, menyampaikan bahwa warga Muhammadiyah akan memulai puasa Ramadhan 1447 H pada Rabu, 18 Februari 2026, dengan sholat Tarawih berjamaah dimulai sehari sebelumnya. Ia menekankan peran strategis Pesantren Muallimin dalam membentuk generasi unggul yang tangguh, berkarakter, dan berkeadaban persyarikatan Muhammadiyah. “Mari kita besarkan bersama pesantren ini agar calon-calon ulama, intelektual, dan aktivis persyarikatan lahir dari Pesantren Muallimin,” ujarnya penuh semangat. Sementara itu, Kepala MTs Muhammadiyah Purwokerto, Neny Martiningsih, M.Pd, menyampaikan bahwa sekolah ini membekali siswa dengan ilmu, agama, dan keterampilan multi talenta melalui berbagai ekstrakurikuler, dan Alhamdulillah, ada 36 siswa yang mengikuti ujian Juz 29 dan Juz 30. “MTs Muhammadiyah Purwokerto berkomitmen membentuk siswa yang cerdas, berprestasi, dan berkarakter melalui pendidikan akademik, agama, dan keterampilan multi talenta. Tahun ajaran 2026/2027, MTs membuka program boarding 25 siswa putra serta menyediakan beasiswa dan potongan biaya bagi pendaftar pada Tabligh Akbar,” ujar Neny.   Dalam kesempatan yang sama, H. Yapin, S.Pd, mewakili Majelis Dikdasmen dan PNF PDM Banyumas sekaligus selaku Ketua Komite MTs Muhammadiyah Purwokerto mengapresiasi sinergi warga sekolah dan orang tua sehingga Tabligh Akbar Ramadhan 1447 H terselenggara sukses, serta menyerahkan piagam penghargaan bagi siswa yang lulus Juz 29 dan 30. “Keberhasilan Tabligh Akbar ini tidak lepas dari kerja sama dan komitmen seluruh warga MTs Muhammadiyah Purwokerto dan orang tua siswa. Selamat bagi siswa yang telah lulus Juz 29 dan 30,” ujar H. Yapin. Puncak acara diisi dengan tausyiyah inspiratif dari KH. Drs. Ahmad Kifni, selaku penceramah Tabligh Akbar. Dalam tausiyahnya, KH. Kifni mengajak seluruh orang tua memanfaatkan bulan Ramadhan sebagai momentum pembiasaan akhlak mulia di rumah, selaras dengan pembinaan di sekolah. Ia menekankan bahwa mencetak generasi muttaqin tidak hanya butuh kecerdasan intelektual, tetapi juga kekuatan spiritual, kedisiplinan ibadah, dan keteladanan orang tua. Pendidikan putra-putri melalui Pesantren Muallimin tingkat MTs dan MA menjadi kunci lahirnya calon ulama, intelektual, dan kader militan yang tangguh, unggul, dan berkemajuan. “Bulan Ramadhan harus dijadikan media untuk menciptakan generasi CEPRET: Cerdas, Berprestasi, dan Bertaqwa,” ujar KH. Ahmad Kifni. Acara dibuka dengan pembacaan serentak Surat Al-Mulk ayat 1-30 oleh delapan siswa, menandai awal kegiatan dengan nuansa religius yang mendalam. Seluruh hadirin kemudian bersama-sama menyanyikan Indonesia Raya, dipimpin oleh seorang siswi, dilanjutkan Mars Madrasah dan Mars Muhammadiyah Sang Surya oleh paduan suara IPM, menegaskan semangat kebersamaan dan religiusitas. Suasana semakin meriah dengan penampilan Group Kentongan Sang Surya, Tari Saman, serta lantunan shalawat dari Group Hadroh Sang Pencerah yang memperkuat kedisiplinan, kekompakan, dan kecintaan kepada Rasulullah SAW. Acara yang juga dihadiri oleh kasi Trantib Kelurahan Purwokerto Lor dan PCM-PCA Purwokerto Timur tersebut ditutup dengan ramah tamah antara guru dan wali murid, sekaligus pembagian sembako dan pakaian layak pakai sebagai wujud kepedulian dan kebersamaan menyambut Ramadhan. Dengan tausyiyah inspiratif, penampilan seni, apresiasi prestasi siswa, dan kegiatan sosial, Tabligh Akbar ini menjadi ajang silaturahmi sekaligus penguatan visi bersama, menegaskan komitmen MTs Muhammadiyah Purwokerto melahirkan generasi berprestasi dengan iman, ilmu, dan akhlak paripurna. (Tarqum Aziz-JurnalisMu Banyumas Raya).

Kabarkita, Ruang Kita

Dakwah Menggembirakan Warnai Tabligh Akbar PCM Kembaran Tarhib Ramadhan 1447 H

Dakwah Menggembirakan Warnai Tabligh Akbar PCM Kembaran Tarhib Ramadhan 1447 H antarkita.com, Banyumas – Ratusan jamaah dari berbagai desa di Kecamatan Kembaran, Kabupaten Banyumas, tumpah ruah memadati Masjid Musthofa al-Hamidi, Ahad (15/2/2026). Mereka menghadiri Tabligh Akbar Selapanan Tarhib Ramadhan 1447 H yang diselenggarakan PRM Linggasari, PCM Kembaran. Momentum tersebut semakin istimewa karena dirangkai dengan peresmian Masjid Musthofa al-Hamidi serta PKBM Muhammadiyah Cabang Kembaran di Grumbul Sirandu. Sejak pagi hari, arus jamaah terus berdatangan. Saf-saf di ruang utama masjid terisi rapat, serambi hingga halaman dipenuhi lautan manusia. Antusiasme warga Persyarikatan terasa kuat, menandakan denyut dakwah Muhammadiyah di Linggasari terus hidup dan mengakar. Kegiatan diawali dengan jalan sehat mengelilingi Desa Linggasari. Tepat pukul 07.00 WIB, peserta dilepas oleh Ketua PDM Banyumas, KH. Drs. M. Djohar AS. Menempuh jarak sekitar dua kilometer, ratusan warga melangkah penuh semangat meski gerimis tipis menyapa pagi. Hadiah utama sepeda listrik dan berbagai doorprize menambah kemeriahan suasana. Dalam sambutannya, Ketua PRM Linggasari, H. Nursyamsi, M.H. menegaskan bahwa pembangunan masjid dan pendirian PKBM merupakan buah kolaborasi dan gotong royong seluruh elemen Persyarikatan dan masyarakat. Menurutnya, keberhasilan tersebut menjadi bukti bahwa kerja bersama dalam satu visi dakwah dan pemberdayaan akan membuahkan hasil besar.   Ketua PCM Kembaran, Ir. H. Sugiyatno, M.M., menyebut tabligh akbar selapanan sebagai momentum silaturahim akbar 11 PRM dan 12 PRA di 15 desa se-Kecamatan Kembaran. Ia menegaskan agenda rutin setiap 35 hari itu adalah ruang strategis untuk konsolidasi dan penguatan gerakan jamaah. Sementara itu, Wakil Ketua PDM Banyumas, Prof. KH. Dr. Muhammad Hizbul Muflihin, M.Pd., mengingatkan agar Ramadhan tidak hanya dimaknai sebagai ritual spiritual, tetapi juga momentum melahirkan aksi nyata. Ia mengajak jamaah memperkuat soliditas, membesarkan Amal Usaha Muhammadiyah (AUM), memakmurkan masjid, serta membangun kemandirian ekonomi umat. Puncak acara diisi tausiyah KH. Muhammad Jamaludin Ahmad, S.Psi., Psikolog, Ketua LPCR PM PP Muhammadiyah. Ia mengajak jamaah menjadikan masjid sebagai pusat peradaban dan pembinaan umat sepanjang waktu. Puasa, tegasnya, adalah jalan pembentukan insan bertakwa untuk meraih ridha Allah Swt. Ia juga menyampaikan bahwa berdasarkan Kalender Islam Global PP Muhammadiyah, puasa 1447 H akan dimulai pada 18 Februari 2026. Jamaah diajak menyambutnya dengan penuh kegembiraan dan iman, serta menghidupkan dakwah yang menggembirakan dan mencerahkan. Prosesi peresmian menjadi puncak yang sarat makna. Penarikan tirai dilakukan bersama sebagai simbol dibukanya lembaran baru dakwah dan pemberdayaan umat. Takbir menggema memenuhi ruang masjid, menghadirkan suasana haru dan syukur mendalam atas lahirnya dua amal nyata, rumah ibadah yang siap dimakmurkan dan pusat belajar yang siap mencerdaskan. Tabligh Akbar diawali lantunan ayat suci Al-Qur’an oleh santri Ma’had Fastabiqul Khoirot, mahasiswa UMP, menghadirkan suasana khusyuk. Semangat kebangsaan terasa saat paduan suara PCA Kembaran membawakan Indonesia Raya, Mars Sang Surya, Mars Aisyiyah, dan lagu “Ranting Itu Penting.” Pengamanan berlangsung tertib berkat kolaborasi KOKAM Suryakusuma Cabang Kembaran dan Banser Kecamatan Kembaran bersama Koramil serta Polsek Kembaran. Sinergi ini menjadi potret kebersamaan dalam menjaga ketertiban dan persatuan. Di Linggasari, Ramadhan 1447 H disambut bukan hanya dengan seruan, tetapi dengan karya nyata. Masjid berdiri kokoh, PKBM siap mencerdaskan, dan jamaah semakin solid dalam kebersamaan, sebuah dakwah yang menggembirakan sekaligus menguatkan (Tarqum Aziz – JurnalisMu Banyumas Raya).

Kabarkita, Ruang Kita

MoU UMP dan Kementerian P2MI RI, Dorong Kompetensi dan Legalitas Pekerja Migran

MoU UMP dan Kementerian P2MI RI, Dorong Kompetensi dan Legalitas Pekerja Migran Purwokerto, Banyumas || AntarKita.com – Langkah strategis kembali ditorehkan oleh Universitas Muhammadiyah Purwokerto (UMP). Pada Sabtu, 14 Februari 2026, kampus kebanggaan masyarakat Banyumas itu resmi menandatangani Nota Kesepahaman (MoU) dengan Kementerian Perlindungan Pekerja Migran Indonesia (P2MI) RI di Auditorium Ukhuwah Islamiyah UMP. enandatanganan ini menjadi momentum penting dalam memperkuat kolaborasi di bidang pendidikan, riset, serta promosi pemanfaatan peluang kerja luar negeri yang aman, legal, dan terstruktur. Sinergi tersebut diharapkan mampu menghadirkan sistem pendampingan yang komprehensif, mulai dari tahap persiapan, pemberangkatan, hingga purna penempatan pekerja migran Indonesia. Kerja sama ini tidak sekadar seremoni administratif. Ia dirancang sebagai gerakan bersama untuk memperkuat literasi migrasi aman, pendampingan calon pekerja migran, pelatihan kompetensi, hingga kolaborasi riset terkait perlindungan dan pemberdayaan pekerja migran Indonesia. Dengan pendekatan terstruktur dan berkelanjutan, kolaborasi ini diharapkan mampu meminimalkan praktik penempatan ilegal sekaligus membuka peluang kerja luar negeri yang bermartabat dan berkeadilan. Rektor UMP, Prof. Dr. Jebul Suroso, menegaskan bahwa kolaborasi tersebut merupakan wujud komitmen perguruan tinggi dalam memberikan kontribusi nyata terhadap persoalan strategis bangsa. “UMP memandang isu pekerja migran bukan hanya soal penempatan kerja, tetapi juga menyangkut aspek perlindungan, peningkatan kompetensi, dan pemberdayaan keluarga migran. Melalui kerja sama ini, kami ingin menghadirkan peran akademik yang solutif dan berdampak langsung bagi masyarakat,” ujar Prof. Jebul. Menurutnya, perguruan tinggi memiliki tanggung jawab moral dan intelektual untuk memastikan setiap warga negara yang bekerja di luar negeri memiliki bekal kompetensi, literasi hukum, serta perlindungan yang memadai. “Kampus harus hadir dalam isu-isu strategis nasional. Sinergi ini menjadi langkah konkret agar pendidikan tinggi turut memperkuat ekosistem migrasi aman dan bermartabat,” tambahnya. Sementara itu, Direktur Jenderal Promosi Pemanfaatan Peluang Kerja Luar Negeri (P3KLN), Dwi Setiawan Susanto, S.E., M.Si., Ak., menekankan pentingnya kolaborasi dengan perguruan tinggi dalam meningkatkan kualitas dan daya saing pekerja migran Indonesia. “Kami membutuhkan dukungan akademik untuk memperluas edukasi tentang peluang kerja luar negeri yang legal, aman, dan terencana. Perguruan tinggi seperti UMP memiliki kapasitas untuk menyiapkan SDM unggul yang siap bersaing secara global,” ungkapnya. Ia menambahkan bahwa promosi peluang kerja luar negeri harus diiringi dengan penguatan kompetensi, sertifikasi, serta pemahaman regulasi internasional agar pekerja migran Indonesia tidak hanya menjadi tenaga kerja, tetapi juga duta bangsa yang profesional. Ke depan, kolaborasi ini diharapkan melahirkan berbagai program konkret, mulai dari magang internasional, pelatihan bahasa dan budaya negara tujuan, hingga penelitian bersama mengenai dinamika migrasi dan kebijakan perlindungannya. Dengan penandatanganan MoU tersebut, UMP kembali menegaskan perannya sebagai perguruan tinggi yang aktif membangun kolaborasi strategis lintas sektor, memperkuat kontribusi nyata dalam pembangunan sumber daya manusia Indonesia yang unggul dan berdaya saing global. Lebih dari itu, sinergi ini menegaskan peran perguruan tinggi sebagai pusat transformasi sosial yang membekali lulusan dengan kesiapan global sekaligus nilai kemanusiaan. (Tarqum Aziz JurnalisMu Banyumas Raya).

Kabarkita, Ruang Kita

Wisuda ke-78 UMP, Menghadirkan Ilmu sebagai Energi Perubahan

Wisuda ke-78 UMP, Menghadirkan Ilmu sebagai Energi Perubahan Purwokerto, Banyumas || AntarKita.com – Universitas Muhammadiyah Purwokerto (UMP) menggelar Wisuda ke-78 Program Magister, Sarjana, dan Ahli Madya dalam suasana khidmat di Auditorium Ukhuwah Islamiyah, Sabtu (14/2/2026). Momentum akademik ini bukan sekadar seremoni pengukuhan gelar, melainkan perayaan perjalanan intelektual sekaligus peneguhan komitmen moral para lulusan. Momentum istimewa itu semakin bermakna dengan kehadiran Wakil Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Wamendikdasmen) RI, Dr.Fajar Riza Ul Haq, MA yang menyampaikan orasi ilmiah penuh refleksi di hadapan para wisudawan dan tamu undangan. Dalam orasinya, Dr. Fajar Riza Ul Haq mengajak hadirin memaknai wisuda secara lebih mendalam. Ia menelusuri akar kata “wisuda” dari bahasa Sanskerta yang berarti disucikan atau dimurnikan. “Wisuda berasal dari bahasa Sanskerta yang berarti disucikan atau dimurnikan. Dimurnikan dari atau dijauhkan dari kebodohan. Ketika kita diwisuda, secara simbolik kita disucikan, dari tadinya tidak tahu menjadi tahu, setelah tahu menjadi paham, dan setelah paham kita amalkan dalam tindakan nyata,” ujarnya. Baginya, wisuda bukanlah titik akhir, melainkan fase transformasi intelektual sekaligus moral. Ilmu tidak berhenti pada tataran kognitif, tetapi harus menjelma menjadi amal yang memberi manfaat bagi sesama. Ia juga mengaitkan makna wisuda dengan tradisi keilmuan Islam melalui konsep ijazah. “Dalam tradisi Islam dikenal istilah ijazah. Seorang murid yang telah lengkap keilmuannya dari seorang guru, maka ia memperoleh ijazah. Jadi ketika para wisudawan menerima ijazah hari ini, secara simbolik mereka dinyatakan lulus dalam bidang ilmu tertentu dan siap mengamalkan ilmunya untuk kemaslahatan,” jelasnya. Menurutnya, tantangan generasi terdidik hari ini tidak semata menguasai disiplin ilmu, tetapi menghadirkan solusi atas problem kebangsaan dengan integritas, tanggung jawab sosial, dan keberanian moral. Sementara itu, Rektor UMP, Prof. Dr. Jebul Suroso menegaskan bahwa wisuda adalah fase transisi menuju ruang pengabdian. “Wisuda adalah fase transisi dari ruang akademik menuju ruang pengabdian. Ilmu yang diperoleh tidak berhenti pada gelar, tetapi harus menjadi energi perubahan di tengah masyarakat. Kami berharap para lulusan UMP mampu menjadi insan pembelajar sepanjang hayat dan berkontribusi nyata bagi bangsa,” tuturnya. Prof. Jebul juga menekankan komitmen UMP dalam menjaga mutu pendidikan yang berlandaskan nilai keislaman, keilmuan, dan kemanusiaan. “Kami tidak hanya mencetak lulusan yang kompeten secara akademik, tetapi juga berkarakter, berintegritas, dan memiliki kepedulian sosial yang tinggi,” tambahnya. Wisuda ke-78 ini diikuti oleh lulusan Program Magister, Sarjana, dan Ahli Madya dari berbagai fakultas di lingkungan UMP. Prosesi berlangsung penuh kebanggaan, disaksikan keluarga wisudawan serta sivitas akademika yang turut merasakan haru dan syukur atas capaian tersebut. Dengan kehadiran Wakil Menteri Dikdasmen RI dalam orasi ilmiah, UMP kembali menegaskan perannya sebagai perguruan tinggi yang aktif bersinergi dengan pemerintah dalam memperkuat kualitas pendidikan nasional. Wisuda pun dimaknai bukan sekadar pengukuhan gelar, melainkan simbol penyucian dari kebodohan, sebuah komitmen moral untuk mengamalkan ilmu demi kemajuan Indonesia. (Tarqum Aziz JurnalisMu Banyumas Raya).

Kabarkita, Ruang Kita

Poster Dakwah dan Semangat Kebersamaan Warnai Tarhib SMP Muhammadiyah rawalo

Poster Dakwah dan Semangat Kebersamaan Warnai Tarhib SMP Muhammadiyah rawalo Banyumas || AntarKita.com ~ Ratusan siswa SMP Muhammadiyah Rawalo Banyumas menggelar Pawai Tarhib Ramadhan sebagai wujud sukacita menyambut datangnya bulan suci Ramadhan 1447 H. Kegiatan yang diikuti seluruh siswa kelas VII, VIII, dan IX ini berlangsung meriah dengan rute mengelilingi desa-desa sekitar sekolah sejauh lebih dari dua kilometer, Jumat (13/2/2026). Rute pawai dimulai dari SMP Muhammadiyah Rawalo bergerak ke arah utara menuju Ranting Rawa Cangkring, kemudian berlanjut ke barat menuju Ranting Kali Rungga. Dari sana rombongan berbelok ke selatan menuju Ranting Lebak Munthang, lalu lurus hingga Ranting Babakan. Selanjutnya peserta berbelok ke utara kembali menuju Ranting Rawa Cangkring dan finis di sekolah. Total jarak tempuh kurang lebih dua kilometer dengan pengawalan dan pengaturan yang tertib. Sebanyak 155 peserta, terdiri dari Guru dan siswa yang mengikuti pawai Tarhib Ramadhan tampak menyusuri desa-desa tersebut sambil menikmati hijaunya pemandangan persawahan yang membentang luas. Udara pagi yang sejuk berpadu dengan semangat lantunan shalawat menjadikan suasana pawai terasa syahdu sekaligus menggembirakan. Nuansa pedesaan yang asri semakin memperkuat makna reflektif dalam menyambut bulan suci. Dengan penuh semangat, para siswa membawa poster buatan sendiri berisi ajakan berpuasa, memperbanyak sedekah, menjaga lisan, serta menghidupkan ibadah tarawih. Poster-poster tersebut dipersiapkan di kelas sebagai bagian dari integrasi pembelajaran nilai keagamaan dan kreativitas. Suasana semakin hidup dengan seruan positif melalui pengeras suara yang mengajak masyarakat menyambut Ramadhan dengan hati gembira dan kesiapan spiritual. Kegiatan ini secara resmi dilepas oleh Kepala SMP Muhammadiyah Rawalo, Murtafingah Ekaningrum, S.Pd. Dalam sambutannya ia menyampaikan, “Marhaban ya Ramadan. Menyambut bulan suci Ramadan dengan kegembiraan, kelapangan jiwa, dan kesiapan fisik serta mental. Maka anak-anakku juga harus ikut bergembira.” Ia menegaskan bahwa Tarhib Ramadhan bukan sekadar seremoni tahunan, melainkan momentum membangun kesiapan spiritual dan pembiasaan ibadah sejak usia sekolah menengah. Pawai ini, menurutnya, menjadi wujud rasa syukur dan kegembiraan keluarga besar sekolah dalam menyambut bulan penuh berkah. Sementara itu, Guru Pendidikan Agama Islam, Ust. Reza Arifin Rahman, menyampaikan bahwa Pawai Tarhib Ramadhan merupakan sarana dakwah yang edukatif dan menyenangkan. Ia bersyukur seluruh siswa mengikuti kegiatan dengan tertib dan penuh semangat. “Momentum Tarhib Ramadhan ini penting untuk menanamkan nilai-nilai spiritual sejak dini, agar siswa tidak memandang Ramadhan sekadar rutinitas tahunan, tetapi sebagai kesempatan memperbaiki diri,” ujarnya. Sepanjang rute pawai, warga tampak menyambut hangat kegiatan tersebut. Beberapa di antaranya tersenyum, melambaikan tangan, bahkan mengabadikan momen kebersamaan. Kehadiran para siswa dengan poster-poster kreatif menjadi pengingat bahwa bulan suci segera tiba. Salah satu siswa kelas VII Damasku, Azzaliya, mengaku senang dapat terlibat dalam kegiatan tersebut. Ia merasa bangga bisa ikut menyuarakan ajakan menyambut Ramadhan bersama teman-temannya. “Kegiatan tadi itu seru dan menginspirasi orang-orang. Kita mengingatkan bahwa besok sudah Ramadhan, harus tarawih dan puasa,” tuturnya. Ia berharap kegiatan seperti ini terus dilaksanakan setiap tahun karena mampu mempererat persaudaraan dan menumbuhkan rasa cinta terhadap syiar Islam. Pawai Tarhib Ramadhan ini menjadi bagian dari program sekolah dalam menanamkan nilai religius, kemandirian, kreativitas, serta kepedulian sosial kepada siswa. Melalui kegiatan ini, semangat menyambut Ramadhan 1447 H diharapkan tidak hanya terasa di lingkungan sekolah, tetapi juga menyebar ke tengah masyarakat (Tarqum Aziz JurnalisMu Banyumas Raya/ Murtafingah Ekaningrum).

Kabarkita, Ruang Kita

Masyarakat Peduli Kebondalem Pasang Banner di Kompleks Ruko, Desak Penegakan Hukum, Transparansi, dan Optimalisasi Aset untuk Rakyat Banyumas

Masyarakat Peduli Kebondalem Pasang Banner di Kompleks Ruko, Desak Penegakan Hukum, Transparansi, dan Optimalisasi Aset untuk Rakyat Banyumas Banyumas — Masyarakat Peduli Kebondalem bersama kuasa hukumnya, Ananto Widagdo, SH, pada Selasa (17/2/2026) melakukan aksi pemasangan banner di kompleks ruko Kebondalem. Aksi tersebut merupakan bentuk sikap tegas masyarakat dalam menuntut kejelasan status hukum aset Kebondalem serta transparansi pengelolaan dan aliran dana sewa ruko yang hingga kini dinilai tidak jelas. Dalam pernyataannya di lokasi, Ananto Widagdo, SH menegaskan bahwa pejabat publik tidak boleh melakukan penyesatan hukum kepada masyarakat Banyumas. Ia menyampaikan bahwa keterbukaan informasi merupakan kewajiban konstitusional dan bagian dari prinsip tata kelola pemerintahan yang baik (good governance). “Kami mengingatkan, pejabat tidak boleh menyampaikan informasi yang menyesatkan atau setengah-setengah kepada masyarakat. Status hukum aset Kebondalem harus jelas. Aliran dana sewa ruko harus transparan. Penegakan hukum tidak boleh tebang pilih,” tegasnya.   Status Aset dan Aliran Dana Dipertanyakan Menurut Masyarakat Peduli Kebondalem, hingga saat ini status pengelolaan aset Kebondalem masih mangkrak dan tidak memiliki kepastian yang dapat dipertanggungjawabkan secara hukum maupun administratif. Selain itu, aliran dana sewa ruko yang seharusnya menjadi pendapatan bagi daerah dan kembali kepada masyarakat Banyumas belum memiliki laporan yang terbuka dan akuntabel. Kondisi ini dinilai berpotensi menimbulkan kerugian yang sangat besar bagi masyarakat. Berdasarkan estimasi nilai ekonomi kawasan tersebut, potensi kerugian dapat mencapai ratusan miliar rupiah akibat tata kelola yang tidak profesional dan kurang transparan. Ketidakjelasan Status Penghuni Masyarakat juga menyoroti ketidakjelasan status para penghuni ruko saat ini. Hingga kini, belum ada penjelasan resmi mengenai legalitas penghuni maupun mekanisme pembayaran sewa yang mereka lakukan. “Penghuni membayar kepada siapa? Dasar hukumnya apa? Apakah masuk ke kas daerah atau tidak? Ini harus dijawab secara terbuka,” ujar perwakilan Masyarakat Peduli Kebondalem. Masyarakat menilai lemahnya ketegasan pejabat daerah dalam menertibkan penghuni ilegal serta lambannya penyelesaian persoalan aset menunjukkan ketidakbecusan tata kelola pemerintahan dalam mengamankan kekayaan daerah. Potensi Besar untuk Kemaslahatan Rakyat Kebondalem dinilai memiliki nilai strategis dan ekonomi yang sangat besar. Jika dikelola secara profesional, transparan, dan akuntabel, aset tersebut dapat menjadi sumber pendapatan daerah yang signifikan untuk mendukung pembangunan infrastruktur, pendidikan, kesehatan, serta program sosial bagi masyarakat Banyumas. Masyarakat Peduli Kebondalem menegaskan bahwa perjuangan ini bukan semata persoalan hukum administratif, melainkan bagian dari upaya menyelamatkan aset publik agar benar-benar dimanfaatkan untuk kesejahteraan rakyat. Komitmen Melanjutkan Proses Hukum Masyarakat Peduli Kebondalem menyatakan akan terus melanjutkan langkah hukum dan advokasi hingga tercapai kepastian hukum serta pemanfaatan Kebondalem yang berpihak pada kepentingan masyarakat Banyumas. Aksi pemasangan banner ini merupakan simbol peringatan bahwa masyarakat tidak akan tinggal diam terhadap potensi penyalahgunaan aset publik. “Kebondalem adalah milik rakyat Banyumas. Kami akan terus mengawal agar aset ini tidak dikuasai secara tidak sah dan hasilnya benar-benar kembali untuk kemaslahatan masyarakat,” tutup pernyataan tersebut. Oleh: SiS, antarkita

Kabarkita, Prespektif, Ruang Kita

Para Pendusta Muhammadiyah: Ancaman dari Dalam dan Urgensi Penguatan Sistem

Para Pendusta Muhammadiyah: Ancaman dari Dalam dan Urgensi Penguatan Sistem Gus Zuhron Tahukah kita siapa yang pantas disebut sebagai pendusta Muhammadiyah? Pertanyaan ini tidak sedang diarahkan kepada mereka yang berada di luar barisan dan secara terang-terangan memusuhi. Justru yang perlu diwaspadai adalah mereka yang berada di dalam rumah besar persyarikatan, memakai atribut yang sama, mengaku kader, bahkan menduduki posisi strategis—namun perilaku dan orientasinya menyimpang dari nilai, manhaj, dan cita-cita luhur Muhammadiyah. Pendusta Muhammadiyah adalah mereka yang menghardik kader, membatasi langkah gerak, dan mematikan potensi yang seharusnya tumbuh subur. Mereka merasa paling tahu, paling senior, dan paling berhak menentukan arah. Alih-alih menjadi pembina, mereka justru menjadi penghambat. Potensi kader yang besar dipersempit oleh ego, kepentingan pribadi, atau kekhawatiran kehilangan pengaruh. Mereka juga dapat menjelma menjadi pimpinan yang memanfaatkan kebesaran nama Muhammadiyah untuk kepentingan pribadi. Jabatan tidak lagi dipahami sebagai amanah, melainkan sebagai sarana memperluas kuasa dan fasilitas. Nama besar persyarikatan dijadikan legitimasi, sementara ruh perjuangan perlahan ditanggalkan. Dalam konteks Amal Usaha Muhammadiyah (AUM), pendusta bisa hadir dalam wujud lain. Mereka menjadikan AUM sebagai tempat mencari penghidupan, tetapi minim kontribusi terhadap pengembangan dakwah dan penguatan ideologi gerakan. AUM yang seharusnya menjadi instrumen tajdid, pelayanan umat, dan pemberdayaan masyarakat, berisiko tereduksi menjadi sekadar institusi administratif dan ekonomi. Sebagian pendusta bertahan terlalu lama dalam lingkar kekuasaan dan enggan membuka ruang regenerasi. Padahal regenerasi adalah keniscayaan dalam setiap organisasi yang sehat. Ketika sirkulasi kepemimpinan tersumbat, kreativitas melemah dan daya kritis menurun. Organisasi menjadi stagnan, bahkan kehilangan energi pembaharuannya. Ada pula yang mengaku kader Muhammadiyah tetapi tidak taat pada putusan pimpinan. Secara simbolik mereka tampak loyal, namun secara praksis membangun afiliasi dan kelompok kepentingan untuk melawan kebijakan organisasi. Mereka menyemai resistensi, memecah soliditas, dan memperlemah barisan dari dalam. Lebih memprihatinkan lagi, ada yang mengatasnamakan Muhammadiyah untuk menghimpun dana umat, namun tidak menyalurkannya sesuai mekanisme persyarikatan. Amanah umat diperlakukan sebagai komoditas, bukan tanggung jawab. Ini bukan sekadar pelanggaran etika, tetapi pengkhianatan terhadap nilai kejujuran dan integritas yang menjadi fondasi gerakan. Para pendusta ini sering kali tampil meyakinkan. Berpakaian rapi dengan batik seragam Muhammadiyah, berwibawa dalam forum resmi, bahkan terlihat religius dengan simbol-simbol kesalehan. Namun simbol dan atribut tidak selalu sejalan dengan integritas. Ketika dusta terlembagakan dalam kebijakan, kerusakan menjadi sistemik dan dampaknya jauh lebih luas. Keberadaan kelompok seperti ini tidak bisa dianggap enteng. Mereka bisa “bergentayangan” di berbagai struktur dan merangsek ke sudut-sudut strategis AUM. Layaknya benalu, keberadaannya terasa tetapi sulit diberantas jika sistem tidak kuat. Jika dibiarkan, bukan tidak mungkin suatu saat mereka mengendalikan roda organisasi sepenuhnya. Melawan pendusta tidak cukup dengan cara-cara normatif dan instan. Seruan moral lewat khutbah atau pengajian adalah penting, tetapi sering kali menjadi dosis rendah yang tidak mempan menghadapi strategi yang terorganisir. Yang dibutuhkan adalah penguatan sistem, transparansi, akuntabilitas, dan kaderisasi berkelanjutan. Jika terhadap penista Muhammadiyah dari luar kita sering bereaksi cepat dan tegas, maka terhadap pendusta dari dalam seharusnya kita lebih serius. Karena ancaman internal kerap lebih merusak dibanding tekanan eksternal. Keruntuhan organisasi besar dalam sejarah sering kali bukan karena serangan luar, tetapi karena pembusukan dari dalam. Kesadaran kolektif untuk merawat rumah besar persyarikatan menjadi kunci. Menciptakan sistem yang kuat, mempertegas mekanisme evaluasi, menumbuhkan budaya kritik yang sehat, dan memastikan kaderisasi berjalan konsisten adalah langkah strategis. Muhammadiyah pada hakikatnya digerakkan oleh sistem dan nilai, bukan oleh figur tertentu—bukan “sinten” apalagi “sepinten”. Dengan integritas, keberanian, dan komitmen pada prinsip, ruang gerak para pendusta akan semakin sempit. Dan Muhammadiyah akan tetap kokoh, bukan hanya karena kebesaran namanya, tetapi karena kemurnian nilai dan kekuatan sistemnya. Student Dormitory UMY, Selasa, 03 Februari 2026 pukul 19.15 WIB Sambil mendampingi Baitul Arqam (BA) Pejabat Struktural UMY *) Sekretaris MPKSDI PWM Jateng, Dosen AIK Unimma

Kabarkita, Prespektif, Ruang Kita

Kepemimpinan Akomodatif dan Empowering: Menyatukan Struktur, Menggerakkan Potensi, Menjawab Realitas

Kepemimpinan Akomodatif dan Empowering: Menyatukan Struktur, Menggerakkan Potensi, Menjawab Realitas Oleh SiS, antarkita Percepatan perubahan dunia hari ini berlangsung dalam ritme yang melampaui kebiasaan lama kita. Disrupsi teknologi digital, perubahan pola komunikasi, dinamika politik global, krisis lingkungan, pergeseran ekonomi, hingga perubahan gaya hidup generasi muda terjadi hampir serentak. Setiap persoalan tidak lagi berdiri sendiri, melainkan saling terhubung dan saling mempengaruhi. Dunia bergerak cepat—dan sering kali tidak memberi waktu panjang untuk sekadar berdiskusi tanpa keputusan. Dalam konteks ini, Muhammadiyah sebagai gerakan Islam berkemajuan menghadapi tantangan besar di abad keduanya. Tantangan itu bukan hanya soal mempertahankan eksistensi, tetapi memastikan relevansi. Relevansi terhadap problem umat, relevansi terhadap kebutuhan masyarakat, dan relevansi terhadap perubahan zaman yang sangat dinamis. Namun di tengah kompleksitas persoalan kehidupan sehari-hari, muncul satu kenyataan yang perlu direnungkan secara jujur: adanya kesenjangan antara struktur organisasi dan realitas yang dihadapi masyarakat. Struktur memiliki logika tata kelola, mekanisme, hirarki, dan prosedur. Semua itu penting untuk menjaga ketertiban dan kesinambungan organisasi. Tetapi kehidupan nyata sering kali tidak berjalan sesuai alur administratif. Ia mendesak, spontan, dan membutuhkan respon segera. Ketika masyarakat menghadapi persoalan ekonomi keluarga, krisis moral generasi muda, dampak teknologi terhadap nilai-nilai sosial, atau persoalan kebijakan publik yang merugikan, respon yang lambat akan terasa sebagai ketidakhadiran. Di sinilah jarak itu terasa: antara “istana struktur organisasi” dan denyut kehidupan sehari-hari. Padahal, jika ditelisik lebih dalam, Muhammadiyah tidak kekurangan sumber daya manusia. Di berbagai daerah dan sektor, terdapat banyak kader yang memiliki kapasitas intelektual, pengalaman profesional, jejaring luas, dan kepekaan sosial yang tinggi. Mereka hadir sebagai akademisi, dokter, pengusaha, aktivis sosial, teknokrat, pemikir muda, dan profesional di berbagai bidang strategis. Sayangnya, tidak semua potensi tersebut terakomodasi secara optimal oleh struktur yang ada. Sebagian kader belum menemukan ruang aktualisasi yang sesuai dengan kapasitasnya. Sebagian gagasan berhenti pada wacana karena tidak menemukan kanal struktural yang lentur. Sebagian energi bahkan memilih bergerak sendiri di luar koordinasi, karena merasa struktur terlalu lambat merespon. Di sisi lain, harus diakui pula bahwa keberanian untuk mengambil inisiatif gagasan masih relatif rendah. Budaya menunggu instruksi, kekhawatiran dianggap melangkahi kewenangan, atau rasa sungkan terhadap senioritas sering membuat kader memilih aman dalam posisi pasif. Akibatnya, ruang-ruang kosong tidak segera terisi, dan peluang perubahan terlewatkan. Kondisi inilah yang perlahan membentuk jurang pemisah antara kehidupan nyata dan struktur organisasi. Struktur menjadi simbol formalitas, sementara kehidupan berjalan dengan logikanya sendiri. Jika jurang ini dibiarkan, maka akan tumbuh apatisme. Kader merasa jauh dari pengambilan keputusan, dan masyarakat merasa jauh dari kehadiran organisasi. Di sinilah kebutuhan mendesak akan kepemimpinan yang akomodatif dan empowering. Kepemimpinan akomodatif adalah kepemimpinan yang bersedia membuka pintu dialog selebar-lebarnya. Ia tidak alergi terhadap kritik, tidak defensif terhadap gagasan baru, dan tidak merasa terancam oleh kader-kader potensial. Ia mampu melihat perbedaan sebagai kekayaan, bukan ancaman. Sikap akomodatif menciptakan atmosfer organisasi yang inklusif—di mana setiap kader merasa dihargai, didengar, dan diberi ruang. Namun akomodatif saja belum cukup. Kepemimpinan harus sekaligus empowering—memberdayakan. Artinya, pemimpin tidak hanya menampung aspirasi, tetapi juga memberikan kepercayaan dan otoritas yang proporsional. Memberi mandat, mendorong eksperimen, dan memberi dukungan moral maupun struktural agar gagasan dapat diimplementasikan. Kepemimpinan empowering menggeser paradigma dari “semua harus melalui saya” menjadi “bagaimana saya memampukan orang lain bergerak.” Ia membangun sistem yang memungkinkan kader bertumbuh, bukan sistem yang membuat kader bergantung. Ia melahirkan banyak pusat inisiatif, bukan satu pusat kendali yang terlalu sentralistik. Namun perubahan ini tidak hanya menjadi tanggung jawab pimpinan. Kesadaran inisiatif dan sikap proaktif dari kader juga menjadi kunci. Setiap kader perlu menyadari bahwa gerakan ini bukan milik struktur semata, tetapi milik bersama. Tidak semua gagasan harus menunggu undangan. Tidak semua langkah harus diawali oleh instruksi formal. Dalam koridor nilai dan manhaj gerakan, inisiatif adalah bentuk tanggung jawab, bukan pelanggaran. Ketika kepemimpinan bersikap akomodatif dan empowering, dan kader berani mengambil inisiatif secara proaktif, maka jurang antara struktur dan realitas akan menyempit. Struktur tidak lagi terasa sebagai menara gading, melainkan sebagai pusat koordinasi gerakan yang hidup. Kehidupan nyata tidak lagi terasa jauh, karena respon hadir secara cepat, relevan, dan kontekstual. Percepatan perubahan dunia tidak bisa dihentikan. Yang bisa dilakukan adalah mempercepat kapasitas respon kita. Bukan dengan mengabaikan struktur, tetapi dengan membuat struktur lebih lentur, lebih terbuka, dan lebih memberdayakan. Pada akhirnya, kepemimpinan yang akomodatif dan empowering bukan sekadar gaya manajerial, melainkan kebutuhan strategis. Ia adalah jembatan antara visi besar organisasi dan realitas konkret kehidupan. Ia adalah cara untuk memastikan bahwa potensi besar kader tidak terpendam, dan harapan besar umat tidak berujung pada kekecewaan. Jika keberanian untuk berinisiatif tumbuh, jika ruang partisipasi dibuka, dan jika kepercayaan diperluas, maka Muhammadiyah akan tetap menjadi gerakan yang hidup—bukan hanya kokoh dalam struktur, tetapi kuat dalam aksi dan nyata dalam solusi. Karena di tengah dunia yang bergerak cepat, yang dibutuhkan bukan hanya organisasi yang tertib, tetapi organisasi yang tanggap, adaptif, dan memberdayakan.

Kabarkita, Prespektif, Ruang Kita

Ekosistem Bisnis Beras Muhammadiyah Dari Kekuatan Hulu Menuju Kedaulatan Hilir

🌾 Ekosistem Bisnis Beras Muhammadiyah Dari Kekuatan Hulu Menuju Kedaulatan Hilir Oleh SiS, antarkita Indonesia sejak lama dikenal sebagai negara agraris. Julukan itu bukan tanpa alasan. Tanah subur, iklim tropis, serta tradisi pertanian yang kuat menjadikan Indonesia sebagai salah satu produsen pangan utama di kawasan. Kemampuan memproduksi benih padi unggul, penggunaan pupuk berkualitas, hingga penguasaan teknik budidaya modern sudah tidak diragukan lagi. Tidak terkecuali para petani yang tergabung dalam Jaringan Tani Muhammadiyah (Jatam). Kapasitas teknis di sektor hulu relatif kuat. Namun persoalan nyata muncul ketika hasil panen tiba. ⚠️ Hulu Kuat, Hilir Rapuh Masalah utama petani bukan lagi soal tanam dan panen. Tantangan terbesar justru berada di sektor hilir: Daya serap gabah yang tidak menentu Harga yang fluktuatif dan sering jatuh saat panen raya Ketergantungan pada tengkulak Lemahnya akses penggilingan dan distribusi Tidak adanya kepastian pasar Petani bisa berhasil memproduksi, tetapi gagal menikmati nilai tambah. Inilah paradoks pertanian kita: produksi meningkat, tetapi kesejahteraan stagnan. Tanpa sistem hilir yang kuat, petani akan terus menjadi price taker, bukan price maker. 🤝 Sosialisasi Ekosistem Bisnis Beras: Langkah Strategis Menyadari persoalan tersebut, Majelis Pemberdayaan Masyarakat (MPM) dan Jaringan Tani Muhammadiyah (Jatam) Banyumas serta Purbalingga mengikuti Sosialisasi Ekosistem Bisnis Beras yang diselenggarakan oleh MPM Wilayah dan Jatam Jawa Tengah. Kegiatan ini dilaksanakan di: 📍 Aula Abu Dardiri PDM Banyumas 📅 Senin, 16 Februari 2026 ⏰ Pukul 08.00–11.00 WIB Acara dipandu oleh Ketua MPM PDM Banyumas, Ir. Sugiyanto, dengan narasumber: Ketua MPM Jawa Tengah, Ir. Fathur Rahman Ketua Jatam Jawa Tengah, Ir. Hery Forum ini bukan sekadar sosialisasi, melainkan fondasi membangun sistem terintegrasi dari hulu hingga hilir. 🌾 Apa Itu Ekosistem Bisnis Beras? Ekosistem bisnis beras bukan hanya soal menanam dan menjual gabah. Ia mencakup: 1️⃣ Produksi benih dan budidaya 2️⃣ Penguatan kelembagaan petani 3️⃣ Penggilingan dan standarisasi kualitas 4️⃣ Packaging dan branding 5️⃣ Distribusi yang terorganisir 6️⃣ Kepastian pasar (offtaker) 7️⃣ Konsumsi oleh jaringan internal Dengan ekosistem ini, nilai tambah tidak berhenti di tengkulak, tetapi kembali ke petani dan komunitas. 🏫 Potensi Besar Pasar Internal Muhammadiyah Di sinilah letak peluang besar. Muhammadiyah memiliki: Sekolah dari TK hingga Perguruan Tinggi Rumah sakit dan klinik Panti asuhan Pondok pesantren Amal usaha di berbagai sektor Jutaan kader dan simpatisan Jika pasar internal ini terintegrasi dalam ekosistem bisnis beras, maka: ✔ Petani memiliki kepastian serapan ✔ Harga lebih stabil ✔ Konsumen mendapatkan beras berkualitas ✔ Uang berputar di dalam komunitas Dari warga untuk warga. Dari petani untuk umat. 🔄 PR Besar: Integrasi dan Komitmen Kolektif Namun realitasnya, integrasi internal masih menjadi pekerjaan rumah besar. Sering kali: Amal usaha membeli dari pasar umum Tidak ada sistem pengadaan terkoordinasi Belum ada standardisasi produk bersama Belum ada manajemen distribusi terpusat Padahal jika seluruh lini terhubung dalam satu sistem, Muhammadiyah bisa membangun kekuatan ekonomi berbasis jaringan yang luar biasa. 🌱 Lebih dari Sekadar Beras Ekosistem bisnis beras bukan hanya proyek ekonomi. Ini adalah: Model pemberdayaan berbasis organisasi Latihan membangun tata kelola bisnis modern Penguatan solidaritas ekonomi jamaah Pondasi menuju kedaulatan pangan Jika berhasil, model ini dapat direplikasi pada komoditas lain: jagung, kedelai, hortikultura, peternakan. ✊ Momentum Lompatan Strategis Sosialisasi ini menjadi momentum penting. Dari ruang Aula Abu Dardiri, lahir gagasan besar: Muhammadiyah tidak hanya menjadi gerakan dakwah dan pendidikan, tetapi juga menjadi gerakan ekonomi yang sistemik dan terintegrasi. Petani tidak lagi berdiri sendiri. Organisasi tidak lagi berjalan parsial. Pasar tidak lagi liar tanpa kendali. Yang dibangun adalah sistem. Karena di era persaingan global, yang menang bukan yang paling kuat secara individu, tetapi yang paling terorganisir secara kolektif. Ekosistem bisnis beras ini adalah langkah nyata menuju kemandirian, keberlanjutan, dan kesejahteraan petani Muhammadiyah. 🌾 Saatnya dari sawah menuju sistem. 🌾 Dari panen menuju kedaulatan. 🌾 Dari gerakan sosial menuju kekuatan ekonomi. SiS, antarkita

Kabarkita, Prespektif, Ruang Kita

Muhammadiyah di Abad Kedua: Kompleksitas Zaman, Kecepatan Respon, dan Tanggung Jawab Kader

Muhammadiyah di Abad Kedua: Kompleksitas Zaman, Kecepatan Respon, dan Tanggung Jawab Kader Oleh: SiS, Antarkita Memasuki abad kedua, Muhammadiyah tidak lagi berdiri di medan perjuangan yang sederhana. Jika pada abad pertama tantangan utama adalah kebodohan, keterbelakangan, kemiskinan, dan kolonialisme yang kasat mata, maka pada abad kedua tantangannya jauh lebih rumit: globalisasi ekonomi, revolusi digital, krisis iklim, polarisasi identitas, krisis moral publik, hingga perubahan nilai yang bergerak sangat cepat. Dunia berubah dalam hitungan detik. Informasi menyebar dalam sekejap. Isu sosial meledak di media sosial sebelum sempat dikaji secara mendalam. Kebijakan publik berubah cepat mengikuti tekanan opini. Dalam situasi seperti ini, organisasi sebesar Muhammadiyah tidak cukup hanya kuat secara struktur; ia harus lincah secara respon. Kompleksitas yang Tidak Sederhana Persoalan hari ini tidak berdiri sendiri. Kemiskinan berkaitan dengan pendidikan. Pendidikan berkaitan dengan teknologi. Teknologi berkaitan dengan etika. Etika berkaitan dengan budaya digital. Budaya digital berkaitan dengan politik identitas. Semua saling terhubung. Masalah lingkungan bukan sekadar soal sampah, tetapi menyangkut tata kelola industri, kebijakan energi, kesadaran konsumsi, hingga keadilan antar generasi. Persoalan ekonomi bukan hanya soal modal, tetapi juga soal literasi keuangan, regulasi global, dan transformasi digital. Kompleksitas inilah yang menuntut Muhammadiyah untuk tidak sekadar hadir, tetapi hadir dengan kedalaman analisis dan kecepatan respon. Harapan Publik yang Tetap Tinggi Di tengah perubahan itu, masyarakat tetap memandang Muhammadiyah sebagai rujukan moral dan intelektual. Ketika terjadi konflik sosial, publik berharap Muhammadiyah bersuara. Ketika muncul kebijakan kontroversial, publik menunggu sikap. Ketika ada krisis kemanusiaan, umat berharap Muhammadiyah bergerak. Harapan ini adalah kehormatan sekaligus beban. Kehormatan karena Muhammadiyah dipercaya. Beban karena kepercayaan itu menuntut konsistensi dan kapasitas. Namun kita juga harus jujur: waktu pimpinan terbatas. Energi manusia terbatas. Tidak semua pimpinan memiliki akses literasi terhadap isu-isu baru yang bergerak sangat cepat. Sementara tantangan hari ini sering kali membutuhkan respon dalam hitungan jam, bukan minggu. Di sinilah muncul kesenjangan antara harapan besar terhadap Muhammadiyah dan kompleksitas persoalan yang membutuhkan respon cepat. Dari Kultur Reaktif ke Kultur Inisiatif Abad kedua tidak memungkinkan Muhammadiyah berjalan dengan pola lama yang terlalu menunggu. Struktur tetap penting. Musyawarah tetap utama. Tetapi dinamika zaman menuntut kultur inisiatif aktif dari para kader. Kader Muhammadiyah hari ini tersebar di berbagai sektor: akademisi, profesional, pengusaha, aktivis sosial, teknokrat, birokrat, bahkan kreator digital. Mereka memiliki kompetensi, jejaring, dan kapasitas yang luar biasa. Namun semua itu tidak akan berarti jika hanya menunggu arahan formal. Inisiatif aktif berarti: membaca persoalan sebelum diminta, menyusun kajian sebelum diperintah, menawarkan solusi sebelum ditugaskan, dan bergerak sebelum keadaan menjadi lebih buruk. Ini bukan tindakan mendahului pimpinan, melainkan menghidupkan semangat tajdid—pembaruan—yang menjadi ruh Muhammadiyah sejak awal. Kecepatan Tanpa Kehilangan Kedalaman Tantangan terbesar abad kedua adalah bagaimana merespon cepat tanpa kehilangan kedalaman. Responsif bukan berarti tergesa-gesa. Cepat bukan berarti dangkal. Muhammadiyah harus tetap menjaga tradisi ilmiah, tetapi dengan sistem yang lebih adaptif. Diperlukan: penguatan literasi pimpinan dan kader terhadap isu kontemporer, pemanfaatan teknologi informasi untuk koordinasi cepat, kolaborasi lintas majelis, lembaga, dan komunitas kader, serta keberanian membangun pusat-pusat kajian yang tanggap zaman. Organisasi besar akan tertinggal jika lambat beradaptasi. Tetapi organisasi yang tergesa tanpa pijakan juga akan kehilangan arah. Maka keseimbangan antara kecepatan dan kedalaman menjadi kunci. Menutup Kesenjangan Harapan dan Realitas Kondisi hari ini mendesak untuk mengisi kesenjangan antara ekspektasi publik terhadap Muhammadiyah dan kemampuan respon organisasi terhadap kompleksitas masalah. Kesenjangan itu tidak bisa ditutup hanya dengan memperbanyak rapat atau program seremonial. Ia harus ditutup dengan: kader yang proaktif, kepemimpinan yang terbuka terhadap inisiatif, budaya organisasi yang kolaboratif, dan sistem komunikasi yang lebih dinamis. Muhammadiyah di abad kedua harus menjadi organisasi yang belajar cepat, bergerak cepat, dan berpikir jauh. Abad Kedua: Ujian Kedewasaan Abad kedua bukan hanya soal usia panjang, tetapi tentang kematangan. Organisasi yang matang bukan yang bebas dari masalah, melainkan yang mampu merespon masalah dengan bijak dan sigap. Jika pada abad pertama Muhammadiyah membangun fondasi, maka pada abad kedua ia harus memperkuat daya tahan dan daya lentingnya. Daya tahan menghadapi tekanan zaman. Daya lenting untuk bangkit dan berinovasi. Dan semua itu tidak mungkin hanya dibebankan kepada pimpinan. Ia adalah tanggung jawab kolektif seluruh kader. Karena pada akhirnya, Muhammadiyah bukan sekadar struktur. Ia adalah gerakan. Dan gerakan hanya akan hidup jika setiap kader merasa terpanggil untuk berinisiatif, berkontribusi, dan bertanggung jawab. Abad kedua adalah panggilan untuk bergerak lebih cepat, berpikir lebih dalam, dan bekerja lebih kolaboratif. Jika tidak, kompleksitas zaman akan mendahului kita. Tetapi jika iya, Muhammadiyah akan tetap menjadi kekuatan moral dan sosial yang relevan—bukan hanya bertahan, tetapi memimpin perubahan. SiS, antarkita

Scroll to Top