Antarkita

4 Januari 2026

Prespektif, Ruang Kita

Ceruk Pasar, Rezeki, dan Keteguhan Ikhtiar, Pelajaran Sunyi dari Pedagang Baju Keliling

Ceruk Pasar, Rezeki, dan Keteguhan Ikhtiar, Pelajaran Sunyi dari Pedagang Baju Keliling Dalam dunia ekonomi modern, ada satu kebenaran mendasar yang sering terabaikan oleh hiruk-pikuk digitalisasi: tidak ada produk yang benar-benar kehilangan pasar, yang ada hanyalah pasar yang belum kita pahami sepenuhnya. Prinsip inilah yang dalam ilmu pemasaran dikenal sebagai ceruk pasar (niche market)—sebuah ruang kecil, spesifik, namun nyata. Philip Kotler dan Kevin Lane Keller dalam Marketing Management menjelaskan bahwa ceruk pasar adalah segmen pelanggan yang memiliki kebutuhan unik, yang sering kali tidak menarik bagi pemain besar karena skalanya kecil, tetapi justru sangat bernilai bagi pelaku yang fokus dan konsisten. Ceruk pasar tidak menuntut dominasi, melainkan ketepatan. Era Digital dan Ilusi Keseragaman Pasar Di era digital, hampir semua produk dapat ditemukan di pasar online. Pakaian, makanan, jasa, bahkan kebutuhan yang sangat personal sekalipun kini tersedia dalam satu layar. Platform e-commerce menciptakan ilusi bahwa pasar telah seragam, efisien, dan sepenuhnya terjangkau oleh teknologi. Namun kenyataan sosial berkata lain. Di sela-sela algoritma, logistik, dan pembayaran digital, kita masih menemukan pedagang keliling—salah satunya pedagang pakaian keliling—yang berjalan perlahan dari kampung ke kampung, dari pintu ke pintu. Keberadaan mereka bukan sisa masa lalu, melainkan respon alami atas kebutuhan pasar yang tidak homogen. Sosiolog ekonomi Mark Granovetter menyebut bahwa keputusan ekonomi sering kali dipengaruhi oleh relasi sosial dan kepercayaan, bukan semata harga atau efisiensi. Pedagang keliling hidup di ruang relasi itu—ruang yang tidak bisa digantikan oleh aplikasi. Mengapa Mereka Tetap Bertahan? Ada beberapa alasan mendasar mengapa pedagang baju keliling tetap eksis, bahkan di tengah gempuran pasar online. Pertama, keterbatasan adaptasi teknologi. Tidak semua orang memiliki akses, literasi digital, atau modal untuk masuk ke pasar online. Namun keterbatasan ini tidak otomatis mematikan daya juang. Sebaliknya, ia melahirkan strategi alternatif: mengandalkan kehadiran fisik dan interaksi langsung. Kedua, keyakinan akan adanya pembeli yang membutuhkan sistem layanan mereka. Masih banyak konsumen yang: Tidak memiliki akses internet stabil Tidak percaya pada transaksi online Ingin melihat dan mencoba barang secara langsung Merasa nyaman berinteraksi dengan manusia, bukan layar Di sinilah pedagang keliling menemukan ceruknya. Mereka bukan sekadar menjual pakaian, tetapi menghadirkan layanan personal yang tidak disediakan pasar digital. Ketiga, biaya sosial yang rendah bagi konsumen. Tidak ada ongkir, tidak ada risiko barang tidak sesuai, tidak ada proses pengembalian. Semua selesai di tempat. Dalam teori perilaku konsumen, ini disebut sebagai reduction of perceived risk—pengurangan rasa risiko dalam keputusan membeli. Rezeki: Antara Ikhtiar dan Keyakinan Namun ada satu fondasi yang jauh lebih kuat dari sekadar logika pasar: keyakinan bahwa rezeki telah diatur oleh Allah SWT. Dalam Islam, rezeki bukan hanya hasil kerja keras, tetapi juga ketetapan Ilahi yang dibuka melalui usaha. Al-Qur’an menegaskan: “Allah melapangkan rezeki bagi siapa yang Dia kehendaki dan menyempitkannya bagi siapa yang Dia kehendaki.” (QS. Ar-Ra’d: 26) Ayat ini tidak mengajarkan fatalisme, tetapi ketenangan batin. Bahwa manusia wajib berusaha, namun tidak boleh terjebak pada kecemasan berlebihan terhadap hasil. Rasulullah ﷺ bersabda: “Tidaklah seseorang memakan makanan yang lebih baik daripada hasil kerja tangannya sendiri.” (HR. Bukhari) Pedagang baju keliling memahami ini dengan cara yang sangat membumi. Mereka berjalan, menawarkan, menerima penolakan, dan tetap tersenyum. Bagi mereka, satu pembeli hari ini sudah cukup untuk menguatkan keyakinan bahwa Allah tidak pernah salah membagi rezeki. Ceruk Pasar dan Keikhlasan Dalam perspektif ekonomi Islam, ceruk pasar tidak hanya soal peluang, tetapi juga keberkahan. Rezeki yang baik bukan hanya banyaknya angka, tetapi ketenangan yang menyertainya. Imam Al-Ghazali menyebut bahwa rezeki yang halal dan diperoleh dengan cara yang jujur akan melahirkan thuma’ninah—ketenteraman jiwa. Inilah yang sering kita lihat pada pedagang kecil: hidup sederhana, tetapi tidak kehilangan harapan. Pasar boleh berubah. Teknologi boleh melesat. Namun nilai ikhtiar, kejujuran, dan keyakinan tetap menjadi fondasi yang tak tergantikan. Penutup: Menghormati Ikhtiar yang Sunyi Pedagang baju keliling mengajarkan kita satu hal penting: bahwa tidak semua perjuangan harus viral, tidak semua bisnis harus digital, dan tidak semua rezeki harus besar untuk menjadi cukup. Selama masih ada langkah yang digerakkan oleh harapan, selama masih ada keyakinan bahwa Allah Maha Adil dalam membagi rezeki, maka ceruk pasar akan selalu ada—sekecil apa pun ia tampak. Semangat terus, Pak Pedagang Baju Keliling. Langkah sunyimu adalah pelajaran besar tentang makna ikhtiar dan percaya. SiS, Antarkita

Kabarkita, Prespektif, Ruang Kita

Harga Cabai Mahal, (Takmir MAB Gelar Pelatihan Tabelampot)

Harga Cabai Mahal, (Takmir MAB Gelar Pelatihan Tabelampot) Salah satu cara untuk menjaga kebugaran dan tetap bahagia bagi masyarakat yang sudah memasuki periode lansia adalah melakukan aktivitas yang ringan rutin dan menyenangkan. Satu di antaranya adalah menanam dan merawat tanaman sayuran dalam pot. Takmir Masjid Agung Baitussalam (MAB), Purwokerto pada hari Sabtu 03 Januari 2026 mulai pukul 08.00 sampai dengan 11.00 kembali menyelenggarakan kegiatan pelatihan tanam cabai di dalam pot (Tabelampot). Acara dimulai dengan cek kesehatan seluruh peserta. Kegiatan pelatihan tersebut adalah yang pertama untuk tahun 2026. Tahun sebelumnya, akhir 2025 Takmir MAB sudah melaksanakan pelatihan Tabelampot dengan pesertanya adalah jamaah putra. Khusus pelatihan kali ini di awal 2026 pesertanya adalah jamaah putri MAB yang tergabung dalam Forum Silaturahim Lansia Bahagia. Jumlah peserta sekitar 160 orang, di antaranya Tri Utami Sutarmo (88 tahun) adalah peserta paling senior dan Linda (36 tahun) peserta termuda. Setiap peserta mendapatkan 10 (sepuluh) bibit cabai dan 10 kantong polibag, ungkap Profesor dari Unsoed Prof.Ir. Totok Agung, DH.,MP.,PhD. saat bincang-bincang dengan Ir.H.Alief Einstein,M.Hum. dari kafapet-unsoed.com pada hari Sabtu 03 Januari 2026. Harga cabe pada bulan Desember 2025 antara 85.000 rupiah sampai 120.000 rupiah. Mahalnya harga cabe; sehingga perlu di gelar pelatihan Tabelampot di MAB yang dimulai pukul 09.00, dibuka oleh Ketua Panitia H. Mahfulyono. Dalam sambutannya Ketua Takmir H. Sudarman, SAg. menjelaskan perlunya manusia belajar komunikasi. Yaitu komunikasi damai dengan Allah, dengan diri sendiri, damai dengan manusia, dan damai dengan alam. Jika kita damai dengan alam, maka alam akan damai dengan kita. Hari ini kita belajar berdamai dengan tanah, pupuk, dan tanaman cabai. Peserta menurut Prof.Totok Agumg (alumni S3 dari Kyushu University, Fukuoka Jepang) sangat antusias dengan kegiatan ini. Para peserta mendengarkan paparan dengan seksama dan mencatat materi yang disampaikan. Materi disampaikan oleh tiga narasumber yaitu Prof Totok Agung, Dr. Etik Wukir Tini, dan Nindy Seviradari, SP., MSc. Ke tiganya adalah dosen Fakultas Pertanian Unsoed. Setelah materi diberikan, kemudian diadakan diskusi yang sangat dinamis. Kegiatan dilanjutkan dengan praktik tanam cabai di dalam pot atau polibag. Tahapannya adalah penyiapan media tanam yang terdiri dari tanah yang sudah gembur, dicampur pupuk kandang atau kompos yang sudah jadi dan sekam padi dengan perbandingan masing – masing sepertiga bagian. Bibit disiapkan dimulai dengan pembukaan plastik atau kantong bibit secara perlahan agar tidak merusak akar bibit. Tanah dan bibit tanaman dipindahkan ke dalam lubang sedalam 5 cm pada media tanam dalam pot. Tanah di sekitar bibit muda dipadatkan kemudian segera diberi air secukupnya. Kegiatan selanjutnya adalah pemeliharaan tanaman, mulai dari pemupukan dan pengendalian hama penyakit. Diperkirakan buah cabai mulai dipanen pada umur tanaman sekitar 62 hari. Tanaman yang sehat dan pertumbuhan baik dapat dipanen beberapa kali sampai 10 kali.

Coach Waidi, Peluang Usaha

I.P.H.I. ARCAWINANGUN ADAKAN  LOMBA TPQ  TINGKAT KABUPATEN BANYUMAS

I.P.H.I. ARCAWINANGUN ADAKAN  LOMBA TPQ  TINGKAT KABUPATEN BANYUMAS Ikatan Persaudaraan Haji Indonesia/IPHI Ranting Arcawinangun Purwokerto kembali mengadakan lomba TPQ dan Madin Tingkat Kabupaten Banyumas, 28 Desember 2025 di Masjid Jami Sholahudin Al Ayyubi Arcawinangun Purwokerto.  Lomba diikuti oleh 122 peserta dari 24 TPQ di Wilayah Kabupaten Banyumas untuk  7 tujuh mata lomba: lomba adzan subuh, shalat berjamaah, pembacaan dan hafalan Surah Al Fatikhah, Surat Al Baqoroh, Juz ‘Amma, lomba pidato dan  pertandingan Tenis Meja. Menurut Ketua Panitia, Drs. Waidi, MBA.Ed, lomba seperti ini digelar setiap tahun sebagai salah satu realisasi program kegiatan IPHI Ranting Arcawinangun Purwokerto. Tujuan dari kegiatan ini diantaranya adalah: untuk menanamkan nilai-nilai Islam pada santri; menanamkan jiwa pemenang, dan membentuk karakter pemenang, bukan pecundang paparnya. Acara dibuka oleh Kepala Kelurahan Arcawinangun, Dimas Tri Satyo S, STP. Dalam kata sambutannya, Lurah Dimas menyampaian apresiasi dan supportnnya atas terselenggaranya kegiatan ini. Dalam acara tersebut juga dihari oleh Badan Koordinasi (Bakdo) Lembaga Pendidika Al Qur’an Kabupaten Banyumas, Ustadz Malyadi, SPt (Kak Imung). Dalam kata sambutannya Mulyadi berharap kepada para juara/pemenang bisa berprestasi tidak saja di tingkat Kabupaten Banyumas tetapi di tingkat Propinsi dan Nasional. Tempat lomba di Masjid Jami Sholahudin Al Ayyubi Arcawinangun,  dan Kantor IPHI Arcawianangun. Pada lomba kali ini yang menjadi juara I (umum) adalah: LPQ Sanggar Qur’an kombas Purwokerto lor dengan jumlah nilai 445; Juara II LPQ Sholahuddin  Kranji; dan juara III Madin Muntaha Baseh dengan jumlah nilai 260. Masing masing-juara mendapatkan trompi dan uang pembinaan. Perwakilan Bakdo Banyumas, Ustadz Mulyadi, SPt sedang memberikan Sambutannya. Juara Umum 1, 2, dan 3 menerima pialada dan sertifikat dari Ketua IPHI Arcawianagun, H. Murnaso, MPd. Pertandingan Tenis Meja Lomba Pidato Lomba Shalat Berjamaah

Scroll to Top