Antarkita

15 Januari 2026

Prespektif, Ruang Kita

Mental Pejuang: Kekuatan Batin yang Menjaga Manusia Tetap Berdiri

Mental Pejuang: Kekuatan Batin yang Menjaga Manusia Tetap Berdiri Mental pejuang adalah pola pikir, sikap batin, dan karakter yang membuat seseorang tetap berdiri, bergerak, dan berjuang meski berada dalam tekanan, keterbatasan, dan ujian hidup. Ia bukan milik orang-orang yang hidupnya selalu mudah, tetapi justru tumbuh pada mereka yang akrab dengan kesulitan. Mental pejuang bukan tentang tidak pernah lelah atau tidak pernah jatuh. Sebab lelah adalah fitrah, jatuh adalah keniscayaan. Mental pejuang adalah tidak menyerah meski lelah, dan mampu bangkit setiap kali jatuh. Ia mungkin tertatih, tetapi tidak berhenti. Ia mungkin terluka, tetapi tidak menyerah pada keadaan. Orang dengan mental pejuang memahami satu hal penting: hidup memang medan perjuangan. Karena itu, ia tidak mudah rapuh oleh kesulitan ekonomi, kegagalan, atau penolakan. Ia sadar bahwa ujian bukan tanda kebencian Allah, melainkan bagian dari proses pendewasaan dan pemurnian diri. Mental pejuang juga tercermin dalam sikap sabar tapi tidak pasrah. Sabar bukan berarti diam tanpa usaha, bukan pula menerima keadaan dengan putus asa. Sabar adalah tetap berikhtiar dengan sungguh-sungguh sambil menerima proses yang Allah tetapkan. Ia bekerja, berdoa, dan terus melangkah, meski hasil belum terlihat. Karakter lain dari mental pejuang adalah tidak gemar mengeluh, tetapi lebih banyak bergerak. Ia memilih fokus pada solusi, bukan larut menyalahkan keadaan, orang lain, atau bahkan takdir. Energinya tidak dihabiskan untuk meratapi nasib, tetapi diarahkan untuk memperbaiki keadaan, walau sedikit demi sedikit. Mental pejuang juga ditandai dengan keberanian memulai dari bawah. Ia tidak gengsi dengan proses, tidak malu dengan pekerjaan halal, dan tidak silau oleh pencapaian orang lain. Ia paham bahwa kemuliaan tidak ditentukan oleh posisi awal, melainkan oleh ketekunan, kejujuran, dan konsistensi dalam berjalan. Karena itu, mental pejuang selalu dekat dengan istiqomah. Sedikit tapi terus lebih berharga daripada besar tapi sebentar. Ia tidak mengejar sensasi instan, tetapi membangun langkah panjang. Baginya, yang penting bukan cepat terlihat berhasil, melainkan tetap berada di jalan yang benar. Semua itu digerakkan oleh satu hal utama: tujuan hidup yang jelas. Perjuangannya bukan sekadar untuk bertahan hidup, tetapi untuk keluarga, umat, nilai-nilai kebaikan, dan pada akhirnya mengharap ridha Allah SWT. Dalam perspektif Islam, mental pejuang adalah cerminan dari sabar, tawakal, dan jihad dalam makna luas—bersungguh-sungguh dalam kebaikan di segala lini kehidupan. Allah sendiri menegaskan: “Sesungguhnya Allah bersama orang-orang yang sabar.” (QS. Al-Baqarah: 153) Rasulullah ﷺ adalah teladan tertinggi mental pejuang. Beliau pernah menahan lapar berhari-hari, dihina, diboikot, dan disakiti. Namun semua itu tidak menghentikan langkah dakwahnya. Tekanan tidak memadamkan semangat, penderitaan tidak mematikan harapan. Dari situlah umat belajar bahwa kekuatan sejati bukan pada kenyamanan, tetapi pada keteguhan iman dan ketulusan perjuangan. Di zaman sekarang, mental pejuang tidak selalu tampil di mimbar atau panggung besar. Ia hadir dalam sosok-sosok sederhana: orang tua yang tetap bekerja halal meski penghasilan kecil, guru dan relawan yang mengabdi tanpa banyak sorotan, driver, pedagang kecil, petani, dan buruh yang jujur dan istiqomah, serta aktivis sosial dan dakwah yang bekerja dalam senyap. Mereka mungkin tidak dikenal, tetapi merekalah penyangga kehidupan dan penjaga nilai. Pada akhirnya, mental pejuang adalah kekuatan batin yang membuat seseorang tidak kalah oleh keadaan, tidak hancur oleh ujian, dan tidak sombong oleh kemenangan. Sebab menang atau kalah adalah urusan hasil, sedangkan berjuang atau menyerah adalah pilihan sikap. Untuk siapa pun yang hari ini sedang berjalan dalam sunyi, berjuang dalam senyap, dan bertahan dalam keterbatasan—tetaplah melangkah. Allah melihat, Allah mencatat, dan Allah tidak pernah menyia-nyiakan perjuangan hamba-Nya. SiS, Antarkita

Prespektif, Ruang Kita

Jika Tak Mampu Menolong, Jangan Menghujat: Pelajaran Empati dari Rasulullah ﷺ, Para Sahabat, dan Realitas Zaman

Jika Tak Mampu Menolong, Jangan Menghujat: Pelajaran Empati dari Rasulullah ﷺ, Para Sahabat, dan Realitas Zaman Kalau engkau tidak mampu menolong saudaramu, maka minimal jangan menghujatnya. Kalimat ini seharusnya menjadi etika dasar hidup bermasyarakat, terlebih di tengah kondisi ekonomi yang belum sepenuhnya pulih dan terus menekan banyak keluarga di negeri ini. Realitas Sosial: Kesulitan Itu Nyata dan Bisa Menimpa Siapa Saja Kondisi ekonomi hari ini belum menunjukkan perbaikan yang signifikan. Lapangan pekerjaan semakin sempit, biaya hidup meningkat, dunia usaha penuh ketidakpastian, dan tidak semua orang memiliki modal, jaringan, atau kesempatan yang sama. Banyak orang bertahan bukan karena tidak mau berusaha, tetapi karena sedang kehabisan daya. Islam mengajarkan bahwa kesulitan bukan aib, dan kelapangan bukan jaminan keselamatan. Hidup berputar, rezeki bergilir, dan ujian datang silih berganti. Allah SWT menegaskan: “Dan sungguh Kami akan menguji kamu dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa, dan buah-buahan. Dan sampaikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang sabar.” (QS. Al-Baqarah: 155) Ayat ini menegaskan bahwa kelaparan dan kesempitan ekonomi adalah bagian dari ujian iman, bukan tanda kegagalan hidup. Maka sangat tidak adil jika seseorang yang sedang tertimpa kesulitan justru diadili, disindir, dicibir, atau dituduh malas dan tidak berusaha. Padahal, bisa jadi esok hari giliran kita yang diuji dengan cara yang sama—atau bahkan lebih berat. Rasulullah ﷺ Pernah Lapar Berhari-hari Rasulullah ﷺ adalah manusia paling mulia, pemimpin umat, dan kekasih Allah. Namun sejarah mencatat bahwa beliau pernah tidak makan selama beberapa hari. Dalam hadits sahih riwayat Al-Bukhari dan Muslim, diceritakan bahwa Rasulullah ﷺ mengikatkan batu di perutnya untuk menahan rasa lapar akibat tidak adanya makanan. Ini adalah pelajaran besar bagi umat Islam: ➡️ Kesulitan hidup tidak menurunkan derajat seseorang di sisi Allah. ➡️ Kelaparan dan kemiskinan bukan bukti kurang iman. Maka, bagi siapa pun yang hari ini sedang berada dalam kesempitan rezeki: bersabarlah. Rasulullah ﷺ pernah berada di posisi itu, dan Allah tidak pernah meninggalkan hamba-Nya yang bertawakal. Allah SWT berfirman: “Sesungguhnya bersama kesulitan itu ada kemudahan.” (QS. Al-Insyirah: 6) Ayat ini bukan janji kosong, tetapi sunnatullah yang pasti berlaku—meski waktunya sering kali tidak sesuai dengan keinginan manusia. Akhlak Para Sahabat: Menolong Tanpa Menghakimi Jika Rasulullah ﷺ memberi teladan kesabaran, maka para sahabat memberi teladan kepedulian sosial. Salah satu contoh paling agung adalah Utsman bin Affan radhiyallahu ‘anhu. Ketika Madinah dilanda krisis air, satu-satunya sumber air dikuasai oleh seorang pemilik yang menjualnya dengan harga mahal. Rasulullah ﷺ bersabda: “Siapa yang membeli Sumur Raumah lalu mewakafkannya untuk kaum Muslimin, maka baginya surga.” (HR. Tirmidzi) Utsman bin Affan tidak berdebat, tidak menyalahkan keadaan, dan tidak menunggu orang lain bergerak. Ia membeli sumur tersebut dengan hartanya sendiri dan mewakafkannya untuk umat. Ia tidak berkata: “Kenapa kalian miskin?” “Kenapa tidak usaha sendiri?” “Ini bukan tanggung jawab saya.” Ia memilih menjadi solusi, bukan komentator. Inilah akhlak Islam: hadir untuk menolong, bukan sibuk menghakimi. Islam Mengatur Lisan Sebelum Mengatur Harta Jika seseorang tidak mampu membantu dengan harta, Islam tetap memberi jalan: jaga lisan dan sikap. Rasulullah ﷺ bersabda: “Barang siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia berkata baik atau diam.” (HR. Bukhari dan Muslim) Menghujat orang miskin, menyindir yang jatuh, atau mencemooh yang gagal bukan hanya melukai perasaan, tetapi juga mencederai iman. Rasulullah ﷺ juga bersabda: “Seorang Muslim adalah saudara bagi Muslim lainnya, tidak menzaliminya dan tidak membiarkannya.” (HR. Muslim) Membiarkan saudara kita terluka oleh kata-kata kita sendiri adalah bentuk pembiaran yang dilarang. Untuk yang Sedang Lapang Rezekinya Bagi siapa pun yang hari ini diberi kelapangan rezeki, bersyukurlah dan rendahkan hati. Jika belum mampu meneladani kedermawanan Utsman bin Affan, setidaknya jangan menambah beban orang lain dengan hujatan. Karena harta bisa habis, jabatan bisa runtuh, dan kesehatan bisa hilang—namun jejak kebaikan dan keburukan lisan akan tetap dicatat. Allah SWT mengingatkan: “Adapun nikmat Tuhanmu, maka ceritakanlah (dengan bersyukur), bukan dengan kesombongan.” (QS. Ad-Dhuha: 11) Penutup: Empati adalah Wajah Iman Empati adalah tanda iman yang hidup. Menahan lisan adalah bentuk ibadah. Tidak menghakimi adalah cermin kedewasaan ruhani. Jika engkau tidak bisa mengangkat beban saudaramu, jangan menambah berat langkahnya dengan hinaan. Karena boleh jadi, doa orang yang terhina itulah yang justru mengetuk langit. SiS, Antarkita

Kabarkita, Prespektif, Ruang Kita

Ikhtiar SMP Muhammadiyah 2 Purwokerto Menyalakan Pendidikan Berkemajuan di Era Digital

Ikhtiar SMP Muhammadiyah 2 Purwokerto Menyalakan Pendidikan Berkemajuan di Era Digital Purwokerto–Banyumas || AntaraKita.com — SMP Muhammadiyah 2 Purwokerto menggelar Workshop Penguatan Kompetensi Guru selama dua hari, Rabu–Kamis (14–15 Januari 2026), bertempat di lingkungan sekolah, Jl. Gerilya Barat Gang II, Tanjung, Kecamatan Purwokerto Selatan, Kabupaten Banyumas. Kegiatan ini menjadi ikhtiar strategis sekolah dalam menyalakan pendidikan berkemajuan di tengah derasnya akselerasi digital. Workshop yang diikuti seluruh pendidik ini mengusung tema “Digitalisasi Pembelajaran untuk Mewujudkan Proses Pembelajaran yang Aktif, Kreatif, Bermakna, dan Berpusat pada Murid.” Tema tersebut menegaskan komitmen SMP Muhammadiyah 2 Purwokerto dalam menghadirkan pembelajaran yang adaptif terhadap perkembangan zaman, sekaligus tetap berpijak kokoh pada nilai-nilai Pendidikan Muhammadiyah. Lebih dari sekadar pelatihan teknis, workshop ini menjadi ruang refleksi kolektif bagi para guru Muhammadiyah dalam merespons tantangan pendidikan kontemporer. Digitalisasi pembelajaran diposisikan bukan sebagai tujuan akhir, melainkan sebagai wasilah untuk memerdekakan belajar, menghidupkan interaksi edukatif, serta menumbuhkan makna dalam proses pendidikan. Kepala SMP Muhammadiyah 2 Purwokerto, Yuni Prihartini, M.Pd., dalam sambutan pengantarnya menegaskan bahwa guru Muhammadiyah dituntut untuk terus bertransformasi tanpa kehilangan ruh dakwah dan semangat tajdid. Menurutnya, peningkatan kompetensi guru merupakan bentuk pengabdian kepada Persyarikatan sekaligus ikhtiar menjaga sekolah Muhammadiyah sebagai benteng nilai dan pusat inovasi. “Digitalisasi pembelajaran adalah upaya menghadirkan proses pendidikan yang lebih bermakna, agar iman, ilmu, dan amal dapat berpadu dalam praksis pendidikan berkemajuan. Inilah misi pendidikan yang diwariskan KH. Ahmad Dahlan,” ujarnya. Workshop ini menghadirkan Didit Ariyanto Arifin, M.Pd., Pengawas Majelis Dikdasmen & PNF PDM Banyumas, sebagai narasumber utama. Dalam paparannya, Didit menekankan pentingnya literasi digital yang dilandasi kesadaran pedagogis dan nilai kemanusiaan. Ia mengajak para guru memandang teknologi sebagai ruang dialog baru antara pendidik dan murid. “Teknologi akan bermakna ketika digunakan untuk membangun interaksi, kolaborasi, dan pengalaman belajar yang memerdekakan. Tanpa kesadaran nilai, teknologi justru bisa menjauhkan manusia dari hakikat pendidikan,” tuturnya. Suasana workshop berlangsung dinamis dan partisipatif. Para guru tampak antusias mempraktikkan materi dengan perangkat digital masing-masing, berdiskusi, serta saling berbagi praktik baik pembelajaran. Ruang-ruang kelas diatur secara kolaboratif, mencerminkan semangat pembelajaran aktif yang menjadi ruh pendidikan Muhammadiyah. Salah satu peserta, Kurnia Widiasih, S.Pd.I., menilai workshop ini membuka perspektif baru tentang peran guru di era digital. “Kami diingatkan bahwa teknologi dapat membuat kelas lebih hidup dan bermakna selama digunakan dengan niat mendidik dan menanamkan nilai. Digitalisasi bukan tujuan akhir, tetapi sarana dakwah kultural,” ungkap Guru Al-Islam, Kemuhammadiyahan, dan Bahasa Arab tersebut. Hal senada disampaikan Agus Salim, S.Pd.Si., Guru Matematika. Ia merasakan langsung manfaat digitalisasi dalam menyederhanakan konsep-konsep abstrak agar lebih mudah dipahami siswa. “Pembelajaran menjadi lebih dialogis dan kontekstual. Namun kami juga diingatkan bahwa teknologi hanyalah alat; ruh pendidikan tetap terletak pada kesadaran nilai dan tanggung jawab moral guru,” ujarnya. Workshop ini meneguhkan kembali peran guru Muhammadiyah sebagai agen perubahan di ruang kelas. Tidak hanya menguasai materi dan teknologi, tetapi juga menjaga orientasi pendidikan pada pembentukan karakter, kesadaran ideologis, dan nilai-nilai kemanusiaan. Dari ruang kelas yang terus bertransformasi, SMP Muhammadiyah 2 Purwokerto menyalakan ikhtiar pendidikan berkemajuan—mengolah teknologi dengan nurani, merawat ilmu dengan adab, dan menyiapkan generasi yang siap menyinari zamannya. (Tarqum Aziz | JurnalisMu Banyumas Raya)

Scroll to Top