Antarkita

28 Januari 2026

Kabarkita, Peluang Usaha, Prespektif, Ruang Kita

Natural Uswatun Hasanah (NATUS): Perawatan Kulit Alami Berbasis Nilai dan Ilmu

Natural Uswatun Hasanah (NATUS): Perawatan Kulit Alami Berbasis Nilai dan Ilmu Natural Uswatun Hasanah atau NATUS merupakan produk skincare milik Aisyiyah Jawa Tengah yang dihadirkan sebagai ikhtiar perawatan kulit yang aman, bertanggung jawab, dan berorientasi pada kesehatan kulit jangka panjang. NATUS tidak lahir sebagai produk instan dengan janji berlebihan, melainkan sebagai rangkaian perawatan kulit yang membantu menjaga dan merawat kulit secara konsisten. Pada tahap awal, NATUS akan hadir dalam tiga jenis produk utama, yaitu Facial Wash, Moisturizer, dan Sunscreen, yang saling melengkapi dalam rutinitas perawatan kulit harian. Facial Wash NATUS: Membersihkan dengan Perawatan Lembut Skintive Bright Facial Cleanser merupakan facial wash yang diformulasikan untuk membersihkan wajah secara menyeluruh serta mengangkat kotoran dan minyak berlebih, sehingga kulit tampak lebih segar dan sehat setiap hari. Diperkaya dengan kandungan terbaik seperti Niacinamide, Papaya Extract, dan Aloe Vera Extract, facial wash ini membantu mencerahkan kulit, menjaga kelembapan, serta memberikan efek menenangkan pada wajah, sehingga aman digunakan untuk kulit sensitif. Moisturizer NATUS: Menjaga Kelembapan dan Ketahanan Kulit Bare Moist Moisturizer merupakan pelembap yang diformulasikan untuk membantu menjaga kelembapan kulit sepanjang hari. Selain melembapkan, moisturizer ini diperkaya dengan 5x Ceramide yang membantu memperkuat skin barrier kulit, sehingga kulit terasa lebih sehat dan terlindungi. Bare Moist Moisturizer juga dilengkapi dengan Cica Complex yang membantu menenangkan kulit serta 12 Berry Complex yang membantu memberikan tampilan kulit yang bercahaya alami setiap hari. Sunscreen NATUS: Perlindungan Harian dari Paparan Lingkungan Natus Sun Protect merupakan hybrid sunscreen yang menggabungkan physical dan chemical sunscreen untuk perlindungan maksimal dari paparan sinar UV. Selain melindungi kulit dari sinar matahari, sunscreen ini juga dilengkapi dengan kandungan anti-pollutant untuk menjaga kulit dari polusi dan paparan blue light, sekaligus melembapkan dan menenangkan kulit, sehingga kulit tetap sehat, nyaman, dan terlindungi sepanjang hari. Edukasi Penggunaan Skincare NATUS menempatkan edukasi sebagai bagian penting dari produknya. Perlu dipahami bahwa manfaat skincare tidak dapat dirasakan secara instan, melainkan membutuhkan penggunaan rutin dan konsisten dalam hitungan bulan. Produk NATUS: Tidak ditujukan untuk memutihkan kulit Bukan produk obat Tidak mengklaim hasil berlebihan NATUS hadir untuk membantu merawat, menjaga, dan mendukung kesehatan kulit, agar kulit tetap nyaman, terawat, dan sehat secara alami.

Hunian Kita, Kabarkita, Peluang Usaha, Prespektif, Ruang Kita

JSM PROPERTI

JSM PROPERTI Gerakan Ekonomi Muhammadiyah dalam Ikhtiar Membangun Kemandirian Umat Muhammadiyah lahir sebagai gerakan dakwah dan tajdid yang menempatkan Islam bukan sekadar sebagai ajaran ritual, tetapi sebagai panduan hidup yang membebaskan, memberdayakan, dan memajukan umat. Sejak awal, Muhammadiyah menyadari bahwa kemiskinan, ketimpangan, dan ketidakadilan struktural tidak dapat diselesaikan hanya dengan ceramah, tetapi membutuhkan kerja sosial, pendidikan, dan ekonomi yang terorganisir. Dalam pandangan Muhammadiyah, ekonomi adalah bagian dari dakwah. Ia bukan tujuan akhir, melainkan alat strategis untuk menjaga martabat manusia, memperkuat keluarga, dan membangun peradaban berkemajuan. Karena itu, penguasaan dan pengelolaan sektor-sektor strategis oleh umat menjadi keharusan ideologis, bukan sekadar pilihan pragmatis. Salah satu sektor strategis tersebut adalah perumahan. Program Perumahan Muhammadiyah Banyumas yang telah dilaunching oleh Pimpinan Daerah Muhammadiyah Banyumas merupakan manifestasi nyata dari kesadaran ideologis tersebut. Perumahan dipahami sebagai kebutuhan dasar yang menentukan kualitas hidup, stabilitas sosial, dan keberlangsungan nilai-nilai Islam dalam keluarga. Rumah bukan hanya tempat berlindung, tetapi ruang pembentukan karakter, akhlak, dan masa depan generasi. Namun Muhammadiyah juga menyadari bahwa sebuah program strategis tidak cukup hanya dilahirkan—ia harus dikawal secara sistematis dan dilanjutkan dengan kesungguhan kolektif. Tanpa penguatan di sektor ekonomi, program perumahan berisiko terjebak pada keterbatasan sumber daya, ketergantungan pada pihak luar, atau berhenti di tengah jalan. Di titik inilah peran saudagar Muhammadiyah menjadi keniscayaan ideologis. Saudagar Muhammadiyah bukan sekadar pelaku ekonomi, melainkan kader gerakan yang memikul tanggung jawab sosial dan ideologis. Kekayaan, jaringan, dan keahlian yang dimiliki bukan semata hak personal, tetapi amanah untuk memperkuat Persyarikatan dan memperluas kemanfaatan dakwah. Atas dasar kesadaran tersebut, Jaringan Saudagar Muhammadiyah (JSM) Banyumas membentuk sebuah badan pekerja khusus untuk mendukung, mengawal, dan mengembangkan Program Perumahan Muhammadiyah Banyumas. Badan pekerja ini diberi nama JSM Properti. JSM Properti: Dari Bisnis Menuju Gerakan JSM Properti tidak diposisikan sebagai entitas bisnis konvensional yang mengejar akumulasi laba semata. Ia dirancang sebagai instrumen gerakan ekonomi Muhammadiyah yang bekerja dengan prinsip: amanah, profesional, berkeadilan, dan berorientasi pada kemaslahatan. Keuntungan ekonomi ditempatkan sebagai sarana, bukan tujuan. Sarana untuk: memperkuat kemandirian program perumahan Muhammadiyah, memperluas akses hunian bagi warga, menggerakkan ekonomi umat, serta menopang keberlanjutan amal usaha Persyarikatan. Dengan demikian, JSM Properti menjadi ruang konsolidasi antara nilai dakwah, kekuatan modal, keahlian teknis, dan kebutuhan umat dalam satu tarikan napas gerakan. Ekonomi sebagai Jalan Pembebasan Dalam konteks sosial yang sarat ketimpangan, di mana tanah dan perumahan sering dikuasai oleh segelintir pemodal besar, kehadiran JSM Properti adalah bentuk ikhtiar pembebasan. Muhammadiyah tidak ingin warganya terus menjadi korban sistem, tetapi hadir sebagai pelaku yang mampu menawarkan alternatif yang adil dan bermartabat. JSM Properti bergerak untuk memastikan bahwa: umat tidak sekadar menjadi pembeli, kader tidak hanya menjadi penonton, dan Persyarikatan tidak terus bergantung. Sebaliknya, umat didorong menjadi subjek pembangunan, kader menjadi penggerak, dan Persyarikatan menjadi aktor utama dalam sektor strategis perumahan. Dari Banyumas, Menyemai Peradaban JSM Properti adalah ikhtiar lokal dengan horizon ideologis yang luas. Dari Banyumas, gerakan ini diharapkan melahirkan model perumahan Muhammadiyah yang: realistis, terjangkau, berkelanjutan, dan berpihak pada nilai-nilai Islam berkemajuan. Model ini bukan untuk dibanggakan, tetapi untuk dibagikan dan direplikasi sebagai bagian dari gerakan ekonomi Muhammadiyah yang lebih luas. Karena bagi Muhammadiyah, membangun rumah berarti membangun keluarga, membangun keluarga berarti membangun masyarakat, dan membangun masyarakat berarti menegakkan peradaban. JSM Properti Bukan sekadar badan pekerja, tetapi ikhtiar ideologis menuju kemandirian umat.

Hunian Kita, Kabarkita, Peluang Usaha, Prespektif, Ruang Kita

Cara Benar Bisnis Perumahan: Dari Nol Menuju Solusi Bangsa

Cara Benar Bisnis Perumahan: Dari Nol Menuju Solusi Bangsa Oleh: Marsahid Jaya, SE, M.Si Indonesia sedang menghadapi persoalan struktural yang kerap dibicarakan, tetapi belum sepenuhnya ditangani secara serius: backlog perumahan yang telah melampaui 15,2 juta unit. Angka ini bukan sekadar problem teknis pembangunan, melainkan cerminan ketimpangan akses terhadap hunian layak—salah satu kebutuhan paling mendasar manusia. Rumah bukan hanya tempat berteduh, tetapi ruang pembentukan karakter keluarga, pusat pendidikan informal, dan fondasi ketahanan sosial bangsa. Di tengah tantangan tersebut, sektor perumahan justru menyimpan peluang besar yang sering luput dilihat secara strategis, khususnya oleh generasi muda. Selama ini, bisnis perumahan kerap dipersepsikan sebagai domain pemain besar bermodal kuat. Padahal, dengan pendekatan yang tepat, sektor ini sesungguhnya terbuka bagi siapa saja yang memiliki visi, pengetahuan, dan keberanian untuk memulai. Bisnis perumahan tidak boleh dipandang semata sebagai aktivitas ekonomi yang mengejar keuntungan jangka pendek. Ia adalah bagian dari solusi nasional. Setiap unit rumah yang dibangun dan terdistribusi dengan baik berarti mengurangi beban negara, memperkuat stabilitas sosial, serta mendorong pertumbuhan ekonomi yang inklusif. Dalam konteks ini, pelaku bisnis perumahan sejatinya berperan sebagai mitra pembangunan, bukan sekadar pedagang properti. Namun, peluang besar ini tidak akan menghasilkan apa-apa tanpa cara yang benar. Banyak kegagalan dalam bisnis perumahan bukan disebabkan oleh minimnya pasar, melainkan oleh kesalahan sejak awal: perencanaan yang lemah, pengabaian aspek legalitas, ketidaktepatan membaca daya beli masyarakat, hingga praktik bisnis yang mengorbankan etika demi keuntungan cepat. Akibatnya, yang muncul bukan solusi, tetapi justru masalah baru—sengketa lahan, proyek mangkrak, dan hilangnya kepercayaan publik. Di sinilah pentingnya perubahan paradigma. Memulai bisnis perumahan dari nol tidak selalu berarti memulai dengan modal besar, tetapi memulai dengan pengetahuan yang cukup dan strategi yang terukur. Pemahaman terhadap regulasi, perizinan, tata ruang, pembiayaan, serta manajemen risiko harus menjadi fondasi utama. Tanpa itu, bisnis perumahan akan rapuh sejak lahir. Generasi muda memiliki keunggulan yang tidak dimiliki generasi sebelumnya: akses terhadap informasi, teknologi, dan jejaring kolaborasi yang luas. Dengan memanfaatkan inovasi, pendekatan kreatif, serta model bisnis yang adaptif, generasi muda justru berpotensi menjadi motor penggerak baru di sektor perumahan. Mereka bisa hadir dengan konsep hunian terjangkau, ramah lingkungan, dan sesuai dengan kebutuhan riil masyarakat, bukan sekadar mengikuti logika spekulasi pasar. Lebih jauh, keberanian generasi muda untuk masuk ke sektor perumahan adalah bentuk tanggung jawab sosial. Selama backlog masih tinggi, negara tidak bisa bekerja sendiri. Dibutuhkan peran aktif masyarakat, dunia usaha, dan komunitas untuk bersama-sama mengambil bagian. Jika generasi muda memilih hanya menjadi penonton, maka persoalan perumahan akan terus diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya. Momentum ini seharusnya tidak disia-siakan. Ketika kebutuhan rumah terus meningkat dan dukungan kebijakan mulai diarahkan pada perumahan rakyat, inilah saat yang tepat untuk memulai—bukan dengan spekulasi, tetapi dengan niat membangun. Bukan dengan jalan pintas, tetapi dengan proses yang benar. Bisnis perumahan yang dijalankan dengan integritas, konsistensi, dan orientasi jangka panjang akan melahirkan dua keuntungan sekaligus: keberlanjutan usaha dan manfaat sosial yang nyata. Pada akhirnya, bisnis perumahan adalah jalan panjang yang menuntut kesabaran dan ketangguhan. Namun di sanalah letak nilainya. Ia bukan hanya tentang membangun rumah, tetapi tentang membangun harapan. Pertanyaannya kini bukan lagi apakah peluang itu ada, melainkan apakah kita—terutama generasi muda—siap mengambil peran sebagai bagian dari solusi bangsa.  

Kabarkita, Prespektif, Ruang Kita

Menghadirkan Solusi di Pendidikan Muhammadiyah

Menghadirkan Solusi di Pendidikan Muhammadiyah Menjawab Kesenjangan Gaji Guru melalui Transformasi Aset dan Modal Sosial Persyarikatan Oleh: SiS Antarkita Muhammadiyah lahir sebagai gerakan pembaruan, bukan sekadar organisasi keagamaan. Sejak awal berdirinya, pendidikan ditempatkan sebagai sarana utama dakwah dan pembebasan. Sekolah-sekolah Muhammadiyah dibangun bukan hanya untuk mencerdaskan akal, tetapi juga untuk membentuk manusia beriman, berakhlak, dan berdaya. Karena itu, pendidikan Muhammadiyah sesungguhnya adalah proyek peradaban. Namun, lebih dari satu abad setelah berdiri, proyek besar ini masih menyimpan persoalan mendasar yang belum sepenuhnya teratasi: kesenjangan kesejahteraan guru Muhammadiyah. Di banyak tempat, gaji guru masih berada di bawah standar kelayakan hidup. Kondisi ini berlangsung lama, senyap, dan sering kali dianggap wajar atas nama pengabdian. Guru dan Pengabdian yang Terlalu Lama Dipersempit Guru Muhammadiyah telah lama ditempatkan dalam posisi yang ambigu. Di satu sisi mereka diagungkan sebagai pahlawan tanpa tanda jasa, penjaga ideologi Persyarikatan, dan ujung tombak dakwah. Di sisi lain, secara struktural mereka dibiarkan berjuang sendiri menghadapi tekanan ekonomi. Pengabdian yang seharusnya lahir dari kesadaran ideologis justru berubah menjadi beban struktural. Keikhlasan memang nilai luhur. Tetapi ketika keikhlasan dijadikan alasan untuk menunda keadilan, maka yang terjadi bukan lagi dakwah, melainkan ketimpangan yang dilembagakan. Dalam jangka panjang, kondisi ini berisiko memudarkan militansi, menurunkan kualitas pendidikan, dan menjauhkan generasi muda terbaik dari dunia pendidikan Muhammadiyah. Paradoks Besar: Aset Melimpah, Guru Gelisah Muhammadiyah bukan organisasi kecil. Kekayaan aset Persyarikatan sering disebut luar biasa—bahkan termasuk yang terbesar di antara organisasi masyarakat sipil di Indonesia. Tanah wakaf, gedung pendidikan, rumah sakit, universitas, dan unit usaha tersebar di hampir seluruh wilayah. Namun persoalannya bukan pada besar-kecilnya aset, melainkan pada arah pemanfaatannya. Banyak aset masih bersifat pasif, administratif, atau dikelola secara sektoral. Aset besar belum sepenuhnya menjelma menjadi alat keadilan sosial, khususnya bagi guru. Akibatnya, beban kesejahteraan guru cenderung dilimpahkan ke sekolah masing-masing, yang secara ekonomi sering kali tidak memiliki kapasitas memadai. Di sinilah terjadi ketimpangan internal yang nyata, tetapi jarang dibicarakan secara terbuka. Modal Sosial Muhammadiyah: Kekuatan yang Belum Dikonversi Selain aset material, Muhammadiyah memiliki modal sosial yang sangat kuat: kepercayaan publik yang tinggi, jaringan struktural hingga tingkat ranting, kader militan lintas profesi, serta nilai ideologis Al-Ma’un yang menekankan keberpihakan pada kaum lemah. Modal sosial ini sesungguhnya adalah energi perubahan. Sayangnya, selama ini lebih banyak berfungsi sebagai kekuatan moral dan simbolik, belum sepenuhnya dikonversi menjadi kekuatan ekonomi struktural. Padahal, dengan modal sosial tersebut, Muhammadiyah memiliki peluang besar membangun sistem pendidikan yang mandiri dan berkeadilan. Solidaritas Persyarikatan tidak cukup berhenti pada slogan ukhuwah. Ia harus hadir dalam bentuk kebijakan kolektif yang terukur dan berkelanjutan. Dari Karitas ke Keadilan Struktural Solusi atas kesenjangan gaji guru Muhammadiyah tidak boleh bersifat insidental. Bantuan sesaat, subsidi sporadis, atau penghimpunan dana darurat hanya menyentuh permukaan masalah. Yang dibutuhkan adalah perubahan paradigma dan desain sistem. Pertama, transformasi pengelolaan aset Persyarikatan. Aset wakaf dan amal usaha harus diarahkan menjadi aset produktif yang hasilnya dialokasikan secara jelas dan transparan untuk pendidikan, khususnya kesejahteraan guru. Wakaf produktif, holding amal usaha, dan penguatan BUMM (Badan Usaha Milik Muhammadiyah) perlu diposisikan sebagai penopang pendidikan. Kedua, subsidi silang berbasis Persyarikatan. Sekolah dan amal usaha yang kuat harus menjadi penyangga bagi yang lemah dalam satu sistem kolektif. Ini bukan logika pasar, melainkan logika gerakan. Dalam Persyarikatan, kemajuan satu unit seharusnya menjadi kemajuan bersama. Ketiga, pembangunan Dana Abadi Pendidikan Muhammadiyah. Dana ini dapat dihimpun dari wakaf kader, filantropi umat, surplus amal usaha, dan jejaring mitra strategis. Dana abadi bukan untuk menggaji penuh, tetapi menjamin standar kelayakan minimum guru, sehingga tidak ada lagi guru Muhammadiyah yang hidup di bawah martabat. Keempat, integrasi pendidikan dan ekonomi Persyarikatan. Pendidikan Muhammadiyah tidak boleh berdiri sendiri, terpisah dari ekosistem ekonomi Persyarikatan. Guru harus ditempatkan sebagai bagian dari strategi besar pembangunan sumber daya manusia Muhammadiyah, bukan sekadar tenaga kerja murah. Meneguhkan Kembali Spirit Al-Ma’un Spirit Al-Ma’un bukan hanya tentang memberi bantuan kepada kaum miskin di luar Persyarikatan, tetapi juga tentang keadilan internal. Guru Muhammadiyah yang hidup dalam keterbatasan ekonomi adalah bagian dari mustadh’afin struktural yang justru berada di jantung gerakan. Mengabaikan mereka berarti mereduksi Al-Ma’un menjadi simbol, bukan praksis. Penutup: Ujian Moral dan Arah Peradaban Menghadirkan solusi atas kesenjangan gaji guru Muhammadiyah adalah ujian moral Persyarikatan di abad kedua. Muhammadiyah tidak kekurangan aset, tidak kekurangan kader, dan tidak kekurangan legitimasi sosial. Yang sering kali kurang adalah keberanian untuk melakukan reposisi kebijakan. Jika pendidikan adalah jalan peradaban, maka guru adalah penopangnya. Menyejahterakan guru bukanlah beban, melainkan investasi jangka panjang bagi keberlanjutan Muhammadiyah. Sudah saatnya pengabdian tidak lagi berjalan sendiri, tetapi diiringi oleh keadilan struktural. Sudah saatnya aset besar tidak hanya menjadi kebanggaan, tetapi benar-benar menjadi solusi nyata. Karena Muhammadiyah yang berkemajuan harus adil kepada umatnya sendiri, dan guru yang sejahtera adalah fondasi peradaban yang berkelanjutan.  

Kabarkita, Prespektif, Ruang Kita

SMP Muhammadiyah Purwojati Luncurkan Website Sekolah pada saat Peringatan Isra’ Mi’raj

SMP Muhammadiyah Purwojati Luncurkan Website Sekolah pada saat Peringatan Isra’ Mi’raj Purwojati–Banyumas || AntaraKita.com ~ SMP Muhammadiyah Purwojati secara resmi meluncurkan website sekolah bertepatan dengan Pengajian Peringatan Isra’ Mi’raj Nabi Muhammad SAW, Senin (26/1/2026). Peluncuran ini menjadi bagian dari komitmen sekolah dalam memperkuat transformasi digital dan peningkatan layanan informasi pendidikan. Pengajian berlangsung khidmat dengan menghadirkan Mas Dio Diadon, influencer nasional sekaligus animator serial Adit Sopo Jarwo dan kreator berbagai iklan televisi nasional. Kegiatan diikuti siswa, guru, karyawan, wali murid, serta tamu undangan. Peluncuran website sekolah diresmikan secara simbolis oleh Ketua PCM Purwojati, Drs. H. Mulyanto, bersama Kepala SMP Muhammadiyah Purwojati, Nur Khasbi, S.H.I., M.M. Website resmi tersebut diharapkan menjadi pusat informasi sekolah yang transparan, informatif, dan mudah diakses masyarakat. Ketua PCM Purwojati, Drs. H. Mulyanto mengapresiasi langkah progresif SMP Muhammadiyah Purwojati dalam mengikuti perkembangan zaman. Menurutnya, kehadiran website merupakan bagian dari dakwah digital Muhammadiyah sekaligus upaya meningkatkan mutu dan keterbukaan layanan pendidikan. “Peluncuran website sekolah ini merupakan langkah progresif dan strategis dalam menjawab tantangan zaman. Ini adalah bagian dari dakwah digital Muhammadiyah sekaligus upaya meningkatkan mutu layanan pendidikan”, ungkapnya. Sementara itu, Kepala SMP Muhammadiyah Purwojati, Nur Khasbi, S.H.I., M.M. menegaskan bahwa website resmi sekolah yang memuat profil sekolah, kegiatan siswa, prestasi, serta program unggulan akan menjadi sarana informasi yang cepat, akurat, dan terpercaya bagi peserta didik, orang tua, serta masyarakat. “Website resmi sekolah menjadi komitmen kami untuk memberikan pelayanan informasi yang cepat, akurat, dan terpercaya kepada peserta didik, orang tua, serta masyarakat luas”, ujarnya. Pengajian Isra’ Mi’raj yang diisi Mas Dio Diadon berlangsung penuh antusias. Dalam ceramahnya, ia mengajak para siswa meneladani nilai-nilai Isra’ Mi’raj, menumbuhkan kreativitas, serta berani bermimpi besar di era digital tanpa meninggalkan nilai-nilai keislaman. “Di era digital, generasi muda harus berani bermimpi besar, kreatif, dan inovatif, namun tetap berpegang pada nilai-nilai keislaman.” Dengan diluncurkannya website resmi ini, SMP Muhammadiyah Purwojati sebagai sekolah berstatus Adiwiyata Nasional menegaskan diri sebagai sekolah Islam yang adaptif, inovatif, dan siap bersaing di era digital, sejalan dengan semangat “Sekolah Juara” yang terus dikembangkan (Tarqum Aziz | JurnalisMu Banyumas Raya).

Kabarkita, Prespektif, Ruang Kita

Pelatihan Kepengasuhan Zero Bullying Satukan Visi Pesantren Muhammadiyah Barlingmascakeb

Pelatihan Kepengasuhan Zero Bullying Satukan Visi Pesantren Muhammadiyah Barlingmascakeb Gombong–Kebumen || AntaraKita.com ~ Lembaga Pengembangan Pesantren (LPP) Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) Jawa Tengah melalui Korwil Karesidenan Banyumas menyelenggarakan Pelatihan Kepengasuhan Pesantren Zero Bullying di Pesantren Modern Wiriosoedarmo Muhammadiyah (TrenMu) Gombong, Kebumen, Selasa (27/1/2026).   Kegiatan ini diikuti 90 peserta yang merupakan perwakilan Pesantren Muhammadiyah se-Korwil Karesidenan Banyumas meliputi Banyumas, Cilacap, Purbalingga, Banjarnegara, dan Kebumen (Barlingmascakeb). Setiap pesantren mengirimkan 1 orang mudir dan 2 orang musyrif/musyrifah. Mudir Pesantren Modern Wiriosoedarmo Muhammadiyah Gombong, Ustadz Heri Pramono, S.Pd., selaku tuan rumah menyampaikan apresiasi atas kepercayaan LPP PWM Jawa Tengah. Ia menilai pelatihan ini sangat relevan dengan tantangan kepengasuhan pesantren di era modern. “Pelatihan Kepengasuhan Zero Bullying merupakan ikhtiar penting untuk memperkuat komitmen pesantren Muhammadiyah dalam menghadirkan lingkungan pendidikan yang aman, ramah, dan berkeadaban bagi santri,” ujarnya. Ia berharap pelatihan ini tidak berhenti pada tataran wacana, tetapi melahirkan langkah nyata dan kesepahaman bersama antar-pesantren. “Semoga kegiatan ini menjadi pemantik lahirnya sistem kepengasuhan pesantren yang berkeadilan, humanis, dan berorientasi pada pembinaan karakter santri,” harapnya. Ketua Korwil Karesidenan Banyumas LPP PWM Jawa Tengah, Kyai Arif Fauzi, Lc., M.Pd., menjelaskan bahwa pelatihan ini dilatarbelakangi oleh pentingnya menghadirkan lingkungan pesantren yang aman secara fisik, psikis, dan sosial. Menurutnya, pesantren bukan hanya ruang transmisi ilmu dan nilai keislaman, tetapi juga wahana pembentukan karakter yang harus bebas dari kekerasan dan perundungan. “Pesantren Zero Bullying bukan sekadar slogan, tetapi sistem kepengasuhan yang sadar, terencana, dan berkelanjutan. Mudir dan musyrif memegang peran strategis dalam membangun budaya pengasuhan yang adil, empatik, dan mendidik,” tegasnya. Materi pelatihan disampaikan dalam dua sesi utama. Sesi pertama bertajuk “Kepemimpinan Kepengasuhan Pesantren Muhammadiyah Menuju Zero Bullying” disampaikan oleh Arif Fauzi, Lc., M.Pd., yang menekankan pentingnya kepemimpinan mudir dalam membangun sistem dan budaya pesantren yang berkeadilan dan berkemajuan. “Kepemimpinan mudir menjadi kunci utama dalam membangun sistem dan budaya pesantren yang adil, berkemajuan, serta bebas dari praktik perundungan,” ujar Arif Fauzi. Sesi kedua disampaikan oleh Rosyid Ahmad Faruq, S.Psi., praktisi pendidikan dan psikolog pesantren, melalui materi “Strategi Psiko-Edukatif dalam Pencegahan dan Penanganan Bullying di Pesantren”. Ia menekankan pentingnya pendekatan psikologis dan edukatif dalam memahami dinamika santri serta merumuskan langkah preventif dan kuratif. “Pencegahan bullying di pesantren membutuhkan pendekatan psiko-edukatif yang menekankan pembinaan, bukan semata hukuman,” jelas Rosyid. Pelatihan berlangsung pukul 08.00–14.30 WIB, diawali registrasi peserta, pembukaan, pembacaan ayat suci Al-Qur’an, serta menyanyikan Lagu Indonesia Raya dan Mars Muhammadiyah, dilanjutkan sambutan dari tuan rumah, LP2 PDM Kebumen, dan Korwil Karesidenan Banyumas. Melalui kegiatan ini, LPP PWM Jawa Tengah berharap terbangun sinergi yang kuat antar-pesantren Muhammadiyah dalam mewujudkan lingkungan pendidikan Islam yang aman, nyaman, dan berkemajuan, sekaligus menjadi teladan dalam pengelolaan kepengasuhan pesantren di Indonesia (Tarqum Aziz | JurnalisMu Banyumas Raya).

Scroll to Top