Antarkita

12 Januari 2026

Kabarkita, Prespektif, Ruang Kita

Penyerahan Berita Acara Pembentukan PRM Kediri: Peneguhan Amanah Dakwah dan Legalitas Organisasi

Penyerahan Berita Acara Pembentukan PRM Kediri: Peneguhan Amanah Dakwah dan Legalitas Organisasi Karanglewas–Banyumas || AntarKita — Momentum penting dalam sejarah dakwah Muhammadiyah di tingkat akar rumput ditandai dengan penyerahan Berita Acara Pembentukan Pimpinan Ranting Muhammadiyah (PRM) Kediri oleh Sekretaris Pimpinan Cabang Muhammadiyah (PCM) Karanglewas, Alim Fahmi, ST., S.Kom., kepada Fauzan Romadhon selaku Ketua PRM Kediri terpilih, pada Ahad, 11 Januari 2026, bertempat di Mushola Al-Falah, Dusun Jambon, Desa Kediri, Kecamatan Karanglewas, Kabupaten Banyumas. Penyerahan berita acara ini bukan sekadar prosesi administratif, melainkan peneguhan amanah dakwah kolektif sekaligus legalisasi struktural berdirinya PRM Kediri sebagai bagian resmi dari Persyarikatan Muhammadiyah. Dokumen tersebut menjadi dasar yuridis-organisatoris bagi PRM Kediri untuk menjalankan fungsi kepemimpinan, pembinaan jamaah, kaderisasi, serta pengembangan amal usaha Muhammadiyah di tingkat desa sesuai dengan Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga (AD/ART). Secara simbolik, penyerahan berita acara menandai peralihan estafet dakwah dari fase kultural yang telah dirawat puluhan tahun menuju fase struktural yang lebih tertib, terencana, dan berkelanjutan. Dakwah Muhammadiyah di Desa Kediri sebelumnya tumbuh melalui pengajian kampung, keteladanan para sesepuh, dan pembinaan informal yang istiqamah. Dengan berdirinya PRM Kediri, seluruh potensi dakwah tersebut kini mendapatkan wadah struktural yang sah dan terorganisasi. Prosesi penyerahan berlangsung khidmat dan disaksikan oleh jajaran pleno PCM Karanglewas, unsur Lembaga Pengembangan Cabang dan Ranting (LPCR), perwakilan ranting sekitar, serta tokoh-tokoh Muhammadiyah setempat. Kehadiran unsur struktural ini menegaskan dukungan penuh Persyarikatan terhadap lahirnya PRM Kediri sebagai ranting ke-15 PCM Karanglewas dan ranting ke-275 di lingkungan PDM Banyumas. Dengan diterimanya berita acara tersebut, Ketua PRM Kediri terpilih bersama jajaran pimpinan ranting memikul tanggung jawab besar untuk menjadikan PRM Kediri sebagai duta Muhammadiyah di tingkat lokal—hadir membina jamaah, memperkuat ukhuwah, mengembangkan dakwah amar ma’ruf nahi munkar, serta berkontribusi nyata dalam kehidupan sosial kemasyarakatan. Penyerahan berita acara ini sekaligus menjadi penghormatan atas kesetiaan para perintis dakwah di Desa Kediri dan amanah sejarah bagi generasi penerus untuk melanjutkan perjuangan Muhammadiyah dengan kesabaran, keikhlasan, dan istiqamah. Dari Kediri, Muhammadiyah kembali menegaskan bahwa dakwah adalah kerja panjang: ditanam hari ini, dirawat bersama, dan dipetik manfaatnya oleh generasi mendatang. Oleh: Tarqum Aziz,                     JurnalisMu Banyumas Raya  

Kabarkita, Prespektif, Ruang Kita

PRM Kediri, Cabang Karanglewas: Amanah Dakwah Kolektif yang Ditanam dengan Kesabaran

PRM Kediri, Cabang Karanglewas: Amanah Dakwah Kolektif yang Ditanam dengan Kesabaran Karanglewas, Banyumas || Antara Kita — Pimpinan Ranting Muhammadiyah (PRM) Kediri resmi berdiri pada Ahad, 11 Januari 2026, bertempat di Mushola Al-Falah, Dusun Jambon, Desa Kediri, Kecamatan Karanglewas, Kabupaten Banyumas. Momentum ini bukan sekadar pengesahan struktur organisasi, melainkan peneguhan perjalanan panjang dakwah Muhammadiyah di tingkat akar rumput yang dirintis dengan kesabaran, ketekunan, dan keikhlasan lintas generasi selama lebih dari setengah abad. PRM Kediri tercatat sebagai ranting ke-15 di lingkungan Pimpinan Cabang Muhammadiyah (PCM) Karanglewas, sekaligus menjadi ranting ke-275 di Kabupaten Banyumas. Kehadirannya memperkuat struktur Persyarikatan Muhammadiyah serta memperluas jangkauan dakwah, pendidikan, dan pelayanan sosial yang langsung bersentuhan dengan kehidupan masyarakat desa. Sebagai struktur terdepan Persyarikatan, ranting merupakan wajah Muhammadiyah yang paling dekat dengan denyut kehidupan jamaah dan umat. Ranting sebagai Basis Dakwah Islam Berkemajuan Ranting Muhammadiyah adalah ruang di mana nilai-nilai Islam berkemajuan diuji dan dihidupkan dalam praktik keseharian. Di tingkat inilah pembinaan keimanan, penguatan ukhuwah, serta pemberdayaan umat dijalankan secara sederhana, konsisten, dan berkelanjutan—tanpa hiruk-pikuk, namun kokoh dalam orientasi dakwah pencerahan. Pembentukan PRM Kediri menjadi simbol bahwa dakwah Muhammadiyah bukan kerja instan, melainkan proses panjang yang membutuhkan kesabaran kolektif. Ia adalah buah dari keteguhan menjaga nilai, meskipun hasilnya baru tampak puluhan tahun kemudian. Jejak Panjang Dakwah dan Keteladanan Para Sesepuh Sejarah dakwah Muhammadiyah di Desa Kediri tidak dapat dilepaskan dari sosok para perintis, di antaranya Bapak Warno, Casim, dan KH. Wahidi. Di usia 96 tahun, KH. Wahidi menjadi living history Muhammadiyah—saksi hidup bahwa dakwah tumbuh dari keikhlasan, kesabaran, dan kesetiaan tanpa pamrih. Sejak kurun 1955–1975, dakwah Muhammadiyah di Desa Kediri dirawat melalui pengajian kampung, pembinaan keagamaan, dan keteladanan para sesepuh, meskipun belum terwadahi dalam struktur formal. Mushola Al-Falah menjadi pusat perawatan ruh dakwah tersebut, ruang kolektif yang menjaga api Muhammadiyah secara kultural hingga akhirnya bersemi secara struktural dengan berdirinya PRM Kediri. Apresiasi dan Amanah Organisasi Wakil Ketua PCM Karanglewas, Badri, S.Pd., menilai berdirinya PRM Kediri merupakan hasil konsolidasi dakwah jangka panjang yang menunjukkan kematangan jamaah dan kesiapan organisatoris. “Ranting adalah fondasi Persyarikatan. Dari rantinglah kaderisasi dan penguatan jamaah bertumbuh secara nyata karena langsung bersentuhan dengan kehidupan umat,” ujarnya. Sementara itu, Ketua Lembaga Pengembangan Cabang dan Ranting (LPCR) PDM Banyumas, Yuli Night Budi Permana, S.Pd., menegaskan bahwa berdirinya PRM Kediri merupakan amanah dakwah kolektif yang harus dijaga dan dikembangkan. “PRM Kediri sebagai ranting ke-275 di Banyumas adalah bukti bahwa Muhammadiyah tumbuh dari kesabaran. Tantangannya ke depan adalah memastikan pembinaan jamaah berjalan berkelanjutan serta mengembangkan amal usaha yang relevan dengan kebutuhan umat,” tegasnya. Babak Baru Dakwah Struktural Secara simbolis, Sekretaris PCM Karanglewas, Alim Fahmi, ST., S.Kom., menyerahkan berita acara pembentukan PRM Kediri kepada Fauzan Romadhon sebagai ketua terpilih. Terpilihnya Fauzan Romadhon menandai dimulainya babak baru perjuangan Muhammadiyah di Desa Kediri—dari fase dakwah kultural menuju penguatan dakwah struktural yang lebih tertib, sistematis, dan terarah. Dengan dukungan warga Muhammadiyah setempat, PCM Karanglewas, serta LPCR PDM Banyumas, PRM Kediri diharapkan mampu berjalan tertib secara organisatoris, kokoh secara ideologis, dan adaptif secara sosial. Ranting ini diproyeksikan menjadi duta Persyarikatan di tingkat lokal, menebarkan pencerahan, merawat ukhuwah lintas ormas, serta hadir membela kepentingan umat dalam kehidupan bermasyarakat. Legitimasi dan Dukungan Persyarikatan Proses pembentukan PRM Kediri disaksikan langsung jajaran pleno PCM Karanglewas, di antaranya Drs. H. M. Izhar, Badri, S.Pd., Salam Hidayatullah, S.Pd.I., Juasep Awali, S.Pd.I., M.S.I., serta Alim Fahmi, ST., S.Kom. Turut hadir anggota LPCR PCM Karanglewas Joko Pamungkas dan Tohani, perwakilan PRM Jipang Suwandi, serta jajaran LPCR PDM Banyumas yang dipimpin Yuli Night Budi Permana, S.Pd., bersama Deni Firman Suprayoga, S.Pd., dan Marwoto Tri Priyono, S.Pd. Kehadiran unsur struktural ini menjadi legitimasi organisatoris sekaligus penegasan dukungan penuh Persyarikatan terhadap lahirnya PRM Kediri sebagai bagian dari penguatan Muhammadiyah di tingkat desa. Menanam dengan Setia, Menuai dengan Istiqamah Berdirinya PRM Kediri bukan sekadar pengesahan struktur, melainkan penghormatan atas kesetiaan para perintis dakwah dan amanah sejarah bagi generasi penerus untuk melanjutkan perjuangan Muhammadiyah secara istiqamah, berkelanjutan, dan membumi. Dari Desa Kediri, Muhammadiyah kembali menegaskan bahwa dakwah adalah kerja panjang: menanam dengan setia, meski hasilnya baru dipetik oleh generasi setelahnya. Sebagaimana teladan KH. Wahidi, di situlah makna sejati perjuangan Muhammadiyah—sunyi, sabar, dan mencerahkan. (Tarqum Aziz – JurnalisMu Banyumas Raya)

Scroll to Top