Antarkita

17 Januari 2026

Prespektif, Ruang Kita

Donasi Rakyat, Legitimasi Politik, dan Lahirnya Politisi Sejati

Donasi Rakyat, Legitimasi Politik, dan Lahirnya Politisi Sejati Politisi pada hakikatnya bukan sekadar aktor yang mengejar jabatan, melainkan wakil kepentingan banyak orang. Politik, dalam pengertian paling mendasar, adalah seni memperjuangkan kemaslahatan publik melalui kekuasaan yang sah. Karena itu, relasi antara politisi dan rakyat tidak bisa dibangun di atas transaksional semata, melainkan di atas kepercayaan. Salah satu tanda paling sederhana—namun sangat jujur—bahwa seseorang merasa kepentingannya diperjuangkan oleh seorang politisi adalah kesediaannya memberikan kontribusi finansial. Dalam demokrasi modern, donasi politik adalah bentuk partisipasi warga negara. Ia bukan sekadar angka dalam laporan keuangan kampanye, tetapi ekspresi harapan, dukungan, dan keyakinan. Orang tidak akan mengeluarkan uangnya—betapapun kecil nominalnya—jika ia tidak merasa terwakili. Kita dapat belajar banyak dari pemilihan presiden Amerika Serikat. Data sumber dana kampanye Joe Biden dan Donald Trump memberikan pelajaran penting tentang relasi antara politisi dan publik. Joe Biden memperoleh dana kampanye dari sekitar 11,86 juta pendonor, dengan rata-rata donasi sekitar Rp1,4 juta per orang. Sementara Donald Trump memperoleh dana dari sekitar 6,7 juta pendonor, dengan rata-rata donasi Rp1,8 juta per orang. Perbedaan ini bukan sekadar statistik, melainkan cerminan tingkat kepercayaan rakyat. Kemenangan Biden sejatinya telah tercermin dari fakta ini. Jutaan warga Amerika merasa aspirasi dan kepentingannya lebih diperjuangkan oleh Biden dibandingkan Trump. Maka mereka berbondong-bondong menyumbangkan sebagian rezekinya. Kemampuan menggalang dukungan finansial dari belasan juta orang tentu bukan perkara teknis belaka. Ia adalah hasil dari proses panjang membangun rekam jejak, konsistensi sikap, dan keberpihakan kebijakan. Dari sini kita memperoleh pelajaran penting berikutnya: kekuatan modal pribadi tidak selalu sejalan dengan kekuatan legitimasi publik. Donald Trump, dengan latar belakang pebisnis besar dan sumber daya finansial pribadi yang melimpah, tetap kalah dalam pertarungan menggalang kepercayaan rakyat. Uang pribadi tidak otomatis bertransformasi menjadi dukungan publik. Bahkan, dalam banyak kasus, justru menimbulkan kecurigaan akan adanya kepentingan tersembunyi. Fakta ini mempertegas satu hal mendasar: politisi sejati bukanlah pebisnis yang bermetamorfosis menjadi politisi karena kekuatan pundi-pundi uangnya. Politisi sejati adalah mereka yang sejak muda memilih jalan politik sebagai karier pengabdian. Mereka menapaki dunia politik bukan sebagai perpanjangan tangan bisnis, melainkan sebagai arena perjuangan nilai dan kepentingan publik. Joe Biden adalah contoh politisi karier—bukan figur yang tiba-tiba hadir dari luar sistem politik untuk memanfaatkannya. Sejarah Indonesia pun memberikan pelajaran yang sama. Para pendiri bangsa—Bung Karno, Bung Hatta, Sutan Sjahrir, dan banyak tokoh pergerakan lainnya—adalah sosok yang sejak muda memilih jalan politik sebagai medan pengabdian. Mereka hidup sederhana, berjuang dengan dukungan rakyat, dan tidak membawa kepentingan bisnis pribadi dalam keputusan politik. Inilah kekuatan utama politisi murni: ketiadaan konflik kepentingan (conflict of interest). Ketika seorang politisi tidak memiliki kepentingan bisnis pribadi, keputusan politiknya menjadi lebih jernih. Kebijakan publik tidak diarahkan untuk melindungi aset, memperluas usaha, atau mengamankan jaringan bisnis, melainkan untuk kepentingan rakyat banyak. Inilah yang membedakan politik sebagai pengabdian dengan politik sebagai investasi. Donasi rakyat, dalam konteks ini, bukan hanya instrumen pembiayaan kampanye, tetapi juga mekanisme kontrol moral. Politisi yang dibiayai oleh jutaan rakyat akan berpikir seribu kali sebelum mengkhianati kepercayaan mereka. Berbeda dengan politisi yang dibiayai oleh segelintir pemodal besar, yang secara struktural lebih rentan disandera kepentingan sempit. Karena itu, masa depan demokrasi yang sehat tidak terletak pada seberapa kaya kandidatnya, melainkan pada seberapa luas dan tulus dukungan rakyat yang berdiri di belakangnya. Politik membutuhkan uang, tetapi yang lebih dibutuhkan adalah legitimasi. Dan legitimasi itu lahir dari kepercayaan publik yang diwujudkan dalam partisipasi nyata—termasuk dalam bentuk donasi. Di titik inilah kita dapat menarik kesimpulan: politik yang dibiayai rakyat melahirkan politisi sejati; politik yang dibiayai modal semata melahirkan oligarki. Pilihan ada di tangan kita, sebagai warga negara dan sebagai pemilik kedaulatan. SiS, Antarkita

Kabarkita, Prespektif, Ruang Kita

Belajar dari Universitas Muhammadiyah Kupang: Ketika Biskuit Cahaya Menemukan Jalan Ekspansi Peradaban

Belajar dari Universitas Muhammadiyah Kupang: Ketika Biskuit Cahaya Menemukan Jalan Ekspansi Peradaban Universitas Muhammadiyah Kupang (UMK) adalah sebuah paradoks yang meneduhkan. Ia adalah universitas Islam, lahir dari rahim Muhammadiyah, namun justru dipercaya dan dipilih oleh mayoritas mahasiswa non-Muslim. Di tengah dunia yang sering kali menjadikan identitas agama sebagai batas sosial, UMK tampil sebagai bukti bahwa nilai Islam yang dikelola secara berkemajuan mampu menembus sekat-sekat keyakinan. Pertanyaan yang sering muncul pun sederhana namun mendalam: bagaimana mungkin sebuah universitas Islam bisa dihuni oleh mayoritas mahasiswa non-Muslim? Jawabannya tidak terletak pada strategi pemasaran semata, melainkan pada konsistensi nilai, mutu layanan, dan orientasi kemanusiaan yang dijalankan kampus ini selama bertahun-tahun. UMK tidak menjual simbol Islam secara eksklusif. Ia menghadirkan Islam sebagai etos: kejujuran akademik, profesionalisme pengelolaan, keterbukaan ruang dialog, dan pelayanan pendidikan yang menghormati martabat setiap manusia. Islam tidak dipaksakan sebagai identitas formal, tetapi dihidupkan sebagai nilai peradaban. Di titik inilah kepercayaan publik tumbuh—bahkan dari mereka yang berbeda iman. Pelajaran besar dari UMK inilah yang semestinya menginspirasi lahir dan tumbuhnya produk-produk bisnis Muhammadiyah, termasuk Biskuit Cahaya. Biskuit Cahaya adalah ikhtiar mulia. Ia lahir dari semangat kemandirian ekonomi Aisyiyah Jawa Tengah, membawa pesan halal, bergizi, dan berkemajuan. Namun, sebagaimana UMK, produk ini tidak cukup hanya berdiri sebagai “produk internal umat”. Ia harus melangkah lebih jauh: menjadi produk publik yang diterima lintas identitas, lintas kelas sosial, dan lintas budaya. UMK mengajarkan satu prinsip penting: kepercayaan tidak dibangun oleh identitas, tetapi oleh kualitas. Demikian pula Biskuit Cahaya dan produk-produk Muhammadiyah lainnya. Label halal bukan sekadar simbol religius, melainkan jaminan etika produksi, kebersihan proses, kejujuran bahan, dan tanggung jawab sosial. Nilai-nilai ini bersifat universal—diterima oleh siapa pun, apa pun agamanya. Jika UMK mampu menjadi rumah belajar bersama bagi mereka yang berbeda keyakinan, maka produk bisnis Muhammadiyah pun harus mampu menjadi rumah manfaat bersama. Biskuit Cahaya idealnya hadir di meja siapa saja: rumah tangga, kantor, sekolah, komunitas, bahkan ruang publik lintas agama. Bukan karena ia produk Muhammadiyah, tetapi karena ia layak dipilih. Selama ini, Muhammadiyah telah menorehkan sejarah panjang di bidang pendidikan dan kesehatan. Sekolah, universitas, rumah sakit, dan klinik Muhammadiyah berdiri hampir di seluruh penjuru negeri. Keberhasilan ini adalah prestasi besar yang diakui publik. Namun, keberhasilan itu juga menghadirkan tantangan baru: apakah Muhammadiyah akan berhenti di sana? Negeri ini masih menyimpan banyak pekerjaan rumah. Ketahanan pangan yang rapuh, ketergantungan impor, lemahnya industri nasional, minimnya pelaku usaha berbasis nilai, hingga ketimpangan ekonomi struktural—semua ini menunggu kehadiran kekuatan sosial yang berintegritas dan berpengalaman. Muhammadiyah, dengan modal jaringan, sumber daya manusia, dan kepercayaan publik, sejatinya memiliki peluang besar untuk mengambil peran lebih luas. Saatnya kader Muhammadiyah melakukan ekspansi pengabdian terhadap negeri. Bukan dengan meninggalkan dakwah, tetapi dengan memperluas maknanya. Ekonomi, bisnis, pertanian, industri, otomotif, peternakan, energi, teknologi—semua adalah ladang dakwah baru yang menuntut profesionalisme, inovasi, dan keberanian mengambil risiko. Di sinilah Biskuit Cahaya menemukan makna strategisnya. Ia bukan sekadar produk makanan, tetapi simbol awal keberanian. Jika satu produk bisa lahir, tumbuh, dan diterima publik, maka produk lain akan menyusul. Dari biskuit, bisa lahir industri pangan. Dari industri pangan, bisa tumbuh ekosistem pertanian. Dari ekosistem pertanian, terbuka lapangan kerja dan kemandirian ekonomi. Biskuit Cahaya diharapkan sukses, bukan hanya dari sisi penjualan, tetapi sebagai stimulus psikologis dan organisatoris. Ia memberi pesan kepada kader Muhammadiyah: bahwa bisnis bukan wilayah yang asing, bahwa ekonomi bukan ruang yang harus ditakuti, dan bahwa nilai Islam bisa hidup subur di dunia usaha. Dari Universitas Muhammadiyah Kupang, kita belajar bahwa keberagaman bisa dirangkul tanpa kehilangan identitas. Dari Biskuit Cahaya, semoga lahir kesadaran bahwa ekonomi adalah medan jihad peradaban yang tak kalah penting dari pendidikan dan kesehatan. Jika pendidikan dan kesehatan telah menjadi jejak sejarah Muhammadiyah, maka ekonomi, industri, dan bisnis semoga menjadi jejak peradaban Muhammadiyah di masa depan—jejak yang menerangi, seperti cahaya, bagi siapa saja yang disentuhnya. Oleh: SiS | Antarki

Kabarkita, Prespektif, Ruang Kita

Pelatihan Sehari Menjadi DRIVER Jutawan

Pelatihan Sehari Menjadi DRIVER Jutawan Pemberdayaan Ekonomi Umat dan Penguatan Gerakan Bela Beli Produk Muhammadiyah Banyumas | Antarkita, 17 Januari 2026 Situasi perekonomian nasional dan daerah saat ini menghadirkan tantangan yang tidak ringan. Daya beli masyarakat yang menurun, terbatasnya lapangan kerja formal, meningkatnya biaya hidup, serta merosotnya omzet usaha kecil dan menengah menjadi realitas yang dirasakan langsung oleh masyarakat bawah, termasuk warga Persyarikatan Muhammadiyah. Di tengah kondisi tersebut, dibutuhkan ikhtiar nyata dan solutif, bukan sekadar keluhan atau wacana. Ekonomi umat harus dibangun dari kesadaran kolektif, kolaborasi, dan keberanian untuk mengambil peran di tengah keterbatasan. Atas dasar itulah, SAMTOUR, biro Umrah dan Haji milik Muhammadiyah Banyumas, berkolaborasi dengan Antarkita.com, menginisiasi kegiatan bertajuk “Pelatihan Sehari Menjadi DRIVER Jutawan”. Sebuah program pemberdayaan ekonomi umat yang dirancang untuk menjawab tantangan zaman dengan pendekatan yang membumi, aplikatif, dan berorientasi jangka panjang. Dari Driver Menjadi Entrepreneur Pelatihan ini lahir dari kesadaran bahwa profesi driver online, meskipun menjadi solusi ekonomi jangka pendek, memiliki keterbatasan struktural. Pekerjaan ini sangat bergantung pada kondisi fisik yang prima, sementara usia terus bertambah dan kesehatan tidak selalu sejalan dengan tuntutan kerja. Oleh karena itu, driver Antarkita tidak boleh berhenti hanya sebagai driver. Mereka harus dipersiapkan untuk naik kelas—menjadi entrepreneur, pelaku usaha yang mampu memanfaatkan relasi, jaringan, dan kepercayaan konsumen sebagai modal sosial untuk mengembangkan usaha. Dalam pelatihan ini, driver diposisikan sebagai subjek pembangunan ekonomi, bukan sekadar objek aplikasi teknologi. Mereka dibekali mindset kewirausahaan, cara membaca peluang, serta pemahaman bahwa setiap pertemuan dengan konsumen adalah pintu relasi yang berpotensi menjadi peluang bisnis. Driver sebagai Duta Ekonomi Umat Salah satu terobosan penting dalam pelatihan ini adalah peneguhan peran driver Antarkita sebagai duta Umrah SAMTOUR. Para driver diarahkan untuk menjadi agen sosialisasi dan promosi layanan Umrah dan Haji milik Muhammadiyah kepada warga Muhammadiyah, ‘Aisyiyah, dan simpatisan. Ini bukan sekadar strategi pemasaran, tetapi bagian dari gerakan bela beli produk Muhammadiyah—sebuah sikap sadar untuk menguatkan bisnis milik Persyarikatan agar mampu bertahan dan berkembang di tengah persaingan industri jasa perjalanan ibadah yang semakin ketat. Dengan semangat dari kita, oleh kita, untuk kita, driver Antarkita diharapkan menjadi ujung tombak yang menghubungkan layanan SAMTOUR dengan jamaah potensial, sekaligus memperluas manfaat ekonomi bagi dirinya sendiri. Waktu, Tempat, dan Narasumber Pelatihan Sehari Menjadi DRIVER Jutawan akan diselenggarakan pada: 🗓 Sabtu, 24 Januari 2026 🕘 Pukul 09.00 – 12.00 WIB 📍 Aula Abu Dardiri, Pimpinan Daerah Muhammadiyah Banyumas Adapun narasumber yang akan mengisi kegiatan ini adalah figur-figur yang berpengalaman langsung di dunia usaha dan pengelolaan ekonomi umat, yaitu: H. Ardani, Direktur SAMTOUR Banyumas H. Latif Muchozin, Ketua Jaringan Saudagar Muhammadiyah (JSM) Banyumas sekaligus pengusaha sukses Keduanya akan berbagi pengalaman, strategi, dan inspirasi bagaimana membangun usaha dari bawah, bertahan di tengah krisis, serta menjadikan nilai-nilai Persyarikatan sebagai fondasi bisnis. Peserta dan Harapan Besar Peserta pelatihan ini berasal dari warga dan simpatisan Muhammadiyah dan ‘Aisyiyah se-Banyumas, khususnya para driver Antarkita dan masyarakat yang memiliki minat kuat untuk meningkatkan kapasitas ekonomi dan kewirausahaan. Pelatihan ini diharapkan: Menumbuhkan mindset entrepreneur di kalangan driver dan warga Muhammadiyah. Menguatkan praktik nyata gerakan bela beli produk Muhammadiyah, bukan sekadar slogan. Menjadi stimulus lahirnya kolaborasi ekonomi di sektor-sektor bisnis Muhammadiyah lainnya. Membangun ekosistem ekonomi umat yang mandiri, berdaulat, dan berkeadilan. Kolaborasi antara SAMTOUR dan Antarkita.com ini menjadi bukti bahwa ekonomi umat bisa dibangun dengan cara sederhana, kolaboratif, dan berkelanjutan, selama ada niat, keberanian, dan kebersamaan. Dari driver, tumbuh entrepreneur. Dari relasi, lahir peluang. Dari bela beli, terbangun kemandirian. SiS, Antarkita

Kabarkita, Prespektif, Ruang Kita

RIMBAS Latih Puluhan Remaja Membuat Konten Sosial Media

RIMBAS Latih Puluhan Remaja Membuat Konten Sosial Media Isi Isra Mi’raj dengan Dakwah Kreatif dan Literasi Digital Banyumas | Antarkita – 16 Januari 2026 Dalam rangka memperingati Isra Mi’raj Nabi Muhammad SAW 1447 H, RIMBAS (Remaja Islam Masjid Agung Baitusalam) Purwokerto menyelenggarakan Pelatihan Konten Kreator Media Sosial pada Jumat, 16 Januari 2026, bertempat di Masjid Agung Baitusalam, Purwokerto. Kegiatan ini menjadi ikhtiar konkret RIMBAS dalam menghadirkan dakwah yang adaptif terhadap perkembangan zaman, khususnya di tengah pesatnya arus digital dan media sosial. Pelatihan ini dirancang sebagai ruang pembelajaran sekaligus praktik bagi remaja dan pemuda agar mampu memanfaatkan media sosial secara produktif, kreatif, dan bertanggung jawab. Tidak hanya berorientasi pada keterampilan teknis, kegiatan ini juga menekankan pentingnya nilai, etika, dan pesan positif dalam setiap konten yang diproduksi. Ketua Pembinaan RIMBAS, Bhayu Subrata, dalam sambutannya menyampaikan bahwa pelatihan konten kreator ini merupakan respons atas realitas bahwa generasi muda hari ini hidup dan tumbuh di ruang digital. “Media sosial adalah ruang dakwah dan ruang ekspresi generasi muda. Karena itu, kami ingin membekali adik-adik dengan pengetahuan dan keterampilan dasar agar mereka tidak hanya menjadi penonton, tetapi juga mampu menjadi kreator konten yang membawa pesan kebaikan,” ujarnya. Bhayu menambahkan bahwa metode pelatihan dirancang dominan praktik agar peserta benar-benar mendapatkan pengalaman langsung. “Sekitar 70 persen materi berupa praktik. Target kami sederhana tapi realistis, setelah pelatihan ini peserta sudah mampu membuat konten video berdurasi 60 detik yang layak tayang dan menarik,” tegasnya. Sementara itu, Takmir Masjid Agung Baitusalam Bidang UPZ, H. Tafip Sudono, menyampaikan bahwa kegiatan ini merupakan bagian dari rangkaian program pra-Ramadhan Masjid Agung Baitusalam. Selain pelatihan konten kreator, masjid juga telah menyiapkan kegiatan Tabelampot (Tanam Cabai dalam Pot) dan Seminar Tamyiz sebagai upaya penguatan spiritual sekaligus pemberdayaan jamaah. “Masjid bukan hanya tempat ibadah ritual, tetapi juga pusat pembinaan umat, termasuk pembinaan generasi muda agar siap menghadapi tantangan zaman,” jelasnya. Pelatihan ini diikuti oleh sekitar 60 peserta, terdiri dari pelajar SMP/MTs, SMA/SMK/MA, serta pemuda berusia 12 hingga 30 tahun yang memiliki minat pada dunia konten digital. Antusiasme peserta terlihat sejak awal kegiatan, baik dalam sesi diskusi maupun praktik pembuatan konten. Sebagai pemateri utama, RIMBAS menghadirkan Yusuf, konten kreator muda asal Purwokerto yang dikenal aktif memproduksi konten edukatif dan positif di media sosial. Dalam materinya, Yusuf menekankan bahwa konten yang baik tidak hanya soal visual, tetapi juga soal pesan dan kedekatan dengan audiens. “Konten itu tidak boleh egois. Jangan hanya memikirkan apa yang kita mau, tapi juga apa yang dibutuhkan dan dirasakan oleh penonton,” ujarnya. Ia juga mengingatkan pentingnya narasi dan struktur konten. “Mainkan kata dan narasi. Dan ingat, kunci utama ada di hook, yaitu tiga detik pertama di awal video. Kalau tiga detik awal gagal menarik perhatian, konten sebagus apa pun bisa dilewati,” jelas Yusuf yang juga dikenal sebagai marbot masjid dan aktif menggerakkan dakwah kreatif di kalangan anak muda. Selama pelatihan, peserta diajak memahami dasar-dasar pembuatan konten, mulai dari menentukan ide, menyusun narasi, teknik pengambilan gambar sederhana, hingga simulasi pembuatan video singkat. Suasana pelatihan berlangsung interaktif, dengan peserta aktif bertanya dan berdiskusi. Panitia menegaskan bahwa pelatihan ini merupakan kegiatan perdana, bukan yang terakhir. Ke depan, RIMBAS berencana mengadakan kelas-kelas lanjutan dengan materi yang lebih mendalam, seperti editing video, storytelling digital, hingga pemanfaatan media sosial untuk dakwah dan pemberdayaan sosial. Melalui kegiatan ini, RIMBAS berharap dapat melahirkan generasi muda yang tidak hanya melek teknologi, tetapi juga memiliki kesadaran moral dan sosial dalam bermedia. Media sosial diharapkan menjadi ruang penyebaran pesan kebaikan, inspirasi, dan nilai-nilai keislaman yang rahmatan lil ‘alamin. Dengan semangat Isra Mi’raj, RIMBAS berkomitmen menjadikan masjid sebagai pusat pembinaan generasi muda yang religius, kreatif, dan relevan dengan tantangan zaman.  

Kabarkita, Prespektif, Ruang Kita

Tasik Manyala, Sinergitas Tukang Las Jadi Lebih Berkelas

Tasik Manyala, Sinergitas Tukang Las Jadi Lebih Berkelas Pemerintah Kota Tasikmalaya, Jawa Barat, mengambil langkah strategis dalam mendorong peningkatan kelas pelaku usaha bengkel las dan juru las lokal. Melalui Dinas Koperasi, UMKM, Perindustrian dan Perdagangan (Diskop UMKM Indag), Pemkot Tasikmalaya berkolaborasi dengan Komunitas Bengkel Las Indonesia (KBLI) serta Keluarga Alumni Universitas Jenderal Soedirman (KAUnsoed) Priangan Timur akan menggelar Silaturahmi Pengusaha Bengkel Las dan Juru Las Kota Tasikmalaya dan sekitarnya. Kegiatan tersebut dijadwalkan berlangsung pada Rabu, 4 Februari 2026, mulai pukul 09.00 WIB, bertempat di Gedung PPIK, Jalan Letjen Mashudi, Kecamatan Cibeureum, Kota Tasikmalaya. Ketua KAUnsoed Priangan Timur, H. Amran Saefullah, SE., MM., yang juga menjabat sebagai Kepala Dinas Komunikasi dan Informatika Kota Tasikmalaya, menjelaskan bahwa kegiatan ini merupakan ikhtiar membangun ekosistem usaha bengkel las yang lebih profesional, berdaya saing, dan terorganisasi. “Ini bukan sekadar temu kangen, tetapi ruang silaturahmi produktif untuk menyatukan pengusaha bengkel las, juru las, komunitas, dan pemerintah agar potensi besar yang dimiliki Tasik bisa naik kelas,” ujarnya. Menilik potensi wilayah, Tasikmalaya dan daerah sekitarnya seperti Garut, Ciamis, dan Pangandaran sejak lama dikenal memiliki keunggulan skill pengelasan yang diwariskan secara turun-temurun. Hal tersebut disampaikan Ketua Ikatan Alumni FISIP Unsoed Jabodetabek dan Luar Negeri, Drs. Nirwan Lesmana, SP., dalam bincang-bincang bersama Ir. H. Alief Einstein, M.Hum. dari kafapet-unsoed.com. “Tak sedikit yang memulai dari bengkel las kecil di depan rumah, kini telah berkembang menjadi toko besi besar dan usaha yang mapan,” ungkap Nirwan. Kegiatan awal Februari 2026 ini akan semakin semarak dengan Lomba Seni Daur Ulang Besi Bekas, hasil karya bengkel las dan juru las lokal. Karya terbaik akan mendapatkan hadiah menarik yang diserahkan langsung oleh Wali Kota Tasikmalaya, Viman Alfarizi Ramadhan, ST., MBA. Menurut Nirwan, yang juga Staf Khusus Bidang Informasi dan Komunikasi Asosiasi Pengelasan Indonesia (API–IWS), lomba ini menjadi ruang ekspresi kreativitas sekaligus bukti bahwa besi bekas dapat bernilai seni dan ekonomi. Wali Kota Tasikmalaya, Viman Alfarizi Ramadhan, menegaskan bahwa potensi sumber daya manusia bidang pengelasan di Tasikmalaya sudah sangat baik dan perlu didorong lebih serius. “Pak Viman ingin menggedor hati para pengusaha dan pekerja bengkel las agar berani memasarkan jasa, meningkatkan skill, dan menghasilkan produk unggulan lokal ‘Urang Tasik’,” ujarnya saat jamuan makan siang bersama panitia. Saat meninjau lokasi kegiatan di Gedung PPIK, Kepala Dinas Indag Kota Tasikmalaya, Sofian Zaenal Mutaqien, S.STP., M.Si., menambahkan bahwa pada acara tersebut juga akan dideklarasikan ‘Welder Club Tasik’. “Cukup dengan foto KTP, siapa pun juru las dan pelaku bengkel las bisa bergabung untuk bersilaturahmi dan berbagi pengalaman,” ujar Ramdhan, S.Pt., MT., Kabid Industri, yang turut mendukung penguatan sektor bengkel las. Sementara itu, Pendiri dan Sekretaris Jenderal KBLI, Nirwan, menambahkan bahwa hasil karya peserta lomba akan dipoles dan ditampilkan pada display produk UMKM, sekaligus dijual secara terbuka kepada masyarakat. “Jangan menunggu semuanya sempurna untuk melangkah. Api besar selalu berawal dari percik api kecil yang barokah,” tegas Nirwan dengan penuh semangat. Kegiatan ini diharapkan menjadi titik awal penguatan sinergi, kolaborasi, dan kebangkitan industri bengkel las lokal. Salam Pijar Silaturahmi, Sinergi, dan Kolaborasi.

Scroll to Top