Antarkita

27 Januari 2026

Kabarkita, Prespektif, Ruang Kita

Menghadirkan Solusi di Dunia Pendidikan Muhammadiyah

Menghadirkan Solusi di Dunia Pendidikan Muhammadiyah Belajar dari MIT Muhammadiyah adalah anomali yang mengagumkan dalam sejarah Islam modern. Ia bukan negara, bukan korporasi, bukan pula lembaga donor internasional. Namun aset yang dikelolanya—tanah, bangunan, rumah sakit, sekolah, universitas—mencapai skala yang bahkan membuat banyak negara berkembang iri. Dalam banyak kajian, Muhammadiyah disebut sebagai salah satu organisasi masyarakat sipil terkaya di dunia. Tetapi justru di sinilah paradoks itu bermula. Di balik gedung-gedung megah dan jaringan amal usaha yang luas, masih ada kisah lama yang terus berulang: guru Muhammadiyah bergaji rendah. Kisah tentang pendidik yang hidup sederhana, bahkan kekurangan. Tentang guru yang mengajar dengan idealisme tinggi, namun pulang ke rumah dengan kegelisahan ekonomi. Tentang pengabdian yang panjang, tetapi masa tua yang rapuh. Ini bukan sekadar soal nominal gaji. Ini adalah soal sistem. Masalah Lama yang Tidak Pernah Benar-Benar Diselesaikan Permasalahan gaji guru Muhammadiyah bukan persoalan individual, bukan pula kesalahan kepala sekolah atau pimpinan lokal semata. Ia adalah konsekuensi logis dari model pembiayaan pendidikan yang transaksional. Model ini sederhana: Murid membayar SPP, SPP dipakai untuk menggaji guru, Jika murid sedikit, gaji kecil, Jika ekonomi orang tua terguncang, guru ikut terguncang. Dalam model seperti ini, guru secara tidak langsung “dibayar murid”. Walaupun tidak kasat mata, secara akuntansi itulah yang terjadi. Pendidikan berubah menjadi hubungan ekonomi jangka pendek, bukan misi sosial jangka panjang. Inilah yang membuat pendidikan mudah goyah. Dan inilah yang seharusnya tidak terjadi pada lembaga pendidikan berbasis dakwah seperti Muhammadiyah. MIT: Pendidikan Tanpa Ketergantungan pada Mahasiswa Di belahan dunia lain, MIT berdiri dengan filosofi yang sangat berbeda. MIT adalah universitas yang sangat kaya. Namun kekayaannya tidak membuatnya malas menggalang donasi. Justru sebaliknya, MIT adalah salah satu institusi pendidikan paling agresif dalam fundraising endowment fund. Fakta yang sangat penting dan jarang dibicarakan secara jujur: jika seluruh mahasiswa MIT tidak membayar tuition fee sekalipun, keuangan MIT tetap surplus. Artinya, MIT tidak menjadikan mahasiswa sebagai sumber nafkah institusi. Mahasiswa tidak dibebani tanggung jawab membiayai dosennya. Pendidikan diletakkan sebagai public good, bukan komoditas. Lalu dari mana MIT hidup? Jawabannya adalah endowment fund—dana abadi yang dikumpulkan dari masyarakat, alumni, filantropi, dan korporasi, lalu dikelola secara profesional melalui investing company. Dana ini tidak dihabiskan. Pokoknya dijaga. Hasilnya dipakai untuk menopang pendidikan lintas generasi. Endowment Fund dan Wakaf: Dua Nama, Satu Hakikat Apa yang disebut endowment fund dalam dunia Barat sejatinya identik dengan wakaf dalam Islam. Bahkan, dalam Islam, wakaf memiliki dimensi spiritual yang jauh lebih kuat karena bernilai amal jariyah. Ironisnya, justru lembaga pendidikan Islam sering kali gagal menjadikan wakaf sebagai tulang punggung sistem pembiayaan. Wakaf berhenti sebagai simbol kesalehan, bukan instrumen ekonomi strategis. Tanah wakaf dibiarkan pasif. Bangunan wakaf tidak produktif. Tidak ada arus kas yang menopang kesejahteraan guru. Muhammadiyah sesungguhnya memiliki semua prasyarat untuk unggul: kepercayaan publik, jaringan umat, legitimasi teologis, pengalaman mengelola amal usaha. Yang belum dimiliki secara serius adalah paradigma pengelolaan wakaf modern. Investing Company, Bukan Operating Company Pelajaran paling penting dari MIT adalah ini: dana abadi harus dikelola sebagai investing company, bukan operating company. Artinya, lembaga pengelola wakaf tidak sibuk mengelola sekolah, rumah sakit, atau bisnis operasional secara langsung. Tugasnya adalah: menginvestasikan dana secara profesional, menumbuhkan nilai aset, menghasilkan imbal hasil berkelanjutan. Hasil investasi itulah yang kemudian disalurkan ke sekolah dan universitas untuk: menggaji guru secara layak, membiayai riset dan inovasi, menjaga kualitas pendidikan tanpa menaikkan SPP. Dengan model ini, guru tidak lagi bergantung pada jumlah murid. Pendidikan tidak lagi tergantung pada daya beli orang tua. Sistem menjadi stabil, adil, dan berjangka panjang. Mengapa Muhammadiyah Harus Berubah Sekarang Jika perubahan ini terus ditunda, risikonya sangat besar: pendidikan Muhammadiyah akan semakin tertinggal, guru-guru terbaik akan berpindah ke institusi lain, amal usaha pendidikan kehilangan ruh dakwahnya. Sebaliknya, jika Muhammadiyah berani melakukan lompatan struktural: guru menjadi profesi bermartabat, kualitas pendidikan melonjak, kepercayaan publik meningkat, wakaf menjadi solusi nyata, bukan slogan. Ini bukan soal meniru Barat. Ini soal mengambil hikmah. Bahkan Rasulullah ﷺ sendiri mengajarkan, hikmah adalah milik orang beriman, di mana pun ia menemukannya. Penutup: Dari Keikhlasan Menuju Keadilan Keikhlasan guru Muhammadiyah tidak perlu diragukan. Yang perlu dibenahi adalah sistem agar keikhlasan itu tidak terus-menerus dieksploitasi. Sudah saatnya pendidikan Muhammadiyah keluar dari jebakan transaksional dan masuk ke fase peradaban wakaf. Bukan sekadar membangun gedung, tetapi membangun sistem. Bukan sekadar bertahan, tetapi menyiapkan masa depan. Jika MIT yang sekuler bisa membiayai pendidikannya lintas abad dengan dana abadi, Muhammadiyah seharusnya bisa melakukannya dengan wakaf—dan bahkan lebih bermakna. Di situlah solusi itu berada. Bukan di retorika. Bukan di seminar. Tetapi di keberanian mengubah desain sistem. SiS, Antarkita.

Kabarkita, Prespektif, Ruang Kita

Belajar dari MIT: Universitas Kaya yang Tetap Menggalang Donasi

Belajar dari MIT: Universitas Kaya yang Tetap Menggalang Donasi Jika MIT Bisa Surplus Tanpa Uang Kuliah, Bagaimana dengan Muhammadiyah? Massachusetts Institute of Technology (MIT) sering dipersepsikan sebagai universitas superelit, mahal, dan hanya bisa diakses oleh segelintir orang. Persepsi ini tidak sepenuhnya salah, tetapi juga menyesatkan jika dilihat dari cara MIT membiayai dirinya sendiri. Di balik reputasinya sebagai kampus teknologi terbaik dunia, MIT justru menyimpan pelajaran sangat penting tentang bagaimana pendidikan seharusnya dibiayai: tidak transaksional, tidak bergantung pada mahasiswa, dan tetap berjiwa sosial. Fakta yang jarang disadari publik adalah ini: seandainya seluruh mahasiswa MIT tidak membayar uang kuliah, keuangan MIT tetap berada dalam kondisi surplus. Pernyataan ini bukan retorika. Ia bisa diverifikasi secara akuntansi. Struktur Keuangan MIT: Angka yang Berbicara Dalam laporan keuangan MIT tahun 2024, total pendapatan institusi mencapai sekitar USD 5,07 miliar. Dari jumlah tersebut, pendapatan dari tuition fee hanya sekitar USD 428 juta, atau kurang lebih 8% dari total pendapatan. Artinya, 92% pendapatan MIT berasal dari sumber non-SPP. Sumber terbesar pendapatan MIT justru berasal dari: Hasil investasi dana abadi (endowment fund) Kontrak riset dan hibah penelitian Donasi filantropi dari alumni dan masyarakat Dana abadi MIT sendiri bernilai sekitar USD 31–32 miliar, yang dikelola secara profesional oleh MIT Investment Management Company (MITIMCO). Hasil investasinya pada tahun 2024 mencapai sekitar USD 1,48 miliar. Angka ini lebih dari tiga kali lipat pendapatan uang kuliah mahasiswa. Di sinilah letak pelajaran kuncinya: MIT tidak hidup dari mahasiswa. Mahasiswa hidup dari MIT. Mengapa MIT yang Sudah Kaya Tetap Menggalang Donasi? Pertanyaan ini sering muncul, dan justru di sinilah kedewasaan institusi terlihat. MIT memahami bahwa endowment fund bukan tabungan yang boleh dihabiskan, melainkan mesin keuangan jangka panjang. Prinsipnya sederhana: pokok dana harus dijaga, hasilnya yang dipakai. Maka, agar mesin ini terus membesar, donasi harus terus mengalir. Ada tiga alasan mendasar mengapa MIT tetap agresif menggalang donasi meski sangat kaya: Pertama, keberlanjutan lintas generasi. MIT tidak hanya memikirkan mahasiswa hari ini, tetapi mahasiswa 30, 50, bahkan 100 tahun ke depan. Setiap donasi hari ini adalah jaminan akademik bagi generasi masa depan. Kedua, menjaga karakter sosial institusi. Donasi adalah indikator kepercayaan publik. Selama masyarakat masih mau menyumbang, itu berarti MIT masih dipandang sebagai institusi sosial, bukan korporasi bisnis. Begitu donasi berhenti, itu pertanda bahaya: institusi mulai dipersepsikan sebagai entitas komersial. Ketiga, memperluas akses dan kualitas sekaligus. Dengan endowment yang kuat, MIT bisa: memberi beasiswa luas, menarik profesor terbaik dunia, membiayai riset mahal tanpa membebani mahasiswa. MIT Tidak Berbisnis, Tapi Berinvestasi Hal penting lain yang sering luput adalah: MIT memperoleh pendapatan non-SPP bukan dari berbisnis, melainkan dari berinvestasi. Ini perbedaan yang sangat mendasar. MIT tidak membuka pabrik, tidak membuka retail, tidak bersaing di pasar produk. MIT mendirikan investing company, bukan operating company. Artinya, MIT menempatkan dananya sebagai pemilik modal minoritas di perusahaan-perusahaan berkualitas, lalu menikmati hasil pertumbuhan ekonomi tersebut tanpa kehilangan karakter sosialnya sebagai lembaga pendidikan. Inilah yang membuat MIT: tetap akademik, tetap bermoral, dan tetap fokus pada pendidikan dan riset. Lalu, Bagaimana dengan Muhammadiyah? Muhammadiyah memiliki aset yang luar biasa besar: ribuan sekolah, ratusan perguruan tinggi, rumah sakit, amal usaha di berbagai sektor. Namun, pertanyaan krusialnya adalah: berapa persen lembaga pendidikan Muhammadiyah yang benar-benar hidup dari dana abadi? Realitasnya, sebagian besar sekolah dan kampus Muhammadiyah masih sangat bergantung pada SPP dan UKT. Artinya, relasi antara lembaga dan peserta didik masih bersifat transaksional. Murid membayar, layanan diberikan. Ketika murid tidak mampu membayar, institusi terguncang. Padahal, dalam khazanah Islam, Muhammadiyah memiliki instrumen yang setara bahkan lebih mulia dari endowment fund, yaitu wakaf. Wakaf: Endowment Fund dalam Bahasa Iman Apa yang disebut endowment fund di MIT, dalam Islam disebut wakaf produktif. Prinsipnya sama: pokok dijaga, hasil dimanfaatkan, manfaatnya berkelanjutan. Masalahnya bukan pada konsep, tetapi pada manajemen dan tata kelola. Wakaf sering berhenti sebagai: tanah kosong, bangunan pasif, aset mati. Padahal, jika dikelola seperti MIT mengelola endowment-nya, wakaf bisa menjadi: penopang utama pendidikan, sumber beasiswa abadi, penjamin kesejahteraan guru dan dosen, bahkan pensiun tenaga pendidik. Pelajaran Kunci dari MIT untuk Muhammadiyah Ada tiga pelajaran strategis: Pertama, pisahkan pendidikan dari transaksi. Semakin tinggi ketergantungan pada SPP, semakin rendah martabat sosial institusi pendidikan. Kedua, bangun dana abadi sebagai tulang punggung. Bukan sekadar proyek tambahan, tetapi sebagai core strategy. Ketiga, galang wakaf karena misi, bukan karena krisis. MIT menggalang donasi bukan karena kekurangan, tetapi karena visi jangka panjang. Muhammadiyah seharusnya demikian. Penutup: Pertanyaan yang Harus Dijawab MIT memberi kita cermin yang jujur: universitas terbaik dunia justru hidup dari filantropi, bukan dari mahasiswa. Pertanyaannya kini kembali ke kita: Apakah lembaga pendidikan Muhammadiyah ingin tetap terjebak dalam pendidikan transaksional? Ataukah berani melompat menuju pendidikan berbasis dana abadi dan wakaf produktif? Jika MIT yang sekuler saja menjadikan endowment sebagai pilar utama, mengapa institusi Islam justru ragu menjadikan wakaf sebagai fondasi? Belajar dari MIT bukan berarti meniru Barat. Belajar dari MIT adalah mengembalikan pendidikan pada hakikatnya: amal jariyah yang berkelanjutan. SiS, Antarkita.

Kabarkita, Prespektif, Ruang Kita

Pelatihan Photography AI

Pelatihan Photography AI Pelatihan kecerdasan buatan (AI) akhir-akhir ini mulai pemula sampai mahir makin marak di berbagai kota/kabupaten di Indonesia baik yang gratis maupun berbayar. Pelatihan Photography Kecerdasan Buatan/AI bagi Takmir Masjid Agung Baitussalam (MAB), Purwokerto sukses di gelar di teras gedung MTQ (Majlis Tahfidzil Quran) MAB yang sedang di bangun pada pukul 20.00 – 22.00 WIB. hari Sabtu 24 Januari 2026. Awalnya Dosen Fakultas Hukum Unsoed Noor Asyik sering kirim Foto AI ke WAG Panitia Ramadhan (PAR) MAB, Purwokerto. Kemudian banyak yang tertarik ingin bisa membuat Foto AI, spontan mereka minta pelatihan. Noor Asyik dibantu putranya Cyril bersedia untuk melatih pada malam minggu, kata Noor Asyik saat bincang – bincang dengan Ir.H.Alief Einstein,M.Hum. dari kafapet-unsoed.com pada hari Senin 26 Januari 2026. Peserta pelatihan 8 (delapan) Pengurus Takmir MAB. Bahkan tindak lanjut dari pelatihan, ada peserta yang minta khusus pelatihan membuat Power Point untuk materi kajian, agar materi yang disajikan lebih menarik. Peserta pelatihan sebelumnya harus menyiapkan terlebih dahulu di HP masing-masing di antaranya punya gmail.com, foto-foto close up yang sudah dipilih yaitu foto yang tajam, jernih, dan jelas (foto anggota keluarga dan foto dengan latar belakang tertentu, misal di jalan). Foto tersebut akan di rancang saat pelatihan. Adapun jaringan internet / wifi bisa menggunakan MAB kuota. Tujuan pelatihan di antaranya mengenalkan AI untuk membantu materi Dakwah (PPT, menvisualkan materi yang abstrack), kemudian menjadi Potograper AI, dan membuat karya foto yang menghibur. Materi pelatihan yakni pengenalan AI, manfaat positif, penggunaan negatif, dan sanksi pidana. Contoh aplikasi AI untuk membuat foto: Google Gemini AI dan Dreamina CapCut. Pada saat praktik dasar membuat foto dengan Gemini AI, ada hambatan sinyal dari wifi, sehingga ada peserta yang belum berhasil dan setelah mencoba di rumah ternyata berhasil. Acara diakhiri dengan makan malam mi rebus dengan susana akrab.

Kabarkita, Prespektif, Ruang Kita

Belajar Kelestarian Alam dan Budaya, Siswa SMP MUHAMRA Ceriakan Outing Class di Purbalingga

Belajar Kelestarian Alam dan Budaya, Siswa SMP MUHAMRA Ceriakan Outing Class di Purbalingga Purbalingga || AntarKita.com ~ Siswa kelas VIII dan IX SMP Muhammadiyah Rawalo (MUHAMRA), Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah, mengikuti kegiatan outing class atau pembelajaran luar ruangan ke Purbalingga pada Ahad (25/1/2026). Kegiatan bertema “Edutrip Muhamra Goes to Purbalingga” ini dikawal lima pendamping, sebagai upaya menghadirkan pembelajaran kontekstual yang menyenangkan sekaligus memperkaya wawasan, pengalaman belajar, kebersamaan, dan kemandirian siswa. Kegiatan ini mengunjungi tiga lokasi edukatif. Pertama, Gua Lawa di Desa Siwarak, Kecamatan Karangreja, di mana siswa belajar tentang konservasi alam, kelestarian goa, serta sejarah stalaktit dan stalagmit. Kedua, Masjid Cengho di Desa Selaganggeng, Kecamatan Mrebet, yang menjadi media pembelajaran tentang toleransi beragama, keberagaman budaya, sejarah akulturasi Tionghoa-Islam, serta arsitektur unik pagoda-masjid. Ketiga, Owabong di Desa Bojongsari, Kecamatan Bojongsari, di mana siswa mendapatkan pengalaman belajar mengenai pelestarian sumber daya air, teknik renang, ekosistem air, dan keberanian melalui wahana edukatif. Guru Olahraga SMP Muhammadiyah Rawalo, Rizki Aji Kurniawan yang turut mendampingi anak-anak, menjelaskan bahwa kegiatan renang di Owabong tidak hanya mengajarkan teknik renang, tetapi juga melatih keberanian, kedisiplinan, dan kerja sama antar siswa. “Kegiatan ini efektif karena menggabungkan edukasi, rekreasi, dan pembentukan karakter. Fasilitas kolam yang aman mendukung antusiasme mereka, sehingga belajar menjadi menyenangkan,” ujar Rizki.   Sementara itu, Kepala SMP Muhammadiyah Rawalo, Murtafingah Ekaningrum, S.Pd., menegaskan bahwa outing class dirancang untuk melatih motorik, kreativitas, kemandirian, serta membentuk karakter murid agar berakhlak, tangguh, dan berkepribadian. “Outing class bukan sekadar rekreasi, tetapi sarana pembelajaran penting. Melalui pengalaman langsung, siswa memahami konservasi alam, keberagaman budaya, dan disiplin olahraga. Kegiatan ini juga memperkuat keberanian, kemandirian, dan kerja sama antarsiswa sehingga pembelajaran menjadi lebih hidup, menyenangkan, dan bermakna,” ujarnya. Keceriaan tampak sejak keberangkatan hingga pulang. Para siswa mengikuti seluruh kegiatan dengan disiplin sambil menikmati pengalaman belajar di luar kelas yang memberi perspektif baru. Salah satu peserta, Faez Abdullah Masrur dari kelas 9A, mengaku outing class ke Gua Lawa sangat berkesan. “Saya bisa melihat keindahan stalaktit dan stalagmit, belajar sejarah goa, serta melatih keberanian dan kekompakan kelas. Terima kasih kepada guru yang membimbing kami dengan sabar,” ungkap Faez. Kegiatan outing class ini diharapkan menjadi bagian rutin dari kurikulum SMP MUHAMRA dalam membentuk siswa yang cerdas, berkarakter, peduli lingkungan, serta mampu belajar secara menyenangkan melalui pengalaman langsung di lapangan. (Tarqum Aziz JurnalisMu Banyumas Raya).

Kabarkita, Prespektif, Ruang Kita

Sertijab Kepala SLB Aisyiyah Al-Walidah Ajibarang, Momentum Memperkuat Pendidikan Inklusif ABK

Sertijab Kepala SLB Aisyiyah Al-Walidah Ajibarang, Momentum Memperkuat Pendidikan Inklusif ABK Ajibarang-Banyumas || AntarKita.com ~ Pimpinan Ranting Muhammadiyah (PRM) Banjarsari, Cabang Ajibarang, menggelar acara serah terima jabatan Kepala SLB Aisyiyah Al-Walidah pada Ahad, 25 Januari 2026. Kegiatan yang berlangsung di Lantai 2 Aula PKBM TUNAS, Banjarsari, Ajibarang, Kabupaten Banyumas tersebut menjadi momentum penting dalam menjaga kesinambungan kepemimpinan sekaligus memperkuat komitmen pelayanan pendidikan bagi anak berkebutuhan khusus di lingkungan Persyarikatan Muhammadiyah dan Aisyiyah. Serah terima jabatan dilaksanakan dari Kepala SLB Aisyiyah Al-Walidah periode sebelumnya, Drs. Kujang Tri Utomo, kepada Kepala SLB yang baru, Siti Khamidah, S.Pd.Gr. Prosesi berlangsung khidmat dan disaksikan oleh jajaran PRM Banjarsari, unsur Aisyiyah, Pimpinan Cabang Muhammadiyah Ajibarang, Majelis Dikdasmen dan PNF Cabang Ajibarang, para guru, serta tamu undangan.   Dalam sambutannya, Drs. Kujang Tri Utomo menyampaikan rasa syukur dan terima kasih atas dukungan seluruh pihak selama masa pengabdiannya. Ia menegaskan bahwa SLB Aisyiyah Al-Walidah merupakan amal usaha yang tidak hanya berorientasi pada capaian akademik, tetapi juga pada pelayanan kemanusiaan. “SLB ini adalah ladang pengabdian. Saya berharap kepemimpinan yang baru dapat melanjutkan dan mengembangkan pelayanan pendidikan yang ramah, sabar, dan penuh kasih bagi anak-anak berkebutuhan khusus,” ujarnya. Sementara itu, Kepala SLB Aisyiyah Al-Walidah yang baru, Siti Khamidah, S.Pd.Gr., menyatakan komitmennya untuk melanjutkan program-program yang telah berjalan serta memperkuat inovasi layanan pendidikan. “Amanah ini akan kami jalankan dengan penuh tanggung jawab. Sinergi dengan PRM, Aisyiyah, para guru, dan wali murid menjadi kunci dalam menghadirkan pendidikan yang inklusif dan bermutu,” tuturnya. Ketua Majelis Dikdasmen dan PNF Cabang Ajibarang, Putut Endro, S.Pd., menjelaskan bahwa pergantian kepala sekolah merupakan bagian dari proses regenerasi kepemimpinan institusi. Pergantian tersebut dilakukan seiring berakhirnya masa tugas kepala sekolah sebelumnya yang telah memasuki purna tugas setelah menjabat lebih dari satu periode. “Regenerasi kepemimpinan adalah proses alamiah agar lembaga pendidikan tetap dinamis, adaptif, dan berkelanjutan dengan harapan kepemimpinan baru mampu membawa SLB Aisyiyah Al-Walidah menjadi lebih baik, lebih maju, dan inovatif dalam memberikan pelayanan Pendidikan”. Sementara itu, Ketua PCM Ajibarang, Triana Waston Muhamadi, S.Pd menegaskan bahwa SLB Aisyiyah Al-Walidah Muhammadiyah merupakan salah satu sekolah luar biasa di wilayah Banyumas Barat yang menyediakan layanan pendidikan lengkap dari jenjang SD hingga SMA, sebagai bentuk komitmen Muhammadiyah dan Aisyiyah dalam menghadirkan pendidikan yang inklusif. “SLB Aisyiyah Al-Walidah hadir sebagai wujud nyata komitmen Muhammadiyah dan Aisyiyah dalam melayani pendidikan anak-anak berkebutuhan khusus melalui layanan yang utuh dan berkelanjutan, dari tingkat dasar hingga menengah,” ujarnya. Ia menjelaskan bahwa SLB Aisyiyah Al-Walidah Banjarsari merupakan salah satu AUM milik PRM Banjarsari Ajibarang, bersama PKBM TUNAS dan Ponpes Al Mumtazah. Sejak berdiri pada 2 Mei 2017, PRM Banjarsari berkembang pesat, khususnya di bidang pendidikan. Triana Waston juga mengapresiasi kepemimpinan H. Kusaeri yang dinilai berhasil mengelola organisasi secara profesional dan memberi manfaat nyata bagi masyarakat. Serah terima jabatan ini tidak hanya bersifat administratif, tetapi menegaskan komitmen Muhammadiyah–Aisyiyah dalam memajukan pendidikan sebagai dakwah pencerahan. Melalui SLB Aisyiyah Al-Walidah, nilai Islam berkemajuan diwujudkan dalam pelayanan pendidikan inklusif yang menjunjung kemanusiaan, keadilan, dan keberpihakan kepada ABK sebagai bagian dari misi rahmatan lil ‘alamin (Tarqum Aziz JurnalisMu Banyumas Raya).

Scroll to Top