Antarkita

5 Januari 2026

Kabarkita, Prespektif, Ruang Kita

Ketua PWM Jawa Tengah Dukung Penuh Pembangunan Perumahan Muhammadiyah Banyumas

Ketua PWM Jawa Tengah Dukung Penuh Pembangunan Perumahan Muhammadiyah Banyumas Ketua Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) Jawa Tengah, Dr. KH. Tafsir, M.Ag., menyatakan dukungan penuh terhadap langkah strategis Muhammadiyah Banyumas dalam membangun Perumahan Muhammadiyah Banyumas. Dukungan ini menjadi penegasan bahwa pengembangan hunian berbasis persyarikatan merupakan bagian penting dari ikhtiar Muhammadiyah dalam membangun kemandirian umat, memperkuat ekonomi jamaah, serta menyiapkan ruang dakwah yang berkelanjutan. Dukungan tersebut diwujudkan melalui kegiatan peninjauan langsung lokasi lahan yang akan dikembangkan, yang berlokasi di Purwokerto Selatan. Dalam kunjungan tersebut, Ketua PWM Jawa Tengah didampingi oleh Ketua Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Banyumas, Muhammad Djohar AS, beserta jajaran terkait. Peninjauan ini dilakukan untuk memastikan kesiapan lahan serta kesesuaian rencana pembangunan dengan visi Muhammadiyah sebagai gerakan Islam yang berkemajuan. Purwokerto Selatan dipilih karena memiliki tingkat pertumbuhan hunian yang tinggi dan menjadi salah satu kawasan pengembangan permukiman paling prospektif di Banyumas. Di sekitar lokasi yang direncanakan, telah berdiri berbagai kawasan perumahan, yang menunjukkan tingginya kebutuhan hunian serta potensi pengembangan kawasan yang berkelanjutan. Dalam kesempatan tersebut, Latif Muchozin, selaku Ketua JSM Banyumas, mendampingi rombongan dan memaparkan berbagai aspek teknis perencanaan pembangunan. Penjelasan meliputi potensi lahan, konsep pengembangan perumahan, tahapan pembangunan, serta prinsip perencanaan yang mengedepankan keberlanjutan lingkungan, kenyamanan hunian, dan nilai-nilai keislaman. Menanggapi pemaparan tersebut, Dr. KH. Tafsir, M.Ag. menyampaikan apresiasi dan dukungan yang kuat terhadap inisiatif Muhammadiyah Banyumas. “Pembangunan Perumahan Muhammadiyah ini adalah langkah strategis dan visioner. Muhammadiyah tidak cukup hanya berdakwah melalui mimbar, tetapi juga harus hadir menjawab kebutuhan riil umat, salah satunya kebutuhan hunian yang layak dan berkemajuan,” ujar Kyai Tafsir. Menurut beliau, pembangunan perumahan ini tidak hanya berorientasi pada penyediaan rumah, tetapi juga membawa dampak luas bagi penguatan ekonomi umat dan masyarakat sekitar. “Proyek ini akan menggerakkan banyak sektor ekonomi. Tenaga kerja terserap, usaha penyedia bahan bangunan bergerak, dan UMKM di sekitar lokasi ikut hidup. Inilah dakwah bil hal, dakwah melalui kerja nyata yang manfaatnya bisa langsung dirasakan,” lanjutnya. Kyai Tafsir juga menekankan bahwa program ini selaras dengan misi Muhammadiyah dalam menciptakan lapangan kerja dan membangun kemandirian ekonomi jamaah. “Muhammadiyah harus terus menjadi bagian dari solusi. Ketika kita membangun perumahan, sesungguhnya kita sedang membangun kehidupan, membangun ekonomi, dan membangun peradaban umat,” tegasnya. Lebih lanjut, Kyai Tafsir menilai bahwa Perumahan Muhammadiyah Banyumas memiliki nilai strategis sebagai basis pembinaan warga persyarikatan. “Perumahan Muhammadiyah bukan sekadar kumpulan rumah. Ini adalah ruang pembinaan, ruang dakwah, dan ruang penguatan ukhuwah. Dengan lingkungan yang sejalan nilai-nilainya, pembinaan keislaman dan kemuhammadiyahan akan jauh lebih efektif,” ungkapnya. Sebagai kota tujuan pendidikan, kesehatan, dan ekonomi, Purwokerto dinilai sangat strategis untuk pengembangan perumahan jangka panjang. Pertumbuhan penduduk yang terus meningkat menuntut ketersediaan hunian baru yang terencana dan berkualitas. Oleh karena itu, proyek ini diprioritaskan untuk memenuhi kebutuhan internal warga Muhammadiyah Banyumas, yang jumlahnya terus bertambah dari waktu ke waktu. Dengan dukungan penuh dari PWM Jawa Tengah, PDM Banyumas, serta seluruh elemen persyarikatan, diharapkan pembangunan Perumahan Muhammadiyah Banyumas dapat berjalan lancar, berkembang secara berkelanjutan, dan menjadi model pengembangan perumahan Muhammadiyah yang dapat direplikasi di daerah lain. SiS, Antarkita

Prespektif, Ruang Kita

Spirit Antarkita.com

Spirit Antarkita.com Membangun Kemandirian dan Kedaulatan Ekosistem Bisnis Jama’ah Muhammadiyah Dalam setiap zaman, umat selalu dihadapkan pada pilihan: menjadi penonton atau menjadi pelaku sejarah. Antarkita.com lahir dari kesadaran bahwa kemandirian ekonomi tidak mungkin tumbuh jika umat terus menggantungkan hidupnya pada sistem yang dibangun dan dikendalikan oleh pihak lain. Spirit Antarkita.com adalah spirit berdiri di atas kaki sendiri, membangun ekosistem bisnis yang berpihak, sederhana, dan berakar pada kekuatan jama’ah Muhammadiyah. Setiap Produk Ada Pembelinya Dalam realitas ekonomi, sering kali kita terjebak pada perasaan kalah sebelum bertanding. Merasa kecil di hadapan raksasa, merasa tidak layak bersaing, merasa pasar sudah habis dibagi. Padahal Islam mengajarkan perspektif yang jauh lebih menenangkan: “Allah melapangkan rezeki bagi siapa yang Dia kehendaki dan menyempitkannya bagi siapa yang Dia kehendaki.” (QS. Ar-Ra’d: 26) Ayat ini menegaskan satu prinsip penting: rezeki tidak diperebutkan, tetapi ditunaikan melalui ikhtiar. Setiap produk ada pembelinya, setiap usaha ada jalannya, dan setiap ikhtiar memiliki ceruknya masing-masing. Tugas manusia bukan menakar milik orang lain, tetapi mengelola amanah yang ada di tangannya. Antarkita.com: UMKM dengan Kesadaran Nilai Antarkita.com dengan sadar menempatkan diri sebagai UMKM, bukan aplikasi raksasa. Ia tidak membandingkan dirinya dengan platform global yang dibangun oleh modal besar, teknologi kompleks, dan kepentingan akumulasi keuntungan tanpa batas. Antarkita.com memilih jalan lain: Teknologi yang sederhana, agar mudah dipahami dan digunakan. Sistem yang ringan, agar tidak membebani pelaku usaha kecil. Manusia sebagai subjek, bukan sekadar data dan algoritma. Rasulullah ﷺ bersabda: “Tidaklah seseorang memakan makanan yang lebih baik daripada hasil kerja tangannya sendiri.” (HR. Bukhari) Hadis ini menjadi fondasi bahwa kemuliaan ekonomi bukan terletak pada skala besar atau kecilnya usaha, tetapi pada kejujuran, kemandirian, dan keberkahan kerja. Hidup dari Semangat Jama’ah, Bukan Sekadar Teknologi Antarkita.com hidup bukan karena kecanggihan teknologi, tetapi karena ruh kebersamaan jama’ah Muhammadiyah. Ia bertumbuh dari silaturahmi, kepercayaan, dan kesadaran kolektif bahwa ekonomi umat harus dibangun bersama, bukan diserahkan sepenuhnya kepada sistem luar. Inilah makna kedaulatan ekosistem bisnis jama’ah: Produksi oleh jama’ah Distribusi oleh jama’ah Konsumsi oleh jama’ah Keuntungan berputar di jama’ah Bukan untuk menutup diri dari dunia luar, tetapi untuk memastikan bahwa umat tidak terus berada di posisi paling lemah dalam struktur ekonomi. Imam Al-Ghazali mengingatkan bahwa rezeki yang halal dan diperoleh dengan cara yang benar akan melahirkan thuma’ninah—ketenangan jiwa. Antarkita.com memilih jalan keberkahan, meski perlahan, dibanding pertumbuhan cepat tanpa nilai. Rezeki Sudah Dibagi, Tugas Kita Berikhtiar Keyakinan dasar Antarkita.com sederhana namun kokoh: Allah SWT telah membagi rezeki masing-masing hamba-Nya. Tidak ada yang tertukar, tidak ada yang tertinggal. “Dan tidak ada suatu makhluk melata pun di bumi melainkan Allah-lah yang memberi rezekinya.” (QS. Hud: 6) Karena itu, Antarkita.com tidak lahir dengan rasa takut kalah, tetapi dengan keberanian untuk berpihak. Berpihak pada usaha kecil, pada jama’ah, pada ikhtiar yang mungkin sunyi namun jujur. Penutup Antarkita.com adalah ikhtiar kecil dengan kesadaran besar. Ia bukan tentang siapa yang paling cepat, bukan tentang siapa yang paling canggih, melainkan tentang siapa yang paling konsisten menjaga nilai. Selama jama’ah mau bergerak bersama, selama ikhtiar terus dijalankan, dan selama keyakinan kepada Allah tetap menjadi fondasi, maka kemandirian dan kedaulatan ekonomi jama’ah bukan mimpi— melainkan proses yang sedang dan terus kita jalani. SiS, Antarkita

Kabarkita, Prespektif, Ruang Kita

Membangun Ekonomi Jama’ah dengan Spirit Kemandirian, Kedaulatan, dan Ukhuwah

Membangun Ekonomi Jama’ah dengan Spirit Kemandirian, Kedaulatan, dan Ukhuwah Meneladani Rasulullah ﷺ dalam Membangun Pasar Madinah Banyumas — Ketua Jaringan Saudagar Muhammadiyah (JSM) Banyumas, H. Latif Muchozin, menegaskan bahwa penguatan ekonomi jama’ah merupakan agenda strategis dan mendesak dalam menghadapi realitas ekonomi nasional dan global yang semakin tidak berpihak kepada usaha kecil dan umat. Menurutnya, di tengah dominasi modal besar, korporasi raksasa, dan sistem ekonomi yang kian terpusat, umat Islam—termasuk warga Muhammadiyah—tidak boleh terus berada pada posisi sebagai pasar dan konsumen semata. Diperlukan ikhtiar sadar, terencana, dan berjama’ah untuk membangun kemandirian ekonomi. “Membangun ekonomi jama’ah harus dimulai dari niat yang lurus: mandiri dan tidak bergantung sepenuhnya pada ekonomi luar. Bukan untuk menutup diri, tetapi agar jama’ah memiliki daya tawar, kemandirian, dan martabat,” ujar H. Latif Muchozin. Ekonomi Jama’ah: Pilar Kemandirian Umat H. Latif Muchozin menjelaskan bahwa ekonomi jama’ah bukan sekadar aktivitas bisnis, melainkan bagian dari strategi besar membangun kekuatan umat. Tanpa fondasi ekonomi yang kuat, dakwah, pendidikan, kesehatan, dan amal usaha Muhammadiyah akan selalu berada dalam kondisi rentan. Ia menekankan bahwa kemandirian ekonomi jama’ah harus dibangun secara bertahap dan realistis, dimulai dari penguatan pelaku usaha internal, jejaring saudagar, serta kesadaran kolektif untuk saling menopang. “Kemandirian tidak lahir dari menunggu bantuan, tetapi dari keberanian memulai dengan apa yang kita miliki,” tegasnya. Berdaulat dengan Produk dan Bisnis Jama’ah Lebih lanjut, Ketua JSM Banyumas menegaskan bahwa kedaulatan ekonomi hanya dapat terwujud apabila jama’ah berani berpihak pada produk dan bisnis milik jama’ah sendiri. Tanpa keberpihakan tersebut, usaha-usaha jama’ah akan sulit berkembang di tengah persaingan yang tidak seimbang. “Jika produk jama’ah tidak kita gunakan, jika bisnis jama’ah tidak kita dukung, maka kedaulatan ekonomi hanya akan menjadi slogan,” katanya. Menurutnya, kedaulatan ekonomi jama’ah bukan tentang menyingkirkan pihak lain, tetapi memastikan bahwa nilai tambah ekonomi berputar di lingkungan jama’ah dan memberi manfaat yang luas bagi umat. Meneladani Rasulullah ﷺ dalam Membangun Pasar Madinah Dalam konteks sejarah Islam, H. Latif Muchozin mengingatkan bahwa apa yang dilakukan JSM Banyumas hari ini memiliki preseden yang sangat kuat dalam sirah Nabawiyah. Ketika Rasulullah ﷺ hijrah ke Madinah, struktur ekonomi kota tersebut dikuasai oleh pasar Bani Qainuqa’ yang sarat dengan praktik riba, monopoli, dan ketidakadilan. Kaum Muslimin, meskipun jumlahnya terus bertambah, tidak memiliki kedaulatan ekonomi dan hanya menjadi bagian pinggiran dari sistem yang ada. Rasulullah ﷺ tidak memilih jalan konfrontasi atau perebutan paksa, tetapi membangun sistem ekonomi alternatif. Beliau mendirikan pasar sendiri bagi kaum Muslimin—pasar yang bebas riba, tanpa pungutan yang menindas, dan menjunjung tinggi kejujuran. Dalam sebuah hadis diriwayatkan: “Ini adalah pasar kalian. Jangan dipersempit dan jangan dipungut pajak.” (HR. Ibnu Mājah) Pasar Madinah yang dibangun Rasulullah ﷺ menjadi simbol kemandirian dan kedaulatan ekonomi umat, sekaligus ruang pembelajaran etika bisnis Islam yang berkeadilan. Ukhuwah Para Sahabat sebagai Jiwa Ekonomi Islam Keberhasilan pasar Madinah, menurut H. Latif Muchozin, tidak hanya ditentukan oleh sistem dan aturan, tetapi oleh ukhuwah para sahabat. Mereka berdagang dengan kejujuran, saling percaya, dan saling menjaga. Persaingan tidak berubah menjadi permusuhan, dan keuntungan tidak menghilangkan kepedulian. “Ekonomi jama’ah harus dibangun di atas ukhuwah. Tanpa ukhuwah, ekonomi akan melahirkan konflik. Dengan ukhuwah, ekonomi menjadi sarana kemaslahatan,” jelasnya. Ia mengutip sabda Rasulullah ﷺ: “Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia lainnya.” (HR. Ahmad) Hadis ini, menurutnya, menjadi prinsip dasar bahwa aktivitas ekonomi jama’ah harus memberi manfaat seluas-luasnya, bukan hanya kepada pelaku usaha, tetapi juga kepada masyarakat sekitar. Ikhtiar JSM Banyumas: Kecil, Bertahap, dan Berjama’ah Menutup pernyataannya, H. Latif Muchozin menegaskan bahwa JSM Banyumas menyadari sepenuhnya keterbatasan yang dimiliki. Namun keterbatasan tersebut justru menjadi alasan untuk terus bergerak, bukan berhenti. “Kami tidak menunggu sempurna untuk memulai. Kami bergerak dengan segala keterbatasan, karena sejarah mengajarkan bahwa perubahan besar selalu diawali oleh langkah-langkah kecil yang konsisten,” pungkasnya. Ia berharap ikhtiar JSM Banyumas dapat menjadi stimulus lahirnya program-program ekonomi jama’ah lainnya, serta memperkuat sinergi antar pelaku usaha Muhammadiyah di Banyumas. Tentang JSM Banyumas Jaringan Saudagar Muhammadiyah Banyumas merupakan wadah silaturahmi, kolaborasi, dan penguatan ekonomi para pelaku usaha Muhammadiyah di wilayah Banyumas, dengan tujuan membangun kemandirian dan kedaulatan ekonomi jama’ah secara berkelanjutan.  

Hunian Kita, Kabarkita, Prespektif, Ruang Kita

Kebutuhan Hunian dalam Genggaman Anda

Kebutuhan Hunian dalam Genggaman Anda Hunian adalah kebutuhan dasar yang menentukan kualitas hidup sebuah keluarga. Dari rumah yang layak, lahir rasa aman, ketenangan batin, serta ruang tumbuh bagi generasi penerus. Namun pada kenyataannya, tidak semua keluarga memiliki kemudahan untuk mendapatkan hunian yang sesuai dengan kebutuhan dan kemampuan. Harga tanah yang terus meningkat, keterbatasan akses pembiayaan, serta minimnya pilihan hunian yang berpihak kepada masyarakat menjadi tantangan nyata yang dihadapi hari ini. Menyadari kondisi tersebut, Jaringan Saudagar Muhammadiyah (JSM) Banyumas memulai sebuah ikhtiar bersama untuk menghadirkan solusi hunian yang adil, realistis, dan membumi. Sebagai langkah awal untuk mewujudkan mimpi membangun Perumahan Muhammadiyah, JSM Banyumas melakukan survei kebutuhan perumahan Muhammadiyah secara online. Langkah Awal yang Berangkat dari Mendengar Kami meyakini bahwa pembangunan perumahan tidak boleh dimulai dari asumsi, apalagi sekadar mengikuti logika pasar properti. Rumah yang baik bukan yang paling mahal, melainkan yang paling sesuai dengan kebutuhan penghuninya. Karena itu, langkah pertama yang kami ambil adalah mendengar langsung suara warga Muhammadiyah Banyumas. Melalui survei online ini, JSM Banyumas menghimpun data kebutuhan hunian warga: kondisi tempat tinggal saat ini, kebutuhan ruang keluarga, harapan terhadap lingkungan hunian, hingga kemampuan ekonomi yang realistis. Data ini menjadi fondasi utama agar perencanaan perumahan Muhammadiyah benar-benar berpijak pada realitas jamaah, bukan sekadar konsep di atas kertas. Layanan Hunian untuk Warga Muhammadiyah Banyumas Khusus untuk warga Muhammadiyah Banyumas, JSM Banyumas menghadirkan layanan kebutuhan hunian rumah yang dapat diakses dengan mudah. Layanan ini dirancang untuk memudahkan warga dalam menyampaikan kebutuhan hunian secara terbuka, transparan, dan partisipatif. Seluruh proses pendataan dan pemesanan kebutuhan hunian dilakukan secara online, sehingga dapat dijangkau oleh warga di berbagai wilayah Banyumas. Cukup melalui genggaman tangan, warga dapat berpartisipasi dalam proses awal perencanaan perumahan Muhammadiyah. Pendekatan ini tidak hanya memudahkan secara teknis, tetapi juga membuka ruang partisipasi seluas-luasnya. Setiap isian survei adalah suara, dan setiap suara adalah arah bagi langkah JSM Banyumas ke depan. Mewujudkan Hunian Impian yang Sesuai Kebutuhan dan Kemampuan Survei kebutuhan rumah ini menjadi kunci untuk mewujudkan hunian impian yang sesuai kebutuhan dan kemampuan. JSM Banyumas ingin memastikan bahwa perumahan Muhammadiyah kelak bukan hunian yang memberatkan keluarga dengan cicilan panjang, melainkan hunian yang menenangkan dan menguatkan kehidupan. Hunian yang direncanakan tidak hanya memperhatikan aspek fisik bangunan, tetapi juga lingkungan sosial dan nilai-nilai keislaman. Diharapkan, perumahan Muhammadiyah menjadi ruang hidup yang sehat, tertib, religius, serta mendorong tumbuhnya kebersamaan dan kemandirian ekonomi jamaah. Survei sebagai Fondasi Mimpi Besar Survei ini bukan tujuan akhir, melainkan langkah awal untuk mewujudkan mimpi besar JSM Banyumas. Dari data yang terkumpul, JSM Banyumas akan menyusun perencanaan yang matang, menentukan skema pembangunan yang adil, serta merancang model pembiayaan yang sesuai dengan kemampuan warga. Kami percaya, mimpi besar harus dirawat dengan langkah kecil yang terukur. Dan survei ini adalah langkah kecil pertama yang menentukan arah perjalanan panjang tersebut. Ajakan Berpartisipasi Kami mengajak seluruh warga Muhammadiyah Banyumas untuk turut ambil bagian dalam ikhtiar ini. Silakan isi formulir survei kebutuhan hunian agar kami dapat memahami kebutuhan Anda secara lebih utuh dan bersama-sama mewujudkan rumah impian yang layak, terjangkau, dan penuh keberkahan. Dari kebutuhan yang terdata dengan jujur, lahir perencanaan yang adil. Dari kebersamaan jamaah, terwujud hunian yang menenteramkan. SiS, Antarkita

Hunian Kita, Kabarkita, Prespektif, Ruang Kita

Mimpi JSM Banyumas 2026: Membangun Perumahan Muhammadiyah

Mimpi JSM Banyumas 2026: Membangun Perumahan Muhammadiyah Sabtu sore, 3 Januari 2026, menjadi salah satu simpul waktu yang penting bagi Jaringan Saudagar Muhammadiyah (JSM) Banyumas. Dalam suasana awal tahun yang masih basah oleh harapan dan doa, lahirlah satu mimpi bersama: membangun Perumahan Muhammadiyah. Bukan sekadar proyek fisik, melainkan ikhtiar ideologis, sosial, dan keumatan. Mimpi ini tidak lahir dari ruang hampa. Ia berakar pada realitas sosial yang kian mendesak: krisis hunian yang semakin menghimpit masyarakat urban dan suburban. Seperti yang sejak lama disadari Friedrich Engels dalam The Housing Question (1872), krisis hunian adalah persoalan struktural yang selalu menjadi “hak istimewa” kaum tertindas—mereka yang bekerja keras, tetapi kian tersingkir dari akses tempat tinggal yang layak. Engels menyebutnya sebagai secondary evil, kejahatan turunan dari sistem ekonomi yang timpang. Lebih dari satu abad berselang, hantu krisis hunian itu kembali menggentayangi Indonesia. Urbanisasi yang masif, harga tanah dan rumah yang terus melonjak, serta ketergantungan pada skema pembiayaan jangka panjang membuat hunian layak semakin jauh dari jangkauan masyarakat kelas menengah ke bawah. Padahal, hunian bukan sekadar bangunan, melainkan hak dasar manusia, sebagaimana ditegaskan dalam UU No. 1 Tahun 2011 tentang Perumahan dan Kawasan Permukiman, Agenda 21 PBB, serta Tujuan ke-11 Sustainable Development Goals. Di titik inilah mimpi JSM Banyumas menemukan relevansinya. Muhammadiyah, sejak kelahirannya pada 1912, adalah gerakan Islam yang tumbuh dan berakar di ruang urban. Sejarah mencatat bagaimana Kiai Ahmad Dahlan dan para pendiri Muhammadiyah tidak hanya berdakwah di mimbar, tetapi juga menjawab kebutuhan konkret masyarakat kota: pendidikan, kesehatan, dan pelayanan sosial. Impian Kiai Sudja’ pada 1920 tentang rumah miskin, rumah yatim, dan rumah sakit—yang kala itu dianggap terlalu muluk—akhirnya terbukti menjadi tonggak besar amal usaha Muhammadiyah. Kini, seabad kemudian, mimpi itu menuntut rekontekstualisasi. Membangun Perumahan Muhammadiyah bukan sekadar menyediakan tempat berteduh, tetapi menghadirkan hunian sementara yang bermartabat, terjangkau, dan terintegrasi dengan nilai-nilai Islam berkemajuan. Hunian yang memberi ruang bagi keluarga muda, pekerja kecil, alumni panti asuhan, pensiunan pegawai persyarikatan, kaum difabel, hingga mereka yang selama ini terpinggirkan dari akses kepemilikan rumah. Sebagaimana ditegaskan dalam berbagai kajian (Belinda Yuen, 2007; Hilman Latief, 2016), hunian yang layak berkorelasi langsung dengan kualitas sumber daya manusia, ketahanan keluarga, dan stabilitas sosial. Ketika akses hunian tertutup, lahirlah kawasan kumuh, kemiskinan struktural, krisis moral, bahkan keterasingan manusia dari nilai-nilai keimanan. Karena itu, menyediakan hunian sejatinya adalah amal dunia sekaligus investasi akhirat. Perumahan Muhammadiyah yang dimimpikan JSM Banyumas bukan hanya soal tembok dan atap, tetapi tentang membangun ekosistem kehidupan: ada masjid sebagai pusat spiritual, ada ruang pendidikan dan literasi, ada denyut ekonomi jamaah, dan ada kehidupan sosial yang saling menguatkan. Di sanalah dakwah tidak berhenti pada ceramah, tetapi hadir dalam keseharian—dalam kerja, dalam keluarga, dalam kebersamaan. Mimpi ini juga sejalan dengan Manhaj Gerakan Muhammadiyah dan Pernyataan Pikiran Muhammadiyah Abad Kedua: mengambil prakarsa, bersikap proaktif, dan menghadirkan solusi nyata atas persoalan umat dan bangsa. Ketika negara belum sepenuhnya mampu menjangkau semua lapisan, maka gerakan masyarakat—termasuk JSM—perlu tampil sebagai bagian dari solusi. Karena itu, mimpi Perumahan Muhammadiyah yang lahir pada Sabtu sore awal Januari 2026 ini kami maknai sebagai spirit awal tahun, sebuah stimulus bagi lahirnya program-program lanjutan JSM Banyumas. Mimpi yang mengajak kami untuk tidak berhenti pada wacana, tetapi melangkah pada perencanaan, konsolidasi, dan ikhtiar nyata. Sejarah Muhammadiyah telah membuktikan: banyak mimpi besar yang awalnya ditertawakan, justru kelak menjadi amal usaha yang menopang jutaan kehidupan. Maka, mimpi JSM Banyumas ini pun kami rawat dengan keyakinan yang sama—bahwa selama ia berpijak pada nilai, kebutuhan umat, dan kerja berjamaah, ia bukan mimpi kosong, melainkan cikal bakal perubahan. Wallahu a’lam. SiS, Antarkita

Scroll to Top