Antarkita

Januari 2026

Prespektif, Ruang Kita

Demokrasi yang Dipreteli atas Nama Efisiensi

Demokrasi yang Dipreteli atas Nama Efisiensi Oleh: Teguh Eko Prasetyo (DPP IMM Bidang Kajian dan Pengembangan Keilmuan) Wacana pengembalian pemilihan kepala daerah melalui DPRD dengan alasan efisiensi anggaran sejatinya bukan upaya menghemat demokrasi, melainkan menyederhanakannya dengan cara paling berbahaya: mengeluarkan rakyat dari proses pengambilan keputusan. Di balik bahasa teknokratis tentang biaya, tersembunyi pilihan politik mendasar tentang apakah negara masih menempatkan rakyat sebagai pemegang kedaulatan. Hak memilih pemimpin bukanlah fasilitas tambahan yang bisa dicabut demi penghematan. Ia adalah hak konstitusional warga negara. Mengorbankannya atas nama efisiensi berarti mempreteli demokrasi secara sistematis, bukan memperbaikinya. Tingginya biaya politik tidak bersumber dari partisipasi rakyat, melainkan dari praktik politik yang tidak sehat: politik uang, mahar pencalonan, kampanye mahal, dan transaksi kekuasaan pascapemilu. Ironisnya, alih-alih membenahi problem ini, elite politik justru memilih jalan pintas dengan mengurangi peran rakyat. Jika biaya benar-benar menjadi persoalan, solusi semestinya diarahkan pada perbaikan tata kelola pendanaan politik, transparansi kampanye, penegakan hukum pemilu, serta pendidikan politik bagi elite dan partai. Namun langkah-langkah ini menuntut komitmen dan perubahan perilaku, sesuatu yang jauh lebih sulit dibanding memindahkan pemilihan ke ruang tertutup DPRD. Klaim bahwa pemilihan melalui DPRD lebih murah dan stabil juga patut dipertanyakan. Biaya politik tidak hilang, melainkan berpindah dari ruang publik yang bisa diawasi ke ruang lobi elite yang sulit dilacak. Uang tetap bekerja, tetapi tanpa kontrol rakyat. Dalam mekanisme ini, kepala daerah lebih bergantung pada konfigurasi kekuatan partai di parlemen daripada mandat rakyat. Akuntabilitas pun bergeser dari publik ke elite politik, membuka ruang kompromi kekuasaan yang mengabaikan kepentingan warga. Menyebut proses tersebut sebagai “pemilihan umum” menjadi problematis ketika rakyat sama sekali tidak dilibatkan. Demokrasi tanpa partisipasi publik hanya menyisakan prosedur hukum tanpa roh dan makna. Efisiensi anggaran tidak boleh dijadikan alasan untuk menggerus hak rakyat. Jika logika ini diterima, maka seluruh hak konstitusional berpotensi dinegosiasikan ketika dianggap mahal atau merepotkan, sebuah preseden berbahaya bagi masa depan demokrasi. Demokrasi memang tidak selalu rapi, murah, dan nyaman. Ia gaduh dan melelahkan, namun kegaduhan itu adalah tanda bahwa rakyat masih memiliki ruang menentukan arah kekuasaan. Demokrasi yang sunyi dan terkendali justru menandai hilangnya substansi. Pada akhirnya, perdebatan ini bukan sekadar soal mekanisme pemilihan, melainkan soal keberpihakan negara: tetap percaya pada kedaulatan rakyat, atau memilih kenyamanan kekuasaan dengan kontrol publik yang minim. Ketika rakyat dikeluarkan dari keputusan, yang tersisa bukan efisiensi, melainkan kekuasaan yang semakin menjauh dari pemilik kedaulatan sejati (Tarqum Aziz JurnalisMu Banyumas Raya).

Kabarkita, Prespektif, Ruang Kita

Pendidikan yang Memuliakan: Batik Bebas dan Sepatu Bebas sebagai Dakwah Kultural di SMP Muhammadiyah Purwojati

Pendidikan yang Memuliakan: Batik Bebas dan Sepatu Bebas sebagai Dakwah Kultural di SMP Muhammadiyah Purwojati Banyumas || AntaraKita.com — Bagi Muhammadiyah, pendidikan bukan semata proses pengajaran di ruang kelas, melainkan jalan pencerahan yang memuliakan manusia. Spirit inilah yang terus dihidupkan secara konsisten di SMP Muhammadiyah Purwojati melalui kebijakan pemakaian batik bebas dan sepatu bebas setiap hari Rabu bagi seluruh peserta didik. Sebuah kebijakan yang tampak sederhana, namun sarat makna ideologis, kultural, dan pedagogis. Kebijakan tersebut tidak dimaknai sebagai variasi seragam belaka, melainkan sebagai ikhtiar dakwah kultural yang berakar kuat pada gagasan KH. Ahmad Dahlan tentang pendidikan yang membebaskan, memanusiakan, dan menyinergikan iman dengan realitas kehidupan. Sekolah tidak hanya bertugas mentransfer ilmu pengetahuan, tetapi membangun kesadaran, kepekaan sosial, serta menumbuhkan kecintaan pada nilai-nilai kebajikan yang hidup di tengah masyarakat. Sejak awal berdirinya, pendidikan Muhammadiyah tidak diarahkan untuk mencetak kepatuhan administratif semata. KH. Ahmad Dahlan merintis sekolah sebagai ruang pembebasan dari kebodohan, kemiskinan berpikir, dan ketakutan untuk berijtihad. Pendidikan menjadi medium tajdid—pembaruan cara pandang—agar Islam hadir sebagai kekuatan pencerah yang membumi, kontekstual, dan berkemajuan. Karena itu, setiap kebijakan sekolah sejatinya merupakan pernyataan ideologis, bukan sekadar keputusan teknis manajerial. Di SMP Muhammadiyah Purwojati, kebijakan batik bebas menjadi simbol nyata dakwah kultural tersebut. Islam Berkemajuan tidak menafikan budaya, melainkan menyaring, memuliakan, dan mengarahkannya agar sejalan dengan nilai tauhid, akhlak, dan kebangsaan. Batik dipahami bukan sekadar busana, melainkan identitas kultural bangsa yang perlu dirawat dan diinternalisasi sejak dini melalui ruang pendidikan. Kepala SMP Muhammadiyah Purwojati, Nur Khasbi, S.H.I., M.M., menegaskan bahwa kebijakan batik bebas dan sepatu bebas dirancang sebagai bagian dari pendidikan karakter yang menyenangkan, inklusif, dan menumbuhkan rasa percaya diri peserta didik. “Batik bebas kami maknai sebagai upaya menumbuhkan kesadaran bahwa Islam tidak bertentangan dengan budaya. Justru melalui budaya, nilai-nilai Islam dapat ditanamkan secara halus dan membahagiakan. Ini juga bagian dari pendidikan karakter dan penguatan kepercayaan diri peserta didik,” ujar Nur Khasbi yang juga Sekretaris PCM Baturraden. Dampak kebijakan ini dirasakan langsung oleh para siswa. Mufida Aulia Zahra, siswi kelas VIII, mengaku lebih nyaman dan percaya diri mengikuti pembelajaran setiap hari Rabu. “Kalau pakai batik bebas rasanya lebih santai, tapi tetap sopan. Kami jadi lebih berani tampil, tidak merasa dibeda-bedakan, dan suasana belajar terasa lebih menyenangkan,” tuturnya. Sementara itu, kebijakan sepatu bebas ditempatkan dalam bingkai adab, empati, dan kesetaraan sosial. Spirit kebijakan ini sejalan dengan keteladanan KH. AR Fakhruddin, tokoh besar Muhammadiyah yang menekankan kesederhanaan, kepekaan sosial, dan penghormatan terhadap martabat manusia. Melalui kebijakan ini, siswa diajak memahami bahwa setiap anak datang dari latar belakang ekonomi dan sosial yang beragam, dan sekolah adalah ruang bersama yang memuliakan semuanya tanpa kecuali. Vicky Gonzales, siswa kelas VII B, mengaku merasa senang dan bahagia dengan kebijakan tersebut. “Sekolah jadi terasa lebih santai dan tidak kaku. Kami bisa mengekspresikan diri, tapi tetap diajarkan rapi, sopan, dan saling menghargai,” ungkapnya. Setiap hari Rabu, suasana SMP Muhammadiyah Purwojati pun menjadi lebih cair dan dialogis. Ragam motif batik yang dikenakan siswa menghiasi ruang-ruang kelas, menciptakan atmosfer pembelajaran yang hangat, inklusif, dan penuh kegembiraan. Di ruang inilah pendidikan berkemajuan menemukan wujud praksisnya: membahagiakan, memerdekakan, sekaligus mendisiplinkan dengan kesadaran nilai. Melalui ikhtiar sederhana namun sarat makna ini, SMP Muhammadiyah Purwojati menegaskan kembali pesan para pendiri Muhammadiyah bahwa pendidikan adalah dakwah paling sunyi, namun paling berpengaruh. Dari ruang kelas yang ramah dan memuliakan manusia inilah, peradaban Islam Berkemajuan ditumbuhkan—pelan, konsisten, dan penuh kesadaran sejarah. (Tarqum Aziz | JurnalisMu Banyumas Raya)

Prespektif, Ruang Kita

Mental Pejuang: Kekuatan Batin yang Menjaga Manusia Tetap Berdiri

Mental Pejuang: Kekuatan Batin yang Menjaga Manusia Tetap Berdiri Mental pejuang adalah pola pikir, sikap batin, dan karakter yang membuat seseorang tetap berdiri, bergerak, dan berjuang meski berada dalam tekanan, keterbatasan, dan ujian hidup. Ia bukan milik orang-orang yang hidupnya selalu mudah, tetapi justru tumbuh pada mereka yang akrab dengan kesulitan. Mental pejuang bukan tentang tidak pernah lelah atau tidak pernah jatuh. Sebab lelah adalah fitrah, jatuh adalah keniscayaan. Mental pejuang adalah tidak menyerah meski lelah, dan mampu bangkit setiap kali jatuh. Ia mungkin tertatih, tetapi tidak berhenti. Ia mungkin terluka, tetapi tidak menyerah pada keadaan. Orang dengan mental pejuang memahami satu hal penting: hidup memang medan perjuangan. Karena itu, ia tidak mudah rapuh oleh kesulitan ekonomi, kegagalan, atau penolakan. Ia sadar bahwa ujian bukan tanda kebencian Allah, melainkan bagian dari proses pendewasaan dan pemurnian diri. Mental pejuang juga tercermin dalam sikap sabar tapi tidak pasrah. Sabar bukan berarti diam tanpa usaha, bukan pula menerima keadaan dengan putus asa. Sabar adalah tetap berikhtiar dengan sungguh-sungguh sambil menerima proses yang Allah tetapkan. Ia bekerja, berdoa, dan terus melangkah, meski hasil belum terlihat. Karakter lain dari mental pejuang adalah tidak gemar mengeluh, tetapi lebih banyak bergerak. Ia memilih fokus pada solusi, bukan larut menyalahkan keadaan, orang lain, atau bahkan takdir. Energinya tidak dihabiskan untuk meratapi nasib, tetapi diarahkan untuk memperbaiki keadaan, walau sedikit demi sedikit. Mental pejuang juga ditandai dengan keberanian memulai dari bawah. Ia tidak gengsi dengan proses, tidak malu dengan pekerjaan halal, dan tidak silau oleh pencapaian orang lain. Ia paham bahwa kemuliaan tidak ditentukan oleh posisi awal, melainkan oleh ketekunan, kejujuran, dan konsistensi dalam berjalan. Karena itu, mental pejuang selalu dekat dengan istiqomah. Sedikit tapi terus lebih berharga daripada besar tapi sebentar. Ia tidak mengejar sensasi instan, tetapi membangun langkah panjang. Baginya, yang penting bukan cepat terlihat berhasil, melainkan tetap berada di jalan yang benar. Semua itu digerakkan oleh satu hal utama: tujuan hidup yang jelas. Perjuangannya bukan sekadar untuk bertahan hidup, tetapi untuk keluarga, umat, nilai-nilai kebaikan, dan pada akhirnya mengharap ridha Allah SWT. Dalam perspektif Islam, mental pejuang adalah cerminan dari sabar, tawakal, dan jihad dalam makna luas—bersungguh-sungguh dalam kebaikan di segala lini kehidupan. Allah sendiri menegaskan: “Sesungguhnya Allah bersama orang-orang yang sabar.” (QS. Al-Baqarah: 153) Rasulullah ﷺ adalah teladan tertinggi mental pejuang. Beliau pernah menahan lapar berhari-hari, dihina, diboikot, dan disakiti. Namun semua itu tidak menghentikan langkah dakwahnya. Tekanan tidak memadamkan semangat, penderitaan tidak mematikan harapan. Dari situlah umat belajar bahwa kekuatan sejati bukan pada kenyamanan, tetapi pada keteguhan iman dan ketulusan perjuangan. Di zaman sekarang, mental pejuang tidak selalu tampil di mimbar atau panggung besar. Ia hadir dalam sosok-sosok sederhana: orang tua yang tetap bekerja halal meski penghasilan kecil, guru dan relawan yang mengabdi tanpa banyak sorotan, driver, pedagang kecil, petani, dan buruh yang jujur dan istiqomah, serta aktivis sosial dan dakwah yang bekerja dalam senyap. Mereka mungkin tidak dikenal, tetapi merekalah penyangga kehidupan dan penjaga nilai. Pada akhirnya, mental pejuang adalah kekuatan batin yang membuat seseorang tidak kalah oleh keadaan, tidak hancur oleh ujian, dan tidak sombong oleh kemenangan. Sebab menang atau kalah adalah urusan hasil, sedangkan berjuang atau menyerah adalah pilihan sikap. Untuk siapa pun yang hari ini sedang berjalan dalam sunyi, berjuang dalam senyap, dan bertahan dalam keterbatasan—tetaplah melangkah. Allah melihat, Allah mencatat, dan Allah tidak pernah menyia-nyiakan perjuangan hamba-Nya. SiS, Antarkita

Prespektif, Ruang Kita

Jika Tak Mampu Menolong, Jangan Menghujat: Pelajaran Empati dari Rasulullah ﷺ, Para Sahabat, dan Realitas Zaman

Jika Tak Mampu Menolong, Jangan Menghujat: Pelajaran Empati dari Rasulullah ﷺ, Para Sahabat, dan Realitas Zaman Kalau engkau tidak mampu menolong saudaramu, maka minimal jangan menghujatnya. Kalimat ini seharusnya menjadi etika dasar hidup bermasyarakat, terlebih di tengah kondisi ekonomi yang belum sepenuhnya pulih dan terus menekan banyak keluarga di negeri ini. Realitas Sosial: Kesulitan Itu Nyata dan Bisa Menimpa Siapa Saja Kondisi ekonomi hari ini belum menunjukkan perbaikan yang signifikan. Lapangan pekerjaan semakin sempit, biaya hidup meningkat, dunia usaha penuh ketidakpastian, dan tidak semua orang memiliki modal, jaringan, atau kesempatan yang sama. Banyak orang bertahan bukan karena tidak mau berusaha, tetapi karena sedang kehabisan daya. Islam mengajarkan bahwa kesulitan bukan aib, dan kelapangan bukan jaminan keselamatan. Hidup berputar, rezeki bergilir, dan ujian datang silih berganti. Allah SWT menegaskan: “Dan sungguh Kami akan menguji kamu dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa, dan buah-buahan. Dan sampaikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang sabar.” (QS. Al-Baqarah: 155) Ayat ini menegaskan bahwa kelaparan dan kesempitan ekonomi adalah bagian dari ujian iman, bukan tanda kegagalan hidup. Maka sangat tidak adil jika seseorang yang sedang tertimpa kesulitan justru diadili, disindir, dicibir, atau dituduh malas dan tidak berusaha. Padahal, bisa jadi esok hari giliran kita yang diuji dengan cara yang sama—atau bahkan lebih berat. Rasulullah ﷺ Pernah Lapar Berhari-hari Rasulullah ﷺ adalah manusia paling mulia, pemimpin umat, dan kekasih Allah. Namun sejarah mencatat bahwa beliau pernah tidak makan selama beberapa hari. Dalam hadits sahih riwayat Al-Bukhari dan Muslim, diceritakan bahwa Rasulullah ﷺ mengikatkan batu di perutnya untuk menahan rasa lapar akibat tidak adanya makanan. Ini adalah pelajaran besar bagi umat Islam: ➡️ Kesulitan hidup tidak menurunkan derajat seseorang di sisi Allah. ➡️ Kelaparan dan kemiskinan bukan bukti kurang iman. Maka, bagi siapa pun yang hari ini sedang berada dalam kesempitan rezeki: bersabarlah. Rasulullah ﷺ pernah berada di posisi itu, dan Allah tidak pernah meninggalkan hamba-Nya yang bertawakal. Allah SWT berfirman: “Sesungguhnya bersama kesulitan itu ada kemudahan.” (QS. Al-Insyirah: 6) Ayat ini bukan janji kosong, tetapi sunnatullah yang pasti berlaku—meski waktunya sering kali tidak sesuai dengan keinginan manusia. Akhlak Para Sahabat: Menolong Tanpa Menghakimi Jika Rasulullah ﷺ memberi teladan kesabaran, maka para sahabat memberi teladan kepedulian sosial. Salah satu contoh paling agung adalah Utsman bin Affan radhiyallahu ‘anhu. Ketika Madinah dilanda krisis air, satu-satunya sumber air dikuasai oleh seorang pemilik yang menjualnya dengan harga mahal. Rasulullah ﷺ bersabda: “Siapa yang membeli Sumur Raumah lalu mewakafkannya untuk kaum Muslimin, maka baginya surga.” (HR. Tirmidzi) Utsman bin Affan tidak berdebat, tidak menyalahkan keadaan, dan tidak menunggu orang lain bergerak. Ia membeli sumur tersebut dengan hartanya sendiri dan mewakafkannya untuk umat. Ia tidak berkata: “Kenapa kalian miskin?” “Kenapa tidak usaha sendiri?” “Ini bukan tanggung jawab saya.” Ia memilih menjadi solusi, bukan komentator. Inilah akhlak Islam: hadir untuk menolong, bukan sibuk menghakimi. Islam Mengatur Lisan Sebelum Mengatur Harta Jika seseorang tidak mampu membantu dengan harta, Islam tetap memberi jalan: jaga lisan dan sikap. Rasulullah ﷺ bersabda: “Barang siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia berkata baik atau diam.” (HR. Bukhari dan Muslim) Menghujat orang miskin, menyindir yang jatuh, atau mencemooh yang gagal bukan hanya melukai perasaan, tetapi juga mencederai iman. Rasulullah ﷺ juga bersabda: “Seorang Muslim adalah saudara bagi Muslim lainnya, tidak menzaliminya dan tidak membiarkannya.” (HR. Muslim) Membiarkan saudara kita terluka oleh kata-kata kita sendiri adalah bentuk pembiaran yang dilarang. Untuk yang Sedang Lapang Rezekinya Bagi siapa pun yang hari ini diberi kelapangan rezeki, bersyukurlah dan rendahkan hati. Jika belum mampu meneladani kedermawanan Utsman bin Affan, setidaknya jangan menambah beban orang lain dengan hujatan. Karena harta bisa habis, jabatan bisa runtuh, dan kesehatan bisa hilang—namun jejak kebaikan dan keburukan lisan akan tetap dicatat. Allah SWT mengingatkan: “Adapun nikmat Tuhanmu, maka ceritakanlah (dengan bersyukur), bukan dengan kesombongan.” (QS. Ad-Dhuha: 11) Penutup: Empati adalah Wajah Iman Empati adalah tanda iman yang hidup. Menahan lisan adalah bentuk ibadah. Tidak menghakimi adalah cermin kedewasaan ruhani. Jika engkau tidak bisa mengangkat beban saudaramu, jangan menambah berat langkahnya dengan hinaan. Karena boleh jadi, doa orang yang terhina itulah yang justru mengetuk langit. SiS, Antarkita

Kabarkita, Prespektif, Ruang Kita

Ikhtiar SMP Muhammadiyah 2 Purwokerto Menyalakan Pendidikan Berkemajuan di Era Digital

Ikhtiar SMP Muhammadiyah 2 Purwokerto Menyalakan Pendidikan Berkemajuan di Era Digital Purwokerto–Banyumas || AntaraKita.com — SMP Muhammadiyah 2 Purwokerto menggelar Workshop Penguatan Kompetensi Guru selama dua hari, Rabu–Kamis (14–15 Januari 2026), bertempat di lingkungan sekolah, Jl. Gerilya Barat Gang II, Tanjung, Kecamatan Purwokerto Selatan, Kabupaten Banyumas. Kegiatan ini menjadi ikhtiar strategis sekolah dalam menyalakan pendidikan berkemajuan di tengah derasnya akselerasi digital. Workshop yang diikuti seluruh pendidik ini mengusung tema “Digitalisasi Pembelajaran untuk Mewujudkan Proses Pembelajaran yang Aktif, Kreatif, Bermakna, dan Berpusat pada Murid.” Tema tersebut menegaskan komitmen SMP Muhammadiyah 2 Purwokerto dalam menghadirkan pembelajaran yang adaptif terhadap perkembangan zaman, sekaligus tetap berpijak kokoh pada nilai-nilai Pendidikan Muhammadiyah. Lebih dari sekadar pelatihan teknis, workshop ini menjadi ruang refleksi kolektif bagi para guru Muhammadiyah dalam merespons tantangan pendidikan kontemporer. Digitalisasi pembelajaran diposisikan bukan sebagai tujuan akhir, melainkan sebagai wasilah untuk memerdekakan belajar, menghidupkan interaksi edukatif, serta menumbuhkan makna dalam proses pendidikan. Kepala SMP Muhammadiyah 2 Purwokerto, Yuni Prihartini, M.Pd., dalam sambutan pengantarnya menegaskan bahwa guru Muhammadiyah dituntut untuk terus bertransformasi tanpa kehilangan ruh dakwah dan semangat tajdid. Menurutnya, peningkatan kompetensi guru merupakan bentuk pengabdian kepada Persyarikatan sekaligus ikhtiar menjaga sekolah Muhammadiyah sebagai benteng nilai dan pusat inovasi. “Digitalisasi pembelajaran adalah upaya menghadirkan proses pendidikan yang lebih bermakna, agar iman, ilmu, dan amal dapat berpadu dalam praksis pendidikan berkemajuan. Inilah misi pendidikan yang diwariskan KH. Ahmad Dahlan,” ujarnya. Workshop ini menghadirkan Didit Ariyanto Arifin, M.Pd., Pengawas Majelis Dikdasmen & PNF PDM Banyumas, sebagai narasumber utama. Dalam paparannya, Didit menekankan pentingnya literasi digital yang dilandasi kesadaran pedagogis dan nilai kemanusiaan. Ia mengajak para guru memandang teknologi sebagai ruang dialog baru antara pendidik dan murid. “Teknologi akan bermakna ketika digunakan untuk membangun interaksi, kolaborasi, dan pengalaman belajar yang memerdekakan. Tanpa kesadaran nilai, teknologi justru bisa menjauhkan manusia dari hakikat pendidikan,” tuturnya. Suasana workshop berlangsung dinamis dan partisipatif. Para guru tampak antusias mempraktikkan materi dengan perangkat digital masing-masing, berdiskusi, serta saling berbagi praktik baik pembelajaran. Ruang-ruang kelas diatur secara kolaboratif, mencerminkan semangat pembelajaran aktif yang menjadi ruh pendidikan Muhammadiyah. Salah satu peserta, Kurnia Widiasih, S.Pd.I., menilai workshop ini membuka perspektif baru tentang peran guru di era digital. “Kami diingatkan bahwa teknologi dapat membuat kelas lebih hidup dan bermakna selama digunakan dengan niat mendidik dan menanamkan nilai. Digitalisasi bukan tujuan akhir, tetapi sarana dakwah kultural,” ungkap Guru Al-Islam, Kemuhammadiyahan, dan Bahasa Arab tersebut. Hal senada disampaikan Agus Salim, S.Pd.Si., Guru Matematika. Ia merasakan langsung manfaat digitalisasi dalam menyederhanakan konsep-konsep abstrak agar lebih mudah dipahami siswa. “Pembelajaran menjadi lebih dialogis dan kontekstual. Namun kami juga diingatkan bahwa teknologi hanyalah alat; ruh pendidikan tetap terletak pada kesadaran nilai dan tanggung jawab moral guru,” ujarnya. Workshop ini meneguhkan kembali peran guru Muhammadiyah sebagai agen perubahan di ruang kelas. Tidak hanya menguasai materi dan teknologi, tetapi juga menjaga orientasi pendidikan pada pembentukan karakter, kesadaran ideologis, dan nilai-nilai kemanusiaan. Dari ruang kelas yang terus bertransformasi, SMP Muhammadiyah 2 Purwokerto menyalakan ikhtiar pendidikan berkemajuan—mengolah teknologi dengan nurani, merawat ilmu dengan adab, dan menyiapkan generasi yang siap menyinari zamannya. (Tarqum Aziz | JurnalisMu Banyumas Raya)

Kabarkita, Prespektif, Ruang Kita

Pelatihan Sehari Menjadi   DRIVER JUTAWAN**

*Pertama dan Satu-Satunya di Dunia* Pelatihan Sehari Menjadi DRIVER JUTAWAN** Pernahkah Anda berpikir, mengapa di banyak platform driver harus terus berjuang, tetapi hasilnya sering terasa tidak sebanding? Di tempat lain, driver bekerja keras dengan potongan aplikasi, mengejar target harian, dan tetap berada di posisi yang sama. Lalu muncul pertanyaan yang jarang dibahas: apakah sistem seperti ini akan sanggup menopang hidup hingga usia lanjut? Tidak ada seorang pun yang bercita-cita menjadi driver seumur hidup. Kita semua tahu kenyataannya—usia terus bertambah, sementara kesehatan tidak selalu bisa dipaksakan. Jika suatu hari tenaga berkurang, dari mana penghasilan akan bertahan? Inilah titik baliknya. ANTARKITA.com bersama SamTour (Biro Umroh Muhammadiyah Banyumas) hadir membawa pendekatan yang berbeda. Di sini, driver bukan sekadar pelaksana layanan, tetapi gerbang awal untuk berkembang. Setiap perjalanan adalah relasi. Setiap relasi menyimpan peluang. Dan peluang itu bisa diarahkan menjadi jalan menuju kewirausahaan. Melalui Pelatihan Sehari “Menjadi Driver Jutawan”, Anda akan diajak mengubah cara pandang: dari sekadar bekerja di sistem, menjadi membangun masa depan melalui jaringan dan peluang bisnis. Belajar melihat profesi driver sebagai entry point, bukan garis akhir. Sekarang pertanyaannya sederhana namun penting: jika hari ini Anda masih sehat dan aktif, apakah Anda ingin tetap berada di titik yang sama lima atau sepuluh tahun ke depan? 📌 Catat Waktunya & Daftar Segera Kuota tempat duduk terbatas 🎯 GRATIS khusus Driver ANTARKITA.com 🗓 Sabtu, 24 Januari 2026.                        ⏰ Pukul 09.00 – 12.00.                              📍 Aula Abu Dardiri 📞 Pendaftaran:                                          0851-2262-5529 Karena bersama ANTARKITA.com dan SamTour, driver bukan akhir perjuangan—driver adalah pintu menuju kemandirian dan kesejahteraan.

Kabarkita, Prespektif, Ruang Kita

Ikhtiar Strategis Gerakan Bela Beli Produk Muhammadiyah

Bisnis Kontes: Menghidupkan Kembali Pasar Rasulullah ﷺ sebagai Jalan Kemandirian Ekonomi Umat Ikhtiar Strategis Gerakan Bela Beli Produk Muhammadiyah Ekonomi sebagai Medan Perjuangan Peradaban Sejarah membuktikan bahwa peradaban tidak pernah tegak tanpa fondasi ekonomi yang kuat. Pendidikan, dakwah, sosial, dan politik hanya akan bertahan jika ditopang oleh kemandirian ekonomi. Inilah sebabnya mengapa Rasulullah ﷺ, sejak awal perjuangannya di Madinah, menempatkan pasar sebagai salah satu pilar utama pembangunan umat, sejajar dengan masjid dan ukhuwah. Masjid membangun ruh, ukhuwah membangun solidaritas, dan pasar membangun kemandirian. Tanpa pasar yang berdaulat, umat akan terus berada dalam posisi lemah, bergantung, dan mudah ditekan oleh sistem ekonomi yang tidak berpihak. Latar Belakang: Pasar Madinah dan Literasi Ekonomi Rasulullah ﷺ Saat hijrah ke Madinah, kondisi ekonomi umat Islam sangat memprihatinkan. Pasar-pasar strategis dikuasai kelompok tertentu dengan praktik: Riba yang mencekik, Monopoli distribusi, Penimbunan barang, Manipulasi kualitas dan harga. Rasulullah ﷺ tidak menuntut belas kasihan, tidak pula menunggu perubahan dari pihak yang menguasai pasar. Beliau membangun pasar baru—pasar umat—dan menanamkan literasi ekonomi kepada para sahabat. Beliau mengajarkan bahwa: Pasar harus terbuka dan adil, Kejujuran adalah modal utama, Keuntungan tidak boleh merusak kemaslahatan, Transaksi adalah bagian dari ibadah, Keberpihakan harus diwujudkan dalam pilihan belanja. Dengan cara inilah umat Islam beranjak dari mustadh’afin menjadi pelaku ekonomi yang berdaulat. Cermin Zaman: Kondisi Ekonomi Umat Islam Hari Ini Hari ini, umat Islam—termasuk warga Muhammadiyah—berada pada situasi yang secara struktural mirip: Jumlah besar, tetapi daya tawar kecil, Konsumen setia, namun produsen tercerai-berai, Memiliki produk, tetapi minim ekosistem pasar, Kaya potensi, miskin konsolidasi. Sering kali semangat “bela produk sendiri” berhenti pada slogan. Tanpa sistem, tanpa insentif, tanpa mekanisme pasar yang hidup, keberpihakan mudah kalah oleh kenyamanan dan harga. Inilah problem utama ekonomi umat hari ini: bukan ketiadaan produk, tetapi ketiadaan literasi pasar dan gerakan transaksi yang terorganisir. Bisnis Kontes: Literasi Pasar dalam Format Aksi Nyata Bisnis Kontes dirancang sebagai jembatan antara kesadaran dan tindakan. Ia bukan sekadar lomba omzet, tetapi instrumen literasi pasar yang mendorong perilaku ekonomi nyata dalam kehidupan sehari-hari. Kontes ini membangun beberapa nilai kunci: Transaksi sebagai ukuran keberpihakan, Prestasi ekonomi sebagai motivasi kolektif, Etika bisnis sebagai fondasi, Kolaborasi sebagai strategi, bukan kompetisi destruktif. Pemberian hadiah bukan tujuan akhir, melainkan rangsangan (stimulus) agar ekosistem pasar umat bergerak. Dalam ilmu ekonomi dan perilaku, insentif terbukti efektif mendorong perubahan kebiasaan. Rasulullah ﷺ pun memberikan apresiasi kepada sahabat yang berprestasi dalam muamalah. Biskuit Cahaya: Lokomotif Gerakan, Bukan Sekadar Sponsor Dukungan Biskuit Cahaya menjadikan Bisnis Kontes ini memiliki mesin penggerak yang nyata. Biskuit Cahaya berperan sebagai anchor product—produk jangkar yang mampu menarik sirkulasi pasar. Namun yang lebih penting, Biskuit Cahaya tidak berdiri sendiri. Ia berfungsi sebagai lokomotif yang: Membuka jalur distribusi, Menguatkan kepercayaan pasar, Menarik produk warga Muhammadiyah lain untuk ikut bergerak, Menjadi contoh bahwa produk umat bisa bersaing secara profesional. Penilaian Berbasis Dampak: Mengukur Manfaat Kolektif Keunikan Bisnis Kontes ini terletak pada sistem penilaiannya. Keberhasilan tidak hanya diukur dari keuntungan pribadi, tetapi dari: Seberapa banyak produk warga Muhammadiyah terserap pasar, Seberapa luas jaringan distribusi yang dibangun, Seberapa kuat kolaborasi yang tercipta, Seberapa besar dampak ekonomi bagi komunitas. Dengan pendekatan ini, Bisnis Kontes menjadi alat distribusi keadilan ekonomi, bukan hanya arena adu kuat individu. Win–Win Solution sebagai Prinsip Gerakan Program ini melahirkan manfaat berlapis: Pelaku bisnis memperoleh omzet, hadiah, dan jejaring, Produk warga Muhammadiyah mendapat pasar nyata, Biskuit Cahaya tumbuh sebagai lokomotif ekonomi umat, Persyarikatan memperoleh basis ekonomi yang lebih kuat. Inilah win–win solution sejati, di mana pertumbuhan individu berjalan seiring dengan kemajuan kolektif. Pasar sebagai Amal Jama’i Muhammadiyah Muhammadiyah sejak awal berdiri bukan hanya gerakan dakwah, tetapi gerakan pembebasan sosial dan ekonomi. Bisnis Kontes ini adalah ikhtiar menjadikan pasar sebagai amal jama’i, bukan arena individualisme. Jika masjid mempersatukan jamaah dalam shalat, maka pasar mempersatukan jamaah dalam transaksi. Dan ketika transaksi sudah menjadi budaya, maka kemandirian bukan lagi cita-cita, tetapi kenyataan. Penutup: Dari Kesadaran Menuju Peradaban Bisnis Kontes adalah ikhtiar meneladani Rasulullah ﷺ dalam konteks zaman modern. Ia mengajarkan bahwa membela produk sendiri bukan soal sentimen, tetapi soal sistem, literasi, dan keberanian bertindak. Karena pada akhirnya, umat yang kuat adalah umat yang berdaulat di pasar. Dan pasar yang berdaulat hanya akan lahir dari transaksi yang sadar, terdidik, dan terorganisir. Inilah ruh Bisnis Kontes dalam Gerakan Bela Beli Produk Muhammadiyah. Bukan sekadar lomba, tetapi jalan menuju kemandirian dan martabat ekonomi umat. SiS, Antarkita

Prespektif, Ruang Kita

*Fenomena “Super Flu” (Influenza A H3N2 Subclade K) di Indonesia dan Dunia*

*Fenomena “Super Flu” (Influenza A H3N2 Subclade K) di Indonesia dan Dunia* Istilah “Super Flu” sempat ramai dalam pemberitaan akhir 2025 – awal 2026. Bahkan ada pasien rawat inap diberitakan meninggal dunia. Sebutan “Super Flu” merujuk pada varian Influenza A H3N2 yang oleh komunitas ilmiah disebut Subclade K (atau J.2.4.1). Varian ini pertama kali diidentifikasi oleh Centers for Disease Control and Prevention (*CDC*) di Amerika Serikat pada Agustus 2025 dan dengan cepat menjadi dominan di banyak negara. Namun, para ahli menekankan bahwa Subclade K hanyalah bagian dari evolusi normal virus influenza dan tidak menunjukkan peningkatan keparahan dibanding varian H3N2 lain, ujar dosen ahli Mikrobiologi Klinis Fakultas Kedokteran Unsoed dr.Nia Krisniawati,Sp.,MK. saat pemaparan yang dipandu Ir.H.Alief Einstein,M.Hum. dari kafapet-unsoed.com pada hari Senin 12 Januari 2025. *A. Apa itu Subclade K?* *a. Subclade K* Subclade K adalah cabang genetik baru dari Virus Influenza A (H3N2). WHO melaporkan terjadi peningkatan cepat Virus ini sejak Agustus 2025, namun data epidemiologi tidak menunjukkan penyakit yang lebih parah. Dalam lima bulan, varian ini dilaporkan di lebih dari 34 negara, dan di Amerika Serikat sekitar 90 % virus H3N2 yang dikarakterisasi sejak September 2025 termasuk Subclade K. *b. Vaksin Influenza tetap efektif*. Studi awal di Inggris menunjukkan vaksin mencegah kunjungan gawat darurat dan rawat inap akibat influenza sebesar 72–75 % pada anak dan 32–39 % pada orang dewasa, ungkap dr. Nia yang sedang tugas belajar S3 di FK-KMK UGM (Fakultas Kedokteran – Kesehatan Masyarakat, dan Keperawatan Universitas Gadjah Mada), Yogyakarta. *B. Situasi di Indonesia* Kementerian Kesehatan Republik Indonesia (Kemenkes) menyatakan bahwa situasi Influenza A H3N2 Subclade K di dalam negeri terkendali. Subclade K terdeteksi melalui surveilans Influenza-Like Illness (ILI) and Severe Acute Respiratory Infections (SARI) sejak Agustus 2025. Hingga akhir Desember 2025 ada 62 kasus yang tersebar di delapan provinsi; kasus terbanyak berada di Jawa Timur, Kalimantan Selatan, dan Jawa Barat. Angka ini berasal dari 843 spesimen positif influenza yang diperiksa, dengan 348 sampel menjalani uji whole genome sequencing (WGS). Kemenkes menegaskan tidak ada peningkatan keparahan. Gejala yang muncul serupa dengan flu musiman, yaitu demam, batuk, pilek, sakit kepala, dan nyeri tenggorokan. Mayoritas kasus bergejala ringan dan angka kematian tetap rendah. Pemerintah memperkuat surveilans, pelaporan, dan kesiapsiagaan serta menghimbau masyarakat untuk menerapkan perilaku hidup bersih dan sehat, menggunakan masker, serta melakukan vaksinasi influenza tahunan. *C. Situasi Internasional* CDC memperkirakan pada musim flu 2025–2026 ada sekitar 11 juta kasus influenza, dengan 120.000 rawat inap dan 5.000 kematian. Hampir semua Virus H3N2 yang beredar berasal dari Subclade K, tetapi tidak ada bukti varian ini menyebabkan penyakit lebih berat. Di Inggris, Jepang, dan beberapa negara Eropa, musim flu 2025–2026 dimulai 4–5 minggu lebih awal dari biasanya, tetapi angka kasus mulai menurun. Australia mencatat musim flu yang lebih lama, dan Subclade K menjadi dominan menjelang akhir musim. Meskipun awal musim lebih cepat, hal ini tidak otomatis berarti musim flu lebih parah. Pembaruan CDC pada Desember 2025 memperkirakan musim influenza 2025–2026 di AS kemungkinan masuk kategori moderat dengan tingkat kepercayaan rendah. Subclade K dapat menyebabkan lonjakan kasus, tetapi dampaknya terhadap keparahan musim belum jelas. CDC menegaskan bahwa vaksinasi tetap penting karena data awal menunjukkan vaksin efektif mencegah rawat inap. Analisis independen dari Belfer Center menegaskan bahwa Subclade K tidak menunjukkan peningkatan keparahan dibanding varian influenza musiman lain. Vaksin musim 2025–2026 mungkin tidak sepenuhnya cocok tetapi tetap mencegah 70–75 % rawat inap pada anak dan 30–40 % pada orang dewasa, serta belum ada bukti resistensi terhadap antivirus. *D. Mengapa informasi ini penting?* Lonjakan kasus tidak berarti virus lebih mematikan. Pakar menjelaskan bahwa istilah “Super Flu” mencerminkan tingginya penularan, bukan peningkatan keganasan. Subclade K merupakan bagian dari evolusi rutin virus influenza yang terjadi setiap tahun. Perubahan iklim, meningkatnya mobilitas setelah pandemi Covid‑19, dan rendahnya cakupan vaksinasi berpotensi memicu lonjakan kasus. Di AS misalnya, hanya sekitar 41,9 % orang dewasa yang sudah menerima vaksin influenza musim 2025–2026 hingga awal Desember. Musim influenza yang didominasi H3N2 cenderung lebih berat bagi lansia dan anak. Tingkat vaksinasi yang rendah pada kelompok ini dapat memperparah dampak flu, jelas dr. Nia yang juga Anggota Tim Penelitian dan Pengembangan Perhimpunan Ahli Mikrobiologi Klinik Indonesia (PAMKI). *E. Apa yang harus dilakukan?* 1. WHO, CDC, dan Kemenkes RI menekankan bahwa vaksin tetap menjadi cara paling efektif untuk mencegah penyakit berat dan kematian akibat influenza. Meski virus influenza Subclade K mengalami perubahan kecil secara alami, vaksin yang tersedia masih memberikan perlindungan yang bermakna, 2. Praktik hidup bersih dan sehat seperti cuci tangan dengan sabun, terapkan etika batuk/bersin, gunakan masker saat mengalami gejala flu, dan hindari kontak dekat dengan orang sakit. Jika berisiko tinggi dan terpapar, penggunaan obat antivirus seperti oseltamivir dan zanamivir masih efektif, 3. Tingkatkan cakupan vaksinasi pada kelompok rentan seperti lansia, ibu hamil, anak-anak, dan penderita penyakit kronis harus diprioritaskan untuk vaksinasi.

Kabarkita, Prespektif, Ruang Kita

MI Muhammadiyah Karangtalun Kidul Perkuat Literasi Bahasa Inggris Global Bersama Mahasiswa Asing UMP

MI Muhammadiyah Karangtalun Kidul Perkuat Literasi Bahasa Inggris Global Bersama Mahasiswa Asing UMP Purwojati–Banyumas || AntaraKita.com — MI Muhammadiyah Karangtalun Kidul (MAHADIKA) kembali menegaskan komitmennya dalam membangun pendidikan yang adaptif, berwawasan global, dan berkarakter Islam berkemajuan melalui kegiatan edukatif bertajuk “Sharing and Motivation: Learning Beyond Borders”, Selasa (13/1/2026). Kegiatan yang berlangsung pukul 09.00–11.00 WIB ini menghadirkan dua mahasiswa asing Universitas Muhammadiyah Purwokerto (UMP) sebagai narasumber inspiratif bagi para siswa.   Dua mahasiswa internasional tersebut yakni Muhammad Abo Alhasan, mahasiswa Program Studi Sastra Inggris asal Sudan, serta Mamoudou Sangare Toufi, mahasiswa Program Magister Pendidikan Bahasa Inggris asal Mali. Kehadiran mereka menjadi pengalaman belajar langsung (experiential learning) bagi para siswa dalam mengenal Bahasa Inggris sebagai bahasa internasional sekaligus jendela peradaban dunia. Kegiatan diawali dengan penyambutan hangat para siswa di halaman sekolah yang mencerminkan budaya ramah dan inklusif MAHADIKA. Acara dilanjutkan dengan pembukaan resmi, sambutan kepala sekolah, serta penampilan pidato Bahasa Inggris dari perwakilan siswa. Suasana kegiatan berlangsung tertib, hangat, dan penuh antusiasme, menciptakan ekosistem belajar yang menyenangkan dan bermakna. Kepala MI Muhammadiyah Karangtalun Kidul, Muhtar Yusuf, S.Pd.I., M.Pd., dalam sambutannya menegaskan bahwa kegiatan ini merupakan bagian dari strategi sekolah dalam menyiapkan generasi yang percaya diri, literat bahasa, dan siap berinteraksi di tingkat global, tanpa kehilangan jati diri keislaman. “Kami ingin anak-anak sejak dini memiliki keberanian bermimpi besar dan percaya diri berkomunikasi dengan dunia luar. Kehadiran mahasiswa asing ini menjadi pengalaman nyata bahwa belajar Bahasa Inggris itu penting, menyenangkan, dan sangat mungkin dikuasai,” ujar Muhtar Yusuf. Ia juga menambahkan bahwa pendidikan di madrasah tidak boleh terkungkung oleh batas ruang kelas semata. “Melalui kegiatan seperti ini, kami menanamkan kepada siswa bahwa belajar tidak mengenal batas geografis. Dunia adalah ruang belajar mereka,” tegasnya. Memasuki sesi inti, kegiatan dilanjutkan dengan sharing session interaktif yang dipandu moderator. Para narasumber berbagi pengalaman belajar Bahasa Inggris di negara non-English speaking serta perjalanan akademik mereka hingga bisa menempuh studi di Indonesia. Mereka menekankan bahwa keberanian mencoba dan konsistensi berlatih adalah kunci utama penguasaan bahasa. Mamoudou Sangare Toufi memotivasi siswa agar tidak takut melakukan kesalahan saat berbicara. “Don’t be shy to speak English. Making mistakes is part of learning,” ujarnya, disambut tepuk tangan para siswa. Sementara itu, Muhammad Abo Alhasan membagikan tips sederhana agar siswa terbiasa menggunakan Bahasa Inggris dalam kehidupan sehari-hari. “If you want to be fluent in English, you can speak with your friends or even practice by speaking to yourself in front of the mirror,” tuturnya dengan gaya komunikatif. Materi disampaikan menggunakan bahasa yang sederhana, penuh contoh konkret, dan disesuaikan dengan tingkat pemahaman siswa sekolah dasar. Para narasumber menegaskan bahwa kepercayaan diri lebih penting daripada kesempurnaan dalam proses belajar bahasa. Antusiasme siswa semakin terlihat pada sesi tanya jawab. Sejumlah siswa dengan percaya diri maju ke depan untuk mengajukan pertanyaan dalam Bahasa Inggris sederhana, yang dijawab dengan ramah dan penuh semangat oleh para mahasiswa asing. Interaksi ini tidak hanya melatih kemampuan bahasa, tetapi juga menumbuhkan keberanian, rasa ingin tahu, dan sikap terbuka terhadap perbedaan budaya. Kegiatan ditutup dengan doa dan foto bersama antara siswa, guru, serta para narasumber. Melalui kegiatan ini, MI Muhammadiyah Karangtalun Kidul berharap mampu menumbuhkan kepercayaan diri, motivasi belajar Bahasa Inggris, serta kesiapan siswa menghadapi tantangan global sejak usia dini, sejalan dengan misi Muhammadiyah dalam mencetak generasi Islam yang berkemajuan, unggul, dan berdaya saing. (Tarqum Aziz | JurnalisMu Banyumas Raya)

Kabarkita, Prespektif, Ruang Kita

Penyerahan Berita Acara Pembentukan PRM Kediri: Peneguhan Amanah Dakwah dan Legalitas Organisasi

Penyerahan Berita Acara Pembentukan PRM Kediri: Peneguhan Amanah Dakwah dan Legalitas Organisasi Karanglewas–Banyumas || AntarKita — Momentum penting dalam sejarah dakwah Muhammadiyah di tingkat akar rumput ditandai dengan penyerahan Berita Acara Pembentukan Pimpinan Ranting Muhammadiyah (PRM) Kediri oleh Sekretaris Pimpinan Cabang Muhammadiyah (PCM) Karanglewas, Alim Fahmi, ST., S.Kom., kepada Fauzan Romadhon selaku Ketua PRM Kediri terpilih, pada Ahad, 11 Januari 2026, bertempat di Mushola Al-Falah, Dusun Jambon, Desa Kediri, Kecamatan Karanglewas, Kabupaten Banyumas. Penyerahan berita acara ini bukan sekadar prosesi administratif, melainkan peneguhan amanah dakwah kolektif sekaligus legalisasi struktural berdirinya PRM Kediri sebagai bagian resmi dari Persyarikatan Muhammadiyah. Dokumen tersebut menjadi dasar yuridis-organisatoris bagi PRM Kediri untuk menjalankan fungsi kepemimpinan, pembinaan jamaah, kaderisasi, serta pengembangan amal usaha Muhammadiyah di tingkat desa sesuai dengan Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga (AD/ART). Secara simbolik, penyerahan berita acara menandai peralihan estafet dakwah dari fase kultural yang telah dirawat puluhan tahun menuju fase struktural yang lebih tertib, terencana, dan berkelanjutan. Dakwah Muhammadiyah di Desa Kediri sebelumnya tumbuh melalui pengajian kampung, keteladanan para sesepuh, dan pembinaan informal yang istiqamah. Dengan berdirinya PRM Kediri, seluruh potensi dakwah tersebut kini mendapatkan wadah struktural yang sah dan terorganisasi. Prosesi penyerahan berlangsung khidmat dan disaksikan oleh jajaran pleno PCM Karanglewas, unsur Lembaga Pengembangan Cabang dan Ranting (LPCR), perwakilan ranting sekitar, serta tokoh-tokoh Muhammadiyah setempat. Kehadiran unsur struktural ini menegaskan dukungan penuh Persyarikatan terhadap lahirnya PRM Kediri sebagai ranting ke-15 PCM Karanglewas dan ranting ke-275 di lingkungan PDM Banyumas. Dengan diterimanya berita acara tersebut, Ketua PRM Kediri terpilih bersama jajaran pimpinan ranting memikul tanggung jawab besar untuk menjadikan PRM Kediri sebagai duta Muhammadiyah di tingkat lokal—hadir membina jamaah, memperkuat ukhuwah, mengembangkan dakwah amar ma’ruf nahi munkar, serta berkontribusi nyata dalam kehidupan sosial kemasyarakatan. Penyerahan berita acara ini sekaligus menjadi penghormatan atas kesetiaan para perintis dakwah di Desa Kediri dan amanah sejarah bagi generasi penerus untuk melanjutkan perjuangan Muhammadiyah dengan kesabaran, keikhlasan, dan istiqamah. Dari Kediri, Muhammadiyah kembali menegaskan bahwa dakwah adalah kerja panjang: ditanam hari ini, dirawat bersama, dan dipetik manfaatnya oleh generasi mendatang. Oleh: Tarqum Aziz,                     JurnalisMu Banyumas Raya  

Scroll to Top