Antarkita

Januari 2026

Prespektif, Ruang Kita

Negeri Kaya yang Dikuasai Penjarah

Negeri Kaya yang Dikuasai Penjarah Dari Penjajahan Klasik ke Oligarki Modern SiS, Antarkita Indonesia bukan negeri miskin. Sejak berabad-abad lalu, para penjajah datang bukan karena belas kasih, melainkan karena kekayaan alam yang tak tertandingi. Tanahnya subur, lautnya kaya, perut buminya menyimpan emas, tembaga, nikel, batu bara, minyak dan gas. Leluhur menyebutnya negeri gemah ripah loh jinawi, negeri kolam susu—lempar tongkat jadi tanaman. Namun sejarah mencatat ironi pahit: yang menikmati kekayaan itu bukan rakyatnya. Dari Kerajaan Nusantara ke Negara Baru Indonesia lahir sebagai negara modern di atas wilayah yang sebelumnya adalah kerajaan-kerajaan berdaulat: Majapahit, Sriwijaya, Mataram, Ternate, Tidore, Aceh, dan lain-lain. Anehnya, negara penjajahnya—Belanda dan Jepang—hingga kini masih berbentuk kerajaan. Yang berubah justru Nusantara: dari kerajaan berdaulat menjadi koloni, lalu menjadi negara merdeka. Pertanyaannya: Apakah kemerdekaan itu benar-benar memutus penjajahan, atau sekadar mengganti pelaku penjarahan? Fakta sejarah menunjukkan bahwa sejak awal kemerdekaan, Indonesia sudah berada dalam tekanan sistem global. Perjanjian-perjanjian seperti Linggarjati, Renville, hingga Konferensi Meja Bundar (KMB) bukan hanya soal pengakuan kedaulatan, tetapi juga sarat kompromi ekonomi. Indonesia bahkan dipaksa menanggung utang kolonial Belanda, seolah-olah rakyat jajahan wajib membayar biaya penjajahannya sendiri. Sejak itu, penjajahan tidak lagi tampil dengan bedil dan serdadu, melainkan dengan kontrak, konsesi, dan utang. Oligarki: Penjajah Baru Berwajah Pribumi Hari ini, penjarahan tidak dilakukan oleh bangsa asing secara langsung, melainkan melalui oligarki—sekelompok kecil elite ekonomi-politik yang menguasai sumber daya strategis. Tambang dan energi dikuasai segelintir korporasi besar, banyak di antaranya bermitra dengan modal asing. Kasus Freeport di Papua menjadi contoh klasik bagaimana kekayaan luar biasa tidak berbanding lurus dengan kesejahteraan rakyat lokal. Laut dan perikanan tidak sepenuhnya dikuasai nelayan kecil. Berbagai laporan menunjukkan ambisi oligarki menguasai laut melalui industrialisasi skala besar, yang meminggirkan nelayan tradisional. Pertanian dan pangan dikuasai oleh kartel impor dan korporasi besar. Beras, gula, kedelai—komoditas hidup rakyat—dikendalikan oleh segelintir pemain. Petani sering kali hanya menjadi korban fluktuasi harga dan kebijakan. Peternakan, terutama unggas dan daging, dikuasai perusahaan besar terintegrasi dari hulu ke hilir. Peternak kecil tercekik oleh harga pakan, sementara impor daging dan vaksin menjadi ladang rente. Industri rokok, meski menghidupi jutaan petani tembakau dan buruh, dikuasai oleh konglomerasi besar yang memiliki daya lobi luar biasa terhadap kebijakan negara. Semua ini memperlihatkan satu pola: kekayaan terpusat, kemiskinan menyebar. Ketimpangan melebar, tercermin dari koefisien Gini yang buruk. Rakyat diminta sabar, sementara kekayaan negeri mengalir ke segelintir tangan. Peringatan Rasulullah ﷺ tentang Tambang dan Orang Jahat Islam sejak awal telah memberi peringatan keras soal kekuasaan ekonomi. Rasulullah ﷺ tidak memisahkan iman dari keadilan distribusi. Dalam hadis riwayat Baihaqi dari Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhu, ketika ditunjukkan emas hasil tambang Bani Sulaim, Rasulullah ﷺ bersabda: “Nanti kamu akan dapati banyak tambang-tambang, dan yang akan menguasainya adalah orang-orang jahat.” Hadis ini terasa seperti cermin zaman. Tambang berlimpah, tetapi yang menguasai bukan orang-orang amanah, melainkan mereka yang menjadikannya alat akumulasi kekuasaan dan kekayaan. Lebih menyedihkan lagi, sebagian penguasa di negeri-negeri muslim mengaku beriman, tetapi justru bersekutu dengan kekuatan global yang terang-terangan memusuhi umat Islam. Ketika Ekonomi Menjadi Alat Kezaliman Global Menyerahkan sumber daya alam kepada negara atau korporasi dari negara yang mendukung Zionis Yahudi Israhell bukan sekadar kebijakan ekonomi netral. Itu berarti ikut menopang kekuatan finansial yang digunakan untuk memproduksi senjata, membiayai perang, dan mengusir kaum muslim dari tanahnya—seperti yang terjadi di Palestina. Islam tegas dalam hal ini. Hukum asal jual-beli memang mubah. Namun para ulama menegaskan bahwa hukum itu berubah ketika transaksi tersebut membantu kemaksiatan atau kezaliman. Imam Asy-Syaukani dalam Nailul Authar menjelaskan, berdasarkan hadis Nabi ﷺ, bahwa menjual anggur kepada pihak yang akan membuat khamr adalah haram, meskipun jual-beli pada dasarnya boleh. Rasulullah ﷺ bahkan mengancam pelakunya dengan neraka. Prinsip ini menunjukkan satu hal penting: Netralitas ekonomi adalah ilusi. Jika individu saja diancam karena jual-beli yang mendukung dosa, maka lebih besar lagi dosa struktural ketika negara menyerahkan tambang, energi, dan kekayaan strategis kepada pihak yang jelas-jelas menggunakannya untuk kezaliman. ‎“Ora Mangan Asal Kumpul” Bukan Ajaran Islam Islam tidak mengajarkan kebersamaan dalam kemiskinan struktural. Rasulullah ﷺ membangun masyarakat Madinah dengan distribusi kekayaan yang adil, melindungi yang lemah, dan membatasi akumulasi berlebihan. Maka kebersamaan tanpa keadilan hanyalah romantisme palsu. Ukhuwah tanpa kesejahteraan adalah penundaan keadilan. Menjaga Negeri dari Penjarahan Indonesia tidak kekurangan sumber daya. Yang kurang adalah keberanian moral untuk menolak penyerahan negeri kepada oligarki dan kepentingan global yang zalim. Negeri ini tidak dijarah karena miskin, tetapi karena amanah dikhianati. Pada akhirnya, sejarah akan mencatat: apakah kita hanya mewarisi negeri kaya yang dikuasai penjarah, atau berani mengembalikan kekayaan itu sebagai amanah untuk kesejahteraan bersama, sebagaimana diperintahkan agama dan dituntut keadilan. Karena kekayaan negeri bukan milik segelintir orang, melainkan titipan Allah untuk seluruh rakyat dan generasi yang akan datang.

Donasi

Pembangunan Asrama Putri Ponpes Darul Arqam Muhammadiyah Sokaraja, Ikhtiar Menyiapkan Kader Perempuan Islam Berkemajuan

Pembangunan Asrama Putri Ponpes Darul Arqam Muhammadiyah Sokaraja, Ikhtiar Menyiapkan Kader Perempuan Islam Berkemajuan Sokaraja–Banyumas || AntaraKita.com — Pondok Pesantren Darul Arqam Muhammadiyah Sokaraja terus berkomitmen melaksanakan amanah dakwah dan pendidikan kader umat, khususnya dalam menyiapkan generasi santri putri yang beriman, berilmu, dan berakhlak mulia. Seiring dengan bertambahnya jumlah santri putri serta meningkatnya kebutuhan lingkungan pendidikan yang aman, nyaman, dan kondusif, pembangunan Asrama Putri menjadi kebutuhan yang mendesak dan strategis. Pembangunan asrama ini diproyeksikan tidak sekadar sebagai penyediaan sarana fisik, tetapi sebagai ruang pembinaan akhlak dan kepribadian santri putri. Di dalam asrama, santri akan dibina untuk hidup mandiri, disiplin, sederhana, serta mengamalkan nilai-nilai Islam dalam kehidupan sehari-hari. Dari ruang pembinaan inilah diharapkan lahir generasi perempuan shalihah, calon ibu pendidik, da’iyah, serta kader Persyarikatan Muhammadiyah yang memberi manfaat luas bagi umat dan bangsa. Pihak pengelola Pondok Pesantren Darul Arqam Muhammadiyah Sokaraja menegaskan bahwa keberadaan asrama putri memiliki posisi strategis dalam sistem pendidikan pesantren. Asrama menjadi bagian integral dalam membentuk karakter santri, memperkuat pembiasaan ibadah, adab, serta internalisasi nilai-nilai Islam berkemajuan secara berkelanjutan. Untuk merealisasikan pembangunan Asrama Putri tersebut, Pondok Pesantren Darul Arqam Muhammadiyah Sokaraja membutuhkan dukungan dana sesuai dengan Rencana Anggaran Biaya (RAB) sebesar Rp 604.448.000,-. Anggaran ini diperuntukkan bagi pembangunan fisik asrama beserta fasilitas pendukung yang menunjang proses pembinaan santri putri secara optimal. Melalui ikhtiar ini, pihak pesantren mengajak masyarakat, jamaah, serta kaum muslimin untuk berpartisipasi dalam amal jariyah pembangunan Asrama Putri Ponpes Darul Arqam Muhammadiyah Sokaraja. Setiap infaq dan sedekah yang diberikan diyakini akan menjadi pahala yang terus mengalir selama asrama dimanfaatkan sebagai sarana pendidikan dan pembinaan santri. Sebagaimana firman Allah ﷻ dalam Al-Qur’an: “Perumpamaan orang-orang yang menginfakkan hartanya di jalan Allah adalah seperti sebutir benih yang menumbuhkan tujuh tangkai, pada tiap-tiap tangkai terdapat seratus biji. Allah melipatgandakan bagi siapa yang Dia kehendaki.” (QS. Al-Baqarah: 261) Penyaluran infaq dan sedekah pembangunan Asrama Putri dapat dilakukan melalui: Bank Syariah Indonesia (BSI) No. Rekening: 7331034228 a.n. KL Lazismu PCM Sokaraja Untuk informasi lebih lanjut dan konfirmasi, masyarakat dapat menghubungi Contact Person: Toto Mahendra, S.Pd. (0857 7000 4143) Habib Fatah Roniawan (0878 3822 2585) Pembangunan Asrama Putri ini diharapkan menjadi bagian dari ikhtiar panjang Muhammadiyah dalam menyiapkan generasi perempuan Islam yang berkarakter, berdaya, dan berkemajuan, sekaligus memperkuat peran pesantren sebagai pusat pendidikan, dakwah, dan kaderisasi umat.

Prespektif, Ruang Kita

Membumikan Pendidikan Karakter, SMP Muhapuja Launching Buku Ibadah Praktis

Membumikan Pendidikan Karakter, SMP Muhapuja Launching Buku Ibadah Praktis Banyumas || AntaraKita.com – Upaya membumikan pendidikan karakter Islami terus dilakukan SMP Muhammadiyah Purwojati (Muhapuja). Sekolah ini kembali menorehkan tonggak sejarah penting dengan meluncurkan buku perdananya berjudul Panduan Ibadah Praktis: Sebuah Kerangka Pembentukan Karakter pada Siswa. Peluncuran buku tersebut digelar bertepatan dengan agenda rutin Pengajian Selapanan Ahad Kliwon PCM Purwojati, Ahad (18/1/2026), dan disaksikan ratusan jamaah yang memadati lingkungan SMP Muhammadiyah Purwojati.   Momentum launching ini tidak hanya menjadi seremoni penerbitan buku, tetapi juga penegasan arah pendidikan Muhammadiyah yang menempatkan ibadah sebagai fondasi pembentukan karakter. Buku ini lahir dari ikhtiar kolektif Tim Guru ISMUBA SMP Muhapuja sebagai respons atas kebutuhan panduan ibadah yang aplikatif, sistematis, dan kontekstual bagi peserta didik tingkat SMP. Launching buku dilakukan secara simbolis oleh Ketua PCM Purwojati, Drs. H. Mulyanto, didampingi Kepala SMP Muhammadiyah Purwojati serta Kyai Arif Fauzi, Lc., M.Pd., Direktur sekaligus Pengasuh MBS Zamzam Cilongok, yang juga menjadi penceramah dalam pengajian tersebut. Kehadiran unsur pimpinan persyarikatan, pendidik, dan jamaah menunjukkan dukungan kolektif terhadap gerakan literasi dan pendidikan karakter di lingkungan Muhammadiyah. Kepala SMP Muhammadiyah Purwojati, Nur Khasbi, S.H.I., M.M., dalam sambutannya menjelaskan bahwa buku Panduan Ibadah Praktis dirancang sebagai pedoman ibadah yang mudah dipahami dan dipraktikkan oleh siswa, baik di sekolah maupun di lingkungan keluarga dan masyarakat. “Buku ini disusun sebagai panduan ibadah praktis yang aplikatif bagi peserta didik. Harapannya, ibadah tidak berhenti pada aspek ritual semata, tetapi menjadi kebiasaan yang membentuk karakter, disiplin, tanggung jawab, dan akhlak mulia siswa dalam kehidupan sehari-hari,” jelasnya. Ia menambahkan bahwa buku tersebut merupakan bagian dari strategi sekolah dalam mengintegrasikan nilai-nilai Al-Islam dan Kemuhammadiyahan ke dalam praktik pendidikan. Dengan demikian, pembelajaran ibadah tidak hanya bersifat teoritis, tetapi benar-benar membumi dan relevan dengan keseharian peserta didik. Ketua PCM Purwojati, Drs. H. Mulyanto, memberikan apresiasi tinggi atas lahirnya buku perdana tersebut. Menurutnya, karya ini menjadi bukti nyata soliditas dan kesungguhan dewan guru SMP Muhapuja dalam menghadirkan inovasi pendidikan yang berorientasi pada pembentukan karakter. “Kami mengucapkan tahniah atas diluncurkannya buku Panduan Ibadah Praktis. Ini adalah mahakarya perdana yang patut dibanggakan. Buku ini menjadi kado istimewa sekaligus langkah awal memperkuat eksistensi SMP Muhammadiyah Purwojati, yang telah meraih predikat SMP Adiwiyata Nasional, sebagai sekolah yang tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga kuat dalam pendidikan karakter dan spiritualitas,” ungkapnya. Menurutnya, buku ini juga merupakan media dakwah Islam berkemajuan yang membumi, memberdayakan, dan mencerahkan umat, karena menghadirkan nilai-nilai Islam dalam bahasa pendidikan yang sederhana, sistematis, dan mudah diterapkan. Dalam tausiyahnya, Kyai Arif Fauzi, Lc., M.Pd., turut mengapresiasi terbitnya buku Panduan Ibadah Praktis. Ia menegaskan bahwa karya ini harus menjadi pemantik semangat untuk terus melahirkan inovasi dan gerakan berkemajuan di lingkungan sekolah Muhammadiyah. “Lahirnya karya perdana ini harus menjadi spirit untuk terus melakukan gerakan dakwah dan pendidikan Islam berkemajuan. Namun ikhtiar para guru tidak boleh berjalan sendiri. Dukungan orang tua, ortom Muhammadiyah, pimpinan AUM, serta AMM harus menjadi pendamping setia agar pendidikan karakter ini benar-benar membuahkan hasil,” tegasnya. Ia juga menekankan pentingnya kesinambungan antara pendidikan di sekolah dan di rumah, agar nilai-nilai ibadah dan akhlak yang ditanamkan dapat tumbuh secara konsisten dalam kehidupan siswa. Peluncuran buku Panduan Ibadah Praktis ini menjadi penegasan komitmen SMP Muhammadiyah Purwojati dalam menghadirkan pendidikan yang utuh dan berkelanjutan. Sekolah tidak hanya menekankan capaian akademik, tetapi juga berupaya menumbuhkan kekuatan spiritual, etika sosial, dan karakter Islami peserta didik sebagai bekal menghadapi tantangan zaman.   Diharapkan, buku ini tidak hanya menjadi rujukan internal SMP Muhapuja, tetapi juga dapat menginspirasi sekolah-sekolah Muhammadiyah lainnya dalam mengembangkan model pendidikan karakter Islami yang berkemajuan, kontekstual, dan berorientasi pada pembentukan generasi berakhlak mulia. (Tarqum Aziz – JurnalisMu Banyumas Raya)  

Prespektif, Ruang Kita

Republik di Negeri Para Raja: Dari Kolonialisme Kerajaan ke Oligarki Pribumi

Republik di Negeri Para Raja: Dari Kolonialisme Kerajaan ke Oligarki Pribumi Negeri Lama, Negara Baru, Indonesia adalah paradoks sejarah. Ia lahir sebagai negara baru, tetapi berdiri di atas negeri yang sangat tua. Sebelum republik, Nusantara telah memiliki sistem kedaulatan melalui kerajaan-kerajaan yang menguasai tanah, laut, dan jalur perdagangan. Negara penjajah—Belanda dan Jepang—datang sebagai kerajaan, menjajah sebagai kerajaan, dan pulang tetap sebagai kerajaan. Namun Indonesia, yang dijajah, justru dipaksa membuktikan kemerdekaannya melalui perjanjian-perjanjian yang merugikan: Linggarjati, Renville, hingga Konferensi Meja Bundar. Bahkan, kemerdekaan harus “dibayar” dengan utang kolonial Belanda—termasuk biaya agresi militer terhadap Indonesia sendiri. Sejak lahir, republik ini telah terikat oleh struktur ekonomi kolonial. Dari Penjajahan Negara ke Penjajahan Modal Pada masa Soekarno, negara berusaha memutus rantai kolonialisme ekonomi. Tambang, tanah, dan sumber daya alam dipandang sebagai alat kedaulatan. Modal asing dibatasi karena dianggap perpanjangan imperialisme. Namun pasca-1965, arah itu berubah total. UU Penanaman Modal Asing 1967 membuka pintu lebar bagi kapital global. Freeport masuk ke Papua dengan kontrak karya jangka panjang. Sejak saat itu, penguasaan sumber daya tidak lagi berbentuk kolonialisme negara, tetapi kolonialisme korporasi. Di titik inilah oligarki tumbuh subur. OLIGARKI SEKTORAL: DETAIL LITERASI 1. Oligarki Sumber Daya Alam, Tambang, dan Energi Kontrak karya tambang (Freeport, Batu Bara, Nikel) Konsesi jangka panjang, Ketergantungan negara pada royalti dan pajak Tambang emas, tembaga, batu bara, dan nikel dikuasai oleh segelintir korporasi besar yang memiliki relasi erat dengan kekuasaan politik. Negara sering kali berperan sebagai pemberi izin, bukan pengendali. Kasus Freeport di Papua adalah simbol paling nyata: tambang terbesar dunia beroperasi sejak 1967, sementara masyarakat sekitar bergulat dengan kemiskinan, konflik sosial, dan kerusakan lingkungan. Pola kolonial tetap sama: sumber daya diambil → keuntungan keluar → rakyat lokal hanya menerima dampak sosial. 2. Oligarki Laut dan Perikanan Kebijakan kuota penangkapan, Konsesi laut, Dominasi kapal besar dan industri Laut yang seharusnya menjadi ruang hidup nelayan kecil berubah menjadi ruang konsesi. Kebijakan kuota dan industrialisasi perikanan membuka jalan bagi pemodal besar, sementara nelayan tradisional tidak memiliki modal, teknologi, dan akses perizinan. nelayan kecil tersingkir, akses ruang tangkap menyempit, laut diperlakukan sebagai aset ekonomi, bukan ruang hidup. Ini menyerupai kolonialisme maritim VOC—hanya tanpa bendera asing. 3. Oligarki Pertanian Kartel benih dan pupuk, Impor pangan, Rantai distribusi dikuasai korporasi Petani Indonesia tidak berdaulat atas: benih (tergantung perusahaan),, pupuk (subsidi dan distribusi dikendalikan), harga (ditentukan pasar dan importir). harga di tingkat petani ditekan, impor digunakan sebagai alat stabilisasi semu, petani selalu kalah dalam struktur pasar. Petani bukan produsen merdeka, tetapi buruh dalam sistem pangan nasional. 4. Oligarki Peternakan Integrator besar : Kontrol pakan, bibit, vaksin, Skala ekonomi yang mematikan peternak kecil Industri unggas dan peternakan dikuasai oleh segelintir perusahaan integrator. Mereka mengendalikan seluruh rantai: bibit → pakan → vaksin → distribusi → harga. Peternak rakyat tidak mampu bersaing, harga ditentukan sepihak, kerugian peternak menjadi keuntungan korporasi. Ini bukan pasar bebas. Ini monopoli terstruktur. 5. Oligarki Industri Rokok Konsentrasi pasar, Relasi bisnis–politik, Kebijakan fiskal yang timpang Industri rokok menyerap jutaan tenaga kerja dan petani tembakau, tetapi kekuasaan ekonomi terkonsentrasi pada segelintir konglomerasi besar. Kebijakan cukai sering kali kompromistis, petani tembakau tidak memiliki posisi tawar, negara gamang antara kesehatan publik dan kepentingan fiskal. Persekongkolan pejabat dan industri rokok menggambarkan bagaimana kebijakan publik dapat dilumpuhkan oleh kekuatan modal. Pribumi sebagai Mandor Sistem Kolonialisme tidak pernah bekerja tanpa elite lokal. Hari ini, elite itu adalah oligarki domestik. Mereka bukan sekadar orang kaya, tetapi: pembentuk kebijakan, pengendali pasar, penentu arah ekonomi. Penjajahan tidak lagi datang dari luar. Ia dijalankan dari dalam, dengan wajah nasional, bahasa pembangunan, dan legitimasi hukum. Penutup: Republik yang Belum Berdaulat Indonesia merdeka secara konstitusional, tetapi belum sepenuhnya berdaulat secara struktural. Dari tambang hingga tembakau, dari laut hingga ladang, pola yang sama terus berulang: kekayaan terkonsentrasi, rakyat terpinggirkan. Pertanyaan akhirnya bukan lagi: apakah Indonesia merdeka? Tetapi: siapa yang menikmati kemerdekaan itu? Selama kekayaan negeri dikuasai oligarki dan rakyat hanya menjadi penonton, maka republik ini masih menjalani babak lanjutan dari penjajahan—bukan oleh bangsa asing, melainkan oleh sistem yang dijalankan tangan pribumi sendiri. Dan di situlah kemerdekaan menunggu untuk disempurnakan. SiS, Antarkita

Prespektif, Ruang Kita

Menulis: Jalan Terbuka Bagi Mereka yang Tak Mewarisi Singgasana

Menulis: Jalan Terbuka Bagi Mereka yang Tak Mewarisi Singgasana “Jika kalian bukan anak Raja, bukan anak Ulama, maka menulislah.” – Imam Ghazali Kalimat singkat dari Imam Ghazali ini menyimpan kekuatan luar biasa. Ia bukan sekadar nasihat, tapi ajakan. Bukan hanya ajakan, tapi jalan keluar—bagi mereka yang lahir tanpa gelar, tanpa warisan kekuasaan, tanpa nama besar di belakangnya. Hari ini, kita hidup di zaman yang penuh tantangan. Kekuasaan masih terlalu sering diwariskan secara turun-temurun. Nama besar masih menjadi tiket masuk ke ruang-ruang penting. Sementara itu, jutaan orang lahir dari keluarga biasa, berjuang di tengah keterbatasan, dan tak punya akses ke panggung utama kehidupan. Tapi sejarah membuktikan, bukan hanya anak raja yang bisa mengubah dunia. Bukan hanya keturunan ulama besar yang bisa menuntun umat. Mereka yang menulis, yang menyuarakan pikirannya dengan jujur, yang menuangkan kegelisahannya dalam kata-kata—merekalah yang kerap kali menciptakan peradaban. Menulis Adalah Tindakan Melawan Keheningan Dalam budaya diam, di tengah arus pasrah dan apatis, menulis adalah bentuk perlawanan. Menulis adalah keberanian untuk bersuara, untuk mengatakan “Aku ada”, untuk melawan lupa, dan mengukir jejak. Kita tidak harus menjadi pemimpin negara untuk menyampaikan gagasan kebangsaan. Tidak harus menjadi orator masyhur untuk menyuarakan kebenaran. Cukup dengan menulis. Karena kata-kata yang lahir dari hati dan pikiran yang jernih akan menemukan jalannya sendiri ke hati banyak orang. Menulis Adalah Warisan Bagi Generasi Anak raja mewariskan tahta. Anak ulama mewariskan nama dan ilmu. Tapi penulis mewariskan gagasan. Tulisan yang baik bisa bertahan jauh lebih lama dari usia penulisnya. Ia bisa menjadi cahaya bagi mereka yang tersesat, bisa menjadi kompas bagi mereka yang mencari arah. Jika kita menulis dengan kesungguhan, maka kita sedang menanam benih-benih perubahan. Mungkin kita tidak akan pernah tahu siapa yang kelak membaca tulisan kita. Tapi seperti mata air yang terus mengalir, tulisan yang ikhlas dan mencerahkan akan terus menemukan pembacanya. Saatnya Kita Bangkit Menulis Saya percaya, di tengah keterbatasan, justru banyak sekali potensi yang bisa diolah menjadi kekuatan. Pengalaman hidup, kegagalan, perjuangan, bahkan luka batin—semua itu bisa menjadi bahan bakar untuk menulis sesuatu yang bermakna. Maka, jika kalian bukan anak raja—tulislah kisah perjuangan dari bawah. Jika kalian bukan anak ulama—tulislah hasil perenungan yang mendalam. Jika kalian bukan siapa-siapa di mata dunia, buktikan bahwa kalian bisa menjadi “seseorang” melalui kata-kata. Mulailah dari hal-hal kecil: catatan harian, opini di media sosial, artikel sederhana, puisi, atau refleksi pribadi. Terus menulis. Terus menyala. Karena selama kalian menulis, kalian tidak pernah benar-benar kalah oleh keadaan. Menulis adalah kekuasaan paling demokratis yang pernah ada. Tak perlu warisan, tak perlu koneksi, tak perlu gelar. Hanya butuh keberanian untuk memulai dan ketulusan untuk berbagi. Suwatno Ibnu Sudihardjo.            Antarkita ,Purwokerto – Januari 2026  

Kabarkita, Ruang Kita

TrenMu Daarul Ulum Teguhkan Dakwah Islam Berkemajuan lewat Seni yang Mencerahkan

TrenMu Daarul Ulum Teguhkan Dakwah Islam Berkemajuan lewat Seni yang Mencerahkan Cilacap || AntaraKita.com – Pesantren Muhammadiyah (TrenMu) Daarul Ulum Majenang, Kabupaten Cilacap, kembali menunjukkan bahwa dakwah Islam berkemajuan tidak selalu hadir dalam bentuk mimbar dan ceramah formal. Melalui Spectacular Show 2 Tahun 2026 yang digelar pada Sabtu malam (17/1/2026) di halaman Masjid Biru Walidain, pesantren ini menghadirkan dakwah kultural yang hidup, membumi, dan menyentuh ruang batin masyarakat melalui bahasa seni dan kreativitas santri. Kegiatan tahunan ini menjadi penanda bahwa pesantren Muhammadiyah bukan hanya ruang transmisi ilmu keagamaan, melainkan juga laboratorium peradaban, tempat nilai Islam bertemu dengan budaya, kreativitas, dan realitas sosial. Spectacular Show 2 tidak sekadar menjadi ajang unjuk bakat santri, tetapi proses pendidikan utuh yang memadukan pembinaan karakter, ideologi Al-Islam dan Kemuhammadiyahan, serta kesadaran kebangsaan. Acara dibuka secara khidmat dengan penabuhan beduk oleh Ketua PCM Majenang, KH. Masykur Ikhsan, S.Ag., M.Pd., didampingi Mudir pesantren dan jajaran persyarikatan. Penabuhan beduk tersebut bukan hanya simbol dimulainya acara, melainkan penegasan bahwa seni yang ditampilkan berangkat dari nilai-nilai Islam dan diarahkan untuk pencerahan umat. Masjid Biru Walidain pun tidak sekadar menjadi latar fisik, tetapi pusat spiritual yang memayungi seluruh rangkaian kegiatan. Panggung megah yang berdiri di halaman masjid merupakan hasil kerja kolektif PR IPM Daarul Ulum bersama para santri, yang dipersiapkan melalui proses panjang sekitar satu bulan. Proses tersebut menjadi bagian integral dari pendidikan pesantren: melatih kesabaran, disiplin, tanggung jawab, kepemimpinan, serta kerja sama lintas kelas dan jenjang. Di sinilah pesantren mengajarkan bahwa keberhasilan bukan hasil instan, melainkan buah dari proses yang istiqamah.   Beragam pertunjukan disajikan secara terstruktur dan penuh pesan. Fashion show busana adat Nusantara dan busana daur ulang menjadi simbol kecintaan pada budaya sekaligus kepedulian terhadap lingkungan. Tarian daerah dan musik Nusantara menghadirkan wajah Islam yang ramah terhadap budaya lokal. Pidato enam bahasa—Jawa, Sunda, Indonesia, Inggris, Arab, dan Jepang—menunjukkan kesiapan santri menghadapi dunia global tanpa kehilangan akar identitas. Atraksi Tapak Suci menegaskan nilai kedisiplinan, ketangguhan, dan keberanian, sementara hadrah menghadirkan dimensi spiritual yang meneduhkan. Setiap penampilan tidak diarahkan sekadar untuk menghibur, tetapi menjadi media dakwah yang menyampaikan pesan keislaman secara santun, menggembirakan, dan inklusif. Seni ditempatkan sebagai wasilah dakwah, bukan tujuan akhir. Inilah wajah Islam Berkemajuan yang dipraktikkan pesantren Muhammadiyah: Islam yang beradab, mencerdaskan, dan memuliakan manusia. Antusiasme santri tampak sepanjang acara. Akila Zahra, santri kelas VII asal Serang, Banten, mengaku bangga dapat terlibat langsung dalam Spectacular Show 2. “Kegiatan ini membuat saya lebih percaya diri. Kami belajar tampil di depan umum, mengenal budaya, dan menyampaikan pesan kebaikan dengan cara yang menyenangkan,” tuturnya. Hal serupa disampaikan Anesvita Ifsabil, santri kelas XI asal Pangandaran, Jawa Barat. Menurutnya, kegiatan ini memberikan pengalaman berharga yang tidak diperoleh di ruang kelas. “Spectacular Show bukan hanya hiburan, tapi juga pencerahan. Kami belajar disiplin, kerja sama, dan berdakwah melalui seni dengan cara yang menyentuh hati,” ungkapnya. Mudir TrenMu Daarul Ulum Majenang, Kyai Aly Syahbana, S.E., M.M., menyampaikan apresiasi tinggi kepada PR IPM dan seluruh santri atas kesungguhan mereka. Ia menegaskan bahwa keberhasilan acara tersebut merupakan buah dari proses panjang yang sarat nilai pendidikan. “Panggung megah ini tidak lahir dalam semalam. Ia lahir dari latihan, kedisiplinan, dan kerja kolektif. Sejalan dengan pelajaran Mahfudzot, bahwa keberhasilan hanya diraih melalui kesungguhan dan perjuangan,” tegasnya. Ia berharap Spectacular Show 2 menjadi sarana pembinaan karakter santri yang berkelanjutan. Menurutnya, seni adalah media strategis untuk menumbuhkan kepercayaan diri, kreativitas, serta kepedulian sosial santri dalam bingkai dakwah Islam berkemajuan. Ketua PCM Majenang, KH. Masykur Ikhsan, S.Ag., M.Pd., menilai bahwa apa yang ditampilkan para santri merupakan praktik dakwah Muhammadiyah yang membumi dan relevan dengan konteks masyarakat. “Melalui seni dan budaya, pesan Islam dapat disampaikan secara santun, menggembirakan, dan penuh makna. Inilah bukti bahwa pesantren Muhammadiyah hadir sebagai pusat pencerahan umat dan peradaban, bukan hanya lembaga pendidikan formal,” ungkapnya. Sementara itu, KH. Drs. Saiful Anam, M.Pd., anggota Majelis Dikdasmen dan PNF PDM Cilacap, menilai Spectacular Show 2 sebagai model pendidikan Muhammadiyah yang utuh dan progresif. “Kegiatan ini menunjukkan bahwa pendidikan Muhammadiyah mampu memadukan akademik, karakter, dan seni sebagai media dakwah. Inilah pendidikan yang mencerahkan—menumbuhkan kreativitas sekaligus akhlak mulia santri,” ujarnya. Spectacular Show 2 Tahun 2026 menegaskan bahwa Pesantren Muhammadiyah Daarul Ulum Majenang bukan sekadar tempat belajar agama, tetapi ruang persemaian kader Islam berkemajuan yang siap berdialog dengan zaman. Di panggung seni itu, pesantren menghadirkan Islam yang ramah terhadap budaya, terbuka terhadap kreativitas, dan kokoh dalam nilai. Melalui seni yang mencerahkan, TrenMu Daarul Ulum kembali meneguhkan perannya sebagai pusat pendidikan, dakwah, dan kaderisasi. Dari halaman Masjid Biru Walidain, pesan Islam berkemajuan disampaikan dengan bahasa keindahan—menyentuh akal, menggerakkan hati, dan membentuk karakter generasi penerus umat dan bangsa. (Tarqum Aziz – JurnalisMu Banyumas Raya)  

Kabarkita, Ruang Kita

Dari Museum ke Laboratorium Alam, Refleksi Outing Class SMP MUHAMRA di Yogyakarta

Dari Museum ke Laboratorium Alam, Refleksi Outing Class SMP MUHAMRA di Yogyakarta Yogyakarta || AntaraKita.com – Pembelajaran tidak selalu harus berlangsung di ruang kelas. Prinsip inilah yang dihidupkan oleh SMP Muhammadiyah Rawalo (MUHAMRA), Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah, melalui kegiatan outing class atau pembelajaran luar ruangan ke Yogyakarta pada Sabtu (17/1/2026). Kegiatan yang diikuti siswa kelas VIII dan IX ini mengusung tema “Edutrip Muhamra Goes to Jogja”, sebagai ikhtiar menghadirkan pembelajaran kontekstual yang menyenangkan, bermakna, dan berorientasi pada pembentukan karakter. Didampingi lima orang pendamping, para siswa mengikuti rangkaian edutrip dengan penuh antusias. Sejak keberangkatan hingga kembali ke Rawalo, kegiatan berlangsung tertib, ceria, dan sarat pengalaman belajar. Outing class ini dirancang tidak sekadar sebagai kunjungan rekreatif, melainkan sebagai ruang belajar alternatif yang mengintegrasikan pengetahuan, pengalaman empiris, kebersamaan, serta kemandirian murid.   Bendahara SMP Muhammadiyah Rawalo, Wahyu Yulirianto, A.P., yang turut mendampingi kegiatan, menjelaskan bahwa edutrip kali ini menyasar tiga destinasi edukatif utama, yakni Merapi Adventure Magelang, Museum Pusat TNI AU Dirgantara Mandala, dan Taman Pintar Yogyakarta. “Di Merapi Adventure, siswa belajar tentang sejarah erupsi Gunung Merapi, dampak sosial-bencana, serta pentingnya mitigasi dan kesiapsiagaan bencana. Kegiatan dilanjutkan dengan penelusuran Museum Sisa Hartaku sebagai pengingat nilai ketangguhan dan ketabahan masyarakat lereng Merapi,” jelasnya. Sementara itu, di Museum Dirgantara Mandala, para siswa dikenalkan pada sejarah kedirgantaraan Indonesia, nilai-nilai kebangsaan, keberanian, kedisiplinan, dan pengabdian para tokoh TNI AU. Adapun Taman Pintar Yogyakarta menjadi ruang belajar sains interaktif yang mendorong rasa ingin tahu, berpikir kritis, dan kreativitas siswa melalui pendekatan aplikatif yang menyenangkan. Kepala SMP Muhammadiyah Rawalo, Murtafingah Ekaningrum, S.Pd., menegaskan bahwa outing class dirancang sebagai pembelajaran langsung (experiential learning) untuk melatih motorik, kreativitas, kemandirian, serta membentuk karakter murid agar berakhlak, tangguh, dan berkepribadian. “Melalui kegiatan ini, murid diajak menumbuhkan kebersamaan, kepedulian terhadap lingkungan, wawasan kebencanaan, serta nilai disiplin dan cinta tanah air. Outing class juga menjadi sarana menumbuhkan minat murid terhadap ilmu pengetahuan dan teknologi, khususnya bidang dirgantara dan sains,” ujarnya. Senada dengan itu, Wakil Kepala Sekolah Bidang Kesiswaan, Galih Dewi Anggraeni, S.Pd., menjelaskan bahwa kegiatan outing class tidak dilepaskan dari proses pembelajaran terintegrasi. Para murid diberikan tugas berupa pembuatan vlog dan kliping lintas mata pelajaran, meliputi IPA, IPS, Bahasa Indonesia, Bahasa Inggris, dan Pendidikan Agama Islam (PAI). “Selain edukatif, kegiatan ini juga bersifat rekreatif sehingga mampu mengurangi kejenuhan belajar. Murid belajar bertanggung jawab, bekerja sama, dan mengapresiasi sejarah serta nilai kebangsaan secara langsung,” ungkapnya. Pengalaman belajar di luar kelas ini dirasakan langsung manfaatnya oleh para siswa. Putri Marfiani, siswi kelas IX A, menilai pembelajaran menjadi lebih mudah dipahami karena dapat melihat dan mengalami langsung objek pembelajaran di Museum Dirgantara, Lava Tour Merapi, dan Taman Pintar. Hal senada disampaikan Catur Danu, siswa kelas VIII A, yang mengaku belajar terasa lebih menyenangkan karena dapat mencoba berbagai alat sains, bekerja sama dengan teman, serta belajar sambil bermain. Melalui interaksi di ruang publik, para siswa juga belajar bersikap santun, bekerja sama, saling menghargai, serta membangun kepekaan sosial. Sebagai penutup rangkaian kegiatan, rombongan menyempatkan diri mengunjungi kawasan Malioboro untuk menikmati suasana kota dan membeli oleh-oleh. Melalui kegiatan Edutrip Outing Class ini, SMP Muhammadiyah Rawalo berharap para siswa memperoleh pengetahuan, pengalaman berharga, kebersamaan, serta kenangan indah yang membekas. Kegiatan ini menegaskan bahwa belajar dapat dilakukan di mana saja—di museum, alam terbuka, dan ruang publik—sebagai bagian dari upaya menumbuhkan karakter, wawasan, dan kesadaran murid sebagai pembelajar sepanjang hayat. (Tarqum Aziz – JurnalisMu Banyumas Raya)  

Kabarkita, Prespektif, Ruang Kita

Alumni Unsoed Gelar “Sosialisasi Tamyiz 1”

Alumni Unsoed Gelar “Sosialisasi Tamyiz 1” Ikhtiar Pra-Ramadhan Memperluas Gerakan Belajar Terjemah Al-Qur’an Metode Tamyiz Dalam rangka mengisi rangkaian kegiatan Pra-Ramadhan 1447 H / 2026 M, alumni Fakultas Hukum Universitas Jenderal Soedirman (FH Unsoed) angkatan 1981, Slamet Hartono, SH., menginisiasi kegiatan “Sosialisasi Tamyiz 1”, yakni kegiatan Belajar Terjemah Al-Qur’an dengan Metode Tamyiz. Kegiatan ini diselenggarakan melalui Panitia Amaliah Ramadhan 1447 H / 2026 M Masjid Agung Baitussalam (MAB) Purwokerto.   Slamet Hartono, SH., yang juga menjabat sebagai Sekretaris Takmir Masjid Agung Baitussalam Purwokerto, menjelaskan bahwa kegiatan ini merupakan tindak lanjut langsung dari kegiatan Training of Trainer (TOT) Tamyiz 1 yang sebelumnya diselenggarakan oleh Tamyiz Online Pusat di Jakarta selama dua hari. Pada kesempatan tersebut, RTO (Rumah Tamyiz Offline/Online) Purwokerto mengirimkan tiga orang perwakilan untuk mengikuti pelatihan intensif. “Kami merasa memiliki tanggung jawab moral untuk menularkan ilmu yang sudah diperoleh dari TOT. Karena itu, Sosialisasi Tamyiz 1 ini kami gelar agar metode Tamyiz bisa dipahami dan dipraktikkan secara lebih luas di masyarakat,” ungkap Slamet Hartono, SH., saat bincang-bincang dengan Ir. H. Alief Einstein, M.Hum. dari kafapet-unsoed.com. Kegiatan Sosialisasi Tamyiz 1 dilaksanakan pada Sabtu, 17 Januari 2026, bertempat di Pendopo Sipanji, Kompleks Kantor Bupati Banyumas, dan diikuti oleh 102 peserta. Peserta berasal dari berbagai latar belakang, namun didominasi oleh pengelola dan anggota RTO-RTO yang berada di wilayah Purwokerto dan sekitarnya. Seluruh RTO tersebut berada di bawah koordinasi RTO Purwokerto yang berpusat di Masjid Agung Baitussalam Purwokerto dan dipimpin oleh Slamet Hartono, SH., yang dikenal sebagai alumni pertama Fakultas Hukum Unsoed.   Dalam kegiatan ini, peserta mendapatkan pemaparan dan praktik langsung mengenai tata cara mengajarkan Terjemah Al-Qur’an Metode Tamyiz, sebuah metode pembelajaran yang menekankan optimalisasi fungsi otak kanan. Metode ini dirancang agar proses belajar berlangsung ringan, menyenangkan, dan tidak menimbulkan beban kognitif berlebih. Metode Tamyiz dikenal dengan slogan khas “nggak mikir, nggak ngapal”, di mana peserta cukup menirukan bacaan dengan suara lantang, berirama, dan berulang-ulang. Kaidah-kaidah bahasa Arab yang pada umumnya dianggap sulit, justru dapat dikuasai tanpa terasa karena disampaikan melalui media nyanyian dan pengulangan yang menggembirakan. Ketua Panitia Amaliah Ramadhan 1447 H / 2026 M MAB Purwokerto, Drs. H. Samingan, menjelaskan bahwa pendekatan ini terbukti efektif bagi berbagai kelompok usia. “Kaidah-kaidah yang seharusnya dihafal, dalam Metode Tamyiz justru melekat secara alami. Peserta merasa senang, dan tanpa disadari sudah hafal dengan sendirinya,” ujarnya. Sementara itu, Machfulyono, S.Ag., selaku Ketua Panitia Penyelenggara, menyampaikan bahwa peserta Sosialisasi Tamyiz 1 didominasi oleh RTO-RTO sekitar yang dikoordinir oleh RTO Purwokerto. Kegiatan ini sekaligus menjadi ajang konsolidasi dan penguatan jejaring antar kelompok belajar Tamyiz. Sebelum membuka acara secara resmi, Ketua Takmir Masjid Agung Baitussalam Purwokerto, H. Sudarman, S.Ag., dalam sambutannya menegaskan pentingnya kesungguhan dan kedisiplinan dalam belajar Al-Qur’an. “Belajar Al-Qur’an itu harus dipaksakan dalam arti dilatih untuk disiplin. Apalagi belajar terjemahnya, harus benar-benar bisa istiqamah jika menghendaki hasil yang baik,” tegasnya. Lebih lanjut, H. Sudarman menyampaikan harapannya agar kemanfaatan RTO Purwokerto tidak hanya dirasakan di wilayah kota, tetapi juga mampu menjangkau kabupaten-kabupaten sekitar, seperti Purbalingga, Cilacap, Banjarnegara, bahkan hingga Kebumen. Sebagai informasi, kegiatan ini merupakan kelanjutan dari Sarasehan Tamyiz yang pernah digelar Masjid Agung Baitussalam Purwokerto pada 13 September 2025 di Pendopo Sipanji. Pada kegiatan tersebut, MAB menghadirkan langsung Founder Tamyiz Online Pusat, Ustadzah Luthfiyah, beserta tim. Selain memperkenalkan Metode Tamyiz, pada kesempatan itu juga dibentuk secara resmi RTO Purwokerto. Dalam Sarasehan tersebut ditetapkan susunan pengurus RTO Purwokerto, yakni Ketua Slamet Hartono, SH., Wakil Ketua Drs. HM. Cecep Setiadarma, MM., Sekretaris Machfulyono, S.Ag., Wakil Sekretaris Sudir Mubarok, S.Pd., dan Bendahara Sari Retni Kardiana. Kepengurusan ini kemudian menindaklanjuti program dengan mengikuti TOT Tamyiz 1 di Jakarta selama dua hari. Pada acara Sosialisasi Tamyiz 1, masing-masing RTO diberikan ruang untuk menampilkan kebolehannya dalam menyanyikan lagu-lagu Tamyiz sebagai metode belajar terjemah Al-Qur’an. Suasana kegiatan berlangsung hangat, penuh kekeluargaan, dan sarat semangat kebersamaan. Terlihat pula sejumlah peserta lanjut usia, bahkan ada yang harus berjalan menggunakan tongkat, tetap antusias mengikuti seluruh rangkaian kegiatan. Hal ini menjadi bukti bahwa Metode Tamyiz dapat diterima oleh berbagai kalangan usia tanpa batasan. Saat ini, RTO Purwokerto telah mengoordinir berbagai kelompok belajar Tamyiz di wilayah Purwokerto dan sekitarnya, antara lain RTO Juken, RTO Kalpataru, RTO Purwanegara, RTO Trimurti, serta Sinau Bareng Kanca Tamyiz (SBKT) Ikhwan dan SBKT Akhwat. SBKT sendiri merupakan kelompok belajar terjemah Al-Qur’an Metode Tamyiz yang rutin dilaksanakan di Masjid Agung Baitussalam Purwokerto. Dengan adanya kegiatan Sosialisasi Tamyiz 1 ini, diharapkan terjadi peningkatan signifikan dalam aktivitas pembelajaran terjemah Al-Qur’an menggunakan Metode Tamyiz. Ke depan, tidak menutup kemungkinan akan dibentuk RTO-RTO baru sebagai pusat pembelajaran, sekaligus mendorong masyarakat untuk mengikuti Tamyiz Online secara gratis melalui media WhatsApp. “Harapannya, Metode Tamyiz bisa menjadi jalan yang memudahkan umat untuk belajar, memahami, dan mencintai Al-Qur’an dengan cara yang menyenangkan dan berkelanjutan,” pungkas Slamet Hartono, SH.  

Prespektif, Ruang Kita

Donasi Rakyat, Legitimasi Politik, dan Lahirnya Politisi Sejati

Donasi Rakyat, Legitimasi Politik, dan Lahirnya Politisi Sejati Politisi pada hakikatnya bukan sekadar aktor yang mengejar jabatan, melainkan wakil kepentingan banyak orang. Politik, dalam pengertian paling mendasar, adalah seni memperjuangkan kemaslahatan publik melalui kekuasaan yang sah. Karena itu, relasi antara politisi dan rakyat tidak bisa dibangun di atas transaksional semata, melainkan di atas kepercayaan. Salah satu tanda paling sederhana—namun sangat jujur—bahwa seseorang merasa kepentingannya diperjuangkan oleh seorang politisi adalah kesediaannya memberikan kontribusi finansial. Dalam demokrasi modern, donasi politik adalah bentuk partisipasi warga negara. Ia bukan sekadar angka dalam laporan keuangan kampanye, tetapi ekspresi harapan, dukungan, dan keyakinan. Orang tidak akan mengeluarkan uangnya—betapapun kecil nominalnya—jika ia tidak merasa terwakili. Kita dapat belajar banyak dari pemilihan presiden Amerika Serikat. Data sumber dana kampanye Joe Biden dan Donald Trump memberikan pelajaran penting tentang relasi antara politisi dan publik. Joe Biden memperoleh dana kampanye dari sekitar 11,86 juta pendonor, dengan rata-rata donasi sekitar Rp1,4 juta per orang. Sementara Donald Trump memperoleh dana dari sekitar 6,7 juta pendonor, dengan rata-rata donasi Rp1,8 juta per orang. Perbedaan ini bukan sekadar statistik, melainkan cerminan tingkat kepercayaan rakyat. Kemenangan Biden sejatinya telah tercermin dari fakta ini. Jutaan warga Amerika merasa aspirasi dan kepentingannya lebih diperjuangkan oleh Biden dibandingkan Trump. Maka mereka berbondong-bondong menyumbangkan sebagian rezekinya. Kemampuan menggalang dukungan finansial dari belasan juta orang tentu bukan perkara teknis belaka. Ia adalah hasil dari proses panjang membangun rekam jejak, konsistensi sikap, dan keberpihakan kebijakan. Dari sini kita memperoleh pelajaran penting berikutnya: kekuatan modal pribadi tidak selalu sejalan dengan kekuatan legitimasi publik. Donald Trump, dengan latar belakang pebisnis besar dan sumber daya finansial pribadi yang melimpah, tetap kalah dalam pertarungan menggalang kepercayaan rakyat. Uang pribadi tidak otomatis bertransformasi menjadi dukungan publik. Bahkan, dalam banyak kasus, justru menimbulkan kecurigaan akan adanya kepentingan tersembunyi. Fakta ini mempertegas satu hal mendasar: politisi sejati bukanlah pebisnis yang bermetamorfosis menjadi politisi karena kekuatan pundi-pundi uangnya. Politisi sejati adalah mereka yang sejak muda memilih jalan politik sebagai karier pengabdian. Mereka menapaki dunia politik bukan sebagai perpanjangan tangan bisnis, melainkan sebagai arena perjuangan nilai dan kepentingan publik. Joe Biden adalah contoh politisi karier—bukan figur yang tiba-tiba hadir dari luar sistem politik untuk memanfaatkannya. Sejarah Indonesia pun memberikan pelajaran yang sama. Para pendiri bangsa—Bung Karno, Bung Hatta, Sutan Sjahrir, dan banyak tokoh pergerakan lainnya—adalah sosok yang sejak muda memilih jalan politik sebagai medan pengabdian. Mereka hidup sederhana, berjuang dengan dukungan rakyat, dan tidak membawa kepentingan bisnis pribadi dalam keputusan politik. Inilah kekuatan utama politisi murni: ketiadaan konflik kepentingan (conflict of interest). Ketika seorang politisi tidak memiliki kepentingan bisnis pribadi, keputusan politiknya menjadi lebih jernih. Kebijakan publik tidak diarahkan untuk melindungi aset, memperluas usaha, atau mengamankan jaringan bisnis, melainkan untuk kepentingan rakyat banyak. Inilah yang membedakan politik sebagai pengabdian dengan politik sebagai investasi. Donasi rakyat, dalam konteks ini, bukan hanya instrumen pembiayaan kampanye, tetapi juga mekanisme kontrol moral. Politisi yang dibiayai oleh jutaan rakyat akan berpikir seribu kali sebelum mengkhianati kepercayaan mereka. Berbeda dengan politisi yang dibiayai oleh segelintir pemodal besar, yang secara struktural lebih rentan disandera kepentingan sempit. Karena itu, masa depan demokrasi yang sehat tidak terletak pada seberapa kaya kandidatnya, melainkan pada seberapa luas dan tulus dukungan rakyat yang berdiri di belakangnya. Politik membutuhkan uang, tetapi yang lebih dibutuhkan adalah legitimasi. Dan legitimasi itu lahir dari kepercayaan publik yang diwujudkan dalam partisipasi nyata—termasuk dalam bentuk donasi. Di titik inilah kita dapat menarik kesimpulan: politik yang dibiayai rakyat melahirkan politisi sejati; politik yang dibiayai modal semata melahirkan oligarki. Pilihan ada di tangan kita, sebagai warga negara dan sebagai pemilik kedaulatan. SiS, Antarkita

Kabarkita, Prespektif, Ruang Kita

Belajar dari Universitas Muhammadiyah Kupang: Ketika Biskuit Cahaya Menemukan Jalan Ekspansi Peradaban

Belajar dari Universitas Muhammadiyah Kupang: Ketika Biskuit Cahaya Menemukan Jalan Ekspansi Peradaban Universitas Muhammadiyah Kupang (UMK) adalah sebuah paradoks yang meneduhkan. Ia adalah universitas Islam, lahir dari rahim Muhammadiyah, namun justru dipercaya dan dipilih oleh mayoritas mahasiswa non-Muslim. Di tengah dunia yang sering kali menjadikan identitas agama sebagai batas sosial, UMK tampil sebagai bukti bahwa nilai Islam yang dikelola secara berkemajuan mampu menembus sekat-sekat keyakinan. Pertanyaan yang sering muncul pun sederhana namun mendalam: bagaimana mungkin sebuah universitas Islam bisa dihuni oleh mayoritas mahasiswa non-Muslim? Jawabannya tidak terletak pada strategi pemasaran semata, melainkan pada konsistensi nilai, mutu layanan, dan orientasi kemanusiaan yang dijalankan kampus ini selama bertahun-tahun. UMK tidak menjual simbol Islam secara eksklusif. Ia menghadirkan Islam sebagai etos: kejujuran akademik, profesionalisme pengelolaan, keterbukaan ruang dialog, dan pelayanan pendidikan yang menghormati martabat setiap manusia. Islam tidak dipaksakan sebagai identitas formal, tetapi dihidupkan sebagai nilai peradaban. Di titik inilah kepercayaan publik tumbuh—bahkan dari mereka yang berbeda iman. Pelajaran besar dari UMK inilah yang semestinya menginspirasi lahir dan tumbuhnya produk-produk bisnis Muhammadiyah, termasuk Biskuit Cahaya. Biskuit Cahaya adalah ikhtiar mulia. Ia lahir dari semangat kemandirian ekonomi Aisyiyah Jawa Tengah, membawa pesan halal, bergizi, dan berkemajuan. Namun, sebagaimana UMK, produk ini tidak cukup hanya berdiri sebagai “produk internal umat”. Ia harus melangkah lebih jauh: menjadi produk publik yang diterima lintas identitas, lintas kelas sosial, dan lintas budaya. UMK mengajarkan satu prinsip penting: kepercayaan tidak dibangun oleh identitas, tetapi oleh kualitas. Demikian pula Biskuit Cahaya dan produk-produk Muhammadiyah lainnya. Label halal bukan sekadar simbol religius, melainkan jaminan etika produksi, kebersihan proses, kejujuran bahan, dan tanggung jawab sosial. Nilai-nilai ini bersifat universal—diterima oleh siapa pun, apa pun agamanya. Jika UMK mampu menjadi rumah belajar bersama bagi mereka yang berbeda keyakinan, maka produk bisnis Muhammadiyah pun harus mampu menjadi rumah manfaat bersama. Biskuit Cahaya idealnya hadir di meja siapa saja: rumah tangga, kantor, sekolah, komunitas, bahkan ruang publik lintas agama. Bukan karena ia produk Muhammadiyah, tetapi karena ia layak dipilih. Selama ini, Muhammadiyah telah menorehkan sejarah panjang di bidang pendidikan dan kesehatan. Sekolah, universitas, rumah sakit, dan klinik Muhammadiyah berdiri hampir di seluruh penjuru negeri. Keberhasilan ini adalah prestasi besar yang diakui publik. Namun, keberhasilan itu juga menghadirkan tantangan baru: apakah Muhammadiyah akan berhenti di sana? Negeri ini masih menyimpan banyak pekerjaan rumah. Ketahanan pangan yang rapuh, ketergantungan impor, lemahnya industri nasional, minimnya pelaku usaha berbasis nilai, hingga ketimpangan ekonomi struktural—semua ini menunggu kehadiran kekuatan sosial yang berintegritas dan berpengalaman. Muhammadiyah, dengan modal jaringan, sumber daya manusia, dan kepercayaan publik, sejatinya memiliki peluang besar untuk mengambil peran lebih luas. Saatnya kader Muhammadiyah melakukan ekspansi pengabdian terhadap negeri. Bukan dengan meninggalkan dakwah, tetapi dengan memperluas maknanya. Ekonomi, bisnis, pertanian, industri, otomotif, peternakan, energi, teknologi—semua adalah ladang dakwah baru yang menuntut profesionalisme, inovasi, dan keberanian mengambil risiko. Di sinilah Biskuit Cahaya menemukan makna strategisnya. Ia bukan sekadar produk makanan, tetapi simbol awal keberanian. Jika satu produk bisa lahir, tumbuh, dan diterima publik, maka produk lain akan menyusul. Dari biskuit, bisa lahir industri pangan. Dari industri pangan, bisa tumbuh ekosistem pertanian. Dari ekosistem pertanian, terbuka lapangan kerja dan kemandirian ekonomi. Biskuit Cahaya diharapkan sukses, bukan hanya dari sisi penjualan, tetapi sebagai stimulus psikologis dan organisatoris. Ia memberi pesan kepada kader Muhammadiyah: bahwa bisnis bukan wilayah yang asing, bahwa ekonomi bukan ruang yang harus ditakuti, dan bahwa nilai Islam bisa hidup subur di dunia usaha. Dari Universitas Muhammadiyah Kupang, kita belajar bahwa keberagaman bisa dirangkul tanpa kehilangan identitas. Dari Biskuit Cahaya, semoga lahir kesadaran bahwa ekonomi adalah medan jihad peradaban yang tak kalah penting dari pendidikan dan kesehatan. Jika pendidikan dan kesehatan telah menjadi jejak sejarah Muhammadiyah, maka ekonomi, industri, dan bisnis semoga menjadi jejak peradaban Muhammadiyah di masa depan—jejak yang menerangi, seperti cahaya, bagi siapa saja yang disentuhnya. Oleh: SiS | Antarki

Scroll to Top